
Jihan begitu menggebu-gebu pada Marcel. Mengikuti saran Reinita yang juga disukainya, dia ingin kenal bahkan tinggal di Panti; markas para petapa.
Saat Jihan ingin halu-halunya bersama Reinita, saat Marcel sedang butuh-butuhnya teman "dekat", Marcel hadir menyambut Jihan dalam keinginan yang sama. Dan tentunya, Jihan paling menggebu saat mereka berciuman, menjadi tak segan dan akhirnya Jihan bisa melupakan pesona Reinita.
Apa awalnya Jihan dipengaruhi Reinita? Jika dalam hal menyakiti, tentunya tidak. Reinita hanya menyarankan tempat touring, sebab Panti belum serumit Server bila dipelajari.
Di alam sadar, Jihan pilih tidur di ranjang Marcel, bahkan si pemilik kamar sudah atur ijin masuknya. Marcel sendiri kadang tak ingin Jihan melepaskan ciuman mereka. Satunya maju, satu lagi mengunci, keduanya teman "sejati".
Nina sudah meninggalkan tirai exit di Endfield. Jihan memeluk si petapa selayak Vita yang pernah memeluknya, berjalan menuju portal dalam rangkulan Marcel. Di sebelah gurunya, Nature mengobrol bersama Gizi.
Jihan masih tersedu-sedu.
"Hiks..Hiks!"
"Kita balapan yuk, Guru?" ajak Nature sekeluarnya dari Endfield. "Sambil bawa Mamah ke desa."
"Ya kamu menang atuh," jawab Marcel tetap berjalan merangkul pundak Jihan.
"Ntar Nature mengalah kok."
"Oh ya?"
"Iya."
"Ngalah buat menang maksudnya?"
"Hehe.."
__ADS_1
Di desa, orang-orang masih beristirahat, duduk, rebahan, dan mengobrol. Ada sebagian warga yang masih diurus luka dan lecetnya oleh tim Kisye.
Ririn yang mengobrol dengan Gamma soal Gaza, tak sengaja melihat pasiennya datang mendarat mengais Jihan. Sementara Monika masih sibuk mengelap dan membersihkan Arc. Gaza ternyata belum mau pulang, Gamma masih harus pakai bratle karena Gray punya kesibukan.
Beberapa jam kemudian, di gua tempat Raven berada, Jihan bercanda lagi dengan Nature di sel baca. Jihan menunggu Marcel dan Nina, keduanya masih di office LP.
Nature yang didudukkan di meja, riang sekali dalam tawanya. Jihan sadis juga menggelitik bocahnya Camar.
"Ahahah.. hha!!"
"Nanya apa kamu tadi, ha? Ayo, nanya apaan? Nand udah diurus sama kantor sini. Kamu jagain juga Heart ya, jangan sampe dia kabur. Kalo dia kabur, Mamah jadi pucet lagi nih.. errrggh!!"
"Ahaa!! Iya.."
Beberapa menit kemudian, Jihan dan Marcel kembali ke basetime lewat portal hasil sobekan Ray. Mereka berdua bergandengan layaknya orang pacaran, menapaki pasir pantai. Tak lama setelah masuk Entrance, Jihan dan Marcel close-mind.
Waktu menunjuk pukul 10:45, Mereka onmind selama kurang dari satu jam.
"Gue liat tubuh lo tuh keropos Han. Sementara Nina santai gitu bawa elo. Maka langsung gue tanya Nina soal penampakan lo itu. Gue pikir lo lagi digerogoti virus."
Jihan manja di ketiak Marcel, meniduri bahu si teman. Kakinya membelit di lutut kiri Marcel. Jihan pejamkan matanya sambil geser kepala.
"Baru tau gue soal force."
"Ummh.."
"Nina juga bilang tuh jarang kejadian soalnya cuma dimiliki sedikit lusid."
__ADS_1
"Hhhs.. Wangi.. bau lo enak, Beb. Hhhs-hhs," endus Jihan, sesekali nyeruduk ketiak Marcel.
"Dia (Nina) juga minta gue jaga diri dari unlight. Soalnya bisa jadi mereka (qarrat) masih nyimpen rumusnya di Underground. Aa.. achh.."
Diam-diam Jihan remas satu dada Marcel. Dia senyum saat Marcel melenguh. Marcel memegang punggung tangannya dengan mata merem menikmati pijatan yang berlangsung.
"Mmh-mh.."
Kedua pipi Marcel tampak merah merona, Jihan tak juga berhenti dari kegiatannya. Dia membiarkan jemari nakal itu memijat-mijat. Marcel menaikkan lutut, merapatkan dua kakinya karena bagian rapat itu mulai bergemuruh.
Jihan bangkit mendekatkan wajahnya pada Marcel. Belum juga Jihan menyentuh, Marcel angkat kepalanya menyambut bibir Jihan. Dia segera mengul*m balik bibir Marcel dengan tangan masih "bekerja". Jihan sudah menggawangi badan di bawahnya lanjut bercumbu, Marcel pun pegang kepala Jihan hingga kecupan mereka terdengar.
Bukan, bukan kecupan. Itu mungkin *******.
"Uumhh!!" Jihan mendadak tersentak pinggulnya.
Marcel melenguh, langsung menyusul. Marcel merem sedikit menaikan badan. Dia tetap menautkan tangannya di celana Jihan.
Jihan memeluknya dan berguling ke samping merapatkan badannya saking ingin terus menempel. Marcel teruskan karena tanganya tak bisa ke mana-mana, Jihan sampai terdongak.
Menit ke menit pun cepat berlalu.
"Lihat nih dah Server kirim ke valdisk gue."
Marcel beritahu Jihan, yang masih handukan, soal data rekaman mereka di Permukaan dan Endfiel.
Dalam tayangan LCD kamar, di pangkuan Nina, tubuh Jihan bolong-bolong. Marcel juga mengamati kolom inset, membaca keterangan, dan tertera jenis kamera yang digunakan.
__ADS_1
"Serius. Gue gak inget," timpal Jihan merebahkan badannya usai menaruh handuk, tangannya kembali memeluk.
"Nih emang lensa normal," gumam Marcel membiarkan tangan Jihan bergelantung di lehernya. "Valid juga info dia (Nina)."