Jihan

Jihan
chapter up 76


__ADS_3

"Mamah pilih mencari tahu daripada kamu memikirkannya terus. Walau dunia kamu itu aneh, bisa jadi lagi butuh perhatianmu, Hani."


"Iya.. tapi lusid bukan cuma Hani khan Mah."


"Ya sudah. Besok konsultasi di optikal. Konsultasi-kan mata merahmu itu ke dokternya."


"Ntar aja kalo mata Hani katarak."


"Ngawur. Ini psikismu. Bawah sadar kamu sedang bermasalah. Artinya, kamu sedang lapar, Sayang."


"Lagi deh, nyuruh makan."


"Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat, Nak."


Jihan tidak menanggapi. Walau tidak lapar akhirnya dia mau membuka dus makanannya. Maka sepanjang perjalanan, Jihan biarkan dirinya berlinang air mata sekaligus ngemil.


Nangis sambil makan, atau makan sambil bercucuran air mata. Tampak di kursi mobil sudah ada beberapa bekas tisu yang Jihan gunakan untuk mengelap pipi. Tapi Jihan cuek, terus mengunyah donat, juga tetap mengelap matanya yang masih saja berair.


Seumur hidup Jihan baru melakukan dua hal tersebut secara bersamaan. Mungkin memang ada masalah dengan alam bawah sadarnya.


"Hikh.."


Splrrpp..!


Alam bawah sadar seseorang memang sulit dijelaskan. Seperti kematian, tidak dapat ditundukkan atau dicegah (dihentikan).


"Pak, Hani mau onmind sekarang.. Hiks!"


"Kamu sudah sholat?" tanya Bapak sambil fokus nyetir.


"Hikh.. Udah Bapakku."


"Bentar lagi sampe kok, Han."


"Kamu tidur di rumah saja Hani, jangan di mobil. Dasar ABG," kata Ling Ling ikut nimbrung.


"Iya."


Jihan menurut. Jadi jika dia tidur, Bapak akan repot mengangkutnya dari garasi ke rumah. Garasi memang terpisah dari rumah. Dulu mungkin, Jihan memang sering ketiduran. Sekarang sudah perawan, Mamah pasti langsung protes.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai tujuan sebab malam hari jalanan kota sudah agak jarang arusnya, alias sepi.


Begitu mobil berhenti di depan garasi, Jihan segera keluar. Sementara Bapak sibuk membuka rolling door garasi, Mamah mengambil alih kemudi.


Jihan melangkah dengan terburu. Karena lagi nangis bawang, pemandangannya jadi mirip sebuah drama, Jihan anak tiri yang kecewa. Jihan pun mempercepat langkahnya, masuk gang sambil menyeka pipi, meninggalkan toko-toko di situ yang sudah tutup.


Geclikh! Gembok pagar Jihan buka, pembukanya agak terengah-engah.


"Hhh-hhh! Hikk-hiks..!"


Jihan lalu menarik pagar rumah, lalu mendorong pintu gerbang. Dia lanjut melangkah, menuju beranda rumah sambil memilah anak kunci.


Jlikh!


Jihan buka pintu rumah lalu berjalan masuk tanpa lepas sepatu. Karyawati Hamam pulang juga akhirnya.


Di dalam rumah, dekat lemari piala, Jihan melepas sepatu dan kaos kaki dengan cara menginjak rak, kebiasaannya.


Jika sedang pakai celana jeans, lagak Jihan jadi mirip tomboy, tapi kemeja khusus itu menghilangkan kesan tersebut karena motifnya garis vertikal, mirip baju teknisi telkom atau PLN.


Jihan juga melepas jaket sembari naik tangga, tampaklah nama brand di punggung si SPG membuat orang langsung tahu bahwa dia bukan orang teknik, imejnya persis karyawan minimart.


"Hiiks.." senguk si Anak Tiri, setiba di kamarnya.


Syuung! Bregh..!


Jihan loncat, membantingkan dirinya di ranjang, dan menutup kedua mata. Onmind.


Syuu.. uuung!!


Digh! Jihan turun dari langit realita dengan gaya seorang legend, jongkok saat mendarat.


"Hiks.. Kebawa deh jadinya."


Saat berdiri, Jihan dapati pakaiannya masih PDL ritel. Tapi salah dia sendiri. Dia lalu melihat Bapak dan Mamah baru sampai di gerbang rumah. Sayangnya mereka sudah tidak bisa melihat sang anak.


"Oh.. jadi pengennya pada mesra gitu, ya? Hiks!" komen Jihan melihat Mamah terus bergelayut di samping Bapak.


