
Bukh!
Bukh!!
Bukh!
"Kami bukan drivermu..! Bukan Pengecut-mu!!" teriak Bandana, meninggi.
Bukh!
Bukh! Bandana tetap menghajar korbannya hingga pukulan mencapai hit ke duabelas, tiga belas, empat belas, lima belas..
"Nanya-nya kayak gitu, gimana orang bisa jawab? Huh, maen ati," gumam penonton B, ikon teropong yang dipegangnya berkilau, logo Snail tersebut terhalang di balik jari yang menegang. "Brutal.."
"Dia marah sekali."
"Dah lah, tembak nih orang. Dia gak bersyukur sama mukanya. Hhh.."
"Badan dia dilindungi Black-suit. Autoreport. Jejakku terbuka," ragu si Pembidik.
Bukh!
Bukh!
"Keluar kau! Pecundang!!"
Bukh!
Bukh!!
Set..
Gadis berbaju ketat hitam mengangkat tangannya lagi, siku terlipat dengan kepalan masih terlumur darah, tangannya perlahan melaju turun ke arah mata kanan Jihan, dalam slow motion.
Selingkar layar sorot membidik pelipis Bandana, scope Arc mirip monitor-pantau, ada nama objek yang disorot, juga terbaca; target terkunci.
Ceu... klik..
Seruas telunjuk menekan trigger senapan membarengi laju kepalan si Brutal.
Dzziuu... uung..
Peluru Arc memberkas bagai starnova di ujung moncongnya, cahaya putih.
Ggrrtt..tth..
Saat sudah setengah perjalanan menuju target, sinar putih tersebut berubah, mulai jelas muatan yang dikandungnya, mendingin jadi sebuah kelereng-pekat.
Laju sang bullet tak terhenti dalam gerak lambat yang sedang berlangsung ini. Maka..
Benda bulat tersebut, menumbuk pelipis Bandana, pecah bagai air, persis peluru tinta.
Dziing!! Craatth!!
Brugh!! Bandana jatuh ke sisi kanan. Kemudian..
Zwaaat!!
Terdengar bunyi lain, hingga kepala Bandana langsung ditutupi "helm".
"Ehh.." bingung Jihan, di mode bening-nya, tak disangka ada yang mendahului stealth-nya, ada aksi lain. Lalu Jihan menurunkan satu kaki yang tengah diangkat, yang dia niatkan untuk punggung Bandana.
Mendapati penganiaya-nya ambruk, tak bergerak lagi, Jihan langsung menoleh ke arah apartemen, bangunan yang ter-insting oleh kupingnya.
Sshh!! Jsshh!! Dua asap muncul terkepul di dekat Jihan, terdengar seperti ban kempes, angin tekanan tinggi.
"Ini tidak menyenangkan. Hancur.." ucap Asap 1 saat kepulan sudah menipis, tubuh terlihat mata, tapi di situ dia mendapati wajah Jihan sudah tak karuan, bekas kepala yang telah berantakan di permukaan tanah.
"Aneh banget, gelarnya malah turun jadi Jago Pingsan," komentar Asap 2 sambil mengalungkan Arc Listrik ke badan.
"Pingsan..?" tanya Asap 1, melirik ke lawan bicara. "Jadi bagaimana cara kalian membangunkan lusid yang tak berkepala?"
"Bun.. tung.." pias si teman, memucat. "Oke. Gue lom tau, Ghost. Ntar.."
"Aku baru melihat pingsan yang seperti ini."
Asap 2 tak menjawab kecemasan Asap 1, dia merogoh saku rompinya, seperti sedang menghapus rasa takut, mencoba santai.
"Apa kita salah pilih peluru, ataukah salah target?"
"Gue fokus narget objek," jawab Asap 2. "Duh, gak bawa kaos kaki lagi. Orang bakal siuman kalo ngendus kaen asin. Kita ngontek orang yang tau aja, deh."
"Hhh, Mbak," Jihan kacak pinggang di dekat Prita. "Lo abis minum kayu putih ngomongnya.."
"Dia fokus kedua-ku, Mbak Ita. Seharusnya ini baik-baik saja. Ternyata prediksi-ku meleset."
Gliit! Kapsul yang diambil dari saku rompi, diremas, dan sekali genggam, tangan Prita terpasang alat mirip glove logam.
"Rom, jemput kami dong," pinta Prita setelah memasang sarung-tangan mekanik.
"Baik. Citymall segera dipindai. Nih Vita, Mbak. Romi sibuk di ruang bengkel. Harap menunggu, Mbak. Prosedur pendaratan masih jalan, mindai lapangan."
"Iya Juliet. Cepetan yaa.. Gue butuh anak Snail karena nih soal Skin Char. Gue salah jemput Jihan kayaknya, di lab. Kepala dia, nih.. aduh.. Gimana ya?"
"Baik. Segera Vita sampaikan. TKP steril. Soul-4 turun menjemput."
