
Seminggu begitu cepat berlalu. Hari Senin di tempat kerja, prosedur kesehatan tidak kendor mengantisipasi sebaran covid, Jihan tidak lupa kuliah onlinenya, login di angkot buka file dari dosen. Hari Selasa pun, terulang lagi aktivitas pagi sang mahamurid plus karyawati.
Sore, sepulang kerja Jihan onmind sebentar untuk makan di Kafetaria. Habis isya, dia onmind lagi satu jam untuk boarding alias income-nya, juga tak lupa stalking Marcel.
Hari Rabu saat istirahat kerja, Icha heran karena Jihan tak terlihat makan dan hanya ambil jam kuliah, manteng HP. Jam pulang itu Icha belikan Jihan nasgor bungkus buat makan di rumah.
Beres makan, Jihan onmid sampai magrib tiba. Setelah isya, boarding sepi tak ada misi atau income tak tersedia. Jihan habiskan waktu onmind-nya di Panti, mencari Marcel. Di sana dia hanya bisa melihat pemilik kamar terbaring tidur, sudah keburu beristirahat.
Hari Kamis di tempat kerja, stok barang ditambahkan cukup banyak. Sampai jam istirahat berdentang si SPG masih beres-beres. Lulu-lah yang kemudian melanjutkan tugas karena jadwalnya kerja.
Kepo Icha tuntas saat melihat Jihan bergabung makan bersamanya di kantin karyawan.
Sorenya sampai di rumah, Jihan tidak onmind. Dia juga kelewat magrib karena ketiduran. Melayani customer sambil beres-beres stok membuatnya ototnya keder.
Saat sholat isya, Jihan perlama doanya, stok brand-nya yang seabrek itu telah dianggap "azab" bagi tiap SPG.
Lalu Jihan pilih tidur ketimbang onmind. Dia juga mulai kirim pesan ke nomer Marcel. Saat dibalas, Jihan menjerit. Jihan buru-buru menutup mata ketika Mamah datang.
Ling Ling tetap cemas. Walau anaknya sudah menyahut dan beralasan jeritan tadi karena pacar, kata itulah yang bikin Mamah kepo, karena baru sekarang Jihan terdengar heboh.
Saat baca WA Jihan, Ling Ling segera tahu siapa pacar anaknya. Ling Ling pun berbisik minta Jihan tidak mengikuti "level"nya.
Hari Jumat prosedur covid terus terjaga, masker khusus dibagikan untuk dipakai jam pulang nanti, semprot inspektan pun tetap berjalan.
Jihan juga dapati stand-nya sudah rapi betul di tangan Lulu. Jihan belum begitu bisa beres-beres, celana complet-size yang seabrek kamerin itu dia paksakan mampat di kotaknya. Pagi ini kotak yang "disumpal" sudah jadi tumpukan rapi dan mudah diambil, bukan lagi tumpukan yang dicabut satu, yang lainnya "kabur" semua.
Pulang kerja, lelah kemarin masih terasa. Saat capek oleh jam lembur Jihan tidak begitu ter-azab tenaganya. Maka saat rebahan di ranjangnya, balasan datang, lelah yang ada sirna seketika. Jihan dan Marcel chating-an.
Selesai Isya, Jihan lanjut bertukar pesan dan kata-kata. Lalu mereka telponan ala anak puber. Entah kenapa tidak videocall, mungkin voice only bagi mereka sudah cukup memuaskan.
Hari Sabtu, file mata kuliah dari dosen libur. Tapi begitu Jihan tiba di Citymall, penjaga kesehatan terus "bertempur".
Shift dua tiba, Lulu mengajar Jihan melipat profesional sebelum datang jam istirahat. SPG semampay Lulu, memang sudah legend di Hamam. Jihan langsung hapal walau belum secepat dan serapi Lulu, belum ber-insting pengrajin di pabrik.
Sorenya, Jihan dapati Marcel sudah menunggu dekat pos parkir karyawan. Mereka ternyata janjian untuk kencan dan jalan-jalan di mall. Keduanya have fun di sebuah fastfood mall, menertawakan acara mereka sendiri.
Di rumah, Jihan dan Marcel menunggu Mamah pulang. Mereka isi dengan obrolan tentang Tester. Keduanya mendeteksi kedatangan Ling Ling lewat bunyi roda pagar. Mereka intip dari beranda loteng, Mamah masih telponan, saat menutup ponselnya Ling Ling mengecup layar HP. Jihan dan Marcel buru-buru turun karena Ling Ling juga menjing-jing sekantong donat.
Minggu pagi seperti biasa, Jihan berolahraga kaki. Tujuannya pun tetap ke rumah Bibi.
