Jihan

Jihan
chapter up 98


__ADS_3

Kulum demi kulum makin lembut dan licin, hal itu terjadi begitu saja. Jihan benar-benar mencumbu sahabat cantiknya, gairahnya, dan mungkin surganya. Marcel terus membalas dengan gerakan bibir tidak kalah hangat, tak kalah halus, tak pernah melepas dan berhenti barang sedetik.


"Mmpph..! Mhh.."


Jihan dan Marcel terbaring saling menghadap. Lima menit kemudian Marcel bergerak ke atas, memegangi kepala Jihan. Si manis membiarkan posisi mereka atas-bawah tanpa melepas tangannya yang sudah megang pinggul si cantik.


"Ummh..!!"


Lima menit kemudian, Jihan balikkan badan Marcel, berganti ke posisi atas. Dia melambatkan gerak bibirnya agar tetap bisa terus menghangati, karena betapa ranumnya bibir yang ada.


"Mmmh.. Emmh.."


Chhh.. wiph! Chi..uup..!


Chipph..


Marcel angkat dua lutut, membukanya, dia peluk Jihan dengan kakinya itu, menggelangi bagian belakang celana dengan kunciannya tersebut. Jihan merendahkan tubuhnya hingga badan mereka rapat, kedua perut dan payud*ra mereka pun beradu, tak lagi kenyal.


"Umhh.."


Cwwupp.. pph..! Cwwipp.. pph..


Feel menumpuk. Namun ritme kecupan mereka tetap merata. Tidak gaduh atau memburu seperti yang sudah-sudah.


Menit pun kian berlalu, mereka berciuman cukup lama. Maka salah satunya terhentak badan begitu payud*ra terelus. Satu lagi berguncang pinggulnya saat tangan lawan menyelinap ke "situ".


"Uughh!!"


Rasa lelah membuat keduanya tertidur pulas, dan itu sudah berlalu tiga puluh menit. Tidak ada gangguan sama sekali.


Posisi tidur mereka tiap lima menit aneh-aneh, mungkin akan membuat yang melihatnya menyeret kaki mereka, atau menggebukan bantal.


Di saat sadarnya saja, mereka sudah random. Tidak perlu digambarkan lagi bagaimana sleep para kisser, mungkin nanti diketahui saat mereka tidur di tenda penampungan.


Jihan terjaga dari tidurnya, tengah diam melamun tanpa menurunkan tumit di kening Marcel. Dia juga membiarkan tangan Marcel bertengger di "lembah".


Detik ini Jihan berhasil memposisikan badan Marcel, diposekan gaya tidurnya, yang tak lain meluk guling. Marcel pun semakin pulas, nafasnya tetap teratur.


Jihan menaruh gelas plastik di atas galon, dengan posisi menungkup. Dia juga meraih kaleng pijit di meja belajarnya, lalu Jihan semprotkan ke udara. Wangi Lavender kini terhirup hidungnya.


Hari masih pagi, Jihan lihat Entrance markas petapa sepi seperti biasanya. Dan pernah sibuk saat ada bongkaran, gotong-gotongan, ngangkut hasil panen.


Di ruangan Entrance, ada lawang masuk. Di dalam situ Jihan mendapati Jhid duduk tulis-tulis sesuatu, lagaknya santai alias menaruh dua kaki di meja. Juga ada Enik yang masih berdiskusi dengan seorang astraler usia siswi SMA, tampak tenang melipat dua tangannya. Tak ada yang menyadari kehadiran Jihan di lawang, ketiganya sibuk.


Jihan meninggalkan Entrance, sampailah dia di depan pintu home. Dia berdiri di situ sambil menempelkan jempol pada kaca fingerprint.


Pintu berbunyi dan terbuka sedikit.


Klikk..!!



Jihan masuk dan setelah gang kecil, pasti akan melihat ruang Valdisk, mini office. Pada gambar di atas memang ada pintu kedua, namun di lapangannya itu hanya gang pendek, tidak ada dinding depan setelah pintu masuk. Dua dinding di Gang Kecil tersebut biasanya banyak ditempel berbagai schedule, pengingat, skema, dan yang berhubungan dengan panen maupun rute, tapi Marcel pilih mengosongkannya saat bercerita pada Jihan, merusak pemandangan. Tapi di situlah bedil Marcel digantungkan, jadi hanya terlihat saat onmind.


