
"Gue.. pengen.. i.. kut. Ta.. pi, Han," kata Marcel usai dibaringkan, membiarkan Ririn sibuk menyinari leher dengan alat-Snail. "Gue.. ma.. sih marah. Bi.. kin.. konsen.. pa.. rah.."
"Elo dah kelamaan ninggalin tubuh, Sel. Dah masuk warning.. Biar kami yang lanjutin kerjaan lo sekarang."
"Hhh.. Nih.. ka.. yak.. perang.. ba.. tin. Gue be.. lum kuat.. nahan di.. ri, Han. Elo.. keliat.. enteng redam.. emo.. si.."
"Time your heal.. Kita cuma orang-orang yang lagi berusaha khan? Allah masih sama elo, sama kita."
"A.. min.. Gue.. ke panti.. du.. lu."
"Siap, Ndan. Biar kami yang nerusin di sini."
"Ma.. en.. lah ntar ke.. panti.."
"I-iya.." jawab Jihan, masih menggenggam tangan Girl World War 5. "Paling hari Minggu nanti ya, Sel.."
Marcel menghela nafas.
Jihan dapati mata temannya menutup. Ririn menggelar selimut berlogo petapa ke tubuh kaumnya sambil memberitahu Jihan soal AP (astral projection).
Gadis Piyama menatap sang Kakak penuh konsentrasi, karena ternyata astraler pun kenal dengan materi X, petapa dan pemimpi sama-sama mendiami xmatter, bahan baku badan mereka. Roh mereka bukan bersemayam di dalam tubuh atom.
"Kamu tak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Biar Kakak yang urus."
"Qorin juga bilang, stok gak bisa ditambahkan ato ditransfer ke sini. Gak tau napa, dia gak jelasin selain.."
"Di luar base time ini sebaiknya kamu juga harus hati-hati, Sayang. Kakak belum begitu mengerti kontruksi tubuh kalian. Lusid lebih banyak mengonsumsi xmatter."
"Iya Kak. Jihan mau ngirit deh sekarang."
Selimut di depan Jihan mengaurakan fatamorgana. Ririn mengintip udara tersebut dengan luv, bawaan di tas pinggangnya.
Jihan mengantungkan telapak tangan ke dekat permukaan kain penutup 'mayat', sebelumnya berkerut kening merasa aneh atas aura milik kain tersebut, Jihan pastikan temperatur yang ada dengan tanganya saja.
"Kok anget gini ya Kak?"
"Sudah ada pembaruan sel. Interaksi," jawab Ririn dengan senyum. "Ngomong-ngomong. Kamu persis Mbak Zihan, Giz. Keliatan teliti."
Jihan balas tersenyum. "Nih pewaris DNA nyonya Ling Ling kita Kak.. Mukanya si Mamah."
"Si Mamah apa sahabat kita?" tanya Ririn meninggalkan Jihan dan pasien, masuk ke dalam barak. "Mamah sedikit galak, kamu katanya membuat orang ngakak."
Jihan mengikuti Ririn di belakang. Di dalam tenda, dia mendapati Diandra sedang membereskan botol dan obat dari kotak paket ke lemari.
"Umm.. baru katanya Kak."
"Kakak mau lanjut baca. Biar kalian briefing di sini. Kakak mungkin tak betah jika ada yang ngobrol di sekitarnya. Jadi mau di luar saja, sekalian jaga pasien."
Jihan mengangkat dua bahu, mengiyakan tapi bingung, hanya bisa manyun saat Ririn keluar membawa buku dan kursi lipat. "Hu-um.. no comment."
"Lo udah siap khan?" tanya Diandra.
"Hhh, iya. Siap. Numpahin darah, engga. Gue rasa udah siap dijauhin si Nay."
"Dia lebih sayang lo ketimbang gue.. yang fokusnya ke Riko doang."
"Sayang.. " gantung Jihan, diam sejenak. "Dia di sono. Terus.. Nyambut gue udah kayak nyari golok. Dia gak jelasin marahnya. Udah nutup diri ke gue kayaknya."