Jihan sampai di warung ibu asuhnya itu, bertemu Marcel di situ untuk kali keduanya. Jihan dapati Marcel mengenai setelah joging juga, kaos lengan panjang dan celana training, rambut dikuncir.
"Mau gue bikinin mie gak?" tanya Jihan selesai mencium tangan Bibi.
"Nya eungeus. Boleh. Nyaho weh keur lapar teh.
- Ya udah. Boleh. Tau aja lagi lapar gini
Jihan mengambil mie instan dua bungkus. Di situ juga Bibi sedang mengaduk segelas kopi, sedang di tunggu dua pengojek yang duduk ngemil gorengan.
Jihan mengambil panci kecil yang menggantung di dinding warung, segera sibuk. Dia abaikan keringat dan lembab di wajah. Matanya sesekali ke arah Marcel, si teman asyik duduk manteng HP.
Bibi lebih tua dari Mamah, dan masih bagian dari keluarga Bapak alias adik tirinya. Dia juga sudah hidup mandiri, suka menolong tetangga. Bibi kemudian menggoreng bakwan selesai melayani dua pelanggannya.
Hening juga di situ. Biasanya ada abang ojek yang suka mengobrol, tapi hari ini bukan mereka orangnya.
Pengamen datang dan seolah mengerti, lagu apa yang sekiranya cocok untuk "makam" satu ini. Di saat teduh-teduhnya, belum ada sengat mentari, gitar bergema dilantuni suara pengamennya.
Aa.. kuu teraa.. sa mati..
ditinggal kekasih
Tak.. pernah.. terpikir.. ini bisa terjadi
Aa.. ku teraa.. sa.. pilu..
saat kau berlalu
Hilang.. semua kisah cinta dalam hatiku
Cintaku padamu, tlah setinggi langit
Namun kau tak merasakan..
Sayangku padamu, kan kuu ingat slalu
Biar ku bawa sendiri..
Aku tak bisa menahan langkah kakimu
Aku tak bisa menahan kepergianmu
Kamu ter.. laluu.. uu-uu..
telah dengan yang lain
untuk hidupmu nanti
Aku tak bisa menahan air mataku
Aku tak bisa menahan kesedihanku
Aku tlah han.. cuu.. uu-uur..
hilang semua mimpiku
Alunan suara makin melenakan kesibukan yang ada. Semua bisu sampai akhirnya tinggal gema gitar yang gentrang-gentreng.
Bibi memberikan selembar receh.
"Terima kasih Bu.." ucap pengamen sambil menunduk, dia segera pergi berlalu tanpa melepas petikan gitarnya.
Greeng.. Tingg..! Ting.. greeng-greeng! Ting!
Tidak ada yang mengomentari si pengamen.
"Sini, Mar. Duduknya," pinta Jihan.
"Eh, iya."
Marcel beralih tempat, dari depan warung pindah ke dalam. Dia duduk di bangku panjang juga, tapi di dalam sini khusus meja makan. Marcel lanjut membaca.
Jihan tak lagi lirik-lirik Marcel, konsen di kegiatannya memasak. Tenang begitu mungkin karena jarak Marcel dengannya sudah lebih dekat. Jihan tampak begitu ahli dalam kesibukannya, padahal cuma rebus mie instan pakai telur plus daun sosis.
"Ai gunting di mana Bi?"
Bibi mengambilkannya dari warung, lalu dia berikan pada Jihan.
"Tawarin minum atuh temennya, Han."
"Dia sunda loh, Bi. Emang pemalu sih anaknya."
"Apa ai kamu," sela Marcel langsung bicara.
"Bibi buatin susu aja ya, Neng?" tawar Bibi pada Marcel.
Marcel lagi-lagi sungkan. "Ih, jangan Bi. Biar dulu. Akunya gak mau bikin Bibi repot."
Pipi Marcel memerah.
"Lo gak usah sungkan. Bibi khan emak gue juga, Sel. Masih kuat Bibi ketimbang kita loh."
__ADS_1
"Kumaha atuh, ih.. da akunya malu," kata Marcel makin memerah.
- Gimana dong, ih.. khan aku malu
Jihan tak menimpali, diguntingnya bumbu tabur, sibuk kembali dengan masakan.
"Pokona, Neng. Nanti, kalo kamu ngantosan deui, atau mau minum, kamu boleh bikin. Sok weh ulah era-era. Bibi suka diriung ku parawan nu galeulis," kata Bibi mencoba akrab dan gaul.