Mini office terhubung dengan ruang tengah. Jihan bisa melihat meja makan, dapur, sofa, pintu kamar mandi, kamar tidur, dan pintu ruang dandan. Dia lihat di ruang tengah ini bagian dapurnya agak berantakan, sedikit acak habis digunakan.


Jihan tahu-tahu sudah sibuk mencuci peralatan makan di wastafel dapur. Barang yang dicucinya panci, mangkuk, gelas-gelas, serta sendok. Sedikit banyak. Jihan taruh alat masak dan peralatan makan di rak mini, lalu mengelap tangannya.


Di ruang pakaian, ketika masuk Jihan dapati kursi ditutupi beberapa celana joging, meja rias penuh produk dan alat dandan, juga kaos dan baju santai lainnya dibiarkan menumpuk di kursi. Apa yang Marcel lakukan di ruang-cantiknya ini membuat Jihan diam.


"Hiks.."


Jihan terisak dalam duduknya di depan kaca rias, baju-baju di pangkuannya itu bukan pakaian kotor, baju yang paling wangi sabun pengharum. Matanya basah mengamati lipstik di tangan, barang tersebut baru dipakai. Produk lain telah dicoba untuk pergi kondangan, tapi ternyata Marcel hanya perlu itu. Marcel makin membuatnya terpikat dengan lipstik buah tersebut, lipstik tranparan tak berwarna tapi rasanya.. aduh membuat dia betah.


Jihan menangis sebab keringat Marcel baginya sudah cukup. Bahkan sambutan Marcel saat Jihan mengulum bibir ranum itu, bisa lama bila ada di kamar mereka. Fruty lips tersebut gift buat Jihan, dan Jihan keduluan.


Beberapa menit berlalu, meja rias sudah rapi dan tertata.


Di sofa, Jihan taruh semua pakaian Marcel. Dia lipat semua baju dan celana training si petapa. Sebanyak itu Marcel mencobanya. Mungkin dilakukan subuh hari, karena Jihan ke rumah Bibi tiap pukul 06:30. Jihan pun selesai melipat, dan dia memasukkan pakaian si teman ke dalam lemari ruang dandan.


Jihan pergi ke kamar tidur. Di dalam sama sekali sudah dirapikan. Jihan tutup lagi ruangannya, tak ada yang perlu dikerjakan karena pemiliknya sudah lebih dulu membereskan.


"Hhh.. Nih home dah setenang yang punya, Giz."


Demikian. Aku teringat terus akan buah itu


"Iya. Tau banget kalo aku suka Apel, coklat."


Jihan tiduran di sofa, menatap langit-langit ruangan. Dia bersantai dengan hati luar biasa tentram. Jihan belum bisa sesantai ini di rumahnya.


Dirinya masih tertidur


"Hhh.."


Kurasa Tuan Puteri masih menyimpan perkataan Raven


"Iya. Aku gak mau dia segalau itu dengan kata-katanya."


Hamba khawatir, jika di kemudian hari Tuan Puteri berkata pada kita perihal yang memberatkannya hingga..


"Hhh.. Insyaallah dia kuat Giz."


Jihan bangkit dari rebahan, duduk sejenak, melanjutkan kalimatnya. "Bukannya dia tuh bilang, punya tempat matengin pilihan tiap mau bikin putusan?"


Demikian. Kau bisa kembali ke tempamu menemukan buah (lipstik) tadi


"Di situ ya gate masuknya?"


Demikian


Jihan kembali membaringkan tubuhnya. Dia tahu harus apa untuk ke tempat tujuan. Jihan kedip matanya dua kali setelah dia menutupnya.

__ADS_1


Digh!!


Habis mendarat, Jihan berjalan menembus pintu dandan, masuk ke ruang rias. Di dalam situ kondisi ruang sudah agak beda, ada tambahan di tembok yang tak lain pintu geser.


