
Jihan terbaring di lubang dengan timbunan menutupi tubuhnya. Bila daging biasa mungkin Jihan-lah yang remuk bersama tulang belulangnya, menodai dinding tersebut, yang tinggi lagi keras.
Nina mengambang di udara dalam jarak 10 meter dengan ketinggian yang sama dengan lubang tebing. Refleks dirinya bergeser, mengelak dari kelebat yang ada. Nina ikuti dengan matanya, tak ada objek di arah kiri tersebut selain kekosongan.
"..?!!"
Nina lalu melihat dinding sebab bayang tadi datang dari sana. Tapi di lubang tebing itu, kaki Jihan masih ada, bila Nina hampiri mungkin masih bau kaos kaki. Nina berdecak, dia belum mengerti apa itu remnant.
Gruu.. tukh..! Timbunan merembes tergravitasi, di situ tubuh Jihan hilang dalam diam.
Benar itu hanya sisa "gerakan". Saking cepatnya melesat, Jihan meninggalkan tubuh yang di sebut remnant. Si putih sudah tak di situ, diam-diam mengejutkan.
Swuutth!
Mata Hitam diam di permukaan dinding ala Spiderman, bersiaga. Dia sengaja menempatkan dirinya di situ agar terminimalisir pandangan awasnya. Nina pintar juga di saat sudah kalah cepat.
"Dasar judes. Mana gue bisa liat kalo elonya gitu. Dah pake alens gini, gue masih aja kalah. Kampret..!"
Nina mengumpat sendiri, melihat-lihat atas dan depannya. Ternyata kontak lens tak banyak membantunya.
Nina memang masih bisa mengelak. Tapi jika dia harus mengejar, dirinya pilih jalan hemat, menunggu serangan.
Nina juga ingat ucapan Diandra. Sebagai pengalih atau thrid wave kesabaran sangat diutamakan, mengingat healer Panti belum ada kabarnya. Ririn masih dihubungi alias dicari.
Bisa jadi Ririn sedang tidur dan ponselnya di-silent. Atau mungkin sudah kapok, yang mana di onmind terakhirnya itu, dia bergerilya mencari Marcel, pas ketemu orangnya, Marcel malas pulang dan "bosan" disembuhkan.
Set!
Nina melesat loncat hingga dinding Endfield terjejak kawah akibat pijakannya, serpihan logam berjatuhan.
Tang.. tang..! Klontang.. ting-tang!
Saat tembok disorot kamera agak lama, Jihan sedang mengeluarkan satu kakinya di situ, menendang tempat Nina berada dengan tenaga setara peluru menabrak kaca. Padahal Jihan muncul di depan Nina, menginjak di jarak dekat. Dinding auto pecah.
Jihan mengambang di udara, diam seperti biasa memindai gerakan, atau mungkin memang sudah tak ada target.
Di sorot dari dekat, ternyata Jihan pun tak bernafas sama sekali, dadanya sama bisu dengan bibir si empu. Kemudian si putih agak tertunduk kepala, mengheningkan cipta.
Bluph..
Di lantai Endfield sebatang jari menyembul keluar. Lalu tenggelam lagi begitu kepala Jihan terangkat, mendeteksinya. Entah jari siapa, warnanya merah intan.
- 😆 siapa ya di bawah sana? wkakak!!
Claphh!!
Berkas cahaya memancar di tebing seberang, 7000 meter dari posisi Jihan. Jarak ini berarti diameter Enfield, atau mungkin lebih.
"Apa bener tujuh kiloan?" tanya Nature mengambang dengan dua benda di tangannya, memegang Ray dan tongkat Raven.
Demikian. Lemparkan sekarang Tuan
"Seperti Mamah per detiknya."
Whuung!
Taphh..!! Rrrddhh!!
Jihan tangkap dengan tenang lembing yang datang. Nature memang memberikannya hingga Jihan tidak banyak bergerak, diam membiarkan getar si benda.
Tongkat tersebut agak berbeda dengan Spear, tebalnya lebih kecil. Jika diameter Spear seukuran stang motor, tongkat Raven setebal sosis roti, maka lebih lentur dari Spear. Sedangkan ujungnya, satu lancip, ujung satu lagi datar. Yang ajaib adalah panjangnya, efesien karena menyesuaikan diri dengan tinggi badan si pemegang. Sebut saja Gantar.
__ADS_1
Sllpph!
Gantar bergeser setengah tiang di genggaman Jihan. Ujungnya yang bergetar barusan diamati, namun tak diraba.
Jihan pelan memutar kepala mirip gerak moncong Tank, merasakan sebuah gerakan. Dia lalu memutar badan selambat lirikannya, menghadap ke sumber pancaran. Jihan tampak peka pada objeknya di jarak yang cukup jauh ini.
Nature melayang maju memposisikan pedang gaya ninja. Bila dia sedang lari ujung pedang akan memercik serbuk api tergesek aspal atau batuan tanah. Tapi Nature bergerak 10 senti meter per detik, tidak serusuh geng motor tawuran.
Wugh-wugh-wugh..!!
Jihan sudah angkat satu tangan membuka telapaknya, memainkan Gantar, tepatnya bertelekinetis. Dia sedang menghadap ke timur di mana Nature berada.
Swu.. ugh..
Ujung Gantar menunjuk arah jam satu dalam gerak lambat, ujung lancipnya di arah jam tujuh.
Wugh-wugh-wugh..!!
Swu.. ugh..
Posisi Gantar menunjuk arah jam dua saat jet lag berlangsung, ujung lancipnya di arah jam delapan.
Wugh-wugh-wugh!!
Zyetth! Sedetik kemudian Gantar melesat.
