Jihan

Jihan
chapter up 92


__ADS_3

Billi mengakses file onlinenya lewat hape Jihan. Data tersebut berupa video. Maka tak hanya Jihan yang 'ngefans' Marcel, Billi pun menyukai sang milyader.


"Ah ini dia Eri, albumku bersama beliau di sekolahan. Banyak sekali alumni kami yang bekerja di sini."


Billi memeberikan ponsel itu untuk Jihan tonton, Jihan otomatis konek, menggiring rambut fokus mata.


"Ii.. iih lucu banget.. Nih di mana sih, Bil? Iihh.. pengen. Huu-uu."


Marcel yang lebih muda punya mata agak sipit, atmosfer centil khas remajanya membuat Jihan merengek. Usia SMP Marcel tampak kurus seperti Jihan.


"Gue download ya, Bill. Lo kok gak bilang-bilang sih, hii.. iii.. pengen banget. Ngiri.. gue ngiri.. Hiks.. Huu-uu.."


Jihan geser ke video berikutnya, masih ada Marcel yang sedang dance. Jihan makin meringis karena baru melihat album Marcel sebanyak itu, terlebih ada talk host-nya seperti..


".. Aku rutin pake Jglow nih. Sukaaa.. banget, abisnya bikin aku betah ngaca. So jangan tanya lagi yaa merk skincare aku yang mana. Dari dulu aku pake Jglow beauty. Cek deh link nya yaa. Udah aku spil dari dulu. Buat cowok juga ada lho.."


Billi Elisa sudah duduk di kursinya. Dia mengunyah sandwich lagi sambil menunggu laptop menyala penuh. Billi tak banyak cerita dan mungkin baru menunjukkan album rahasianya itu pada Jihan.


Kebanyakan isi albumnya adalah Marcel masa SMP. Ada hal signifikan dengan Marcel yang sekarang, aura centilnya seolah sirna dihapus kesibukan masa SMA-nya, berjibaku dengan tugas komunitas, beralih ke dunia independen.


"Dia gak cerita kalo dulu tuh kanebo kering kayak gue ini."


"Dia tak bercerita rahasia awet mudanya, Eri. Liat deh dulu aku tak setua ini, kami remaja puber."


"Gue save semua."


"Kau harus teken dua kontrak baru dulu."


"Dasar tukang nyogok. Iya. Ntar aku teken."


"Aku kangen beliau, Eri. Dia pernah nyerita soal kau yang selalu menyerang duluan. Aku ingin bisa begitu, tapi.. aku tak layak dibandingkan Mbak Lusi. Aku turut sedih saat beliau ditinggalkannya."


Pipi Jihan langsung merah, tahu bahwa Marcel memang punya mantan bernama Lusi.


Kembali ke Ragnarok. Entah apa yang akan menimpa kota satu ini. Rey tidak menjelaskan kecemasannya, hanya minta Jihan berjaga dan menetap di Ragnarok.

__ADS_1


Jihan sedikit terpaksa dengan durasi tiga tahun itu. Hal yang egois dapat disingkirkannya mengingat Internal sedang krisis, dia merengek ingin lihat Marcel.


Billi mau tak mau menyerahkan albumnya untuk membantu Jihan move on. Dan ternyata ampuh untuk orang sakti tapi gabut ini. Mungkin sengaja pula agar Jihan tidak kabur mencari Marcel, menemaninya. Bagaimana pun jika membiarkan Jihan menganggur, rindu itu akan menyiksa sang lusid.


Suatu sore, hari libur Jihan dan staf PH piknik di pantai wisata.


"Mas Asep, liat Billi gak?" tanya Jihan pada orang yang duduk pencat-pencet stik depan laptop.


"Sana, ke stand souvernir."


"Sama siapa?"


"Tukang Nyatet."


Jihan lemas. "Hhh.. Beneran?"


"Aaargh..!! Sial*n.. adookh ilang point gue.. Tim paraah! Euughh!"


"Hii.. ditanya malah berak."


"Kakak Psikopat!"


Jihan menoleh, tiga bocah SMP datang menghampirinya. Mereka minta selfi bareng.


"Kak Gizi, boleh foto bareng gak sama teman aku?"


"Khan udah. Kalo mau lagi, bagusan bawa parang."


"Tapi kak Gizi gak jahat amat kok. Kita udah nonton tiga kali filmnya. Masa pelit sih foto-foto doang."


"Hhh.." Jihan menghela nafas sambil lemas. "Okelah para tengilku. Tapi mending ikut gue yuk nyari Billi?"


"Haa?" bingung yang pake kutang. "Ikut? Tapi kak kita gak boleh jauh-jauh."


"Kamar kalian khan deketan sama grup karyawan Erika."

__ADS_1


"Cika mau kak. Ntar aku telepon kak Pandu dulu. Buat ijin."


"Nah. Khan temen kalian nih asli niat banget jalan ma gue."


Sementara anak yang ketiga masih menatap Jihan.


"Ya ela. Lo beda juga. Minta apa nih ma gue Milenial?"


"Saya pengen foto sama mas bodyguardnya Mbak Gizi aja."


"Nah gue pas lagi nyari idola lo."


"Tapinya Helen mau bodyguard yang item ini Mbak. Boleh khan?"


Helen menyodorkan hapenya pada Jihan.


"Yang item? Perasaan pala pak Bambang botak, Helen. Ehh..".


Kening Jihan langsung berkerut begitu melihat foto selfie-nya bersama mereka bertiga. Ada bayang penampakan di belakang mereka.


"..??!" Jihan miringkan kepala mengamati file galeri milik Helen. "Nih bukan Higtech. Kirim dong ke hape gue Len."


Jihan merogoh tas selempang nya yang dia bawa-bawa.


"Dia mah cari perhatian terus kak Gizi. Di sekolah juga suka jerit-jerit."


"..?!"


Jihan diam memikirkan kalimat barusan.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2