"Please, percaya ma gue. Nay emang gak mau tunjukinnya selain lewat mbak Gizi. Hey Han.. by the way, arsipnya siapa coba nih?" tanya Diandra, jarinya diketukkan ke kain, mengalihkan topik ke jendela plastik di dinding barak. "Nay sering nanyain kabar lo ke mbak Gizi. Nih bukti, komunikasi-nya para jins kita."
Jihan menoleh mendapati jendela tenda, arsip di situ menampilkan paradok Dian di depan Nay.
"Nay kok beda muka sama elo?"
"Lo berpikir, cuma ruh kita yang bisa menginap xmatter? Body-nya cuma topeng, cuma boneka yang di lorong Pregister itu, Han. Dia lagi ngedepin killer-nya, wajarlah Nay ati-ati."
Gadis Piyama diam tak komentar. Dia mengamati Diandra Berkening Gelang membawa layar berpotret Jihan, Deti, dan Prita. Paradok Dian menunjukkan sesuatu pada Nay.
"Gue baru tau nih jari proyektor bioskop," komen Jihan pada tangannya yang tetap menyinari plastik barak.
"Gue bilang ke Nay, itu cuma mimpi gue, belum waktunya. Informasi yang dia lihat masih wallahualam. Nay bersikeras, dia gak paham mimpi tuh apaan. Buat dia mimpi gue nyata adanya."
"Zoom in plat-nya si Dian Saturnus, Rin. Nih paradok lo dapet data dari mana coba? Ngerekam sembarangan."
Gwii.. itt!
Benda yang dipegang Paradok dibesarkan penampakannya, gambar tersebut buram. Setelah dikerubungi bintik-bintik warna pelangi, foto terlihat update pixelnya. Tiga wajah di situ memang sedang berada dekat C3, alias pada mengobrol menuju hangar.
"Nay abisin paradok dengan cara sadis. Infonya ke gue, nih potret dari jins-nya si Deti. Abis itu Nay gelud sama paradok elo, marah karena telat ngamanin, layar udah dimusnahkan. Riwayat battle Nay ikut kehapus. Tapi yang penting Nay selamat. Aneh khan, paradok perang gara-gara masalah sampingan. Lo lagi ngejar paradok gue, cuma keduluan si Nay. Ada apa sampe harus didelete coba? Pastinya penting banget buat paradok lo itu, Han.." tutur Diandra berwajah cemas, dua tangannya terlipat di dada.
"Jins si Deti maen sharing aja. Deti masih punya rekaman ori-nya khan?" tanya Jihan sehabis komentar. "Kalo dia punya, otomatis soulator gue juga punya. Tapi udah disimpen di server pas Qorin mau ke Hisend."
"Tetep mbak Gizi masih di-wanted. Paradok lo udah tau, dia gagal ngedelet jejak release-nya. Dia nambah murka ke si Mbak."
"Tau dari mana?"
"Paradok belum mau muncul, padahal elo udah dateng. Dan.. juga Paradok lo nih, tau-tau udah mimpin paradok next-time lainnya. Dia beraksi gak pake bratle lagi, ditambah lo punya bakat intel dan provokatif kayaknya sampe Paradok lo nih diem, tapi emas, berkembang spontan. Dia ngebiarin anak buahnya dulu yang maen."
Diandra menyentuh-nyentuh ujung jari, Jihan tak bicara, menunggu laporan yang ada, sebab tampaknya Dian belum selesai menyampaikan semua.
Kwii..iit..! Layar berganti jadi potret yang menampakkan Jihan Berdahi Gelang sedang membawa Bola Naga di ketiak.
"Dih..?" bingung Jihan sambil melihat tangan, merasakan sesuatu jari manisnya. "Lo ngeretas cincin gue Yan?"
"Nih leader paradok. Release, mutusin diri bawa soulator Riko yang padet berisi riwayat Lectrin," terang Diandra tak peduli kebingungan temannya.
Jihan ikut menatap jendela tenda. Dirinya di dalam sana sedang melamun dipandangi Prita dan Deti. Tidak terlihat sedang membawa 'helm', melainkan sedang kacak pinggang sebelah.
