Jihan

Jihan
chapter up 87


__ADS_3

Swrrtt..tth!! Swwrrrth!


Di pinggiran teras rumah tersebut, muncul dua prajurit pria menonaktifkan stealth, kru F1 tapi pakai topeng. Mereka mengarahkan senapannya dengan diam pada dua gadis yang sedang bercumbu.


Sejenak aktivitas yang ada hening, Jihan dengan cekatan mengambil Arc dan balas menodong, begitu juga Marcel..


Trrrtthh!!


Samurai yang muncul di genggaman Marcel membuat dua prajurit bertopeng mundur, saling pandang, menaruh senapan, kemudian mengangkat tangan.


"Hhh," hela Marcel sembari lemas badan. "Slow, Han. Sengaja gue umpan ke sini, biar mereka nih mau nongol."


"Siapa sih, emang? Maksud lo, mereka udah di sini, dari tadi?"


Marcel senyum lebar. "Kalo lo mau interogasi si Gamma, ya nih orangnya."


"Ehh, yang mana..?" tanya Jihan langsung bingung.


Salah satu dari prajurit di situ lalu membuka topeng kalengnya. Dia menyegerakan diri agar cepat diketahui. Namun Gamma belum berkata-kata, diam menatap Jihan membiarkan penampakan gelang di kepalanya.


"Yang persis alkemis favorit lo," komen Marcel, lalu telapak tangan satunya dia tempelkan ke bawah handle pedang, Ray 'pecah' menghilang.


Crrang!!


"Giz?"


"Jadi lo yang ngamilin gue?" kata Jihan, dengan tenang dia mengalungkan bedil ke punggungnya, cuek pada pertanyaan lawan bicara.


"Eh apaan?" tanya Gamma. "Elo.. lusidnya?"


Jihan menghampiri Gamma dan segera mendorong sambil jalan. Yang didorong pun sudah tahu, maka turut berhenti setelah Jihan melepaskan kerahnya. Jihan mengulang pertanyaan padanya.


"Napa lo tanem bibit di idup gue? Alesan lo apa, hah? Gatel? Haa?"


Gamma menatap Jihan, tangan tetap terangkat, belum dipinta menurunkannya. Dirinya diam belum ingin menanggapi. Dia juga membiarkan dadanya disentak tangan si gadis.


Dukh..!


"Napa harus muka gue?"


Gamma menunduk sambil menghela nafas. Jihan dibiarkannya bicara lagi. Tapi pemuda satu ini memilih diam. Si teman yang muncul bersamanya pergi bersama Marcel setelah membisikkan kata "Sabar, Gam" sambil menyentuh pundak.


"Cuma karena muka lo nih, trus elo bebas ke gue? Apa jangan-jangan lo emang trans-gender, clone underground."


Gamma memang berpenampakan wajah para clone, seperti Reinita atau Canteen yang tengah menyamar jadi laki-laki. Kulit Gamma sama putih, sama tinggi dengan Reinita, gadis 24 tahun yang membuat Jihan betah bersamanya.


Jihan kacak pinggang menunggu jawaban. Gamma tetap pasang kuping dengan pura-pura cuek dan mengarahkan mata ke selain objek di depannya. Jihan mendorong lagi hingga badan Gamma tergerak mundur.


Dukh!


"Lo kasih nama apaan paradok gue? Cepet jawab..!"


Gamma hanya menghembuskan isi dada, tetap tenang belum ingin melihat Jihan. Tampak dialah yang sedang menunggu. Detik ini Jihan langsung tahu gelagat orang yang sedang malas bertengkar ini.


Jihan menatap glowing yard yang melingkar di kepala Gamma, berkomentar soal 'perban' tersebut, lalu melihat gelang di pergelangan tangan pemuda. Dia dapati bentuknya sudah mirip penutup hasta, bratle purwarupa.


Saat tengadah begitu, Jihan minta Gamma menurunkan tangan.


"Put down, your hand.. Show on."


Gamma menuluskan permintaan Jihan. Mata lentiknya mengarah ke wajah Jihan sambil menggantungkan tangan. Dia biarkan Jihan sentuh-sentuh layar bratle.


Zwiiitt!!


