Jihan

Jihan
chapter up 61


__ADS_3

Clone memposisikan duduknya agar lebih nyaman saat menyimak. Jins satu ini tampak antusias dengan hal yang dia kepo.


"DNA saya mengatakan bahwa mimpi itu suatu pengalaman. Ratu-mu membacanya dari Wikipedia. Bagaimana pendapatmu sendiri?" desak Clone sambil awas pada layar angka, tetap bekerja.


"Buat saya sih mimpi tuh.. halusinasi, Mbak. Tapi susah emang kalo ngomongin mimpi di sini. Ya gimana neranginnya, nih saya lagi mimpi, lagi ditanya sama mbak Clone.


Terus nih dufan bakal jadi kenangan di alam semula, di alam sadar. Kejadian di sini gak kebatas, tapi di sana kebatas karena ada aturan yang lebih ketat dan sangat padat.


Kalo sama bebasnya, akan terus nyasar nyari-nyari dunia nyata.


Saya bingungnya, kalo di sini tuh, pas lagi bengong, apa yang saya pikirin, kejadian gitu aja. File nih mimpi saya Mbak."


"Sight. Ini merupakan penglihatan lusid atas suatu plot."


"Kok saya gak bisa liat pas releasnya ya?"


"Ditindak ataupun diabaikan, probabilitas memungkinkan total xmatter meningkat drastis.


Andai diatur secara live, DNA mengibaratkannya, live akan seperti balon yang ditiup tekanan tinggi. Secara spontan visualisasi di basetime ini akan beralih ke abad luar.


Tak ubah seperti mati lampu. Seketika gelap gulita.


Namun ada mata yang dapat melihat live spontan ini. Saya mendengar dari DNA, bahwa kemampuan tersebut dimiliki oleh Indri. Begitulah adanya bahwa dia yang tercepat.


Dan sebenarnya, protokol itu sendiri yang membutakanmu. Rev protocol. Kebalikan dari opsimu.


Tapi kau tetap akan melihat paradokmu di kemudian waktu."


"Gimana Indri bisa konsen dengan tuh kerjaan, Mbak?"


"Kondisi pra-lusid yang kau alami itu tidak dia ingat. Seandainya ingat tentu dia selesai.


DNA-ku harus menyimpan segala yang terinderai di perjalanan Indri. Namun masih subjektif, hanya pengalaman Indri belaka."


"Ouh, jadi Indri pernah ngobrol kayak gini juga?"


"Saya dan kamu adalah dia. Setelahnya, kita di sini adalah validator-catatan server."


"Oh jadi, fokusnya tuh karena tidak ada niat buat berhenti dari chaos mind yang ada? Tinggal di alam kuantum sendirian, apa gak ngeri Mbak?"


"Indri akan terus mencari pendahulunya. Setelah itu, ada protokol baru. Ada perintah baru yang hanya dia saja, yang mampu lakukan permintaan Uut. Biar kami yang mencoba mengenal kalian."


"Swer. Saya bilang, mimpi tuh kayak bayangan subjektif, Mbak. Apa jins gak tidur gitu?"


"Kami tidur. Hanya saja, tidak mengalami hal subjektif itu seperti kalian. Mungkin saya harus seperti Indri. Agar dapat bermimpi."


"Ada lagi yang mau ditanyain, Mbak? Untung live spontan gak terjadi pas dia releas. Soalnya TKP bukan di Bumi Ultimate."


"Bagaimana rasanya melihat live spontan?" tanya Clone, sudah sibuk mengetik keyboard meja.


Tik..! Tik! Tik!


"Bingung. Gak terbiasa aja di kegelapan."


Tak! Tik! Tak..! Tik!


"Tidak dengan librarian yang kau kenal. Live spontan membuat penginderanya terpisah permanen dari keberadaan."


"Maksud Mbak, Riko pernah live spontan?"


"Mari kita pelajari rotasi per menit. Dari pemindai bratlite, inilah angka eksistensimu. Jika tanpa peraga nilainya akan terus berubah, hampir tak dapat disinkron oleh kolam rendaman.


Air hanya untuk keakuratan. Jika dirimu ikan, tetap rapider tak dapat mengejar."


"Ato sebut aja nih manekin, foto RPM saya," tatap Jihan pada layar dekat Big Head, melihat angka:


199209170709260901140901X rpm


note: tahun-bulan-tanggal, nama, X adalah deratan angka lainnya, total ada 83 digit.


"Betul. Bonekanya seolah hidup. Saat dibongkar ada informasi tertentu di dalam RPM.


Tapi sebenarnya bukan dirimu yang disorot, melainkan aktivitas Snail terhadap objeknya."


"Dah kayak ngeretas ram."


"Ram? Apa yang kau sebut demikian? Apa bagian dari Server?"