Sllpph!!


Jree.. eeeng!!


Di balik pintu tembok ternyata medan luas, arena latihan mirip penempaan prajurit militer. Jihan melangkah ke kanan lawang, di situ dia melihat-lihat isi stand. Banyak macam pedang terpajang di papan tenda dan meja. Ada Katana merah, Katana Hijau, pedang Exalibur, pedang Arthur, semuanya bilah-bilah gepeng nan panjang.


"Killer.."


Jihan hanya menyentuh sisi pedang, mencoba ketipisan salah satu non-firearm. Ujung telunjuknya tampak tergaris, bukan tersayat. Jihan dapati juga jempolnya sudah polos, tak ada "tinta" pemilu, Ray sedang bersamanya. Jihan segera gesekkan jempolnya, lalu menggenggam udara.


Jihan merasa ada batu membesar dalam genggamannya, hingga kepalan tangan mengembang, terisi handle.


Trrrtthh!!


Bilah pedang merayap naik. Benda gepeng panjang tersebut mengkilat bagai cermin, bisa untuk berkaca.


Jihan mendapati sosok pemuda di tenda sebelah. Ray sedang berdiri memposisikan pedang bergerigi. "Mau latihan, Non?"


"Gak Ray. Gue lagi touring."


Craang! Jihan menekan bawah handle, pedang yang dipegangnya langsung pecah.


"Kupikir mau latihan," kata si tampan. "Rupanya mau jalan-jalan ya?"


Jihan dan Ray menelusuri lapangan, mulai dari jalur kawat berduri, tembok panjat, tali ayun, gawang-gawang tinggi, pagar berjajar yang mirip kartu-kartu, papan panjat lagi, dan rintangan sulit lainnya.


Fasilitas tersebut Marcel sendiri yang membangunnya, dan sudah yang paling "update". Sementara 'helipad' dekat tenda senjata hanya diperluas, arena atau ring buat main pedang.


"Di situ ring mainku. Kalo ini baru arenanya si bawel. Namanya A satu."


"Apa artinya tuh?" tanya Jihan pada Ray.


"Area satu."


Tampaknya A1 memang dibuat untuk single play. Lajurnya seperti jalan setapak yang benar-benar sangat amat ribet sekali. Lebih baik berjalan di sebelah jalur sampingnya, yang mana saat sampai di ujung Jihan tinggal menyeberang melewati jalur vertikal kedua. Tapi ternyata A1 memiliki delapan jalur vertikal, Jihan juga harus mengangkang saat menyeberang jalur empat.


Ada banyak ban-ban yang berjajar, lubang-lubang kotak aneka ukuran, lubang kecil menembakkan laser, lubang besar menyimpan air asam, kimia pengeropos dengan level tinggi, kadarnya makin naik di tiap kolam.


"Nih apaan sekarang?" tanya Jihan di pinggiran lokasi yang banyak dibangun pilar-pilar tak beratap. "Area dua khan?"


"Betul, Non. Luas kotak enambelas kilo. Cocok buat Petak umpet hobiku juga. Banyak dinamit sekarang. Sebaiknya skip-lah. Dia curang."


Ray meninggalkan A2 dengan cara berkelebat dan meliuk-liuk di antara tiang. Tiga detik kemudian di seberang A2, Ray menurunkan level. Layar di depan Jihan berganti dari 89 ke 01.


Gwiditt!!


Ckiiit!


"Lo juga curang khan, maen hack skor?"


Ray diam tak berkata, matanya masih mengawasi salah satu pilar. Beres menelan makanannya, biji Nangka itu dia lempar ke pilar yang diamati.


"Ray, lo budeg? Nih angka apaan?"


Dhuaargh!!


Pilar yang dilempar biji Nangka mendadak hancur. Jihan agak merunduk melihatnya. Untunglah letaknya cukup jauh sehingga tak ada serpihan yang melesat "menembak" mereka.


"Denger kali. Level awal sampai yang terakhir tadi, sensitif. Pas level duanya, lantai yang meledak, Non."


"Sadis."