Sebayang hologram memancar. Objek tersebut kepala Jihan sendiri, tapi berkacamata dan rambut terikat gaya ekor kuda.


"Tuh khan.."


Jihan berpaling sehabis menyentuh alat peredam pening itu. Tampak menyesal membuka isi bratle yang dikepo. Jihan risih.


"Napa sih lo pilih kami, Gam? Napa gak nanem di si rambut pendek?"


"Hhh.. Gak ada komentar."


"Ehh.. Lo bisa ngomong ya?"


"Hhhh... Ck!" Gamma menundukkan kepala sambil kacak pinggang, makin bingung ditanya begitu. Dia masih tak berani bicara banyak, entah apa yang sedang dipendamnya.


Hologram masih menyala. Jadi posisi kepala di situ ikut miring. Jihan kini antusias mengamati, menyerongkan posisi kepala.


"Camar."


"Camar..??" ulang Jihan sambil berkerut kening.


Zwiiitt!


"Gue harus bicara sama pusaka itu," kata Gamma setelah memadamkan proyektor.


Ketika Gamma berjalan meninggalkan Jihan, yang diabaikan bergerak cepat menghadang.


"Eit! Stop. Oke. Oke.. Slow. Gue tau lo mau protes. Baik. Gue dah tenang, Gam. Ray masih berdedikasi kok sama Internal. Nih kemauan gue.. Oke?"


"Gue harus. Nih buat lo juga. Lo gak kasian sama Gaza? Udah tau soal dia khan?"


Jihan yang sedang dipandangi sedalam palung Mariana, menyungging senyum. Dia diam menyimpan kata. Jihan juga kemudian duduk di teras, membiarkan mata Gamma menyorotinya penuh tanya.


Senyum Jihan makin berseri. Saat menoleh, Gamma mendatanginya. Dia berhasil menghentikan niat Gamma. Jihan kembali cuek.


Gamma menghampiri Jihan sambil menjelaskan perihal jins dan robot yang sudah tak bersamanya beberapa tahun. Gamma tak ikut duduk, dia pilih bediri, menyilangkan tangan menunggu tanggapan Jihan. Mata Gamma tak juga terlepaskan dari wajah si kepo.


"Iya, Marcel dah ceritain itu ke gue. Gaza gak bisa terus ngarepin Gizi. Dia pilih pergi dari basetime ketimbang harus liat.. Gizi sama Riki saling nyaman. Umm.. dia.. kepanasan gitulah. Tuh kisah dah ribuan taon sebelum lo kesenget, tapi pas elo balik jadi separo nyawa.. Camar secantik apapun, terlupakan. Lo lebih kuat dari gue soal psikis. Gue lemah, sampe jerit-jerit keilangan Gizi."


"Hhhh.. Napa lo bunuh almarhum (Riko)?"


"Gue cuma hapus setengah. Warning ke dia kalo kaum gue bukan maenan. Dia ninggalin tanggungjawab di kampungnya. Dua perempuan, anak-istrinya. Dah terlanjur jatuh ati, gue mending mati deh. Tapi.. gak ada yang serius ngehukum gue di Internal ini."


"Gimana cara lo aman dari saint Libra?"


"Si Bihun? Dia nyesel nyembunyiin semua file Riko, Gam. Gue ancam dia kalo nyeraiin Voin."

__ADS_1


"Hhh.. Sebenarnya gak ada hukuman, Mar. Eh, Mar.. Gak ada hukuman pidana di Fanam nih, Han. Tuh markah (tato glowing) dunia lo sendiri. Ngebunuh versi fanam, kayak nutup eksistensi korban di dunia lo, orangnya masih idup di dunia dia. Kecuali lo bunuh diri, Server dah gak bisa apa-apa."


"Lo ada tali apa sih sama Ratu sampe persis gini? Sodaraan?"


"Gue kelincinya Sub-dewan. Proyek analog release barengan sama kelahiran gue."


"Tuh kata siapa?" sela Jihan, buru-buru, matanya antusias menatap Gamma.


"Ya kata Reinit sendiri. Internal kecil banget sampe Sub-dewan dapet nyalin DNA sewaktu gue masih dalem perut. Dari sembilan puluh sembilan kandidat tumbal, kode gen yang paling persis Reinit tuh DNA gue."