"Random acces memory. Singkatnya sih mirip bayang subjektif tadi. RAM diolah sama prosesor, persis Snail ke xmatter."


"Seperti driver pada inangnya saya rasa."


"Tuh juga bisa Mbak. Saya tau-tau udah di Escort."


Tak! Tik! Tik..!


Jreeng! Seabrek data terbeber mirip result page Google.


"Apa yang kau lihat di monitor Jihan?"


"Menu awal, silahkan pilih suara atau ketikan. Ini toh rupanya layar rpm? Nih khan screen di lemari."


"Tidak bagi saya. Kontak lens yang saya pakai beralamat Cfos-lite. Silahkan kamu gunakan agar kita empat mata, satu objek."


"Tapi Mbak, jari saya item nih, gak bisa manggil si Ray."


"Ada Jihan yang satunya. Saat warna matamu ungu jangkau prediksi-nya meningkat ke maksimum tahun," tatap Clone pada Jihan, tangan menggeser layar arsip ke depan Jihan.


"Oh gitu violet-nya Qorin. Buat baca alur toh. Mata peramal?"


Clone dapati kedua bola mata Jihan berubah violet. Sementara Jihan berkerut kening melihat layar file-nya bisa jadi cermin.


"Kalimat menarik. Sekarang, lihat layar jika ada yang ingin kau tanyakan."


"Jihan dan Clone memandangi layar bersama-sama. Mereka sudah satu pov di Cfoslite. Nih judul-judul chapter di rapot saya kayaknya."


"Sumber data Whois? diupdate melalui rpm kalian, dari Head Chamber."


"Napa di sini ada ikon gemboknya, Mbak?" tanya Jihan menujuk salah satu tanda di pojok layar. "Kayaknya nih bisa disentuh."


"Mode film. Atau Whois?. Layar akan bertambah lima. Saya masuk ke first person, bereksplorasi ke masamu onmind.


Di mana kamu sebelumnya, sedang apa, nilai frekuensinya berapa, saya bisa melihatnya. Hanya saja lebih aman di Whois?.


Head Chamber ini pernah saya gunakan untuk memodifikasi Pnin. Saya ingin dengar saranmu Jihan, mengenai red stone."


"Tuh batu banyak diemnya Mbak. Bikin kesal. Saya diganggu pas by one sama Nina."


"Pnin tahu drivermu sedang menonton kalian di sini, beruntung Jihan satunya tidak telat saat kau terkurung. Al Hood juga membawa serta Giga."


"Apa plot di gua juga dah diatur?"


"Andaikan bisa, drivermu akan membawa kepentingannya pada Jhid. Enik-lah yang memintaku memodif Pnin. Kami baru mengetahui bahwa parasas dapat di-rpm."

__ADS_1


"Mbak Enik toh yang nyuruh?"


"Betul. Dan Induk benar-benar menculikmu Jihan. Selama di gua, kau sudah dibawa ke wilayah Eksternal. RPM yang saya inject ke batu Pnin tidak begitu berguna."


Pemindai beberapa kali sempat retak, karena kamu sudah dihuni bagian pasif parasas. Saya seharusnya tahu itu agar Pnin tidak dapat mengendalikan will-mu."


"Iya Luna sangat sibuk. Kita harus bantu dia, soalnya paling hapal parasas."


Tik! Tak! Tik..!


"Ini rpm yang seharusnya. Al Hood memberitahuku melalui kamu."


"Nih berapa digit Mbak? Kenceng amat?"


"Sembilan ratusan. Berapa pun volume batu, FinalCutter akan tetap melingkarinya dengan kecepatan ini.


Pnin adalah parasas level weakness. Kemampuannya, menyamar. Gunakan sebaik-baiknya kemampuanmu ini."


"Ha? Jadi saya bisa nyamar nyerupain Ratu?"


"Maka butuh detektor khusus untuk melihat will-mu. Ada lagi yang ingin kau tanyakan Jihan?"


"Gimana perbandingan data saya dengan profile paradok Mbak?"


"Paradokmu sudah lebih dari umumnya. Empat kali nilai RPM-mu."


"Saya itung ada tiga ratus tiga puluh dua digit nih Mbak. Diandra ngatain RPM Jilect seratus. Kok beda sih ya?"


"Teman-temanmu menyimpulkan angka RPM dari nama dan tanggal lahir. Maka pembulatannya seratus. Jika detail, kita akan melihat energi yang dibutuhkan xmatter."


"Hhh. Intinya nih masalah penggunaan sumber daya alam. Empat kali lipat jatah saya direbut. Artinya emang udah lebih dari ultimate.


Selaen ngusir, senang-senang, jilat keringet, apa kira-kira yang Jilect ingin ya Mbak? Dah punya soulator khan?"