Jihan kacak pinggang di atas atap rumahnya. Dia nyeker memijak lapis tak kasat mata saat berkomentar atas pemandangan tersebut.


"Spear! Liat cepat, sebelum mereka masuk," pinta Jihan sambil mengusap pipi. "Hikk!"


Thaaang!! Sebatang logam keras mendarat di dekat Jihan.


"Huu, telat lo! Rasakan ini."


Teph! Jihan mencekik Spear setelah kehadirannya divonis tanpa kejelasan lanjut.


Jihan memang sedang gabut. Untungnya Spear tidak pernah bicara, konsisten sebagai benda mati di dunia jadi-jadian. Tak lama, Jihan dibawa sang alat ke tujuannya, sampai di Escort setelah tiga puluh detik menunggu.


"Thanks."


Sat! Sit! Sut! Set!


Spear meninggalkan Jihan persis tongkat hantu, tegak dan meliuk-liuk ke pojok gerbong. Cara parkirnya memang selalu dengan tiga gerak demikian. Spear diam di situ.

__ADS_1


Sllpph! Pintu melesat ke samping saat Jihan datang.


Di Gerbong berikutnya, Jihan mendapati Gizi sedang duduk tersenguk menciumi tangan Sorrow. Jihan melangkah menghampiri sang jins dengan sengukan. Dia juga melihat robotnya masih terbaring seperti yang Romi beritakan, ada bola orange di atas dada Sorrow, si Kulit Biru sedang demam tinggi.


"Giz.. Hiks.. Uhuuhu! Hikk..."


"Tuan.." ucap Gizi sambil berdiri, bibirnya bergetar sambil menatap Jihan.


"Baju kamu.. uhuh.. Kamu kayak.. kru formula one, Giz.. Uhuuhu.. Cakep bajunya.. Huhuuu, hikks-hikks! Eheuh.. heeuuu.." Jihan menyeka-nyeka mata, tak kuat lagi harus bicara apa, wajahnya sudah basah, mandi air mata.


Gizi langsung memeluk Jihan. Pakaian yang dikenakannya memang telah berbeda, bukan lagi kru Starflet, kini dia mirip satu figur dari team balapan F1, sesuai dengan fotonya di kertas print saat membawa Sorrow. Dia pun masih pakai Speaker walau yang sekarang agak kecil dari alat sebelumnya. Gizi turut menderu saat majikannya mendekap erat, sehingga suara tangis mereka terdengar pilu saking senada bunyinya.


Satu jam kemudian..


Romi memasang alat "medis", banyak kabel steelwire menancapi kepala pasiennya. Sang montir ditemani pacarnya, Vita. Sorrow kini sudah diinfus selayak tubuh organik, tapi diinfus lewat kepala.


Sementara itu di gerbong sebelah, ada dua gadis sedang menatap jendela yang selayak tivi, berjarak selutut di depan mereka.


"Jadi kamu bener-bener gak tahu siapa si Hoax ini?"


"Demikian.. Hikkh! Hamba terus mencari," kisah Gizi duduk di sebelah Jihan tanpa melepas rangkulannya. "Dan dia telah lama bersama Almarhum sebelum kau hadir mengenalku. Terus bersembunyi, kian mengetahui apa-apa yang tidak hamba tahu."


Di depan mereka nampak wajah seorang gadis dengan kepala digelangi laser merah dan berpakaian parasut. Sekilas dia persis Nia karena rambutnya pendek. Tapi mata violet serta pusarnya yang menyala itu jadi pembeda kedua paradok tersebut.


File itu juga memperlihatkan empat tentara yang sedang menggiring tawanan masuk portal, serta Lintang yang sedang menjinjing Bola Naga alias soulator.


"Coba dong puter video arena pas kamu pergi."


"Hamba membawa serta seeder-mu tanpa sepengetahuan.. Hikks."


"Iya. Gak papa. Gak ada komentar."


Gizi segera berkedip menuluskan permintaan tuannya.


Jihan akhirnya bisa menonton rekaman arena lewat kaca jendela gerbong. Kaca tersebut memang dapat berfungsi sebagai monitor.


Di layar tersebut, tampak Marcel bingung melihat Jihan tiba-tiba pingsan di kala menjerit-jerit. Dia memanggil Gizi yang barusan menindih tubuh majikan, tapi sang jins tak mendengarnya, sudah melesat membawa samurai.


Saat jatuh dari portal, Gizi ternyata tak sadar Sorrow balik ke tubuh Jihan. Entah kenapa Ray mengirimkannya ke arena, yang jelas begitu Gizi melihat Hoax, sang jins langsung mengejarnya.