"Tapi.. Tampang lo emang muka sajen, Gam. Hhh-hhh!"


"Ya Reinit lagi usaha emang buat keselamatan ratu lainnya. Kalo clone-nya itu mau sejak awal, mungkin gue gak bakal bertopeng gini."


"Queen niru trik Osami kali ya, Gam?"


"Sub-dewan tuh mahhal (mahluk halus) paling berilmu dari ratu lainnya. Dia gak instan dapetin pustaka kita. Berawal dari Mal yang bikin kepo itu, Reinit spion sumber ilmu lawan, musuh mereka, dengan teknik yang masa itu amat dilarang: proyeksi astral, ngalong di terowongan Server.


Makanya Sub-dewan dan para ratu tau bahasa kita tuh berawal dari Reinit yang memata-matai gerak-gerik Mal. Sekali ketahuan udah tamat dari dulu."


"Lo tau juga dong alesan Black Soul nolak tugas dari DNA-nya?"


"Kayaknya cuma lo yang berani mati, Han. Dia (Blacksoul) ada benarnya juga kalo peperangan mereka game-nya parasas.


Berhubung dulu para assassin itu masih keliat cupu, lemah, penurut, masih seneng-senengnya jadi bawahan, paling taat kalo disuruh ngebunuh, ya otomatis pendapat Deyita nih belum dapat mereka terima."


"Selaen takut mati apalagi kira-kira alesan Black Soul nolak, Gam?"


"Dia besar kepala. Delapan puluh persen pengetahuan Reinit dipindahin ke Deyita. Udah gak ada duanya kecerdasan Black Soul. Tapi soal ati dan iman, pengetahuannya percuma."


"Trus? Black Soul panas khan liat du-a Analog baik-baik aja, gak ada yang bunuh?"


"Kalo gue di posisi dia, mungkin bingung. Analog bisa pede megang tugas, tapi gue napa tambah egois? Terus pas pede, gak ada temen.. malah nekat gak mau berteman sama Analog.


Kata Sub-dewan bukan Black Soul yang sebenernya bahaya, tapi silent-nya. Itu yang ngebahayain. Baik buat dirinya, ato lingkaran dia.


Logis sih buat gue. Pembunuh yang terbuka tuh lebih ringan daripada nyeri yang disengaja pembunuh tertutup, orang yang diam-diam. Bener khan?


Reinit bilang dia baru nyadar kalo Black Soul tuh pion dia buat nyingkap parasas, bukan buat tumbal. Dia sebelum digital-nya itu dikepo protokol yang terus dia ikutin, kok sering kejadian. Narasumber para dewa -nya tuh di mana.


Dulu sih gue juga dengerin Reinit sambil ngeledek cerita dia, cuek, gampangin omongan dialah, Han. Sub-dewan bilang kalo gue bakal ngebagiin cerita dia ke gadis hamil.


Wajar aja dia tau. Dia emang penghuni sarang (Server) sekarang, si penterjemah pertama.


Terus terang Han. Camar samaan kepo-nya kayak lo, demen cerita perang para jins. Napa lo gak mau nyebur langsung di Whois?..?"


"Gue seneng liat pendapat, bukan pemandangan, Gam," tekan Jihan rada tegas.


Obrolan terhenti saat Marcel datang, baju dan tubuhnya sudah bersih. Dia selesai mandi alias cantik.


Jihan dan Gamma yang sedang duduk sebelahan langsung menggeser posisi berlawanan arah, memberi tempat pada Marcel, di tengah-tengah.


"Udah, udah.. Jangan pada ribut. Nih!"


Marcel yamg sudah duduk memberikan wadah minum milik Jihan, juga sekantong ranginang dia taruh di tanah bernoda hijau. Isi kresek itu Marcel bagikan pada Gamma dan Jihan, masing-masing satu, sementara dia sedang menggigit dua ranginang.


Jihan meneguk botol minumnya. Di sebelahnya, Marcel menalikan kresek lagi seberes isinya dibagi-bagi.


"Nilep. Bekal gue lah. Luka gue, bahu elo itu wajib di-heal. Udah nyaho warkop punah di jaman kardus masuk kabel nih."


"Kalo gitu, nih masih obat nyamuk jaman kita?"


"Dah cepet makan. Biar cepet kering lukanya."