Bola bening ukuran helm justru berada di bawah ketiak paradok. Gadis berjaket parasut sedang melayang meninggalkan Jihan, kepalanya sudah dilingkari benang merah. Sementara Jihan yang bengong masih terlingkar Epsi di bagian perut.
"Gue klepto juga ya, Yan. Release pas dikasih perintah."
"Gue juga gak tau, apa yang ada di benak Diandra satunya. Nay bilang biar dikasihani, maka sang Dian ngasih info penting; foto kalian di C3. Yang ini bukan arsip gue, tapi hasil dari kamera si Mbak. Paradok lo gak sadar kalo dia lagi direkam mbak Gizi."
"Dia bawa banyak riwayat Lectrin, berisi semua peristiwa di ini time-line.. liar. Gue sebut nih cewek sebagai si Jilect."
"Lo gak jelek-jelek amat, Han. Macan buat gue, manis dan cantik."
"Jii.. lect," ulang Jihan, mengeja kata dengan menarik bibir menyesuaikan ucapan. "Aduh.. budeg juga lo."
Jihan mengaruk-garuk.
"Bolot teruskan nih briefingnya. Elo nerusin tahta Lectrin di abad ini. Gue kisahin dari gedung mahkamah. Kenapa sidangnya rusuh? Ya karena Hanpar (Jihan Paradok) datang buat ngerekrut Lectrin. Marcel bingung waktu mau nyegah karena ngira dia tuh elo. Luna yang lebih tau, langsung turun tangan mengamankan ruang dan isinya. Lectrin bunuh diri.."
Taph! Taph..! Sentuh Diandra, jempolnya mijit ujung dua jari lainnya, dia memutar kejadian di ruang sidang.
"Siaran inter-matt, internetnya abad ini."
Orang-orang bule, penonton sidang, tim hakim, tentara UNO, kebingungan. Situasi sedang tegang-tegangnya membahas Indonesia, karena status terdakwa adalah WNI, Paraji muncul jadi peneror baru.
Paradok melepas borgol Lectrin dan memberikan senapan milik Marcel pada terdakwa.
"A mela wa mi FinCut. Ga rah tu nya rer sing perti ga ni!" kata Lectrin seraya mencekal leher Marcel dengan hasta, tangan satunya menodongkan Arc ke pelipis Marcel.
- Aku melakukan semua demi FinalCutter. Gadis jirah itu hanya eksplorer asing seperti gadis ini
"Bubar!" teriak Paradok, debu di langit-langit gedung berjatuhan, kaca-kaca pecah termasuk lensa kamera, mereka serentak merunduk, sembunyi mendengar Dewi Khayangan marah.
Dziing! Dziing..! Agen rahasia menembak Paradok, dia abai dengan isyarat yang diberikan Luna di sebelahnya.
TAKH!! Laser memantul ke atap sekali kibas.
Jeguurh!!
Runtuhan bangunan menimpa kursi-kursi ruangan yang ditempati banyak wakil negara di dunia. Sehingga demi nyawa mereka, Luna bergerak cepat mendahului gravitasi.
Paradok teralih perhatiannya dan mendapati Al Hood. Keduanya langsung bertempur sengit di ruang mahkamah. Luna lebih dulu jatuh manghantam lantai, tak lama lawan dibalasnya. Paradok pun jatuh menumbuk meja hakim, di depan Lectrin.
Jdassh! Krraatth!
Marcel mendadak kaget memejamkan mata. Terciprat darah dekat kepalanya. Penyanderanya mengakhiri hidup, tubuh Lectrin langsung ambruk ke samping.
Melihat Lectrin meninggal, karuan Paradok bingung atas aksi tersebut. Dia naik darah seperti malu. Marcel jadi sasaran utama, ditelekinetis hingga korban langsung menghantam pilar.
Syuuutt!! Bruugh!!
Krakh!! Langit-langit retak, satu penyangganya tumbang.
__ADS_1
Tak lama Paradok mengerakkan tangannya lagi di mana pilar lain yang masih utuh retak secara bersamaan.