"Jika sumber daya memang dapat berkurang, maka hentikan pertarungan atau pemborosan makin menjadi-jadi.


Jihan, tahukah engkau? Rev protocol akan mencelakai diri pematuhnya.


Dia terkuat di Lectrin. Namun Reinita tertinggi di Internal dalam hal serangan."


"Tapi saya tengil lho Mbak. Gimana kalo Jilect tetap gak mau sadar, makin gak tau diri? Kita harus bikin parasas editan lagi buatnya."


"Kita takkan lagi bermain-main dengan bawahan Al Hood, Jihan. Kami melihatmu saja, membekalimu."


"Iya saya harus dimodifikasi dulu sebelum ngadepin dia."


"Baiklah. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


"Saya harus ke ladang. Robot saya harus ketemu si Oyon. Ada yang gak beres dengan SosFlat saya Mbak, sejak dia berteman dengan si Oyon."


"Tak masalah. Sesuai tabiat empunya."


"Iya. Saya harus bener-bener insyaf Mbak," kata Jihan sambil bercermin, mengedip-ngedipkan violetnya, wajahnya tampak sangar dengan warna mata yang aneh.


Jihan matikan layar arsip dengan cara mengepal tangannya ke layar.


Gliitt..!


"Datanglah ke mari, kapanpun kau mau, Jihan."


"Hhh.."


Clone mengetik, Jihan makin betah duduk memperhatikan kesibukannya. Sudah ada gambar dua gelang di layar.


Clone menggantikan nama lama paradok dengan ngaran Jilect. Gelang sebelahnya lagi bernama Giziania. Bentuk gelang pertama modelnya tidak sebagus bratle paradok, kedua benda ibarat karet dan emas.


Comparized is run.. please wait


Clone bersandar sambil menatap monitor, menunggu proses. Jihan bertanya soal tampilan gelangnya.


"Apa benda di alam kita berevolusi Mbak?"


"Betul, nantinya akan berubah dengan sendirinya."


"Dah kayak uler sama rolex gini soalnya Mbak. Aksesoris gembel."


"Dasarnya sama, Jihan. Saya membuatnya dengan cara menandai bola asap hingga bergaris. Setelahnya, tinggal kita gasingkan di mesin cetak."


"Simpel juga. Kiraen buatan pabrik jam."


Diit! Diit..!


Dii.. iiit!!


Layar menayangkan angka; 1:4.


"Tak jauh beda dengan hasil analisa kita. Ini perbandinganmu dengan paradok. Seperempatnya."


"Kolom ini apaan Mbak? Kok samaan isinya Endfield? Napa punya saya gak kedap-kedip?"


"Baiklah. Kita buat value-place milikmu berkedap-kedip."


Tak! Tik! Tiik..! Tak!


Jihan menatap ketikan Clone, terbaca di layar ketik; LHC, int S4. Dan benar saja, nilai tersebut tampak nyala dan padam secara berulang. Sementara data di kolom lain milik kedua gelang turut berubah, termasuk info waktu. Jihan juga melihat nama Endfield masih berkedip-kedip.


"Jadi nih lokasi terakhir saya gitu? Kalo kita input Escort gimana, kedipan gak Mbak?"


"Betul, masih berindikasi rotasi Snail."


"Coba pinjem Mbak. Pinjem bentar."


"Silahkan."


Jihan berdiri menginput value. Tak lama dia duduk kembali. Kini yang berkedipan di layar adalah teks; RPM not found, di kolom value-place terbaca; surga.


"Njir nol semua datanya."


"Saya pernah mengetikkannya, dan juga lusid yang lainnya sebelum engkau. Tentu saja value-nya tak ditemukan di profile kita."


"Trus.. Nih monitor CPU-nya di mana ya Mbak?" tanya Jihan membungkuk lihat kolong meja.


"Ini info server. Semua monitor mengakses data Server."


"Upps! Hihi.. Ratu gue liat pastinya nih Mbak. Saya harus ke ladang."


"Ke marilah kapan pun kau mau."


"Iya. Ya udah Mbak. Saya pergi dulu," pamit Jihan bangkit dari duduk.


"Silahkan."


"Assalamualaikum.."

__ADS_1


Di depan blizt tanpa menunggu jawaban Jihan sentuh pintu.


Claph! Jihan berdiri di tengah lorong, mendapati Kisye yang tengah menyentuh pintu.


Claph! Pembawa tongkat hilang memberkas jadi cahaya perut.


"Umm, nih pintu emang udah diatur, biar gak nindih pengunjung laen. Anti tabrak."


"Beres Jim?"


"Ehh.. Mbak Uno. Kaget gue."


Jihan mendapati Prita sedang bersilang tangan tak jauh di tempatnya berdiri.


"Ikut gue," pinta Uno berbalik pergi.