"Area dua sama update-nya dengan yang sebelah ini, Non. Tapi lebih tepat disabotase. Aku masih mandet di sembilan puluh sembilan."


"Nih single apa multiplayer?"


"Kamu ngejar, dia (Marcel) ngumpet."


"Umm, boleh nih jebakan."


"Mau ke sana? Area tiga?"


"Seru juga kalian."


Ray melangkah pergi, menapaki pinggir lapangan pilar. Jihan mengikutinya, di situ juga ada A5 katanya, tetangga A2. Lokasinya kosong hanya hamparan rumput dan belasan pohon. Entah ada apa di balik TKP. Bedanya dengan A4 hanya pagar, sekat-sekat kawat.


"Pasti ini tempat dia mutusin pilihannya, Giz?" tanya Jihan sambil terus menapaki jalan di sebelah Ray, mengamat pohon-pohon yang ada.


Bisa jadi, Tuanku


"Ah area ini cuma buat mental dia aja sebenernya. Area enam sanalah tempat yang kalian tanya," beritahu Ray.


Sepertinya jin khodam itu mendengar suara Gizi. Tapi Jihan sudah tahu mereka memang sudah saling kenal satu sama lain, sebab dalam lingkup Reinita.


Kau yang membuatnya?


"Haruslah. Kalo ingin tegas, visi-misinya apa dulu. Dia wajib liat resiko, Giz. Aku sesuai sama kemampuan dia. Biar gak maksain diri kayak di gua itu."


"Eh, iya Ray. Yang lo maksud blueprint-murni tuh apaan?"


"Itu jantung dia. Bakal terus idup. Berdetak. Saat pertama Snail dioperasikan, badan dia 'kepotret'. Itu udah gak bisa dihapus."


"Kepotret gimana maksud lo?"


"Satelit ini nyetak biru planet, memindai sama isinya awal beroperasi itu. Kira-kira seperti itu blueprint-murni yang kumaksud. Saat Snail launching, itu bersamaan waktunya dengan acara dia (Marcel); proyeksi astral."


"Lah terus, napa dia gak bisa nginang lagi di tubuh miliknya itu? Si Heart nih siapa Ray?"

__ADS_1


"Gak bisa masuklah kalo udah dihuni xmind gitu."


"Ekmain?"


"Betul. Aku namain begitu buat isinya Kencana. Puzzle juga tidak apa, Non."


Jihan diam melamunkannya, kakinya terus bergerak menjajari langkah Ray. Dia tampaknya mulai memikirkan asal-usul si pacar. Jihan tunggu-tunggu, Ray belum juga membeberkan kelengkapan cerita.


"Lo napa pilih dia ketimbang tinggal sama Ratu?"


"Ada seniorku. Jhid. Aku juga ingin tahu banyak. Tapi aneh sekali, dia tak ingat soal majikannya yang dulu. Tidak banyak tersisa."


"Kalo boleh gue simpulin, isi Kencana nih titik kembangnya Internal."


"Males. Dewan aja kebingungan. Server amat rumit, Non. Kami fokus ke parasas saja. Biar Scope dan Nuck yang nyelam. Reinit sih, mana bisa pusing."


"Makanya gue touring ke sini, siapa tau bisa kebaca tuh isi Kencana."


"Betul. Kami ingin kenal kalian buat jaga iman. Laras udah jauh sekali perginya."


"Indri? Dia masih denger Uut kok."


Mereka sampai di tujuan. Ray segera mempromosikan lapangan A3. Luasnya masih sama dengan yang lain. Lokasinya berupa lantai yang dipagari dindin tebal, di tengah tempat memancang tiang yang tinggi, bisa diubah-ubah fisiknya karena untuk latihan memanjat cepat. Begitu juga dengan pagar, dapat dikondisikan tingkat moh atau kekerasannya. A3 mungkin berurusan dengan speed dan pressure player.