Krrkh!!
Krrkh..!!
Grrtakh! Kraa.. aakh!
Tayangan video bergoyang, kamerawan membawa alat kerjanya ke tempat aman, sehingga tayangan yang sedang berlangsung mendadak padam.
"Ya Allah.. Mahluk apaan gue ini?" lamun Jihan, membiarkan tayangan hilang sinyal, bersandar lemas ke blangkar tenda.
"Ciptaan Allah, Han. Mahluk Tuhan gak cuma pelangi khan? Lo juga indah."
"Gue telat belum ya, jadi pelangi?"
"Oke semangat. Hanpar terus kabur di TKP via portal selagi Al Hood sibuk. Semingguan Marcel nyari jejak dia, tapi gak ketemu. Dia ngotot berkelana sampe ke Jateng sono, sebulan nyasar di belantara. Untunglah Kakak elo dateng dari base time, ngingetin sebelum Marcel nyasar lebih jauh. Bisa jadi Paradok masih ada di luar negeri.
Sejak serangan Hanpar di MI, isu World War 6 banyak disiarkan stasiun tv di sana-sini. Dunia fokus mencentang merah NKRI."
Diandra kembali menyentuh-nyentuh jari.
Sementara Jihan memijat-mijat jidat. "Satu abad di sini sama kayak tujuh hari di base time. Gue ngerasa baru tiga jam. Di abad ini, Indonesia.. udah dikutuk dunia."
Gwii..iit! Layar berganti jadi gambar top-secret lagi, foto sebuah gua.
"McWell. Nih sarang yang gue omongin. Trus juga merupakan lokasi mutant dan zombie dikembangbiak. Perempuan muda ini ratu mereka."
Taph! Taph!
Gambar diperbesar, memfokus wajah gadis yang tengah berbincang dengan Paradok. Secara syuting, di dekat mulut gua tersebut adalah Marcel dan Jihan. Keduanya berjabatan tangan, bertukar pasukan dan pengawal.
"Dokumentasi milik siapa nih? Apa punya elo?" tanya Jihan, pening di kepalanya sedikit mendingan.
"Bukan Han. Marcel dapet dari orang asing. Mereka ketemu pas sama-sama di kejar mutant. Marcel dititipin arsip ini sama si bocah misterius.
Marcel lagi bergerilya nyari orang-orang yang masih selamat, soalnya alun-alun udah ada yang ngebantai dan.. meratakannya.."
Tap! Tap!
Dari gambar gua, jadi potret sebuah tempat dengan pagar tinggi yang sudah roboh, barak-barak terbakar, pos-pos depan ditinggali banyak potongan tubuh.
"Inalillahi.." ucap Jihan menatap layar dadakan alias jendela tenda.
"Liat mayat yang di tiang itu, dia salah satu korban telkin (telekinetis), pelaku bisa nyerang dari jarak jauh. Emang beberapa mutan ada yang punya magic. Tapi sejauh nih cuma dapet ngelemparin korbannya pake belitan ekor. Nih ulah para Next-time Paradok yang dibawa McWell."
Tap! Tap!
Kali ini gambar yang ditunjukkan Diandra foto Ratu Mutant yang sedang mencekik tentara di dekat pos. Sementara beberapa Jipar menembak, menendang tenda, melayang di udara sambil menapakkan tangan ke arah pagar, telkin tersebut pakai ikat kepala.
Kejadian di Alun-alun diabadikan saat TKP ada ledakan, tanda serangan atau aksi yang sedang berlangsung.
"Ilustrasi sempurna. Kayak udah ahli ngambil foto di tempat sembunyi," kata Jihan, langsung paham bahasan atau tema dari briefingnya. "Siapa ya dia nih? Hobi banget motoin peperangan."
"Marcel percaya dia, soalnya orang ini tau Snail. Dia ngejar paradok. Itu fokusnya. Bisa jadi nih pemotret pun sekarang lagi ngintel elo Han."
"Umm, boleh."
