
"Hikk.. Temen komunitas, Cha.. Kami satu team di server. Akun gue, dia sangka kena banned."
"Oh. Temen game. Kupikir family kamu. Kok sampe nangis-nangis gini ya? Kasian, Han."
Jihan tak bisa komentar selain mengusap-usap kepala Vita.
Vita berhenti dari sengukan. Dia melepaskan pelukannya dan segera menyeka wajah. Tanpa dipinta, Vita menceritakan pada karyawati kepo bahwa mereka bermain jujur tidak pernah memakai kecurangan.
"Lapor balik aja tuh si player. Kalo emang gak ngelanggar, kalian gak usah takut. Jangan bales chat dia," kata si mbak sambil membuka lipatan dan merapikan kerut pada produk tersebut.
Kemudian datang SPG lain ke situ.
"He.. Ocha, ada customer! Keluyuran terus lu. Sono, samperin."
Yang disuruh segera pergi dengan gerak centil. "Asiiee eek.. nge-bon (pemasukan - bahasa SPG)."
Jam istirahat, Jihan dan Vita bertemu di gerbang masuk karyawan. Vita ternyata memang bolos sekolah hingga dia balik bersama Jihan.
Pintu belakang Citymall siang ini tidak begitu ramai, hanya pekerja lembur saja yang terlihat. Di dekat gerbang situ keduanya pesan makanan, duduk bersebelahan di bangku tukang mie ayam.
"Lantai satu khusus usia gue ke atas, lo gak bakal nemuin celana ato pakaian yang lo cari selain di lantai dua."
"Bagus gak warnanya Kak?" tanya Vita atas bawaannya yang sedang dibolak-balik, jaket. Dia belanja ternyata, tidak hanya main.
"Putih gini kayak ati lo. Dekil dikit keliatan. "
Vita tak menanggapi, model jaket tersebut hampir sama dengan yang sedang dikenakan. Vita melipatnya kembali.
Jihan sudah melamun dalam duduknya, mungkin bete sahabatnya itu bolos sekolah. Biasanya security toko akan melarang pelajar main pada jam sekolah. Entah, bagaimana Vita bisa leluasa menghabiskan paginya di mall.
Mata Jihan tampak berair, menandakan lamunannya panjang dan begitu dalam. Vita memergokinya menyusutkan tisu. Jihan katakan, sejak subuh tadi dirinya demikian nangis.
__ADS_1
Sambil memeluk Jihan, Vita bicara bahwa dia besok takkan bolos lagi. Jihan tak berkomentar. Mereka lalu fokus mengaduk mie yang sudah dihidangkan abang pedagang ke depan mereka.
"Vita serius Kak. Besok bakal sekolah."
"Terserah. Gue lagi ngerasa banyak dosa ke si Sorrow, Vit. Hiks.."
Vita sibuk mengaduk-aduk. "Punya Vita, bagusnya dikasih nama apa ya, Kak?"
Mereka makan sambil mengobrol.
Waktu pun tak terasa cepat berlalu. Setelah selesai makan, Vita ditelepon Romi karena anak itu mencari keduanya. Ketika mereka ditemukan, Romi cerita tentang kondisi Sorrow.
Ruang data di Server sudah diperluas, tapi Sorrow belum sadarkan diri, terus-terusan terbaring demam di Escort.
"Hadehh.." resah Jihan, makin berdosa dengan laporan Romi tadi siang.
"Ya, kenapa Neng?" tanya ibu pengunjung, aktivitasnya mencari-cari model celana terdengar membosankan.
"Pacar kamu atau suaminya nih?"
"Temen Bu. Nih dia size-nya."
"Saya coba dulu ya. Sama yang ini juga, Neng."
"Oh silahkan Bu," ucap Jihan membiarkan si ibu pergi membawa dua celana ke fitting room.
Sambil menunggu si ibu kembali, Jihan memasukan tumpukan itu ke tempatnya. Dia balik ke wagon, di situ pun dia membereskan celana-celana lain, melipatnya satu per satu.
"Han. Bon lu nih, yang tadi siang. Nitip ya."
"Oh ya. Ya udah. Lo duluan, Cha."
__ADS_1
Icha pergi sambil menyahut. Ternyata dia pun kerja lembur dan ambil istirahat kedua maghrib ini, sehingga harus menitipkan lapaknya pada tetangga counter.
Jihan simpan kertas nota brand-nya di bawah rak tulis. Musim PPKM masih laris juga mall satu ini, di situ brand Jihan sudah menyimpan bon sekira belasan pics. Tapi gabutnya masih tampak.
"Hhh, tiga jam lagi.. Gabut njir, pengen jenguk elo, Row. Pengen nyebor."
Citymall di malam hari menampakkan diri sebagai ratu dengan lampunya yang paling benderang. Entah ijin operasional-nya tampak istimewa di masa pandemi ini. Maka tak heran ada banyak fasilitas kesehatan (handsaniter, saputangan karet, scaner suhu, masker, face glasses, lemari penyemprot) demi aktivitas mereka.
Dari jam buka, sampai jam tutup ini, semua pekerja (termasuk staf) disterilisasi sebelum keluar gedung. Antrian mereka panjang karena pada jaga jarak. Jika ada karyawati mengobrol, security yang patrol akan menegur.
Di tempat parkir pekerja, Jihan masuk kendaraan Bapaknya, duduk di belakang Ling Ling. Ternyata dua sejoli menjemput sang anak sehabis jalan-jalan.
Bapak masih fokus pada kertas HVS, belum menstarter mobil. "Kalo dia sakit, terus laporanmu gimana Hani? Bapak masih bisa nonton gak?"
"Hani juga bingung, Pak. Tau deh, katanya Hani jangan terlalu banyak aktivitas kalo onmind."
"Liat Mah, Hani gendong Hani."
Bapak memberikan kertas tersebut. Di situ memang ada dua wajah Jihan. Satu sedang pingsan, satunya lagi tengah membopong tubuh si gadis.
Jihan diam melamun. Dia menyandarkan bahunya ke pintu mobil. Mamah ikut bertanya soal rapot, tapi tidak Jihan tanggapi. Mamah juga minta Jihan makan donat yang mereka belikan, Jihan hanya mengiyakan sambil menyusut pipi.
Brrmm!! Mobil dinyalakan. Tak lama segera mundur.
"Kamu dari subuh murung terus, Hani. Apa gak capek?"
"Ya capek Mah."
"Teruskan. Supaya jadi server."
"Hii.. gak jelas."
__ADS_1