- Pokoknya, Neng. Nanti, kalo kamu menunggu lagi, atau mau minum, kamu boleh bikin. Udah aja jangan malu-malu. Bibi suka dikerubung sama perawan yang cantik-cantik.
"Wios, Bi. Keun waelah. Akunya masih kagok tuda."
- Biarin, Bi. Biar ajalah. Aku masih tanggung gitu
"Ah.. Kagok kumaha?"
- Ah.. Tanggung gimana?
"Ngaheuheurin warung, Bi."
- Nyempitin warung, Bi
"Heu maneh mah, aya weh alesan teh. Ya udah, Bi. Biar Jihan aja yang bikinin."
- Hu elo, ada aja alesannya tuh.
"Ih, ari sia.. ulah. Keun we. Ulah ih. Bae, Han."
- Ih, elo nih.. jangan. Biar aja. Jangan ih. Biar, Han.
"Arek teh manis wae kitu?"
- Mau teh manis aja gitu?
Marcel tak menanggapi, mendadak pipinya merah lagi. Dia fokus ke ponselnya. Marcel diamkan Jihan begitu saja.
Bibi minta Jihan mengurus rebusannya. Katanya biar dia yang membuatkan teh manis. Bibi mengambil dua gelas, langsung sibuk bekerja. Dia juga kemudian menerima uang dari pembeli yang sudah selesai sarapan.
Tak lama kemudian Jihan membawa dua mangkuk makanan. Dia taruh mangkuknya di meja dan langsung duduk di depan Marcel.
Jihan lihat dua pengojek tadi pergi, tak ada siapapun di bangku depan warung. Jihan berdiri mengambil sendok dan garpu, lalu keluar bangku. Dia memutari meja, lalu duduk di sebelah Marcel.
Marcel yang sok anteng menaruh HP, lalu merapatkan duduknya ke sisi Jihan. Dia segera mengaduk aduk-aduk mie instan.
"Mau pake saos gak?" tanya Marcel, tangannya sudah megang botol.
Marcel menggeleng kepala.
Jihan lihat, Bibi masih sibuk mengaduk teh. Sambil mengawasi Bibinya, dia mendekatkan kepala, kemudian mengendus rambut Marcel lanjut mencium pipi. Jihan segera memposisikan duduknya lagi, merapatkan badannya.
"Makasih.." pelan Marcel, tampak malu dan lanjut mengaduk-aduk mie lagi.
Di pinggir jalan kedua sahabat sudah beres makan-makan. Kini Mereka jalan santai sambil mengobrol. Lalu lalang kendaraan mengiring perjalanan mereka, beberapa toko ada yang buka dan beraktivitas.
"Gue gagal bawa orang. Biar gitu, Dian gak marah. Gue keki juga jadinya. Makanya, mending gue pegang kerjaan aja, sama kuliah," kisah Jihan atas kecerobohannya dulu saat merekrut kandidat lusid.
"Kalo di Panti sih, paling cuma bangunin orangnya."
"Gitu ya?"
"Susahnya, nyadarin yang meditasi tuh pas bawa Reseptor yang gak pas. Soalnya kami gak tau dia udah ngalong berapa lama, ada di mana. Alatnya belum seratus."
"Benefits nya berapa kalo nemu orang baru?"
"Lima ratus digit. Dua jutaan. Tapi di Layer gue udah jarang ngedetek sinyal kandidat, harus nyisir sel dengan cara manual, buka-buka wall. Sebulan dapet tujuh, kadang empat. Tapi ya gitu, susah-susah kita dapetin, orangnya gak inget tubuh basetime dia di mana."
"Ehh, asal-usulnya lo juga khan gitu ya? Kaga jelas."
"Tapi amnesia?"
"Kalo random iya. Awal-awal gue di Internal pas beres perang sama tubuh mutant gue, si McWell. Jantungnya ada di si Heart sekarang nih.
Awalnya tuh gue mau praktekin meditasi, ritual meraga sukma. Hera datengin gue, dia dateng sama si Ray yang nempel di punggung dia.
Lah tapi, dia tuh siapa ujug-ujug rusuh, nyebut-nyebut perang dunia, radiasi, mutant, termasuk tubuh gue, si McWell."
"Siapa dia emang?"
"Ya dia tuh gue juga, lagi pake skinchar. Gue belum tahu indentitas dia, tapi kak Irma sama Mamah udah, soalnya dia yang ngasih tau. Pada akrab gitu jelas banget gue heranlah. Eh, dibingungin lagi sama si Jhid yang bilang dia jins piaraan si Hera."
"Trus?"
"Karena Mamah yang minta, gue nurut. Gak ritual lagi. Soalnya ntar, badan yang gue tinggal tuh mutasi jadi si McWell."