"Makanya gue dikontek si Marcel deh. Skill si misterius mirip librarian. Tapi gue ricek, gak ada lusid yang lagi ngalong di sini. Dia minta gue turun, minta ngebedah flashdisk titipan."
"Agen emang kudu stealth."
"Iya Han. Kalo agen ketahuan musuh, nyawanya melayang.."
"Apa tugas gue nyari dia, ikut misi-nya si Agen?"
"Bukan. Itu udah dipegang Prita kayaknya. Dia belum ngasih kabar pencarian."
"Oke.. Gue pun siap duduk di bangku cadangan."
"Gua mutant udah direbut. Nina lagi di sono jaga lokasi. Apa lo siap kalo misalkan.. ngng.."
"Protokol?"
"Belum sih. Sambil nungguin Al Hood, inisiatif ini umpan, biar ada protokol."
"Kasarnya kayak gitu."
"Hhh!"
"Paradok tuh hadir di MI. Kalo dia serius, pasti udah di sini."
"Oke. Gue kudu diem di mana sekarang? Biar dia tuh dateng."
Tap! Tap! Diandra menunjukkan dokumen lagi melalui ketikan jarinya.
Twiit!!
Jihan menoleh ke layar. Gambar di situ menarik perhatiannya sebab ada pesan di bawah sang objek. Gadis yang berdiri ala Batman tersebut adalah Paradok alias Hanpar. Teks yang ditunggunya adalah Where Marcelina? tertera cukup besar di muka gedung.
"Jam release dia deketan sama jam leadernya. Bisa jadi emang lagi nungguin elo Han. Bukan flashdisk."
"Tuh di mana ya? Anterin gue ke situ. Dia punya alesan apa ngancurin Alun-alun."
"Ajuin kalimat tadi ke dia. Kalo di pihak kita, tanyain protokolnya. Kalo di pihak musuh, tanyain siapa yang nyuruh dia Han."
"Dia bales dendam gue rasa Yan."
"Berarti di pihak musuh.."
"Napa pilih Citymall? Apa bukan ladang gue?"
"Citymall kita. Gue pikir, nih tempat udah disiapin buat tamunya. Ati-ati.."
Diandra memberikan kaca seukuran kartu nama. Jihan bingung.
"Deathflat? Lab khan udah ngancurin pas gue minta cepat," tatap Jihan pada benda di tangannya, sudah terlihat jarum di situ.
"Salah taro."
Taph! Jihan tempatkan Smoke Note-nya di pergelangan kiri.
Sebutir sinar melesat datang.
Dah jalan. Kasih kata-kata keren buat musuh
Jagain sobat gue dari vacumnya
Bintik tersebut berkelipan warna-warni, frekuensinya saat bicara.
"Ehh, ada Nay," sambut Jihan. "Giliran gue nyari golok."
Wuutts!! Jihan melesat meninggalkan barak selesai berkata.
Di perjalanan, sangat gelap. Jihan menembus pohon-pohon tanpa ragu, kompas di pergelangannya menunjukkan arah ke TKP, hanya itu "penerangan" yang ada.
Sayangnya, Jihan tidak mau disebut siluman.
Seperti yang dikatakan, dara dengan bandana di kepalanya, masih tetap berdiri di atas gedung ala superhero Gotham. Beberapa lampu halogen cukup menyinari gedung.
Ckii.. iit!! Jihan berhenti di dekat generator ukuran peti-kemas pelabuhan.
"Huh. Masih aja.." pandang Jihan ke Paradok. ".. keren."
Orang yang dikomentari balas menatap Jihan dengan sedikit terkejut. Ujung bandana yang mengikat kepalanya berkibar, sementara kipas di sampingnya diabaikan. "Hh! Benar-benar datang."
Jihan sedang mengikat rambut panjangnya dengan karet sambil terus mengawas Paradok. "Dapet kipas dari mana dia? Kiraen angin lewat."
"Apa yang dia lakukan..? Santai benar," gumam Paradok pada objek yang dipandanginya.
Set! Paradok meloncat meninggalkan kipas listrik.
Bruugh..!!