Kwarkk!


Jihan menggigit makanan tersebut, mengamat sambil anggukan.


Krauukh..!! Krauukh!


Marcel komentari benda yang diamatinya, lalu memakan ranginang dengan sukarela.


Saat saling melirik, wajah Jihan dan Marcel tampak cerah, satu atmosfer. Keduanya senyum happy, persis dua model dalam iklan camilan.


Sementara Gamma melamun di situ, Jihan yang kebetulan melihatnya segera berisyarat pada Marcel agar ditanyai.


"Apaan?" tanya Marcel, masih bingung.


"Dia ngambek sama Ray."


"Oh iya.."


Marcel langsung teringat sesuatu. Dia segera menggerakkan jempol. Efeknya, sepipih logam muncul, bunyinya merentet dari handle dengan cara naik merambati blueprint-nya.


Trrrtthh!!


Gamma yang sedang diam tambah bingung, tak sengaja melihatnya. Ternyata benar dugaan Jihan, pemuda F1 ini sedang menyimpan masalah.


Marcel tak peduli dengan kebingungan Gamma, melemparkan samurai tersebut ke depan mereka.


Set..!!


Tapph!!


Benda terlempar berhenti diudara, persisnya ditangkap. Sosok yang memegang pedang kemudian 'menonaktifkan' mode.


Swwrrrth!!


Hadirlah di hadapan mereka satu pemuda tampan, memainkan pedangnya lalu 'menghancurkan' logam lewat handle, meniru Marcel.


Craaang!!


"Aku dapet restu dari Enik, Raden dan Nona sekalian. Jadi kalo mau nuduh mangkir-ku ini, tanyakan langsung pada Dewan Enik."


"Ray.." panggil Gamma, nadanya tak setuju tapi keburu dipotong si tampan.


"To the point, aku menjilat ludah sendiri Den?"


"Bukan.. Gue-"

__ADS_1


"What's up?"


"Hhh.. Gue ma Nature minta maaf, dah bikin lo sensi. Sikap gue.. ke elo.."


"Oh masalah kemaren. Emang beda ya, emosiku sama emosi Aden?"


"Hhh, kami minta maaf."


"Apa boleh bantu, Den?"


"Ya. Bantu gue, Ray. Nih desa butuh kita. Gue pikir gue mampu ngamanin orang-orang dari tangan mereka. Taunya.. gue telat, emang gak kuat.."


"Raden Gamma, terserahmu lah sekarang. Soalnya, banyak bicara pun penting. Daripada diem-diem bunuh diri jauh dari si Gizi."


"Gue musti gimana lagi, Ray.. Gaza kayaknya emang udah nolak gue."


"Atau dia ingin perhatianmu Den?"


"Hhh. Males nyariin dia. Gue nemu penyakit doang. Mending bantu-bantu warga kerja di sini. Kalo dia mau pergi, biar dia pergi sekalian."


"He Gam. Lo kok gitu, ma driver sendiri. Gak ada niat, balik ke abad sendiri?" tanya Marcel sehabis minum. "Gizi masih banyak kerjaan di basetime. Pliss lo-nya peduli, kasih tau Gaza kalo arepan dia tuh belom pudar."


"Udah gue sampein, Sel. Dia tetap kabur-kaburan terus kayak gitu."


"Atau gabut lo nih gara-gara kita mojok, gara-gara dia ngulum gue?" gantung Marcel dengan jempol mengarah pada orang sebelahnya.


Jihan menyikut lutut Marcel. Yang disikut langsung tempel jari di bibir. Jihan menunjukkan kepal tangannya pada Marcel.


"Dia mikirin lo, han.." bisik Marcel.


Jihan justru, malah bertambah bingung.


Gamma masih diam menatap jendela rumah seberang. Tatapan tersebut rada berseri di posisi Ray melihat. Tapi dari dekat, Marcel tak melihatnya sedang meyungging bibir.


Dibicarakan gadis-gadis, si pemuda cukup senang, memikirkannya.


"He, Gam..?" kata Marcel. "Nyambet lho susternya, kalo lo bengong gini."


"Iya Gam. Queen nitip ke diri gue pas gue gak dapet reward. Kita jangan kecil ati. Ntar kalo kelamaan, lo bisa bunuh diri," tambah Jihan dengan duduk agak maju ke depan.