Para petugas dipinta Lintang bergerak cepat. Sang lusid seperti sudah tahu Gizi akan menyerang tawanan. Hoax berhasil dibawa masuk karena dia yang pertama digiring.


Luna muncul di dekat portal, mencegat Gizi sampai akhirnya semua tawanan dan petugas lenyap bersama portal yang dimasuki. Gizi tampak protes pada Al Hood. Tapi Luna menggelengkan kepala dan segera menunjuk Sorrow yang sudah terkapar tak berdaya. Saat itu Gizi sadar, perjalanannya dari masa ke masa memakan ruang memori, langsung ingat valdisk.


Gizi membopong Sorrow, karena Kisye tidak berhasil menyadarkan pasien dengan Citruz, sementara Marcel hanya memegang kepala seperti orang yang gagal mencetak gol.


Gizi minta Kisye membawa mereka ke Escort. Dengan mode daruratnya, sang kondektur segera menancapkan tongkat ke lantai arena. Seketika arena gelap dan "terlipat" jadi gerbong.


Di gerbong, Gizi kesulitan membuka pintu Escort karena dia mengunci kamar dari dalam. Marcel segera bertindak dengan pedang di tangannya.


"A-aah, jangan!"


Marcel menyampingkan (megang dekat bahu) pedang di depan pintu gerbong, tiga detik kemudian tubuh sang petapa berubah jadi hantu. Swwshh!!


Pose ritual itu berbeda dengan gaya lusid dalam mengontrol waktu. Tapi Marcel bukan hendak merusak pintu, ternyata dia pilih ber-intermate (interaksi) dengan masa lalu gerbong. Dia segera balik badan memberitahu Kisye soal tindakannya.


"Santai. Gue tau nih Escort bakal labil digores turunannya. Slow, gue lagi denger protokol ritual, Kis."


Swutth!!


Selesai bicara, Marcel melesat masuk menembus pintu. Lima detik kemudian lawang gerbong terbuka. Marcel agar menyingkir saat Gizi masuk. Mereka melihat Sorrow sudah terpercik-percik listrik kulit tubuhnya.


"Jhid bilang nih kilatan tanda chip lagi kesemutan. Habis kesendat, darah manusia kayak gitu. Chip juga kayak gitu."


"Hamba time explore bersamanya seribu tahun lebih."


Setelah membaringkan sang robot, Gizi mengangkat pundak Sorrow, lalu Kisye memberikan gelas yang sudah berisi Citruz, Gizi segera meminumkannya pada Sorrow.


"Masya Allah pantes overload. Tuh data belom disetorin, Mbak."


Tubuh Sorrow yang kaku, perlahan melemas. Kilat-kilat kecil di permukaan kulitnya pun redam setelah percikan itu berkurang.


"Demikian. Seed memilih ini. Hamba hanya tahu sedikit tentang urusan cintanya."


"Hmm, pubertasi. Nih logis kalo gitu. Oke. Ya udah. Gue mau ke panti ngasih tau ini, biar dia (Jihan) gak bingung sama out-close -nya."


"Hiuuh.. Hampir aja ngarat." Kisye menghela nafas tegangnya, lega, karena racikannya gagal. "Apa yang kita butuhin sekarang, Mbak?"


"Aduhai. Kami (Gizi dan Jihan) berharap, dan mungkin akan segera tahu, Kisye."


"*Mungkin ada lusid yang cepet ngerti kalo produknya nih ngeresahin. I back to job. Assalamualaikum.."


"Walaikumsalam. Terimakasih Kisye*."


Kisye pergi membiarkan Gizi duduk memegangi tangan Sorrow.


"Haha. Lucu dia.."


"Siapa yang engkau maksud Tuan?" tanya Gizi, seketika video yang sedang berputar ter-pause, "remote"-nya beranjak bangun dari posisi merangkul, Gizi duduk menatap Jihan sambil berseri.


"Umm, Jhid cerita sama aku kalo majikan dia berantem sama Hoax. Dua-duanya pada ngejambak rambut. Sulit dipisahin."


"Hhh-hhh," pundak Gizi bergetaran.


"Iya, ih. Cuma anehnya, tuh jins udah ada di angkot yang aku stop, Giz. Mungkin emang disuruh si Marcel gitu ya?"

__ADS_1


"Demikian. Hanya saja hamba tidak benar-benar mengetahui isi protokol yang dia tunaikan."


"Ouh. Protokol dia toh yang ajaib?"


