
Bregh!
Nina jongkok mendarat di jarak cukup dekat dengan Raven.
"Mempan gak?"
Raven berhenti dari kegiatannya. Nafasnya memburu, tubuh sedikit pucat keringatan. Dia benar-benar tak bisa melepaskan diri. Dia dan anak buahnya dalam "sandera" Spear, sudah tak bersama tongkatnya.
Dukh..!
Dukh!
Raven abaikan pertanyaan Nina, dia menendang lagi dengan powernya yang menguras will.
Belum tampak apa yang Raven tendang, Jihan belum bergerak atau mengeksekusi second wave. Stealth only. Mungkin Jihan pun dalam sandera Spear.
"Apa gak pas momennya, Rav?"
"Sadav! Hhh.. hhh! Euggh..! Eu.. uugh! Hiks.. Eu-uuugh..!"
"Komunitas ngurus kalian kok. Gue rasa masih cukup lima puluh qarrat per bulan, terlebih lo sendiri yang nyari kualitasnya (qarrat)."
"Diam! Hapus aku, J*lang..!"
"Lo udah berguna di Snail. Seratus ribu lo di Underground cuma nambah rumit perundang-undangan kalian sendiri. Lo kelewatan, sampe ngejadiin mereka hewan (birdy)," kata Nina. "Gak ada ahlak."
"Langsung empat mata, J*lang! Euu.. uugh!"
"Lo mau ngobrol sama Tukur Arwana?"
"Kill me! Kill me!! Errrggh!! Bunuh akuuu..!! Errgghh!! Kill meee..!" teriak Raven, makin mengencangkan suara.
Tampak Raven putus asa, dia paling geram saat dicekal dan dipanas-panasi. Dia tampak ingin menjedukkan kepalanya. Tapi di posisi menggelantung begitu, bunuh diri sudah tak mungkin.
Set! Set..!!
Nina membuat tanda silang, menggaris di udara. Tangannya yang merah intan, bagaikan pisau, sehingga jarinya tersebut dapat "merobek" dimensi.
Tapi Nina hanya dapat masuk ke Endfield, tidak bisa menyeberangi masa lainnya dengan batu Pnin tersebut.
Nina menyingkir dari sobekan yang dia buat.
"Spear? Lo masih tahan?"
Swuutth!!
Raven tiba-tiba melesat ke arah yang ditandai, dibawa oleh Spear masuk arena. Jika dia mati, Komunitas harus membayar seratus ribu qarrat pada Underground.
Detik ini jika di lihat dari kacamata Nina, Jihan seperti siluet tiga dimensi. Serta merta, Jihan langsung melesat masuk Endfield memburu Raven.
Rambut Nina terhembus lagi untuk kedua kalinya. Di luar kacamata, atau citra normal, gerakan Jihan terlihat dari situ.
Nina biarkan poninya menghalangi mata, dirinya diam menatap Nature di mana masih memegang pedang.
"Kayak emaknya. Produk bucin.."
Wuutts!
Di tempat yang agak tinggi ini, Nature lihat Nina sudah berkelebat masuk arena. "Tangannya hebat. Seperti semen.."
__ADS_1
Endfield kosong melompong sebelum Nina memasukinya. Di sini hening, belum ada seorangpun ketika Nina masih di luar. Lantai masih bersih ke manapun mata menyapu. Enam tebingnya belum ternoda atau rusak. Kecuali arah atas yang berupa angkasa berbintang, arena versi awalnya berlangit awan berarak.
Ckiiit!
Nina berhenti di detik kedua, 100 meter sekali gerak. Tirai dimensi yang jadi objek pertama di Endfield segera memulih dari bolong dan sobeknya. Nina biarkan "pintu" itu hilang usai dilewati.
"Spear..?"
Nina lihat ada dua siluet tridi, tapi tengah terpause. Di sana Jihan dan Raven sudah berkelahi, pose Jihan sedang menangkap tongkat dan Raven sedang loncat mengayunkan stenlis. Nina dapati mereka tidak bergerak, namun benda panjang yang mereka pegang terkelupas, labil.
"Oke. Bentar.."
Nina melepaskqn jasnya. Dia longgarkan dasinya, tak peduli jasnya terbang mendebu di lantai. Nina juga mengganti penampakan kacamatanya saat menggulung lengan baju, kacamata menciut kecil ke dalam mata jadi kontak lens.
"Ready!" ucap Nina ketika tangannya sudah full power hingga bahu, merah bening.
Claph..!!
Raven menghilang jadi sinar blizt, entah Spear membawanya ke mana, Raven telah dipindahkan ke lain tempat selain di sini.
Bukh! Set! Bukh-bukh..!!
Nina memukul sesuatu hingga bunyi. Entah sedang latihan apa, dia mendadak menurunkan badan begitu berucap mulai. Nina juga memutar tubuhya selesai memiringkan badan, memukul gaya baling-baling.