Paradok jongkok saat mendarat di depan tamunya yang masih sibuk membereskan rambut. Perlahan dia berdiri dengan pandangan serius.
"Perlihatkan tanganmu," pinta Paradok dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Ntar. Gue masih dandan, biar mata gak ngeganggu pas by one."
"Majikanku mengatakan tentangmu. Ternyata kau benar-benar berkunjung," ucap Bandana. "Show your hand, Jihan."
Jihan berhenti dari kegiatannya, diam tak menjawab.
"We want your driver. You can join with us," sambung Bandana, mengajak Jihan bergabung dengan kelompoknya.
Set!
Gliitt!!
Paradok menyiku-kan tangan ke wajah, melindungi dua matanya dari silau dadakan yang terpancar dari depan. Dia mengintip dari balik lengannya, mendapati sang tamu sedang menyorotkan selapis layar transparan.
"Gabung sama grup killer?" tanya Jihan memperlihatkan foto Alun-alun yang sedang diratakan dan diledakkan. "What do you say, Batgirl? Gue nolak kalo kambuh gini."
Gliitt..! Batgirl mengedipkan dua mata hingga muncul monitor datar tembus pandang, tak mau kalah adu dokumentasi.
Jihan melihat Minion 41 sedang diserang gadis bertudung; Luna. Layar tersebut kemudian bergeser, disenyumi Paradok.
Glit! Jihan matikan layar arsip miliknya. "Heh, maksud lo apa? Dia wajar ngebantai. Mereka ikut campur urusannya!"
"Anything?"
"Kelompok Lectrin nyemarin nama baik negara. Leader kalian sendiri panas dengerin tuntutan dunia ke NKRI dibacain panjang lebar.
Si Lectrin Keparat harus dapet lawan sepadan. Lo pikir Luna maen hakim sendiri gitu?"
Gliitt..! Layar berganti foto lainnya, sekali kedipan Bandana, arsip tersebut menayangkan foto Marcel di gua McWell.
Di layar, tampak Marcel sibuk bertarung dengan DNA-mutannya. Ada sembilan jenis-mutasi (ekor) yang semuanya berwajah Marcel dalam arsip tersebut.
Gliitt! Foto dikedip kembali, menampilkan gadis samurai yang sedang menancapkan pedang di kepala korbannya.
Gliitt!
Frame berikutnya, foto Marcel sedang menusuk dada DNA saat korban mengayunkan cakar di belakang.
Gliitt!
Marcel tengah upper cut pedang hingga badan korban tampak terjejak sayatan vertikal.
Gliitt! Gliitt..! Layar berganti lagi dan menghampiri Jihan.
"Nih apaan, maksud dia datang buat bebasin sandera dari Minion.. nyari.. Hummpp!!"
Pada arsip yang disimak, Jihan sempat melihat orang-orang sedang dikurung dalam ruangan di dinding gua, namun saking khusyuknya, mendadak layar jadi plastik dan membungkus kepala.
Jihan agak mundur terdorong akibat kaget atas nafasnya yang mendadak tersumbat. "Ummg!! Hhmmp!!"
Brugh! Punggung Jihan menghantam tanah.
Saking kalap, Jihan jadi terjungkal jatuh.
Bandana menyungging senyum dingin melihat korbannya sibuk mencakar-cakar muka. Pemandangan tersebut hal biasa baginya sebab diskusi tadi bagian dari triknya.
Dalam menghadapi ancaman, Bandana tampak sudah tak segan lagi. Dibiarkannya Jihan menggelepar-lepar sesak persis ikan di darat.
Set..
Mata Bandana agak melebar menyadari gerakan yang datang dari belakang. Benar saja, sebatang lengan terbalut piyama sedang melaju di sebelah kuping saat dirinya berhasil mengelak dengan memiringkan kepala.
Bugh..
Ternyata masih ada serangan susulan yang tak terlihat, hingga bunyi tersebut terdengar, menghantam punggung Bandana. Liur melayang pelan sebagai percikan dalam slow motion yang berlangsung.
"Akkh.."
Gebrugh!! Bandana yang sedang senyum, mendadak ambruk ke depan.
