
udah ngedoping nih 😁 lanjut ya🤒hadeh
Mobil-mobil di main way kota berhenti, termasuk pejalan kaki dan yang bergerak di situ. Jeda frame ini pernah terjadi di kemah Production House saat Jihan tidur.
"Hhh.. apa-apa musti pake will. Bawah sadar udah kayak skenario tuhan, gak bisa disetir. Sekali pun bisa, malah ambrol gini."
Jihan keluar dari raganya yang terbaring di kursi mobil. Bentuknya bintik cahaya yang dia sebut will, seukuran Nyamuk. Entah titik tersebut mendiami bagian mana di dalam tubuh Jihan, biasanya selalu keluar dan masuk lewat pusar.
"Marcel.. di mana kamu ini, Beb. Kamu gak bisa mati gitu aja. Kirim gelombang pesen, atau sos."
Sebenarnya Jihan dapat memijak salah satu monitor yang ada di enam arahnya tersebut. Lapisan kiri atau kanan akan jadi monitor jika dia melihat atau menoleh ke situ. Maka saking otomatisnya hukum alam di realitas maya ini, lantai ataupun langit-langit dapat menjadi layar.
Yang masih membingungkan adalah keinginan dan kebutuhan si pemilik will. Hari ini Jihan selalu dirundung rindu, sementara waktunya amat sempit sebagai orang sibuk.
Dan perusahaan yang dikembangkan mereka "stress" karena pemiliknya masih single, bahkan orangtua dan saudara sudah meninggal.
"Tidak. Beliau sudah tak memiliki saudara ataupun orangtua. Kami mendapati beliau tak berubah sejak awal merintis cryptocurrency E-coin. Aku teman sekolah beliau di tingkat menengah (SLTP) turut mengembangkan (grosir, kios) dengan aset baru ini. Jaringan kami sampai sekarang menggunkan E-coin."
"Jadi dia nih sama sekali masih umuran es em a? Lo temen es em pe-nya?"
"Tak hanya aku."
Diit!
"Apa gue harus ngulang idup di pantai yaa?"
Jihan melamun sambil abai dengan badannya yang melayang-layang di ruang kubus ini. Rekaman tentang kekayaan Mercy ternyata dari komunitas pengguna E-coin yang didirikan bersama temannya, sampai sekarang rekan seperjuangan Mercy masih menghormati kepemilikan ide sang queen.
"Hhh.. Kamu gak cuma tenar di simulator. Aku kemari emang lagi butuh komandomu, Beb."
Setrrtthh..!!
Ada bintik cahaya lainnya menghampiri POV-Jihan di atas kap mobil tersebut. Ukurannya agak lebih besar. Sang bintik berpadu dengan bintik statis tersebut.
"Assalamualaikum..!"
"Ehh.. walaikumsalam. Kak Kisye?"
Jihan mendapati wajah yang dikenalnya di monitor, tapi bukan siaran videocall.
"Hai, lo persis banget sama Gizi."
__ADS_1
"Maksudnya? Jadi lo bukan Kak Kisye? Kok aneh sih baru nongol."
"Gue dari pantai, lagi investigasi chip Rev-nine."
"Dari pantai yaa?"
"Iya. Gue ke sana lantaran ada suara Marcel yang manggil Erika."
"Itu suara Heart. Ngebangunin gue."
"Oh. Suara Blueprint. Apa lo tim dari Penghapusan Deyita?"
"Duh. Nih plot elo yang lagi jalan khan?"
"Gue Reynita. Bisa jadi."
"Apa misi elo di simul ini, Rey? Kapan masuk ke area?"
"Udah lama banget. Plotnya juga respawn. Gue mati, idup lagi. Mati, idup lagi. Seperti plot-nya Marcel."
"Hhh.. kita semisi, Rey."
"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Rey.
"Di belakang layar ini, kita bisa interaksi kayak videocall-an. Lo musti terusin plot elo biar searus sama Marcel yang udah duluan jalan."
"Lo mungkin.. harus bikin akun fans. Bikin chanel youtube, topiknya soal gue di pantai itu yang lagi survive."
"Ya Allah kenapa baru kepikiran. Trus apa kalo udah reg?"
"Upload videonya."
"File kameranya di mana, Giz? Pakai kamera apaan?"
"Iya juga. Haduh.. Kamera apa yaa?"
"Lo jangan bingung, masuk ke menu pindai aktivitas aktual. Gue ngerasain beberapa wave seeder di pov ini, Giz."
"Oh iya. Insting jins emang gini. Tapi Sorrow lagi nemenin Gizi ngedefens Endfield, Rey."
"Pindai aja. Gue bilang ada lebih dari satu. Beberapa artinya agak banyak."
"Oke. Ejain inputnya dong."
"Scan other wave."
__ADS_1
Jihan segera menyentuh-nyentuh jarinya, memasukkan kode morse dari tiga huruf awal perintah yang disebutkan. "Es-o.. We."
Diit!! Diit..!
Layar berganti jadi titik-lingkaran radar.
"Gimana Giz?" tanya Rey, layar video belum tertutup, tidak di-minimize melainkan di-inset jadi kecil.
"Ada, langsung ngerespon input gue Rey."
"Alhamdulillah. Gue ada temen digital."
"Satu.. dua.. ada sebelas seeder di sini. Statusnya ronin, unit gak bertuan."
"Iya. Nih kayak kita, yang lagi nyariin dia (Marcel). Terus kalo kamera udah ada, kita ngapain?"
"Kita serahin pada para Rev-nine. Status mereka nih live for action, bisa nguping percakapan katanya."
Jihan membaca keterangan objek yang dipindainya. Ada sebelas unit yang punya kemampuan ghoib semisal terbang dan kamuflase alias invisible.
"Ya udah gue bikin jimel dulu. Kita harus ketemu lagi habis isya."
"Gue mau bilang gitu, Rey."
-
-
-
nb:
tengok chat temenku, yuk. aku gak boong soal gigi bolong😭, bukan gak ada mood buat update.☺️
❤️ my DRE
-
-
-
__ADS_1