Jihan

Jihan
chapter up 13


__ADS_3

Entah ada angin apa, Jihan langsung menanyakan jam kerja, tidak pasang tarif iklan untuk domain tersebut.


"Ya udah. Saya mau. Kapan terakhir kali Beliau ilang? Saya akan bantu cari dan nyisir hutan ini."


"Wah. Kami tidak tahu harus bagaimana. Kota kami penuh dengan ramalan tak bertanggung jawab. Tapi beberapa prediksi selalu kami pegang, khususnya soal Anda. Kalo begitu, tanda tanganilah dulu beberapa lembar dari pengajuan kami ini."


Billi Elisa membuka tas. Dia tidak tenang dan gemetar hingga gugup mengambil proposal, wajahnya pucat selayak orang mendapatkan donatur.


"Aneh sekali. Saya jadi seperti meminta sumbangan saja grogi begini."


"Oh kalo gitu. Tenang Mbak. Saya santai kok."


"Bambang, pena gue di mana sih?" bingung Billi, mengorek-korek tasnya.


Bambang mencabut pulpen dari saku kemejanya. Dia berikan pada Billi Elisa. "Elo mah suka gini, pikunnya akut."


"Sudah. Terima kasih Bambang. Saya aneh saja sejak mau berangkat."


"Yang jelas lo takkan botak sepertiku Billi," kata Bambang mereda ketegangan. "Maaf, ada isu tentangnya di internet. Dia dicandain mirip Bini Ellish. Eh. Billie Keris maksud saya. Haha.."


Jihan diam menyimak cerita Bambang.


"Sudah Bambang. Ambillah pekerjaanmu."


"Oh iya. Baiklah."


Bambang berdiri dan pamit pada Jihan untuk mengambil sesuatu di helikopter.


"Silahkan nona Gizi. Tanda tangan di sini."


"Oh iya."


Jihan menurut, menggoreskan pulpen di atas materai dan namanya. Billi Elisa membuka lembaran, dia mengulang permintaannya sambil menunjuk dengan jempol. Jihan segera meneken kesediaannya dikontrak perusahaan besar tersebut dengan khusyuk, ada tujuh halaman yang perlu parafnya.

__ADS_1


"Baiklah. Terimakasih atas kesediaan Anda. Setelah ini, bersediakah mengenakan produk hit kami hari ini?"


"Ya. Boleh. Tapi.."


"Kami sudah sesuaikan dengan ukuran pemakainya."


Jihan diberikan seperangkat pakaian dan produk dengan nama brand Erika. Helikopter E itu ternyata mengangkut produk khusus untuk Jihan gunakan di rutinitasnya. Jihan keluar dari tenda dengan memakai kaos putih dipadu celana gunung ala PDL angkatan darat, penampilan Jihan fit dengan pakaian itu, lebih manis sekalipun dia beli pecel Lele.


"Ahh, sangat sesuai dengan postur milik Bunda saat kurusan."


"Tapi.. Bedanya sih, aku belum mandi Mbak. Gimana ya?"


"Sudah, daya tarik Nona sebagai seorang survive akan hilang jika kami dandani."


"Benar. Sebagian besar netizen ngusulin polos non makeup. Ada yang ngomong, make up bakal nambah jumlah artis be-o," kata Bambang.


"Njir.. aku bukan cewek be-o."


"Bambang, berhentilah. Maaf Nona. Sudah sesuai namanya. Kami harap Anda tidak mengambil hati atas perkataannya."


"Baiklah. Saya akan open streaming untuk mengawal promo kita. Anda sudah siap? Mendekatlah ke mari."


"I-iya," angguk Jihan, berdiri di sebelah Billi Elisa.


Kemudian setelah Asep siap dengan kamera live streaming, Billi dan Jihan membuka acara. Bambang berdiri di sebelah Asep, mengamat jadi penonton.


"Ya. Pas. Tahan pose kalian. Siap yaa.. Mulai!"


Billi Elisa menghela nafas. Jihan melihat ke sekitarnya ala orang pedalaman yang bingung dia sedang apa, Bambang memberi isyarat dengan desit. Jihan kembali fokus lihat kamera. Sementara Billi Elisa sudah in voice.


"Hallo Rikers (julukan buat customer fanatik) setanah air. Selamat pagi. Saya sedang bersama Survive Girl kita yang kebetulan hari ini bersedia live bersama kami.


Menit ke depan, kita akan jalan-jalan ke dalam hutan.

__ADS_1


Wah. Pasti merinding jika kita sebut nama tempatnya bukan? Tapi benarkah seangker itu lokasinya? Kita tanya langsung saja deh sama Survive Girl kita mengenai mitos yang ada."


Billi menghadap Jihan. "Umm, sudah berapa lama Saudari tinggal di lokasi ini?"


"Hehe setengah taun. Ngng, itu berat banget buat saya."


"Bagaimana Saudari bisa bertahan selama ini di lokasi angker?"


"Hehe. Masa iya angker sih? Tapi sebisa mungkin saya harus tetap hidup. Saya juga udah gak tahan sebenarnya dengan rasa lapar, haus, serta lelah. Pokoknya asal ada makanan saya nekat kerja. Gak mikir macem-macem."


"Apakah benar Saudari sedang melihatnya di atas pohon itu?"


"Ehh, di pohon? Maksudnya Harimau?"


"Benar."


"Dia baik sih sebenernya. Kalo tiap dateng, aku suka denger aum-nya itu."


"Apakah matanya menyala?"


"Iya. Itu uniknya. Aku kesulitan jinakin dia pake Kelinci. Pengen miara, tapi gak punya pengalaman di sirkus."


"Wah. Survive Girl kita pun ternyata ingin memelihara sang Tiger, Rikers. Namun sepertinya tidak mudah ditundukkan. Baiklah, kita akan ke lokasi kejadian bersama Survive Girl kita. Bisakah Saudari mengantarkan kami ke sana?"


"Oh. Ke pohon itu ya sekarang? Ya udah ayo kita ke sana."


Asep melepaskan kamera dari tripod. Dia mengikuti Jihan yang sudah mengobrol dengan Billi Elisa.


".. Bikin alat panggang dari tanah liar, wadah minum. Cepek dan rasanya pingin berhenti nafas aja. Gak taunya masih ada rejeki di sungai. Kira-kira lima menitan dari pohon itu ada pohon Sawo-nya."


Trus.. Sebenarnya gak ada apa-apa kok sama hutan ini. Harimau itu cuma minta pajak doang. Yang angker itu mungkin gue, tiap bangun tidur rambutku auto mak Lampir."


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2