"Radio out."
Gliitt..! Alat komunikasi kembali jadi kapsul-pijit. Prita segera menyimpan pil orange tersebut dalam saku rompi.
"Kayak si Marcel, doyan ngemas xmatter," tatap Jihan pada saku Prita.
Anak yang disebut Ghost, Jihan dapati sudah jongkok membidik wajah Bandana dengan teropong.
"Nih bocah ngapain lagi.. ngobjek apaan pake diintip gitu?"
"Releas dengan urutan dua. Part dari kedua vacum ini tak ada perbedaan, tapi termuat address, nama sel yang sama," analisa Ghost, membiarkan teropongnya bersinar memindai pecahan 'pulpen'.
"Kita turun karna lo yakin TKP udah bersih, Ghost?"
"Clear."
"Kayak ada manis-manisnya nih medan," kode Prita sambil mengawasi sekitar. "Ini alesan gue, soal status si Jimi. Pala dia emang abis, tapi wave-nya masih ngeriak frekuensi. Detak gue tenang, gak serusuh lo."
Jihan membekap bibirnya sendiri sambil mundur agak jauh dari lokasi Prita berada, punggung pun menembus masuk generator, yang sebesar bus, di belakangnya.
'Aduhai, Prita mewarisi kanugaran leluhurnya'
"Leluhur? Dia nyebutin kosa buyut pas di lab soul."
' Dia keturunan Marcelina, Tuan. Rumus Citruz-ku mengecualikan visible untuknya'
"Iya. Alisnya sama kayak si Doremon. Pantesan dia bermurid cepet. Astraler instan. Orang biasa butuh belasan taon buat jadi petapa."
'Hhh, Tak ada komentar, Tuan'
"Syukurin. Dia mulai bingung."
Seperti yang dikatakan Jihan, dekat Ghost gadis yang dibicarakan menggaruk-garuk ubun, keheranan dengan tempat yang dipijaknya. "Kita di dunia nyata khan, Ghost? Gue masih nyukma diri kok, belom keluar panti, perasaan."
Rwwwtth!!
Saat semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, seunit wahana melepas lapisan "penutupnya", kapal bulat seukuran rumah dengan empat kaki sedang turun untuk mendarat.
"Vit!" seru Prita begitu melihat sang pilot kapal di balik kaca kokpit. "Blangkar..!"
Prita berisyarat dengan tangannya, menirukan orang mengangkat tandu.
Orang yang diajak bicara mengangguk mengacungkan jempol di ruang kemudi.
Draaph!!
Soul-4 akhirnya sukses memijak tanah, seruas papan-masuk turun, wahana terbuka, bagian bawah kapal mengganga. Tampak seseorang laki-laki sudah berdiri di balik pintu tersebut.
"Ghost, lo beres motretnya belom? Jam interogasi nih."
"Selesai. Aku juga ingin melihat mesin-ku. Dokumentasi selesai. Tinggal menambahkan beberapa profile lagi."
Set! Suatu gerakan datang.
Ckiiit..!!
"Astaghfirullah..!" ucap Romi, sesampainya di depan mayat Jihan, berkelebat sehabis pintu kapal terbuka. "Gak waras apa paradoknya?"
"Waktu dijotos temen lo nih udah gak sadar, sampe serangan berkelanjutan. Terus udah gini ancur gue dapetin. Karya tangan yang brutal. Asnil gak usah bengong, kerjain tugas lo, Rom. Lemparin tuh zippo."
"Ck! Gak waras.." kata Romi sambil melemparkan benda ukuran korek pada Prita, lalu jongkok mengintip tubuh Jihan lewat kaca-pembesar. "Sampe hilang sinyal begini."
"Ingatlah. Dia kunci mesinku. Hati-hati mengobatinya, Imor."
"Katanya pake Skin Char. Ini mah asli materi default, Ghost. Gue untungnya.."
Set! Kelebat lain datang dari kapal.
Ckiiit!!
"Ya Allah, Kak Jihan.. Hhh, hhh.. Umph!"
Vita yang masih berhelm pilot, terengah sambil menutup mulut melihat tubuh yang dikenalnya, dia pucat sejak terburu di ruang kokpit mengenai objek yang dicemaskannya tersebut.
"Haduh, makasih pada peduli gue. Sori," gugup Jihan, mulai resah bersembunyi dalam bening tak kasatnya ini. Tangan pun segera diarahkan ke tubuhnya. "Nih cuma reminant gue, Vit."
Jihan yang masih di dalam genset-kontener, mengabaikan diri saat pusarnya sedikit terang.
Grrrth!!
Srrkh..!!
Mayat tiba-tiba tergendik sendiri bagai diremote oleh urat-urat dalam dagingnya, seperti mendadak tersengat listrik.
"Ehh!!" Ghost, jatuh terduduk.
"Kyaa! Kakak!!" jerit Vita, meneriaki mayat.