Jihan biarkan Bandana tersungkur menimpa bayangannya. "Lunas.."
"What the f*ck..!!" umpat Bandana, menyadari objek yang ditindihnya hanya hologram, kini ilusi tersebut sudah menguap jadi asap tipis ketika dia gebrak.
"Santelah, gak usah ngomel-ngomel. Target lo Qorin, tujuan ba-den (balas dendam) gara-gara Marcel ngebunuh temen lo. Trus yang ketiga, ngajak gue kerja, bareng kalian. Slow. Bicarain dulu.."
"Diam!"
"Nah.. Jadinya malah kesel khan pas elo-nya telat begini?"
"Arrgh!"
Set! Kaki Bandana melayang ke arah pipi Jihan.
Takh! Target menangkis dengan tangannya, membuat Bandana terjatuh lagi.
Gebrugh!
Ternyata Bandana gagal berdiri saat dia barengi dengan serangan, Jihan lebih cepat darinya, tak selengah yang dikira.
"Minta baik-baik," kata Jihan menunjukkan lima jarinya, mengangkat tangan kanan ke dekat telinga. "Hai, Cantik!"
"Erggh!! Diam!"
Guu.. lii.. iitt.. Muncul alat unik di telapak Bandana berawal dari lingkaran yang mengorbit eksistensi benda tersebut.
Jihan mengernyitkan kening melihat permulaan vactube secara langsung, sebuah ghost-protocol alias sihir di antah berantah. Ada lingkaran yang sempat didapati matanya, sekejap langsung hilang berganti alat tulis aneh.
Wsstt!!
Bandana sentakkan tangan begitu Jihan menuluskan permintaannya, segera melemparkan benda tersebut pada target.
Namun..
Set! Taph! Jihan menangkap vactube yang Bandana lempar.
"Sihir.." pandang Jihan ke batang runcing berlampu dua yang sigap ditangkapnya. "..lo samaan. Nih vacum mirip yang gue imej, njir."
Gliit!
'Pulpen' alien tiba-tiba muncul di telapak kanan Jihan, di tengah batangan ada mini-lamp seukuran jerawat, sementara vacum di tangan kiri dua butir.
"Hhh, hhh.. Gizian! Tinggalkan penyertamu. Kebanyakan dari mereka mengada-ada. Hhh.. hhh.. Hapus drivermu itu!"
"Aarrgh!" erang Jihan, tak ada serangan, tak ada angin, Bandana membuatnya bingung. "Jangan niru Gizi gue! Tuh puebi dia, Bekeul! Ngomong pake gue-elo aja..! Erggh!!"
Krakkh! Drakkh..!!
Jihan meremas vacum di tangannya secara bersamaan. Bandana terbelalak melihatnya, wajah pun jadi berubah, terbawa marah.
Dua Jihan jadi galak, mengeretukkan rahang mereka masing-masing, sama-sama mengencangkan urat.
Syuuutt!! Bandana melompat menabrak tubuh Jihan.
Gubragh!!
Bukh!! Bukh..! Serta merta Bandana langsung menghajar mata Jihan berulang-ulang sambil melipat dua lutut di dekat dada korban.
Bukh!
Bukh!!
Bukh!!!
Di kegelapan bangunan yang tak jauh dari TKP.
"Dua Guan Xiao Tong mulai berdarah-darah," kata penonton A, mengintip lewat scope Arc Electric. "Lucu ketemu lucu."
"Nih cewek mudah akrab sama musuh juga, kayak ratunya," komentar penonton B yang masih meneropong lapangan Citymall.
"Yang mana sebaiknya?"
"Dia aja. Di whois?-nya udah kecatet status hard-elemen pernah maksimal dia setir," jawab penonton B tentang soulator-kasar.
"Kenapa kamu sebut dia Jimi?"
"Jihan Minion. Dia nyapa gue pas dilewatin."
__ADS_1
Karena di situ gelap, mereka hanya terlihat sedikit bagian wajahnya. Namun senapan yang dipegang orang satunya persis senjata bawaan Marcel.