Jihan

Jihan
chapter up 25


__ADS_3

Lorong tersebut berujung sebuah ruang khusus CCTV gedung alias monitor room. Maka ada petugas pintu yang sedang berjaga di lokasi. Jihan dan Rey sampai di situ yang tentu saja langsung dicegat.


"Selamat malam, Bos Eri. Nona Rey."


"Saya kembali Pak. Apa masih harus diperiksa dulu?" tanya Rey yang ternyata pernah ke sini sebelumnya.


"Betul. Prosedur, supaya gedung tidak dibajak mafia."


Rey membiarkan badanya dipindai detektor logam oleh satpam MR.


"Kita gak bakal iket orang kok. Paling orang yang iket kami Pak."


"Berarti orang itu bunuh diri Bos."


"Emang gue makan orang ya Pak?"


"Katanya bos Eri pantang jadi eks (soloter)."


"Oh iya. Gue lusid, bukan pawang siluman. Udah nyebar aja gosip survive gue," ucap Jihan sambil mengangkat dua ketiak saat petugas memeriksa badannya.


"Selesai. Silahkan Bos. Bu Elisa menunggu di dalam," kata abang satpam menyingkir dari jalanan.


"Ada Billi ya di dalem? Moga aja dia belum jamuran. Gue khan baru beres lembur."


"Ah bos emang teladan para karyawannya sungkan begini."


"Udah. Yuk masuk, Giz."


Setelah bicara, Rey membuka pintu dan masuk ke dalam. Jihan mengikutinya dari belakang, membiarkan abang satpam duduk manteng hape.


"Dia lagi nonton bigo live Rey."


"Itu istrinya, Giz."


"Ouh. Bini dia tah.. Kiraen pemaen," timpal Jihan yang iseng. "Ehh Billi, lo napa?"


Juhan mendapati Billi Elisa tampak lesu dalam duduknya. Di ruangan ada tiga petugas yang sedang duduk memantau belasan TV, mereka tahu ada tamu tapi kembali konsen bekerja.

__ADS_1


"Saya syok melihat beliau diperlakukan tak manusiawi. Walaupun itu rekaman setahun yang lalu, saya.. baru tahu Twen itu mahluk apa."


".. ??!!" bingung Jihan menatap Billi yang masih duduk memijat dahi.


"Emangnya.." Jihan menggantungkan pertanyaan, dadanya sedikit deg degan. "Emangnya ada apa sih, Bil? Sumpah gue jadi takut."


"Kau tanya saja dia. Hhh.. saya tak bisa tidur."


Baru saja Jihan melirik Rey, gadis intel yang ikut mengawasi TV memanggilnya.


"Gizi. Sini Giz. Coba elo liat dulu. Sini."


Disitu Rey ternyata sedang minta pada operator membuka database MR. Jihan segera menghampirinya.


"Astaghfirullah.." komen Jihan, langsung menonton rekaman dari file hardisk begitu sampai.


Tayangan pada salah satu monitor berlabel private itu memutar sebuah pembunuhan dengan TKP di bawah tanah.


"Dia (Marcel) dikejar Twen sampe sini."


"Ini kedua puluh empat kalinya Twen ngereset plot. Dia ngehapus ingetan Erika lagi, ini karena korban tau pernah dibunuh sama dia."


"Hhh, hhh.. hhh.."


Tayangan yang berlangsung adalah penganiayaan. Si gadis dipukuli dengan kepalan yang bersinar di depan pintu kamar rahasia. Rekaman tersebut otomatis membuat darah Jihan memanas.


"Itu dia cahaya kriptonite Giz," komen Rey yang masih menonton. "Kalo versi gue nih logam Android."


"Hhh.. hhh, hhh, gue udah tau.. hhh, hhh.."


"Makasih Pak. Kami sudah selesai. Matikan saja," pinta Rey. "Tolong buka pintu bawah tanah. Kami harus ke TKP."


Selesai dilumpuhkan, mayat korban menguap. Twen kemudian memukul kamera yang baru disadarinya, karena ternyata Marcel sengaja membawanya ke sana.


"Hhh, hhh.. kasih gue tugas sekarang Rey. Mumpung urat gue panas."


"Slow, Giz. Film lo belum launching. Tunggu seminggu lagi."

__ADS_1


"Hhh, hhh.. apa hubungannya sama film gue?"


"Ada satu sesi lagi yang belum lo penuhi. Marcel harus mengira Erika tuh elo."


"Dia hobi tidur, harusnya dibangunin dan dikasih tau kalo dialah Erika."


"Eri, itu akan.." sela Billi Elisa yang menguping obrolan mereka. "Itu akan membuat plot baru. Kematian beliau yang kedua puluh lima saat tiba di ladang gandum nanti. Entahlah. Benar atau tidak, kau harus memperhatikan plan Nona Rey."


"Tapi.. aduh.. hhh, hhh.." Jihan tampak makin cemas, sudah tidak bisa tenang.


"Gue harus nandain lokasi. Habis itu baru gue nyusul, ikut mati di plot ini. Biar gue bisa balik ke plot Marcel."


"Plis.. gue musti ngapain?"


"Lo tangkep pelaku, tapi jangan dibunuh. Ikut ke bawah dulu sama gue pokoknya. Ada beberapa hal yang mau gue ceritain."


"Hhh.. hhh.. Ya udah. Ayo deh."


Rey dan Jihan keluar ruangan. Sementara Billi Elisa meneguk minumannya lagi, mencoba mabuk namun tak mempan.


"Pak Ihsan, boleh saya minta air karbitnya lagi?"


Tanpa menunggu jawaban pemiliknya, Billi mengambil botol yang dia sembunyikan di bawah meja. Billi menuangkan isinya pada gelas yang sejak tadi dia pusingkan kekosongannya di meja tersebut.


nb:


maksud Billi tuh beer, tapi dia suka menyebutnya air😁karbit. ingin mabuk tapi dianya masih aja sadar😆.


mohon bersabar sama update ya.


❤️u


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2