"Astaghfirullah!" Romi sigap berdiri menghalangi tubuh Vita dengan tangan, Vita segera benamkan wajahnya ke dada Romi.
Sementara Prita menoleh saat menaruh zippo di perut Bandana.
".. ??!!"
"Uhuh.. huhu! Kak Jihan.. Hikk! Kak Jihan, Rom.. Hikk! Uhuhuu.." derai Vita, memeluk Romi.
"A.. ayo.. A-aku.. Aku harus bawa dia.. ke.. ke bangkel, Vit. Da.. data xmatter-nya.. emang mi.. minus," gagap Romi, tak berani melihat objek yang ditangisi ceweknya.
"Berikan tandu itu padaku." pinta Ghost menadahkan tangan, Romi segera menaruh zippo ke telapak mungil tersebut dengan takutnya.
"Vit! Ada apa?" tanya Prita, wajah mayat tak begitu menarik perhatian saat dilihatnya.
"Uhuhhu! Egh..!"
__ADS_1
Vita balik badan, dua kakinya ditenagai urat, lari biasa.
Prita langsung bingung, gadis berhelm berlari menuju kapal meninggalkan TKP dengan amat kesal padanya.
"Hadeeh.. Swer, Jimi kita lagi pingsan. Gue yakin itu, napa pada dramatis gini?"
"Biar gue bujuk dia."
Romi yang ditanyai Prita, berbalik, lari menyusul pacarnya ke kapal sambil memanggil.
"Hhh.. Gue yakin.." gumam Prita sambil menatap sejoli, namun terhenti mendadak.
"Haha..! Geli. Gak usah diangkut. Gue baik-baik aja," kata Jihan pada Ghost, belia yang menatapnya terduduk dan makin memucat heran. "Mooouu.. Ahahaa!!"
"..??" pandang Ghost, seperti tengah berkeringat.
Dukh! Tendang Prita ke kaki Jihan.
"Huh! Bangun lo, Kebo!"
Jihan hirau, tak menuluskan permintaan Prita, tetap berbaring dan masih tergelak demi wajah Ghost yang didapatinya.
Prita memungut benda kotak di tanah, blangkar-aneh sudah menghisap tubuh Bandana. Dia tampak sudah sangat kenal dengan Jihan, tapi dirinya masih cuek dan dingin.
Ghost menunduk dengan kedua pipi merah padam. Dirinya baru sadar, suara Manusia Kerbau di situ asli milik Jihan.
Sementara, Prita sudah pergi, berjalan sambil mengerutu menuju kapal, kesal tak ada yang mau mendengarkan.
Taph!
Manusia Kerbau menyentuh kulit lehernya saat sudah posisi duduk. Ghost masih menunduk, tak berani melihat.
Kepala jadi-jadian lalu mendadak susut dan rata, membentuk wajah yang kontras berbeda atas sentuhan empunya, kembali ke wajah; Giziania.
Jihan berdiri lalu menyodorkan tangannya di depan Ghost. "Yuk? Kalo misi lo dah beres, tinggal nanya-nanya paradok. Umm. Sori topeng tadi cuma.. adaftasi aja. Entah, protokolnya sukses diumpan apa belom, mari kita cari tau, Ghost."
Jihan pasang senyum, mencoba akrab dan sok kenal.
Sang belia berdiri sambil menggenggam tangan Jihan. "Kau harus buatkan satu kendaraan untukku."
"Umm. Jadi bukan paradok ya?" tanya Jihan sambil memberikan zippo ke Ghost.
"Bukan, dia tidak takkan pernah muncul lagi," terang Ghost, si Pencari Paraji, memasukan blangkar ke saku celana hitamnya.
"Hei. Kita lagi bantu lo nyari dia. Siapa tau ada lusid susulan bawa protokol, nyangkut misi lo itu, Ghost."
Deph!! Vita datang memeluk Jihan, yang didekapnya agak terdorong, sebab tubuh Vita sebaya dengan Jihan, 22 tahun.
"Aduh, Vita! Gue bukan Romeo elo... Iya, iya sori soal masking tadi, ya Vit. Bukan lagi nakutin. Gue bantuin si Ghost biar perhatian paradok kealih," tutur Jihan, berbalik ke arah Vita dan kembali terpeluk.
Orang yang memeluk tampak tak peduli penjelasan dan penuturan yang Jihan sampaikan, langsung mendekap kembali selesai menatap wajah si teman.
"Egh! Huhuu.. Huuu.. Hikkh!!"
"Prediksi-ku meleset. Ya. Aku harus putar haluan ke soulatormu itu. Sebaiknya kita bahas di kapal saja."
"Uhuh.. huhuu.."
"I-iya," jawab Jihan saat sibuk memeluk Vita, membiarkan Ghost pergi meninggalkannya.
