Jihan

Jihan
chapter up 27


__ADS_3

Oleh karena waktu bisa berhenti tiap Jihan masuk ke "kotak" POV, saat itu juga Jihan sudah bisa langsung berlevitasi. Dia memperoleh skill-nya lagi atau yang pernah Jihan sebut sebagai "imej", sedangkan Rey menyebutnya bekal.


Lalu saat mengambang itu, Jihan yang mirip Magneto, kejeduk langit-langit.


Dukh..!


"Auw..!" ringis Jihan, lupa sesuatu.


"Udah gue bilang lo masih manusia biasa, Giz. Skill atau bekal lo ini komplitnya di ranah Server. Di simul ini, neuron lo belum dapat disuplay atau direka xmatter."


Jihan perlahan turun di depan Rey.


"Tapi udah konek khan sama main plot? Dulu gue pernah denger dari dia (Marcel) jangan masuk simul dengan stok xmatter yang kosong."


"Iya kalo gak, lusid juga bakal kena respawn kayak gini waktu kena hit vacum-nya. Kalo simul gak kena retas sih, plot bisa kita save point, gak pake ngulang dari awal."


"Kangen jadinya kalo jauh dari dia Rey. Abis ini lo ngilang khan, balik nyetir? Boleh ikut gak? Gue pengen liat dia dulu, Rey. Semenit aja."


"Boleh dan itu berisiko. Gak boleh ninggalin plot sendiri, Giz."


"Napa emang?"


"Gue inget, terakhir kali lo ngejar Marcel gak kesusulan. Sebenarnya ke mana perginya dia?"


"Gak tau. Gue bablasin aja terus pake insting. Biasanya tuh nyangkut. Anehnya emang nyangkut (rem blong), trus juga keilangan jejak."


"Tapi maksud gue sebenarnya jangan ikut mati. Kalo sekarang ketemu, ya ketauan lagi sama Twen. Kita bakal nyari-nyari Marcel lagi, buat seterusnya. Pokonya jangan dulu buka segel plot."


"Twen aslinya sutradara kali ya? Apa dia authornya di simulator?"


"Lo juga boleh bilang ke dia, sudahi dendamnya, kita juga banyak keilangan."

__ADS_1


"Kiraen cuma gue yang bisa bucin."


"Beda, dendam sama bucin tuh Giz."


"Ya udah. Jagain Marcel."


"Kebalik.. gue sebenernya yang dijagain. Dibawa kabur jauh-jauh. Dia pro cewek, gak tegaan liat kaumnya dikerasin."


"Oh ya. Berapa taun kira-kira gue harus jaga kota?"


"Minimal tiga taun."


"Haa? Setara ijazah kedua dong?"


Rey dengan setulus hati menerangkan semua sampai Jihan bingung bertanya apa lagi. Dia pun kemudian to the the point.


"Rey, napa lo gak keliatan fun? Sadgirl banget kayaknya. Gue liat lo ingetnya sama kak Kisye yang fun."


"Hhh.. gue emang tampang pendosa."


"Iya amin."


Rey pamit. Dia menghilang dari pandangan di depan Jihan dan dalam pengawasan CCTV.


Tujuh belas hari kemudian setelah Jihan sibuk dengan segala aktivitasnya di gedung PH, tugas yang dinantikannya tiba. Malam ini Jihan yang sudah sakti, menampakkan diri di atap sebuah mansion.


Zwrrtth!


"Sepi banget nih markas."


Jihan memandangi pos gerbang yang hanya dihuni satu penjaga, itu pun pria culun yang tak bersenjata, hanya beekalung pluit. Celananya pendek.

__ADS_1


"Wasit mana dia nih, ngefans sampe dibawa ke tempat kerjaan?"


Set!


Jihan menundukkan kepala. Sehembus angin tiba-tiba menyasar pada telinga, ada yang bergerak di belakangnya. Jihan lalu berbalik, dia tak mendapati siapapun di atap bangunan ini tapi..


"Lo majikannya wasit ini? Gue Jihan, ada yang perlu dibicarain sama elo, Twen."


Swrrtth..!!


Ternyata Jihan tidak sedang akting monolog, penyerangnya menunjukkan diri. Sosok yang dipanggilnya Twen mengenakan kemeja kotak.


"Gue tau lo mau apa."


"Bagus. Gue juga udah tau lo mau apa, makanya gak kena."


"Lo nyari dia (Erika) khan? Udah gue katain dia mati."


"Gue mau nyeret lo ke pengadilan. Kita samaan pada keilangan orang yang disayangi."


Swwrrrth!!


Twen balik menjadi invisible. Jihan hanya kacak pinggang di genteng rumah.


"Hhh.. nih kabur bukan ngajak balapan."


Swuutth!!


Jihan langsung melesat meninggalkan tempat.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2