Kamera biasa tak dapat menangkap objek lainnya di Endfield. Tapi melalui lensa yang Nina pakai, barulah jelas. Nina sedang sibuk dengan teman mainnya; Jihan, si sosok siluet.
Namun saat Nina beraksi lagi, mengelak lagi, terdorong, memukul lagi, kamera first person ini berubah-ubah sorotannya, objek yang dibidik sangat dekat, hanya bayangan hitam, dan hitam.
"Kat!"
Nina baru saja maju, hendak memukul langsung urung. Dia melihat kanannya ini karena suara datang dari arah sini. Nina diam memandangi objeknya dengan nafas sudah naik-turun, kelelahan.
"Oke! Kame.. raaa. Roll.. Action!"
Nina yang sedang menunggu sambil kacak pinggang, menoleh ke depannya. Dia langsung lari menghampiri siluet, yang juga bingung ada di mana. Nina segera menginjak punggung yang ada.
Bekh!
Siluet terdorong ke depan beberapa langkah. Dia tak jatuh karena tendangan yang ada kurang bertenaga. Siluet kemudian berdiri tenang, dia sadar lawannya ternyata ada di belakang.
Nina sedang lompat-lompat kecil sambil terus mengawasi lawannya. Saat dia hendak mau lari lagi, sebuah suara terdengar.
Nina menoleh ke kamera, batal beraksi saking bingungnya.
"Kat.. Kat..!!"
"Errgh..!! Apaan sih?! Terserah gue dong, mau ngapain."
"Bentar.. bentar. Ganti lensa."
Beberapa menit kemudian..
Jihan kembali jadi si putih. Sekarang dia makin jelas wajah dinginnya. Diam tanpa ekpresi dan emosi. Namun bereaksi terhadap gerakan terhadapnya. Jihan sigap menangkap tangan Nina yang hendak menghantam kepala.
Bruugh!!
Jihan banting lawannya ke lantai. Detik kemudian dia mengayunkan kaki. Jihan tendang kepala Nina.
Bletakkh!
__ADS_1
Tubuh Nina terlempar dari situ mirip Boomerang.
Keduanya sama-sama keras dalam beraksi dan berbodi. Mereka begitu serius saling menghancurkan. Satu beraksi di bawah sadar, satunya lagi nekat benar.
Nina yang masih terbaling-baling, refleks menancap lima jarinya ke lantai. Tubuhnya langsung berhenti tercekal tangan intan empunya, entah kenapa batu dan logam dapat spontan menempel di alam jejadian ini. Nina berhasil mengerem, tak jauh darinya Jihan baru saja mendarat.
Bruuakh!!
Klontang..!! Tang! Taang..
Tang! Klonteng! Ting.. Tang..!!
Teng! Taang..
Lantai menghamburkan sebagian pecahannya. Hancur dengan mudah bagaikan kaca, tapi pecahan berbunyi seperti logam kering yang berat. Legokannya memiliki retakan yang lurus, terpusat di tengah, agak banyak.
Jihan melangkah meninggalkan kawah persis Terminator. Tenang, berani, pantang menyerah. Jihan juga tidak memiliki kornea, white eye.
Bugh!!
Nina menendang kening Jihan ketika si putih membungkuk untuk meraih kakinya.
Whuung..
Bruaakh!!
Jihan terlempar ke belakangnya hingga punggung menabrak dinding tebing arena. Tubuhnya kemudian jatuh melorot.
Bregh..
Klontang.. ting!
Tang.. tang-tang..!
Nina bangun membiarkan bunyi dentingan logam, segera berjalan menghampiri Jihan. Dia tak kalah dingin dari lawannya. Fokus, serius, ambisius. Nina juga mengandalkan berlian, tak hanya bermata hitam.
Jihan bangkit saat Nina semakin dekat menghampirinya. Dia tidak menepuk-nepuk celana seperti kebiasaannya pas habis jatuh, karena sedang loving force.
Saat sudah berdiri, Jihan melesat bagai angin.
Wuutts!
Nina yang berjalan sambil mengepalkan dua tangannya tampak sudah tahu secepat apa Jihan mendatanginya. Kedua mata hitamnya tersebut segera memicing. Jet lag pun berlangsung.. Jihan ternyata tengah menjuruskan satu kaki, melesat untuk menendangnya.
Bruuakh!!
Jihan kembali menghantam tebing arena, dibanting ke dinding dengan lebih keras.
Tang!! Ting..! Klontang! Teng-tong..
Tang.. tang!!
Bongkahan kecil berjatuhan dengan nyaringnya. Brangkal tersebut memantul-mantul sebentar. Pecahannya jatuh dari tempat yang lebih tinggi dari yang pertama.
Jihan nyangkut di tembok logam, hanya terlihat satu kaki, agak menyembul di situ.
-
-
__ADS_1
😁 takkan pernah selesai sepertinya