Jihan eratkan dekapannya ke tubuh Vita, si teman sudah membasahi piyama yang dikenakannya. Dia biarkan Vita menangis, dan mengusap-usap punggung sahabatnya yang dahulu pernah Jihan pukul sampai ada darah terciprat ke lensa kamera.
"Rambut lo wangi gini Vit. Harum banget."
Selesai menonton, Romi pasang helm milik pacarnya dan langsung sibuk pencat-pencet tombol di kokpit Soul-4, sudah menyalakan wahana tanpa komentar.
"Yuk? Romeo lagi banyak kerjaan Vit. Lo bikin dia cemas, kayaknya. Dengerin. Gue belum tau Ghost, jadi liat-liat dulu, bukannya lagi jahil ke elo. Lo maafin gue khan?"
"Hu..umm. Uhuhh! Huuu.. Hikks!"
"Ya udah. Kita naik kapalmu dulu yuk?"
"Uhuh.. hiks-hiks! Huuhuu..!" deru Vita, segera membersihkan wajahnya yang sudah sangat basah.
Di kursi penumpang pun, Vita masih duduk memeluk Jihan. Di sebelah mereka, Ghost sibuk memutar-mutar teropong saat Prita memeriksa carry senapan, mengamat amunisi. Mereka duduk di kursi penumpang, di belakang pilot yang masih duduk konsen pijat-pijat tombol ke dashboard kokpit.
Mrrrwwwt!!
Si Bulat Besar berkamuflase lagi dirayapi lapisan tak kasat mata saat mengambang dan melipat empat kakinya yang masih terlihat.
Perisai merambati permukaan kapal bagai kulit yang terbakar, hilang dari pandangan. Tapi wahana mendadak melesat, dikebut Romi.
Wuutts!!
Di kesunyian TKP, semutant mahluk keluar dari gumpalan-kabut, datang lewat portal. Di berhenti melangkah diikuti dua gadis yang kepalanya digelang laser merah.
Ekor panjang sang mutant masih mengambangi sesuatu dekat generator, empunya turut datang memeriksa serpihan vacum di situ.
"Lusid satu ini utusan Roh kita," kata si mutant pada ekornya.
Yang diajak bicara malah meliuk susut ke bawah punggung. Srrllkkh!!
"Kenapa Lusid menculik teman kami, Mak?" tanya Jihan Bermata Putih, masih jongkok mengendus pecahan vacum.
"Sudahlah. Bukan kepentingan utama. Jumlah kalian lebih banyak. Aku yang akan mengurus, jika Qinetik menghianatiku kelak, " kata mutant berwajah Marcel ini. "Bos tak sabar menantikannya."
Di Paltina versi 2300-an, Soul-4 sudah merapat dan terparkir di tempatnya.
"Canggih amat bisa gini jelas," kata Jihan memegang teropong, ada layar mini terpancar dari pertengahan alat.
"Tanyakanlah pada Dewan Olive, dialah yang membekaliku."
"Tapi jalanku masih panjang. Aku harus tetap mencari tahu indentitasku sendiri. Who am i. Kau lusid," kata Ghost memegang perut sambil tetap serius, lalu menunjuk Prita yang tengah bersandar dengan wajah dingin. "Mbak Ita astraler."
Ghost memperlihatkan pil berwarna yang sedang dicapit dua jari kirinya.
Kedua gadis teralih perhatiannya saat Romi datang ke ruang santainya, mereka memang berada di tempat yang dindingnya tertulis; R love V.
"Nih. Dian yang minta gue ngerakit," asong cowok yang tak beralas kaki, kaosnya berlogo lingkaran orbit.
Jihan memberikan scope ke pemiliknya, beranjak berdiri dari duduk, mengambil papan mini yang disodorkan Romi. Dia duduk kembali memandangi gambar sebuah wahana.
Gambar di paper board mirip Soul-4, hanya saja teks yang ada di blue print itu Soul-1, layar datar berisi foto rangka dan isi dari kapal-bulat.
"Ini mesinnya?" tanya Jihan membiarkan Romi balik lagi masuk ke ruangan berlogo kunci-inggris (bengkel).
"Betul. Salinan Soul-1 yang lama, tapi sudah sedikit diperbarui. Apa ada yang tak sesuai bagimu?" tanya Ghost, antusias.
"Nih gak dijual, Ghost. Pernah meledak, maksud gue.. boros bahan," kisah Jihan, apa adanya.
"Pernah exploid ketika ditempati paradokmu. Sangat sia-sia. Bahkan tubuhku, sama sekali tak pernah direspon S1. Kau kuncinya."
"Kalo kapal emang gak nyala, gue batere kali ya? S1 gak dikunci, Ghost. Sok aja pake. Suruh siapa emang harus ijin dulu ma gue?"
"Misi ini inisiatif-ku saja. Berawal dari *******. Siaran di ruang mahkamah itu mengawali ceritaku. Wajahmu amat akrab di kepala. Namun aku tak pernah bertemu kau."