"Hhaha..!!"


Gamma tengadah dalam tawanya.


Jihan dan Marcel saling pandang.


"Thanks buat kalian semua. Hhh.. Oke. Tapi harapan aja gak cukup. Kita harus ikhtiarin dengan sabar."


Gamma berdiri sambil menghela nafas. Dia juga menyentuh-nyentuh layar di bratlenya. Bunyi-bunyi tap terdengar hingga kemudian Gamma langsung menggoreskan jarinya..


Zwiiitt!!


Selapis layar terlempar dari alat itu, manteng di udara setinggi paha.


Gamma juga kemudian membuka kedua tangan, layar di situ membesar. Zwaatt!


"File apa nih Gam?" tanya Jihan lalu meneguk botol, minum dengan cara dicimut.


"Gue baru tau ada pasukan lainnya, para birdy ini. Nih data minggu kemaren. Gue masih bisa nyegah para bandit nyulik orang-orang. Pas seminggu ini, para premannya udah laen. Semua orang udah dibawa pergi pagi tadi."


Layar sedang menayangkan lima preman turun dari carry (truk apung). Warga kampung berlarian ke rumahnya masing-masing. Mereka dikejar para preman.


Gamma yang tengah sibuk menyembunyikan anak-anak mendengar jeritan. Dia segera berteriak pada robot-nya, lalu menghajar bandit yang sudah datang menyerang. Gamma berkelahi dengan preman tersebut di situ mempertahankan rumah anak-anak.


Pemuda bertopeng yang satunya ditembaki karena berhasil melepaskan warga yang diseret. Punggungnya terbakar berasap demi melindungi gadis yang masih menjerit-jerit. Preman yang menculik si gadis bangun kembali, segera menendang sang robot.


Semua orang panik ketika salah satu preman membakar rumah. Tak ada yang berani menghentikan si pembakar. Dalam kericuhan itu seorang bandit lainnya berhasil menahan dua gadis dalam truk. Dia kunci bersama orang-orang yang sudah lebih dulu diculiknya, bandit ini sangat cepat dalam bergerak.


Setelah dirasa cukup, mereka memanggil kawannya. Yang dipanggil mengejar truk, tak peduli dengan Gamma dan robotnya yang tetap sibuk berkelahi. Beberapa orang menangis memanggil orang yang diculik.


"Nak kuuu.. Nak kuuu.. To nak kuu.."


- Anakku.. Anakku.. Tolong anakku..


Gwii..iitt!!


Layar mendadak susut dan ciut, menghilang.


"Jam tujuh tadi, mereka juga bawa dua bandit. Keduanya tetep bungkam gue tanya-tanya. Gue gak dapet informasi markas mereka."


Gamma berdecak dalam rasa bersalahnya. Jihan dan Marcel belum mengeluarkan kalimat. Gamma kembali menerangkan kejadian ricuh itu dengan penyesalan yang mendalam.


"Sori, Gam gue telat. Kami masih di seberang jam kejadian, masih di jalan. Gak tau.."


"Gam, Nature bilang lo di Bukit."


"Gue sebenernya gak pernah ke sana. Diem di Paltina."


"Napa?"


"Bayangan dia (Camar), Sel. Hhh.. Gue gak pernah bisa lupain dia. Suaranya ada dalam jeritan mereka.."


"Bukankah dia juga minta lo nyidik lokasi?"


"Ya.. tapi.. Sel. Gue juga nyesel, ngusir dia."


Ray tetap bersandar saat dibicarakan, menyimak gaya Enik. Hanya dia yang bersilang tangan di antara mereka.


"Ya udah yuk? Kita ke Bukit sekarang. Siapa tau markasnya emang di sana," kata Jihan menatap lawan bicara, segera supaya Gamma tak berlarutan dengan nasib.


"Gam. Gue arep lo lagi denger protokol. Apa masih belom jelas juga?" tanya Marcel seperti turut memotivasi.


"Den?"


Gamma menoleh pada Ray.


"Kelamaan gitu bisa nyamber susternya, Den. Kapan kita berangkat?"


Yang ditanya hanya memandangi dengan senyum.

__ADS_1


-


-


__ADS_2