"Hoax yang memburuku terlahir dari protokol yang kudengar. Seolah kau-lah yang berbicara di dekatku, menyuruhku. Padahal hanya hamba yang di ruangan."


"Horor emang protokol tuh. Kadang kedenger sepele. Kayak protokol dari Olive kalo Ghost tanggung jawab dia."


"Benar kelak kita akan mengetahuinya, Tuan. Wallahu alam."


"Ke Ladang yuk?"


"Dengan senang hati, Tuan."


"Tapi aku masih bingung. Kita gak bisa nyalahin si Oyon, atau maksa-maksa dia biar mau jengukin Sorrow."


"Oyon sudah begitu.."


"Gimana?"


".. berusia, Tuan."


"Hah? Maksud kamu om-om?"


"Seeder tidak ber-reproduksi. Dia akan banyak alasan. Aneka algoritma ada padanya."


"Kalo aku nyamar jadi si Mbak Uno, kira-kira activity aku tuh ngenggangu kondisi Sorrow gak?"


"Tidak, Tuan. Hanya saja perubahan tubuhmu takkan nampak jika bercermin. Kau masih dalam bayangan dirimu sendiri, namun tidak bagi yang melihatmu."


"Ya. Ide jet lag-ku juga gak nyala pas onmind gini. Sorrow masih demam. Aku harus bener-bener akting jadi seorang Prita yang dibucin si Oyon."


"Tak ada komentar."


"Bawain. Hehe.."


Zwiiitt! Set!


Gizi menyusut jadi bintang kecil dan langsung masuk ke tubuh Jihan. Otomatis lingkaran yang melingkari di kepala inang-nya hilang. Hal yang sama terjadi pada gelang Jihan. Si benda raib berganti mode built-in.


Mungkin jika Sorrow ikut, jari manis Jihan akan terlingkar cincin yang disebut SosFlat. Tapi robot jadi-jadian itu sedang overload.


Gizi melangkah masuk ke Escort, dia mendapati Vita dan Romi sedang main catur menggunakan meja grafik.


"Tuan Muda, Tuan Puteri, kami hendak ke Ladang. Ada suatu urusan menyangkut Sorrow."


Tubuh Jihan sudah dalam kendali Gizi. Selama 'dibawa' Jihan seperti tidur, jadi seperti itulah gaya bicaranya.


Bukankah Jihan sedang tidur? Itu hanya badannya, tidak dengan pikiran Jihan.


Kenapa onmind-nya harus dikatakan tidur? Soalnya dia pernah minta 'dibawa' ketika di TKP a, tapi bingung saat membuka mata di TKP b, lokasi sudah beda. Jadi Jihan tidak merasakan atau mengingat yang Gizi lakukan pada tubuhnya. Belum ada lusid yang membahas istilah "bawain", yang Jihan maksud sementara ini mungkin 'tidur'.


"Silahkan Mbak. Kami masih harus mantau frekuensi frame-nya juga. Gue rasa 'matahari' ini emang udah stabil," kata Romi di kursi putar.


"Nih bukan matahari kali. Batre, tau," ralat Vita, tapi Romi tak menanggapinya.


"Terimakasih atas kesediaannya, Romi, Vita. Kami pergi ke Ladang barang sebentar."


"Oke, Mbak Gizi. Silahkan. Kami masih harus di sini. Biar dia tetep kehubung sama Server, dengerin warning."


"Aduhai terimakasih. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam," jawab sejoli, bersamaan.


Gizi meninggalkan Escort membiarkan kegiatan mereka beradu strategi. Sampai di gerbong satunya, dia segera memegang stenlis.


"Antarkan aku ke Ladang," pinta Gizi pada Spear, lalu dinding, atap, dan lantai langsung saling memisah bersama hadirnya balon kurungan.


Kira-kira pakaian Gizi modelnya seperti gambar-gambar berikut, baju rumusan ini anti-panas, entah versi jadi-jadiannya berfungsi sebagai apa. Gizi tampak sempurna mengenakannya walau tidak begitu superhero seperti milik Jihan.






Jired:



Ninja Girl:



Arc (bedil Marcel), terserah bagusnya yang mana, ada banyak jenis dan type senjata di google, tapi model yang rada ke-UFO-an susah didapat.


Deskripsi Arc milik Marcel dkk sebetulnya adalah senjata yang ada teropong dan layar smartphone-nya, karena memang produk Snail.


Fisik senjata di bawah dianggap lumayan mewakili imej Arc bawaan si petapa wahid:



__ADS_1



__ADS_2