"Ya udah. Amnesia nih emang bingungin. Gue pernah pusing juga. Kalo ada yang gangguin fokus tuh, lo pastinya pengen ngamuk khan?"
"Aku masih asing dengan diriku. Aku masih diam-diam saja."
"Trus..? Apa lo gak senutan di sini, Ghost?" tanya Jihan mengetuk kepalanya dengan telunjuk. Tukh.. tukh!
"Dewan Olive menanyai-ku tentang sengatan. Aku tak paham bicaranya."
"Hhh..!! Kalo udah ngebahas dewan, ke sononya pasti protokol. Oke! Mari cari tau soal elo nih, Ghost. Kita bongkar siapa diri elo nih. Trus di mana mesinnya? Bengkel dia (Romi) kayak ruang sekuriti, banyak tivi gitu."
"Di Endfield."
"..??" bingung Jihan, terdiam melipat kening, menatap Ghost dengan serius.
"Harus dirakit di sana. Bentang waktu ke base time, amat jauh. Mustahil bisa kucapai mother space atau server kalian dengan statusku yang sekarang."
"Tapi belom ada ascamp yang ngalong ke mari, Ghost. Pintu Endfield-nya pasti.." gantung Jihan, melamun, karena arena hanya bisa dibuka oleh jins atau anak-lapangan.
Kuku jempol pun, Jihan lihat masih hitam. Saat dia di tenda PMI tadi, dirinya tak melihat Marcel bersama samurai, artinya Ray tidak ada di masa ini.
"By One Kakak Judes. Itu pesan orang yang membuka Enfield, jika nanti aku bertemu kau."
"Huh. Si Nina..! Dia masih aja ngegampangin xmatter," umpat Jihan melupakan jempolnya yang masih tersegel tinta, batal dilamunkan.
"S1 sudah dirakit beberapa kali agar mudah aku kontrol saat sudah jadi."
Gliitt!! Paper board memancarkan bayang hologram S1 di atas permukaan kaca begitu Ghost sentuh.
"Tapi.. Soulator-nya berat pas gue gerakin. Gravitasi bulan gak banyak ngebantu. Masih kaku kalo ditranformasikan ke human mode. Gue kayak robot beneran, jadi milih bedil. Cocoknya dibawa buat pertempuran udara, Ghost."
"Gue pinjem kamar lo, Jim. Lama!" umpat Prita yang ternyata sedang menunggui kursi kosong dan suasana sepi.
"Eh iya. Nih udah kok Mbak. Ruangan gue, gak ada kursinya!"
Prita tidak menimpali, tetap melangkah menapaki lantai di lorong kabin.
"Biar saja dia yang mengurus," sisip Ghost menatap Jihan tanpa jenuh.
"Aduh tapi gue juga pengen tanya-tanya ke si Beukel. Vacumnya mirip banget, Ghost."
"Aku belum selesai denganmu. Biar saja aku yang berbincang sama Kakak. Kau membuatku greget, Kak Mentor," sebut Ghost, dibarengi senyumnya kemudian.
"Lo sukses jinakin gue, Ghost," jihan bersandar menyilangkan tangan, tak melanjutkan kata-katanya.
"Hhh.." hela Ghost mengambil blue print S1 di pangkuan Jihan. "Tak usah terburu-buru. Kakak harus membekaliku beberapa hal tentang soulator."
"Itu nyemangatin jiwa-raga," kata Jihan beranjak bangkit dari duduknya. "Ayo, deh. Gue gatel jadi senior di fanam. Pengen galak."
Krauukh!! Kunyah Jihan menyuapkan kripik yang dicomotnya di meja.
Jihan masuk ke ruang bengkel memegang sekaleng minuman. Ghost berdiri sambil komentar.
Daph! Jihan menepuk pundak Romi. Yang didatangi menoleh, lalu minta Jihan menunggu.
"Bentar. Tanggung, bagian CPU nih," beritahu Romi yang tetap duduk dan sibuk mengetik barisan kode, judul programnya terbaca di layar transparan; 369-S1 prosesor.
Gadis Piyama menaruh kaleng dekat keyboard apung, di meja camilan. "Kita dapet lusid baru kayaknya."
"Fail. Gagal semua. Si Gamer yang minta rehat. Kita gak perlu maksain diri ngajak mereka bergabung."
"Bukan, Rom. Maksud gue, si Ghost. Bukan misi tim."
"Ohh. Ya-gue lagi fokus gini, diajak ngobrol," tekan Romi, agak sewot.
Jihan tak menimpali. Dia menoleh, mendapati Ghost masuk Endfield lewat 'sobekan' dimensi. Lalu dia meninggalkan si Khusyu, menembus beberapa layar apung bengkel, turut masuk ke arena lewat tirai-ghaib yang sudah dikenalnya 'jejak' dari siapa, tapi Ghost malah melenggang tidak ikut nimbrung.
"Ghost.. Jadi lo masih bingung soal diri elo?"
"Ya."