"Aku harus lanjut latihan di area enam ini, Non. Kupikir area empat sama dengan area satu, khusus fisik. Kalo area lima itu kurang lebih mirip nomand. Si bawel nyebut tempatnya dengan simulator. Kondisi perang ada, kondisi udara dan perang di laut juga ada. Area itu dibangun snailer sama anak dev Panti berdasar permintaannya. Maka yang lainnya pun harus punya. Area ini pasti ada di tiap homestay sel astraler."


"Berarti datanya dari?"


"Betul, dari Server. Hanya tidak bisa auto update. Untung kami sudah membuat timnya, tiap jam satu basetime, home wajib kebuka. Pagi buta."


"Kompak."


Ray sudah menghilang, A6 yang tadinya sebangun gedung, turut hilang jadi transparan, ter-opacity jadi lahan yang masih kosong.


Jihan close-mind, dia sudah kembali ke kamarnya. Lawang wormhole dia tutup lewat Gizi yang memang terhubung ke Sorrow, gampangnya yaitu dengan suara alias meminta.


Marcel masih kembang kempis dadanya. Jihan dapati posisi Marcel telentang dengan kaki menjepit guling. Bantal tersebut adalah posisi Jihan saat mereka bercumbu.


Jihan merapikan poni si pacar, wajah di situ terhalang rambutnya. Dia tak bosan dengan bibir Marcel. Setelah dirapikan, Jihan jongkok melihat bibir Marcel dari samping.


"Masih aja bening."


Jihan menghela nafasnya. Ingin mengulum tapi takut mengganggu. Jihan akhirnya hanya cium pipi.


Cwuuph!!


Di pekarangan belakang rumah, jemuran sudah kering. Jihan mengambil semua pakaiannya. Wangi deterjen tercium harum. Jihan segera angkut masuk, dan menaiki tangga.


Smartphone dalam saku celana training berdering-dering.


Kring! Kring! Bunyi sedan di atas genting. Mobilnya turun tidak tersangga. Cobalah tengok kawan yang genting. Galon dan timun patah semua..


Jihan langsung berhenti di tengah tangga, dering cukup keras dan pasti akan mengganggu tidur Marcel jika dibawa ke kamar.


"Hii.. siapa lagi. Plis, Giz. Angkatin dong."


Panggilan masuk terhubung


Jihan menyapa si penelepon. Dia balik turun, agak menjauh dari loteng dan tiba di pekarangan.


"Han??"


"Iya. Bentar. Ada apa Rom?"


Ternyata yang meneleponnya adalah bocah laki-laki, Romi. Jihan pun bertanya di tempat jemuran itu.


"Lo ada waktu gak sekarang? Vita nih, Han. Dia yang minta."


"I-iya, Rom. Napa si Vita?"


"Gue lagi di rumahnya. Badan dia masih meriang. Dah lamaan."


"Meriang?"


"Gak tau sih dingin terus. Banyak ngelamun sekarang. Gue denger-denger katanya lo pernah gini juga. Nge-force."


"Umm.." Jihan bingung. "Beneran?"


"Aduuh, gue sampe disuruh nginep. Kalo lo lagi di rumah, gue bawa deh ke situ."


"Uum, iya sih. Gue di rumah. Tapi gimana bisa sampe bengong gitu?"


"Dia bilang, kak Jihan Rom. Ka Jihan. Gue gak tau juga kenapa. Anak-anak bilang kena bucin."


"Trus.. Makan - minum dia jalan?"


"Ini dia Han, yang ibunya cemasin. Ayahnya udah bawa dia ke rumah sakit, tapi gak mau minum obat. Gue cekok dikit-dikit, Vita nampar."


"Ck. Ya udah. Iya. Gue di rumah. Lo ati-ati bawanya, ya Rom?"


"Hhh, thanks.. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Jihan diam melamun, setumpuk baju yang diaisnya terasa agak berat. Romi terdengar putus asa juga. Jihan hela nafas, dia lanjutkan acaranya.


Di kamarnya, Jihan duduk di lantai memilah-milah pakaian. Yang kecil, yang sedang, dan yang sejenis dia pisahkan. Jihan segera sibuk melipat baju dan celananya di situ, tak ada obrolan karena Marcel masih terpejam mata.


-


-

__ADS_1


__ADS_2