
Jihan memasukan kembali barang-barang yang dikeluarkan. Dia tak menemukan alamat orang yang diharapkannya. Boks tersebut tak ada nama pengirim selain pakaian dan perkakas modern. Jihan amat bingung.
"Apa ada lusid laen gitu? Masa iya sih, gue khan offmind. Gak mungkin Gizi sampe kena hack parasas. Kecuali ada orang dalem. Nih pasti produk selundupan. Mending gue bakar aja deh."
Jihan selesai membereskan isi kardus. Dia menyeretnya ke arah hutan, karena kotaknya agak besar hampir seukuran kulkas. Jihan biarkan kulit tubuhnya dihangati mentari.
Di tengah hutan, Jihan taruh handuk, baju, bra, celana "underground", dan jeans di batu yang ada. Dia lalu ke tengah sungai yang agak falam, dan mulai berendam.
"Aneh, ke mana si Belang. Gak keliat minum lagi sekarang. Apa bosen liat gue ya?"
Cbyuur! Cbyuur..!!
"Yuhuu.. Dapet paket lebaraaan.. hahaa!"
Cebur! Cbyuur!!
Jihan mandi pagi ini dengan aman karena sekitarnya masih sepi tak ada gangguan hewan buas lagi. Dia ke sini karena sudah hapal saat melanjutkan ekplorasi subuh tadi.
Jihan melepaskan semua pakaian "legend"-nya dalam balutan handuk. Di batu itu pun dia menyimpan busur dan gantar serta kapak. Jihan sibuk mengenakan baju barunya.
Sepuluh menit kemudian..
Jreeeng!
Jihan tampil modis kembali. Dia berjalan membawa senjata survive dan handuk mandi. Pakaian jauh berbeda dengan yang tadi, awalnya dandanan anak suku kini dia jadi anak kota.
Jihan ternyata kembali ke tempatnya menyimpan kardus, ke lokasi pohon yang agak besar. Dia membuang daun-ranting penutup. Jihan pindahkan semua pakaian yang ada ke alas handuknya.
"Kabur dari nyolong pesenan orang, sebelum pihak yang berwajib dateng, nangkep gue."
__ADS_1
Jihan ikat tumpukan yang ada dengan ujung-ujung handuk. Semua baju dan celana sudah dia ambil dari kardus khusus bermerk Erika. Jihan berdiri, kemudian menggendong ikatan.
"Sekarang aman, gak yang nyolong kalo diangkut gini. Tapi ngomong-ngomong,
ambil gak ya tuh pistol?"
Setelah melamun sebentar, Jihan bergerak lagi. Dia memutuskan pergi ke arah luar meninggalkan lokasi.
"Dibuang sayang."
Jihan berjalan menapaki tanah hutan, bawaannya cukup membebani. Dia melangkah pelan selayak mengangkut kasur. Jihan tak berhenti, tetap bergerak membawa pakaiannya karena pernah melakukan hal serupa jauh belakangan hari.
sejam kemudian Jihan terengah-engah di tempat tujuan, di luar hutan. Dia lepas bawaan di situ sambil menatap kardus yang agak besar, ternya ada kiriman lanjutan, paket tersebut sudah ditaruh dekat boks senjata.
"Hhh.. hhh.. Nih bangkrut apa mau buka toko di sini ya mereka? Heran gue."
Jihan diam menonton. Di sini ada dua unit robot yang sedang membangun tenda, serta merakit genset dari kardus ketiga.
Salah satu manusia mesin yang merakit genset diam mendengar. Robot pria itu menoleh pada Jihan.
"Jangan nyuri start pedagang laen. Udah teken kontrak belum di depan tuan rumah?"
Sang robot menyimpan tangki, lanjut bekerja. Dia tak peduli Jihan berkata apa. Dan barang yang ditaruh itu adalah part terakhir, sang robot mendadak bergerak kebat-kebut memasang semua alat yang telah tersedia.
Shat! Sit! Set! Set..!
Shat! Sit! Set..!!
"Hhh.. pada tuna rungu semua. Terserah lah. Mending neguk aer."
__ADS_1
Jihan hanya bisa menghela nafas, tak lagi acuh pada mereka. Dia memilih duduk di bantalan bajunya, menikmati bekal airnya dalam kantung batok kelapa. Jihan menunggu mereka selesai.
Glukh! Glukhh..!
"Aahh.. seger banget kalo udah capek gini."
Brrummgh! Drgggh!
Saat duduk santai begitu, terdengar bunyi genset dinyalakan. Pembangkit tersebut sudah selesai dirakit si robot flash. Jihan diam memperhatikannya.
"Ada lilin, ngapain juga pake genset, apa ritual-nya udah berevolusi ke b*bi digital ya?" kata Jihan, asal bunyi😁 njir.
Drrrghh!!
Kliik..! Diditt!
Brrr.. rr..
Mesin genset lalu dipadamkan, suaranya pelan memudar. Sang robot lalu menghilang.
Swrrtth!
Tinggal satu unit lagi yang masih bekerja. Jihan diam menonton, tak berkomentar.
nb:
ternyata update di tempat kerja
-
__ADS_1
-
-