Ghost sedang berdiri di dekat kaki kapal S1, memandangi sebuah lempengan gosong yang dipegangnya. "Dunia kalian benar-benar keras. Nyata tapi membingungkan.."
"Welcome. Kita semua saksi di pengadilanNya nanti."
__ADS_1
"Maksudnya, Kak?"
Jihan menatap jendela kokpit, di sana tampak retak permukaannya, mengabaikan sampah-sampah hitam, pecahan kapal di lantai gelanggang.
"Ratu gue, Reinit, cerita soal penciptaan Adam. Kalo kamu nanya yang semisal mirip pertanyaannya para malaikat, ato yang semisal gue-dilahirin-buat-susah.. alesan kita diciptakan kurang lebih untuk jadi saksi.
Alesan gue disengat buat nyaksiin muatan, isi antah berantah. Buat gue sendiri, ini suatu anugerah."
"Aku masih bingung, bagaimana cara memahaminya? Ceritakan pingsanmu ketika di sana, Kak."
"Simpelnya.. gue di-interprestasi.
Trik duel gitulah. Gue bingung cara ngajak lawan by one ngobrol. Jadi pingsan dulu gitu, biar lawan puas dulu. Ehh.. Tau-tau adegan dipotong."
"Mbak Ita sepertinya tidak tega melihat Kakak dianiaya. Dia kemudian yang menembak. Aku sendiri tetap memikirkan jejakku. Masih ragu menarik pelatuk."
"Valid. Tapi dia malah ngambek juga ke gue. Bebas, deh.
Nah, anggap kita adalah saksi atas diri kita sendiri di dunia semula maupun di alam jejadian ini. Maka inget-inget aja.. kalo putusan yang diambil, kitalah yang nanggung sendiri nantinya.
Di alam mimpi aja udah keliatan keras will kita nih. Gimana jadinya kalo ternyata teknologi udah berbasis quantum, dah kecipta mesin waktu?
Makanya Allah hendak menjadikan khalifah di muka Bumi, biar hati kita gak barbar lagi.
Ratu gue cerita sambil ngebacain ayatNya.
"Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Trus Medium pernah bilang kalo sebaik-baik saksi adalah Allah, Dia gak pernah salah paham. Kita justru sering salah paham sampai nentuin kebenaran pake otot.
Gue nanya ke Ratu, "Khalifah tuh khan ratanya skill milik cowok, trus kalo Jihan gak punya bawahan, gimana Ratu?"
"Bagaimana jawaban Ratu-mu?" tanya Ghost, antusias.
"Katanya kalo gak punya rakyat, seenggaknya kita masih bisa nuntun diri sendiri pake ayat dan hadist. Putusan dan pilihan yang diambil, kita yang nanggung dan ngalemin akibatnya.
Makanya sante, selama protokol elo dari Dewan, biar aja lakuin dan liat hasilnya.
Benar saja kata malikat. Bumi.. emang gue rusak tanpa ampun. Kita juga numpahin darah. Kita juga musuhan satu sama lain, tapi ternyata Allah tau, siapa yang ngikutin petunjukNya.
Habis keluar gua, pas awal-awal gue insyaf, gue ngerasa tenang liat Qorin lagi. Karena ternyata gue belum telat, belum gitu jauh, masih berperikemanusiaan.
Bedanya, Ratu gue dulu ngemodif otak pake peti penyalin DNA, dia penuh rasa dendam pada Ratu Bulan. Banyak dihujani protokol yang nyegah inisiatif tersebut. Akhirnya emang dah telat. Top Qarrat yang digembor-gemborkan sebagai mitos, muncul jadi pihak ketiga di tengah peperangan, nyaris ngancurin server.
Gue sadar. Kayaknya semua protokol di antah berantah nih, pada ngembang, ngedasar dari satu ayat Qur'an. Tapi gue belum tau ayatnya yang mana, nama suratnya apaan.
Jhid si pencipta qarrat cuma inget, kalo dia lagi ngikutin hadist rosul yang bunyinya gini: sampaikanlah dariku walau pun hanya satu ayat.
Jadi.. Dengan ngikutin protokol, aksi kita bakal jelas tanggung jawabnya siapa. Di sini lo lagi dipegang sama Dewan Olive.
Tapi juga.. Mungkin lo emang ada hubungannya sama gue, Ghost. Barangkali gue-lah si penanggungjawab itu. Lo sante aja, gue di dalem garis perintah kok."
"Tapi.." gantung Ghost. "Obrolan ini pernah terjadi, Kak. Walau sedikit berbeda. Karena.. Tiba-tiba Kakak terbang, kabur ke sana."
Jihan menoleh ke arah yang ditunjukkan gadis intel, tampak dinding arena masih terjejak gumpalan-kabut yang berwarna sama seperti portalnya mutant-berekor saat datang ke Citymall.
"Trus?"
