Jihan

Jihan
chapter up 09


__ADS_3

Jihan bisa enjoy saat "sekarat" ini. Mungkin karena ada yang terus hidup dalam dirinya. Dia menghadirkan seseorang dengan cara bermonolog, yang hadir dengan sendirinya alias sudah terikat dengan orang yang dia sebut Bebeb, tak lain Marcel.


Sepanjang hari bersama bayang seseorang, membuat dia jadi tak mudah menyerah. Aktivitas yang ada menyangkut tujuannya itu, yang tak lain untuk komunitas yang sedang membutuhkan tenaga support.


"Erika.."


"Suara Heart, bangunin aku, Beb. Dia diri kamu versi legenda, versi permanen. Sama awetnya. Aku dan yang laen bakal tambah usia, kamu abadi.. cuma bisa didatengin Izrail origin."


Malam sudah datang, Jihan bicara sendiri di depan campfire buatannya. Bau panggangan menyeruak di sekitar situ karena Jihan membakar tiga Lele yang agak besar. Dia bermonolog sambil membolak-balikkan makanan tersebut.


"Aku deg-degan di tempat kerja pas denger kabar.. kamu koma. Kena sirep vantablack. Aduh, gabut gak nentu. Pengen cepet ke Panti, jenguk kamu.."


Kemudian Jihan menceritakan situasi Internal. Akar masalahnya, kanibalisme, Luna dibuang ke pengasingan sehingga para Eks bebas mencari "makanan" untuk jins peliharaan mereka.


Luna mampu meminimalisir pembunuhan manusia di semua masa, dia selalu tahu aksi para anak buahnya di Internal hingga para soloter harus merelakan piaraannya dibekukan alias "dimakan" oleh Luna.


Namun Luna sendirian, hanya dia yang bisa memakan parasas. Sehingga saat dia "disembunyikan" atau dibuang, para dewan dan lusid akan sangat sibuk menjaga "makanan", berperang atas nama kemanusiaan.


Luna belum ditemukan keberadaannya. Di saat kekurangan tenaga, andalan komunitas sedang "koma". Marcel tak sadarkan diri.


Entah apa yang sedang dialami si petapa wahid. Dia memang selalu diincar musuh-musuhnya, termasuk senjatanya. Marcel sedang terkena sirep tidur, dia sangat dibutuhkan tenaganya kala krisis ini, boleh dikatakan garis depan, sama pentingnya seperti Luna.


Tanpa terasa, Jihan sudah menghabiskan puluh menit. Dia bercerita tanpa ada pendengarnya selain Tuhan dan dia.


Kresh!


Ikan panggang selesai dibakar, hingga saat Jihan gigit itu keringnya daging terdengar.


"Nyaem.. nyam.. mancap. Enak."


Karena hanya Jihan yang lapar, skip pun berlangsung ke acara santai dan perapian.


Jihan rebah melamun sambil menunggu air rebusan mendingin. Kaleng di situ berisi air rebusan, dimasak saat Jihan memanggang Lele. Kini masih panas, tak bisa dia sentuh kalengnya.


Saat pagi datang, kayu campfire telah padam jadi arang. Jihan menguap dan menggeliat di pasir itu, terbangun dan tidurnya tampak nyenyak semalaman.


"Hoaamm.. mmghh..! Met pagi dunia, gue udah bangun. Hoa.. mmh."


Tak lama kemudian, Jihan dengan malas menapaki pantai, menuju hilir sungai. Dia hendak mandi mungkin. Jaraknya ke tempat tujuan setengah jam.


Cbyuur..! Cbuur!


Jihan basahi semua tubuhnya termasuk rambut. Air hilir masih dingin, namun dia tak peduli.


"Anda lulus bertahan hidup hari ini. Selamat, Anda naik ke level dua. Yuhuu!"


Cbyuur! Cebur..!


"Horee.. hari kedua, Beb. Aku naik level! Hahaa!"


Jihan selesai mandi. Dia memeriksa kolam ikannya. Ada beberapa ekor yang menginap, namun para Lele kehabisan makanannya.


"Hadeeh, tunggu deh. Gue belum dapet. Moga aja hari ini ada Anakonda. Tetep di situ My Food."


Jihan kembali ke kemahnya. Dia membawa tiga Kepiting yang ditangkap di perjalanannya. Jihan juga lalu minum air rebusan yang di kaleng, tanpa melepas gaya.


"Sllrupp.. ahh. Aduh rasanya beda aja sama aer sungai Beb. Nih aer Sarden, dingin nyejukin."


Seminggu kemudian, Jihan sudah punya kesibukan membuat perabot dari tanah liat.


Pakaian sudah pakai daun anyaman. Tapi penutup dada dan celana masih dari kain yang Jihan keringkan tiap selesai mandi. Dia menunggu jemuran sambil membuat tungku perapian, wadah air, atap dan dinding halte Jihan tutup dengan daun-daunan kering.

__ADS_1


Sumber tenaga atau makanan Jihan seharian masih ikan, Kepiting, dan air. Dia mengulang hari dengan makanan yang irit, makan sedikit tiap enam jam.


Semingguan itu Jiha paling sering merebus air dan mengumpulkan kayu. Dia dua hari mengangkut tanah dengan baju piyama, setengah badannya dia biarkan kepanasan.


Dua minggu kemudian, Jihan sudah mengenal tempat sekitar rumahnya. Radius jaraknya selalu satu jam dari "halte". Jihan ukur waktu dengan posisi Matahari menggunakan gantarnya, patokan arahnya dua titik; rumah dan hilir sungai.


Sebulan berlalu. Jihan sudah punya rumah daun dan perapian dalam rumah, sekaligus pengusir nyamuk karena ada banyak arang yang dia kumpulkan di wadah "menyan".