"Diinang?"
"Bukan diinang, Han. Ber-evolusi gitulah."
"Evolusi khan gak sesingkat itu? Butuh waktu panjang, Sel."
"Maka gue desak si Hera ini. Dia tau evolusi, tapi gak nerangin apa itu radiasi Kencana."
"Kencana? Maksud lo portal Server tuh?"
"Iya. Kencana mana lagi emang?"
"..??"
Jihan diam bertanya-tanya. Marcel pun sama tak meneruskan ceritanya. Mereka pas sampai tujuannya, langsung mencegat angkot di halte itu.
Marcel gandeng Jihan melangkah untuk masuk angkutan. Jihan segera imbangi gerak langkah si teman agar tak terseret karena angkot berhenti di kejauhan.
Marcel duduk di pojok, Jihan duduk menghadapnya.
"Pada mau ke mana, Neng?"
"Gang Lam Alif, Bang."
"Hadeeh.." lemas bang supir, sudah kenal dengan Jihan.
Angkot melaju lagi. Kali ini tidak ngebut. Si supir mengendarainya dengan santai.
"Radiasi. Terus apa, Sel?" tanya Jihan. "Lo by one sama Hera?"
"Kalo judesin iya. Dia sok akrab sama temen gue si Lusi.
Dia (Hera) cerita, dulu juga pernah didatengin orang yang persis fisiknya itu, sebutlah si Janda. Orang ini sama sewotnya ke dia.
Hera nyuekin larangan dia (si Janda) sampe kabur dari rumah cuma buat ritual. Masa bodo dia bakal keisep lubang, kesedot awan, kebidik Kencana. Dia ngebet sama dunia lain. Trus Hera dapet tempat cocok yang gak lain gua (McWell)-nya itu.
Dia sukses misah diri dari badannya. Gua gelap begitu, lampu cas-nya gak ngejangkau jauh. Dia pun keluar gua.
Dan larangan si Janda bener adanya. Hera mikirnya tuh lagi terbang ke luar gua, bukan lagi kesedot Kencana. Padahal udah jelas hari masih terang, udah tau dia meditasinya waktu ashar. Pas udah deket portal buru-buru Hera pergi, ya keiseplah."
"Terus?"
"Gue gak tau kalo cerita dia tuh malah nguatin niat gue, Han. Makin penasaran dunia lain."
"Trus?"
"Hera ngerasa roh dia tuh mental, dan langsung masuk tubuhnya lagi di gua itu. Dia bilang ngerasa ditolak, gak jadi keisep. Nyatanya dia udah pindah ke akhir jaman.
__ADS_1
Tuh gua gelap banget dia (Hera) bilang, karena ketimbun runtuhannya, udah jadi bawah tanah.
Dia udah di masa depan, tubuh dia masih tembus pandang di antara orang-orang, warga suatu kota yang futuristik.
Dunia udah di era alien. Nih mahluk evolusi dari manusia itu sendiri, mata besar, idung rata, mulit kecil. Peradabannya udah pake teknologi siluman, dia bilang komputer yang berisi jin."
"Singkat cerita?"
"Ntar dulu. Tubuh yang dia tinggalin tuh masih ada. Idup abadi sampe era alien. Hera diburon pasukannya. Udah tuh, petualangan dia dimulai.
Apa elo tau Han, siapa kira-kira si Janda?"
"Yang matanya item-item itu khan?"
"Ai sia, eta mah sato."
- Lo nih, itu sih hewan
"Hhh-hhh!"
"Nih Janda dipikirin sama Hera. Makanya nyesel luar biasa.
Hera mulung pedang pasukan McWell, di mana pedang itu tempat Jhid berada."
"Hhh-hhh! Nih mahluk udah tua juga ya, Sel."
"Dah bau apalah. Tuh pedang bawa radiasi Kencana.
Tanpa sepengetahuan gue, kedatangan Hera ke rumah tuh, biangnya napa tubuh gue ber-evolusi begitu cepat.
Tubuh gue nyerap energi Kencana, radiasinya masih ada dalem logam. Tanpa sepengetahuan, body gue ngisep energi portal.
Hera udah dikasih tau Jhid padahal soal radiasi wormhole ini. Kepulangan dia ke masa gue udah beda, gak bakal nemu si Janda lagi, hanya bikin gue jadi mutant.
Nah khan dia (Hera) biang keroknya, tubuh gue ke-evolusi gara-gara dia bawa benda ber-teknologi akhir jaman, teknologi jin."
"Sel, yang mau gue tanya, kapan Hera merdekain Jhid?"