"Itu trapper. Paradok nangis dalam jebakannya sendiri, padahal kabut hanya sekedar dipindah, bukan berhasil dikuasainya untuk mengantarkan penumpang pulang.
PJ ke-85 ini merasa sedang dicuci otak oleh kami yang katanya mengada-ada. Dia pergi dengan segera, menolak duduk di kursi kokpit, karena dikira akan terperangkap.
Di portal itu justeru kejadiannya. PJ 85 bicara lewat frekuensi tiga-enam-sembilan, minta bantuan.
Nah khan? Barulah paradok Kakak percaya omongan si Mbak Petapa, tapi sudah terlambatnya untuknya. Kami ikut sedih, kabut itu melemparkannya ke atas bersama S1 yang ditumpangi, lalu mendenging, meledakkannya."
"Pantas nih kapal banyak 'tambalan'. Dirakit sedikit demi sedikit," gumam Jihan melihat sekelilingnya. ".. dari partisi S1 kiriman. Paradok mikirnya nih kapal peti-mati. Ogah jadi kelinci tester."
"Bila Kakak sedang berpura-pura, ini sudah tidak ngaruh lagi tipuannya. Silahkan saja masuki portalnya. Biar Kak Mentor yang satu itu yang menggantikan Kakak," ucap Ghost dengan nada dipelankan dan mencoba tegas.
"Iya sih kalo gue yang versi ultimate, bakal ketantang dikomporin gini, Ghost. Hhh.. Posisi gue di delapan enam sekarang. Pilih mana nih, Ghost?"
"Lamunan Kakak ini hentikan saja. Adakah briefing yang pernah membahasku?" tanya Ghost dengan nada fasih.
"Ehh," ingat Jihan, di kepala seperti ada Diandra. "Jadi elo, si Penitip Flasdisk itu?"
"Betul. Kak Marcel berikan Arc-nya padaku karena ada fokus utama yang sedang dikerjakan. Sedangkan Dewan Olive memintaku untuk menyerahkan arsip pada si Petapa. Beberapa hari kemudian Mbak Ita menemukanku, ingin agar aku tetap hidup. Tapi aku sudah ketahuan, untunglah Mbak Ita cepat memberitahuku mengenai orang yang me-nitahnya. Aku nyaris saja bunuh diri hari itu."
"Oh, gitu.. Gue loading bentar, bukan bengong kebingungan kok, diem gue tadi, renungan kalbu."
"Silahkan ricek. Gemas. Kak Mentor menyenangkan."
"Alhamdulillah, Ghost. Bentar ya.."
"Silahkan Mbak Guan Xiao Tong."
Jihan menghembuskan nafas tegangnya, tetap kacak pinggang. "Hhh.."
"Rin..?"
Ghost dalam bimbingan Dewan, Tuanku Gizi. Aku putarkan beritanya untukmu;
"Gizi teruskan pesanku ini pada Jihan, bahwa sighter yang bersamanya adalah tanggunganku."
"Pantes aja dia tau Snail, dia-nya dah akrab banget sama Olive. Aku nyemasin si Romi, Rin. Lama banget dia nih gitu loh."
Tunggulah barang sebentar, sampaikanlah pada Ghost kekhawatiranmu
"I-ya. Mode ivi nih, aman khan, Rin? Gak ngereleas paradok?"
Insyallah Citruz-ku mencegah yang demikian, Tuan. Atas ijinNya
"Amin. Oke, ivi out."
"Hhh.. Ghost.." sapa Jihan, menatap anak gadis yang disebut sighter, tanda sudah tenang dari gemuruh jantungnya.
"Ya..?"
"Pas Romi kelamaan gini, si Delapan Puluh Lima gabut gak sih, nungguin Romi beres?"
"Tidak Kak. Dia menyombongkan.. ini-nya (Ghost gerakkan jari pada kening), gelangnya tak butuh upgrade. CPU yang siap Imor running masih ada bug-nya. Imor disebut sebagai si gaptek-bucin."
"Romi?"
Ghost menganggukkan kepala. "Hu-umm. Budak cinta yang kuper katanya, perihal bratle. Entahlah, aku mendapati kalimat pamit yang cukup panjang kedengarannya."
"Itu emang isi otak gue yang masih ultimate. Dulu omongan gue emang pedes. Ya udah. Kita bahas soal tiga-enam-sembilan sekarang."
"Dewan Olive sempat bicarakan hal itu. Tapi logika soulator akan Kakak bahas dengan kalimat keren. Aku jadi terbawa gaya bicara Kakak. Aku pilih jadi pendengar saja," ucap Ghost, menyambut topik baru.
"Gue ngarep, lo tau terjemahan alhamdulillah pas bilang PUEBI gue keren.
Buat ngedalemin isi fanam, simpelnya tuh kayak kenalan sama animasi. Antrian tanda, atau frame. Kayak sebuah itungan, ada perbedaan dari muatan sebelumnya. Makanya pas antrian nih nembus detektor, objek keliat idup, kecium harum, sampe kita kebawa pengaruhnya, soalnya emang lagi interaksi, saling ngasih efek.