"Ke mana Mbak? Ngapain?!"


"Ladang lo. Latian!" seru Prita, sampai di depan blizt langsung menyentuh pintu.


Claph!


"Hhh, ketemu ratu lagi. Banyak amat sih ratu gue. Ah.. Datang dan pergi sama penting. Bener khan Rin?"


Tak ada komentar


"Bawain.." pinta Jihan memejam mata sambil menaikkan badan.


Set! Claph!


Zhhaang!!


Tiga bunyi tersebut mengantarkan Jihan masuk gerbong. Maka begitu Jihan membuka matanya, dia sudah sampai di tujuan.


Jihan melayang ke sudut ruang, menghampiri Spear.


"Gue liat lo lagi dicekik majikan. Napa ada di sini?"


Spear diam. Karena benda mati. Jihan langsung mencekiknya.


Greph!


"Ke ladang."


Sat! Sit! Sut!


Gerbong terbelah bagiannya saat Jihan menyentuh pegangan alias handle.


Nguu..uuung!!


Di kegelapan bunyi keong menampakkan sebuah gelembung dan mengurung Jihan, balon besar tersebut mengembang dari dua ujung tongkat sekaligus memberi penerangan ke sekelilingnya.


Setelah tujuan selesai "rakit" lewat serpih lapisan, Jihan mengucapkan terimakasih pada tongkat mengkilat sebagai ongkos perjalanannya.


"Thanks."


Jreeng! Sebuah benteng tinggi, gagah menjulang di depan Jihan.


Puas mengamati benteng ladang, Jihan float moves. Tapi baru beberapa meter 'berlayar', Jihan berhenti mendengar dengung Spear di belakang.


Ternyata suara kunjungan sosok Prita. Sang prajurit agak terjengah mendapati Jihan.


"Hhh, mungkin lo yang harus ikut gue Mbak," komen Jihan membiarkan dirinya mendarat. "Lets go."


Jihan melangkah meninggalkan Prita tanpa alas kaki alias nyeker.


Sementara Prita tengok sekitar, tak peduli temannya sudah agak jauh menapaki batuan di jalanan gerbang. Di depan benteng Ladang ternyata banyak pepohonan tinggi, namun asri hijaunya di senja hari ini.


"He, bareng. Gue takut kalajengking. Hhh, hhh, hhh. Lo budeg banget sih," engah Prita setelah menjejeri langkah Jihan. "Hhh, hhh.."


"Si oyon? Bagus. Urusan kita sama Mbak."


"Gue baru ke mari. Mohon bimbingan, Jim. Hhh, hhh.."


"Sama?" tanya Jihan agak cuek, tak melihat lawan bicara, santai berjalan.


"Lo pernah ke sini khan?"


"Ya. Nih LHC-nya antah berantah. Tapi ada yang lebih gede katanya."


"Gue harus ketemu Reinita. Sekalian mo ngomongin logam android. Bahan dasar pusakanya."


Keduanya sampai di pos gerbang dan sudah ditunggu pemuda yang mengunyah permen karet.


Sllpph!! Sebuah daun pintu terbuka.


"Thanks. Nih Prita, mau ketemu Ratu."


"Ya anterin sendirilah. Baju lo ganti kek, Han. Bosen."


"Hii protes. Tengkyu," Jihan masuk ke pintu khusus sambil menggandeng Prita.


Si pemuda hanya meniup permennya sampai meletup.


Tluukh!!


Klining! Kliniing..!!


Dia kaget ada dering smartphone di meja pos, segera si pemuda tinggalkan gayanya. "S*tan. Gue sibuk!"


Dukh! Lawang pos ditendang.


"Kampret keras!" serunya memegang ujung kaki.


Kliniing!! Kliniing!


Pintu gate sangat besar seukuran terowongan. Namun ada jalan kecil di balik pintu selip tadi, di dekat pos penjaga.


"Ray khan dibikin sama dewan, Mbak. Napa nyasar ke sini? Salah tempat lo Mbak. Pokoknya, lo harus pulang sendiri."


"Nih kehubung sama pasus Rainbow Killer, Jim," tutur Prita yang turut menapaki jalan di terowongan kecil penuh lampu penerang, sepatu perangnya sampai bunyi menginjak lantai marmer.


Klotakh!


Klotakh..!


Klotakh!


Klotakh..!


"Ouh. Apa karena gue salah bantai gitu? Maksud gue, mereka masih aktif, idup?"


"Kalo perakitnya iya. Jadi tenaga lo percuma, Jim."

__ADS_1


"Hhh.. Shut up!" pinta Jihan langsung gabut.


"Siapin diri lo baik-baik. Soalnya belum ada protokol. Jadi santai, gak usah ngejigong gini Jim."


__ADS_2