"Kalo gak salah, pas Hera pergi, nyari si Janda. Seberes nyampein larangannya ke gue, dia balik ke gua itu.
Jhid yang kasih tau ini ke gue.
Tadinya, ngeluarin Jhid dari khodam-nya tuh ditolak aki-aki ini, Han. Soalnya portal kencana tuh bakal ngehapus ingetan dia juga. Hera-nya nekat, bawa dia ke portal Kencana."
"Trus?"
"Gue gak tau lagi Hera di mana sekarang. Yang pasti, gue ngulang sejarah dia.
Karena beberapa bulan kemudian gue mulai ritual lagi dan berhasil ngalong.
Gue meditasinya di rumah. Jadi pas keluar gak gelap, masih di kamar gue. Trus tubuh gue udah kayak angin. Otak gue tenang, gak takut lihat badan gue sendiri diem bersila.
Besoknya, gue.."
"Lam Alif.. Lam Aliif..!" beritahu abang supir.
"Hii.. udah nyampe aja. Turun yuk? Kita lanjut di rumah."
Setelah turun, lalu bayar angkot, Jihan minta Marcel lanjut bercerita lagi.
"Karena ritual pertama berhasil, besoknya gue ngalong lagi, Han. Kali kedua gak keduga sama gue."
Jihan sengaja berhenti di bawah gapura, Marcel tak protes, ikut berhenti.
"Gak keduga?" tanya Jihan, mengulang kata.
"Jhid khan pergi tuh dibawa si Hera."
"Iya. Trus?"
"Dia bingung berada di gua itu, napa nyasar ke masa sekarang ini. Dia juga bingung, soalnya gak bareng Hera lagi."
"Nih pasti kejadiannya pas beres DM. Pas dia dibuang dewan."
"Eh, lo kok tau?"
"Coba, terusin lagi asal-usul elo, Sel."
"Oke. Oke. Hhh.. Kedua kalinya gue ngalong, gue gak bisa balik ke tubuh gue. Belum ada dewan, belum ketemu sama si Jhid."
Jihan menggandeng Marcel, meninggalkan gapura. Dia ingin si teman minum. Jihan mengajaknya ke rumah.
Tak lama mereka sampai di tujuan, usai lepas sepatu, lepas kaos kaki, mereka mendapati Bapak sedang menonton rapot. Jihan tak melepaskan genggamannya. Bapak pun berdehem iseng.
Jihan segera naik membawa Marcel dengan pipi sudah merah-merah.
Tiba di kamar, keduanya melanjutkan obrolan. Marcel duduk di kursi meja belajar, Jihan membuka jaket parasutnya.
Selesai menggantungkan jaket di balik pintu, Jihan tutup kamarnya. Dia bergerak ke pintu balkon di mana ada dispenser. Jihan simak cerita Marcel sambil mengisi gelas plastik, tak lama setelah penuh, dia bawa pada Marcel.
Marcel meneguk isi gelas sampai habis. Sambil menunggu, Jihan selipkan rambutnya ke telinga. Marcel menaruh gelas ke meja belajar.
"Tambah lagi gak..?"
"Hhh.. Gak. Gue terusin ya. Lalu-"
"Lalu kamu ngedadak ngantuk gitu, aku bius kamu dengan minuman," kata Jihan saat menempelkan jari ke bibir Marcel. "Nih khan cerita soal kamu. Aku pengen soal kamu aja."
"Ouh.. iya. Aku ngantuk. Aduh kepalaku.. Lo kasih gue obat apa?" tanya Marcel memegang kepala.
"Obat nyamuk. Kamu gak apa-apa?"
"Aku gak papa. Obat kuat juga boleh kok."
"Hhh-hhh! Kurang ajar.." Pundak Jihan bergetar.
"Swer gue lelah. Boleh tidur di sini gak?" tanya Marcel sudah duduk di tepi kasur dan langsung membaringkan badannya.
"Umm.."
Jihan tak menimpali, menatap Marcel yang ngantuk menutup mata dengan tangannya. Dia segera naik, lalu menurunkan tangan Marcel yang menutupi wajah si teman.
Saat Jihan sudah di ranjang, Marcel tersenyum mendapati wajah si pemilik kamar. Jihan rapikan rambut yang menempel di pelipis Marcel, menurunkan kepalanya, mengulum bibir basah itu.
"Umhh..!"
"Mmhh!" Marcel pegang kepala Jihan agar dia tak melepaskan bibirnya.
Jihan perlahan-lahan berbaring, kepala Marcel mengikutinya.
Chiuu..upp..!
-
-
"
-
-
__ADS_1