Lagi yach..
Anggap gue ada di pusat sebuah bola. Scope namain ini titik point of view. Gue tuh detektor, operator, author, tiga pov sekaligus, di inti sphere. Sebutlah pusat gravitasi.
Jadi anggap garis hitungan tuh keisep gravitasi. Selayak blackhole, didatengi materi bermassa dari segala arah.
Hanya analogi, pegangan dasar.
Terus napa sih keliat nyata gini, lebih dari sekedar dua dimensi, sampe ada bau rambut, lensa canggih, Manusia Kerbau pake piyama? Di balik panggung, nih tempat atau elo, hanyalah barisan huruf.
Tanda, pustaka, eksistensi.
Di belakang antah berantah nih hanyalah barisan karakter ato angka. Tiap frame atau nilai ditutupi xmatter.
Nah, kemasan-mentah ditutupi lagi sama rotor, yang Scope sebut orbiter, laju kereta Snail.
Cuma karena ditawaf soulator, xmatter kerobah jadi atom asli-aslian.
Arena ini, gue, elo, kapal, portal.. jadi kegelapan kalo Snail tidak ngorbitin server, antah-berantah gak bisa diinderai. Istilahnya, tak ada update dan pembaruan ide.
Snail dan soulator mirip elektron. Alam semesta gak bakal kayak sekarang tanpa elemen yang satu ini.
Selaen nambang 'pustaka' di luar sana, laju, speed, kecepatan kereta Snail difungsikan buat netapin nilai xmatter. Penampakan kita tuh hasil RPM-nya Snail.
Terserah sih, frame atau ori-mark di balik xmatter mau pake alfabet negara mana, basis bilangan apa, terserah mau ditandain pake biner atau desimal, yang pasti tuh urutan beda. Unik.
Bukan itungan umumnya, urutan tak kasat mata tuh bukan garis waktu juga. Sekali lagi itu adalah laju-abstraksi.
Hingga Mbak Indri nyisir ke renik terdalam, katanya inti makin susut, masih unik. Dia tetap nyisir ketiadaan karena emang belum nemu size kembar.
Jadi laju-abstraksi adalah Indri sendiri, sumber gerakan, gravitasi itu sendiri.
Tuh jins ibarat tanda koma dan angka satu dalam trilunan angka nol alias seper sepuluh pangkat tak hingga kata Scope. Terus-terusan nambahin jumlah angka nol di kolam server. Udah kayak penghuni ketiadaan.
Konon juga, kehadiran Indri ditandai labilnya laju Snail, atau ini;
g×∆sj sb hg πsf+_;gnj_: ttav hdj5 8jfjk kks- hs hsy."
"Akkh!!" erang Ghost, menekan keningnya dengan jemari atas pening yang mendadak terasa.
"Ehh..??"
"Aduh. Tadi ada gelap," kata Ghost lagi, menundukkan kepala, mengucek-kucek dua mata.
"Oh ya. Gue juga, lupa kata terakhir tadi apaan. Kehadiran Indri ditandai labilnya speed Snail, atau ini.."
"Han!" panggil Romi di ambang tirai dimensi. "Dia belum bisa! Jangan dulu!"
"Umhp! Njir.. Gue baru inget status lo, Ghost. Sori. Ihii hihi.." kikik Jihan, menutup gigi dan bibir. "Berkunang-kunang ya?"
"Iya Kak.. Pusing juga."
"Tadi elo lagi ngalemin jet lag. Tuh kondisi gue pas lagi dalem gerak lambat. Slow motion. Sori Ghost, gue kelupaan.."
"Terusin Kak."
"Sempet gue lihat red-circle vacum.."
"Ngopi dulu Kak. Pasti pada haus."
Vita datang dengan sejinjing camilan, sudah sibuk menaruh isi bawaannya ke meja bening yang masih diorbit Kunang Kunang.
"Sip! Thank you Chabi Half. Tuh lingkaran merah ngingetin gue ke FinalCutter dan proses ekstraksi. Peran RPM atau laju satelit sama pentingnya dengan diameter.
Tica semua lusid dapet berfungsi sebagai remote-nya Olive biarpun fokusnya cuma ke xmatter, soulator kayak tongkat penyihir gitulah."
"Aku ingin melihat Kunang Kunang kalian," pandang Ghost ke meja camilan, menyoroti objek sambil mengetuk bawah meja sehabis mengibas-ngibaskan tangan, mencari tahu apa ada penyangga. "Bukankah sihir itu dilarang Kak?"
"Iya, ada matematika-nya juga. Sulap murahan gitulah, Ghost."
"Aneh sekali.."
"Jins Ivit masih muter deket tangan lo itu lho. Lagi nyeting masa eksis meja."
"Bagaimanapun aku.. masih buta Kak."
__ADS_1