Thang!! Nature tangkap Gantar dengan tangan kiri namun terlepas ditarik kembali oleh gaya telekinetik.
Taphh!!
Jihan pegang Gantar di detik ketiga, Nature masih berada di jauh sana. Dia gagal menarik anaknya. Jihan langsung melesat membawa Gantar.
Wuutts!
Nature sambut Jihan dengan tiga pose menangkis. Pertama, pedangnya vertikal di samping kiri. Kedua, pedangnya vertikal di samping kanan, ujung pedang mengarah ke atas, karena Jihan mengayun Gantar searah jam. Ketiga, Nature tangkis serangan ibu tiri yang tahu-tahu turun menarget ubun gaya orang membanting tongkatnya. Nature pegang Ray dengan dua tangan demi keselamatan.
Swutth! Swuutth..!
Jihan dan Nature mundur bersamaan, langsung menjarak 10 meter. Nature fokus pegang handle dengan dua tangan, Jihan diam mengamat. Keduanya berwajah datar, tanpa raut emosi.
Set!
Jihan fast move ke hadapan Nature, mendeteksi gerak organ dalam rusuk anaknya. Bocah F1 diam tanpa nafas, dia bisa lihat dada ibunya pun tak berdenyut. Kepala si putih lalu agak menunduk menutup mata.
Nature tetap konsen bagai patung di darat, tak berkedip.
Bluph..
Sebuah jari bening menyembul lagi di permukaan lantai. Kali ini si objek berkeliling. Batang kecil nan merah berputar-putar ini layaknya perahu radar.
Blaggh!!
Gantar miring menancap di situ. Ujung satunya bergetaran. Drrrghh..!
Jari intan muncul lagi, mengulang kegiatannya. Kali ini memutari Gantar. Sekali, dua kali, gerakannya sengaja mengundang Jihan datang.
Set!
Sang batu singkat tenggelam, hilang di permukaan lantai begitu Jihan fast move menghampirinya. Jari tersebut berhasil membuat si putih tertidur mengheningkan cipta, seolah berduka atas Gantar yang tak bisa digunakan lagi.
Blupph!! Segumpal awan portal muncul di dekat Nature. Sang bocah menoleh, dia juga langsung mendarat tanpa melepaskan pandangan, tangannya menepuk bagian bawah handle pedang.
__ADS_1
Craangg!!
Nature senyum saat seorang gadis baru saja datang dari portal.
Degh!! Tubuh Jihan tersentak ke depan. Dia sedang mengambang dalam tidurnya, degup tersebut membuat dirinya lemas tepat di depan ujung runcing Gantar.
Jihan terhuyung jatuh.
Swuutth!! Seseorang melesat keluar dari dalam lantai, menyambar tubuh Jihan.
"Mamah!"
Nature lari menghampiri Nina yang sudah mendarat, datang memanggil Jihan yang sedang dibopong dan direbahkan. Marcel sejenak tertegun melihat Jihan, lalu ikut lari menghampiri.
"Han!"
Nina menyetop Nature tanpa melihat sang bocah. Untunglah Nature dapat mengerem. Nina amati, wajah Jihan masih pucat, tapi rambut sang lusid terpigmen hitam oleh akarnya.
"Gimana Nin?" tanya Marcel, wajahnya yang dirusak Raven, kini sudah sembuh dan tetap manis memancar. "Hhh, hhh, hhh.."
"Dia gak apa-apa kok."
Marcel amati rambut Nina, tubuh, dan celana si teman tak ada kerusakan ataupun kusutnya.
"Hhh, alhamdulillah.. Gue lupa speed dia (Jihan) udah remnant, Nin."
"Sialan. Nyaris tau. Mata lolong gini mana bisa gue ngejar, Sel," kata Nina dalam jongkoknya ini, menatap lawan bicara.
Marcel abaikan protes yang ada sebab Nina pun tak peduli, beralih mata pada rambut Jihan. Marcel turut menunggu dengan nafas sedikit cape, entah habis maraton di mana.
Drthh.. drrth.. Kulit dan rambut Jihan kembali segar dialiri darah dan pigmen. Kulit tubuhnya agak berubah jadi sedikit kendor, bartambah dua tahun.
Nina bangkit berdiri mengamati peredaran yang ada, hawa sejuk yang ditunggunya sudah sirna.
"Hhh, iya. Dia gak apa-apa, Sel. Udah beres. Kita punya tempat buat si Raven sekarang."
Wuutts! Nina melesat ke arah barat di mana Gantar berada.
"Mah..?"
"Ugh.. Hai, Nat," kata Jihan sambil menekan kepala, bangkit untuk duduk.
"Ha.. hh-han, lo.. di.. apain? Hiks..!"
"Beb..?"
Jihan yang masih buram melihat, mendapati wajah petapa kesayangannya nangkring di depan. Dia seruduk Marcel, langsung ditangkap, dan memelukannya. Jihan lanjut menangis.
Marcel balas mendekap, membiarkan dirinya ditindih sang lusid. Dia tak bisa mengatakan apapun. Matanya sudah basah berair.
Jihan menderu dalam tangisannya yang melantun pilu. Dia berteriak, menangis sejadinya mengingat erangan Marcel, penganiayaan yang membuat dirinya pucat dalam dendam yang tak terbatas.
"Huaaarrgh... aa-a..!!"
Deru tangis Jihan makin mengencang, belum bisa melupakan Raven begitu saja.
Marcel belum membuka mata. Dirinya sama ingat, bahwa alam ini bukan habitat untuknya.
"Huaaa... aa-aa..!"
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>To be continue..
__ADS_1
- Purwakarta, 25 Sep 2021