Tiga bulan di pantai, Jihan tampak item tubuh dan wajahnya. Dia bisa tau dari genangan air.


"Hhh.. gak ada salon jadi ijuk nih rambut."


Jihan menghela nafas, ternyata mengeluhkan rambutnya yang kusut. Di sisi sungai ini, dia sedang memberi makan ikannya dengan daging ular, baru sadar dandanannya sudah rimba style.


Enam bulan berlalu. Jihan sudah punya rutinitas berburu dengan busur. Radius ekplorasinya sudah agak jauh hingga menemukan habitat Kelinci, Rusa, dan Harimau.


"Aarrgh..! Pergi lo! Hussh! Huush!"


Ggrroaarh!!


Jam maghrib, Jihan baru bisa turun dari pohon karena Harimau wilayah sudah pergi, tak mengganggu dan tampak mengerti kalau Jihan tidak bawa Kelinci.


Jihan harus tinggal sementara di dalam hutan, membuat campfire, begadang menjaga nyawa. Tampaknya sudah sering dikejar Harimau itu, terjebak tak bisa pulang.


"Hhh.. Dasar tukang nyakar. Gak boleh pulang kalo belum bayar pajak. Hadeeh. Udah tau Kelinci lagi sepi, malah ngamuk-ngamuk."


Plak!


Jihan mengawasi sekitarnya sambil menggaruk-garuk tangan yang digigit serangga, memasang kuping setajam mungkin.


Pedalaman pantai di radius ini sudah Jihan kenali keganasannya. Tapi tampaknya Jihan penasaran dengan jumlah Harimau.


"Kasian sebatang kara. Gue belum liat belang yang laennya di mana. Cuma elo doang yang ada selama dua mingguan ini.."


Larut malam Jihan terjaga, dia menepuk pipinya yang ditusuk nyamuk hutan.


Plak!


"Iihh.. pada nakal nih nyamuk sini."


Jihan menaruh kayu di campfire yang sudah tinggal bara. Api pun menyala kembali. Jihan bangkit membawa gantarnya, kembali mencari kayu-kayu.


"Gara-gara pajak, gue ngalong lagi."


Jihan membungkuk memungut ranting, daun-daun kering. Tak lama kemudian dia duduk di depan obor tanah itu. Di situ Jihan mengemil bekalnya, mengunyah buah Sawo.


Setengah tahun ini cukup mencengangkan seorang gadis bertahan hidup di alam liar. Entah, mungkin karena sudah rejekinya, bisa juga karena kebiasaannya bekerja.


Kresh!


"Besok gak usah pulang. Gue harus jelajahi arah depan ini sekarang. Moga ada sumber makanan baru."


Fajar lalu tiba, Jihan sudah meninggalkan kemah bayangan. Dia mengendap di antara tanaman rimbun. Jihan juga mengawasi sekitarnya.


"Clear.. gak ada Macan."


Pagi buta, Jihan menapaki tanah belantara dan kedinginan. Dia sedang mengenal area dua-jam dari rumahnya ini.


Hari pun beranjak terang dan hangat. Jihan berjalan di tanah agak berbatu, sudah berada di luar hutan. Tanah lega itu agak turun.


"Hhh.. kota apa nih? Kayaknya ada kehidupan maju."

__ADS_1


Jihan berhenti di perjalanan saat sudah dekat dengan pemandangan yang ditujunya. Nun jauh di sana ada sehampar bangunan-bangunan modern.


Krakh!


"Ehh..!"


Set!


Suara patah batu kering, membuat Jihan refleks berbalik sambil memegang kapak batu yang selalu menggantung di pinggangnya.


Gliit..!


Selesai menyinari wajah Jihan, sosok manusia mesin itu diam menatap. Dia robot yang bisa terbang, baru mendarat.


"Sejak kapan di sini lo?"


Si robot mengacungkan enam jarinya.


"Jam enam? Hah?"


Si pria menggelengkan kepala.


"Apa mau lo, Eks?"


Saat diajak bicara begitu, sang robot melangkah menghampiri Jihan. Si gadis menyingkir dari posisinya.


"Jawab, kek. Diem terus gue pukul nih."


Swrttth!


Seunit robot lainnya muncul di udara. Dia membawa dua kardus bermerk Erika. Perlahan turun, menaruh bawaannya.


"Jangan naro bom di sini. Macan itu gak punya tempat lain selain di sini."


Jihan bergantian menatap dua robot yang diajaknya bicara. Keduanya bisu, bahkan selesai menaruh kardus, robot ke dua itu menghilang kembali. Di susul oleh robot pertama.


Jihan langsung minta tunggu, namun si robot pertama keburu terbang melesat.


"Tunggu!"


Jihan lemas badan ditinggal pergi begitu saja. Dia ingin bertanya karena tak tahu isi kardus yang mereka taruh di situ.


"Hhh.. Apa ya?"


Jihan hanya bisa kacak pinggan di depan dua kemasan misterius itu. Tak lama kemudian, dia bergerak, nekat membukanya.


Sreekh! Wreekh!


"Haa? Aduh.. baju, celana.. !"


Jihan mengeluarkan semua isi dari kardus pertama. Semuanya produk kain termasuk selimut yang juga ada nama Erika-nya.


"Njir.. siapa yang ultah, orang gak mesen juga."


Sreekh! Wreekh!!


Jihan membuka paket kedua. Isinya membuat mata dia membulat.


"Pistol, golok, piring-gelas.. Kalian salah ngirim. Sarung tangan, sepatu, gue gak mesen ginian. Gue pengen ketemu si Bebeb. Huaaa... aaa.. Makasi ya Allah."


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2