
Chip mirip empeng bayi itu sudah terselap ditempatnya, namun tak terjadi apa-apa, robot tersebut masih diam.
"Hhh.. met jalan," hela si gadis, lemas dan berkabung.
Diit! Diit..! Clekh-trek..!
"Ehh.”
Betapa bingungnya si gadis, dia langsung berdiri agak menjauh saat melihat pergerakan yang ada. Kepala robot berputar setelah lirik kanan, lirik kiri, mencoba memindai sekitarnya mungkin. Si gadis kembali memungut tangan-putus, pentungan daruratnya.
"Mumpung kiamat, hhh.. hhh.. gue siap mati, gue tetap pro dewan. Waktunya.. hhh.. hhh.. gue.. pilih jalan.."
Ceklikh..! Ceklikh!
Si gadis sedikit mundur dan bersiap-siap memukul sebab robot yang dibangunkannya sudah berdiri. Mesin tersebut bahkan sudah tidak kaku lagi sendi-sendinya, luwes alias solid saat mengepal-ngepal jemari tangan.
"Eks, lo gak berhak maksa orang buat ikut kebenaran lo. Hhh.. hhh.. Oke gue lemah sampe seterusnya, tapi gue gak bakal langgar protokol dewan. Hhh.. hhh.. Kalo maksa, kalian bukan manusia.. tapi miris.."
Manusia logam diam menatap si gadis. Dia juga membiarkan daun kupingnya berkilatan listrik.
Tlik.. tlik..!
"Hhh.. hhh.. Eks, kami tau kalian ingin di sini.. Tapi jika tujuan kalian darah-daging orang, numbalin golongan sendiri.. hhh, hhh.. kami siap mati sebagai.. penghuni Bumi.."
__ADS_1
Si gadis bicara lagi dengan terengah-engah, tampak sudah banyak melalui permusuhan dan ketegangan di mana pun dia hidup.
Dia menunggu reaksi dari sang mesin. Jari-jarinya berulang kali dikuatkan demi fokus agar tetap aman dari serangan dadakan.
Set!
Robot pria tersebut berbalik pergi meninggalkan si gadis dengan wajah masih dingin dan datar.
"Luna masih ada! Dia pasti balik! Ngelumpuhin semua modal dan power kalian!" teriak si gadis, terdengar marah diabaikan.
Logam yang diteriaki terus berjalan, bahkan sang mesin kemudian terbang tanpa api roket.
"Napa dia gak ngamuk, denger nama ratunya?"
Sepanjang pantai, si gadis terus membawa kakinya melangkah. Dia tak peduli lagi liyama yang dikenakannya robek dan tampak kotor akibat bencana angin kencang.
Walau di situ sudah tak ada bangkai robot, si gadis terus menapaki pasir basah berombak, tak ingin berhenti. Dia mungkin hendak keliling pulau, menuju kejauhan sana. Dia tampak kini tampak sama dinginnya dengan robot tadi, menghabiskan siangnya tanpa suara hati. Angin pantai pun mengiring perjalanannya itu.
Whhss..!
Sore pun tiba. Lalu warna senja menghiasi langit di ujung laut sana. Hari akan segera gelap.
Si gadis sedang duduk bersandar di sebuah rumah kecil yang seukuran halte. Dia menatap ufuk, membiarkan sebuah sampan yang sudah pecah terkubur pasir.
__ADS_1
Glu.. dugh..
Hujan tengah menyiram lokasi. Gadis yang berteduh itu tampak sebatang kara, atau mungkin manusia yang tersisa di planet ini. Raut wajahnya masih bisu, seperti baru kehilangan bagian hidupnya. Mungkin sedang dendam sekaligus patah hati. Tapi saat mengingat dan melamun begitu..
Krii..uuukkh..
Perut si gadis berontak. Pemiliknya menghela nafas, tiba-tiba saja dia juga mengumpat dan berdecak.
"Njir.. gini amat sih nasip gue. Ck! Mau onmind, mau offmind.. ada aja gangguan soloter. Please.. berhenti."
Si gadis terlihat galau, seperti terus dibayangi kejadian hebat. Bersama teman maupun sendirian, dia niat dan nekat puasa.
"Hhh.. napa gue gak mati di Panti aja, ikut ketimpa runtuhan di situ bareng lo, Sel."
Entah dia bicara soal apa, terlihat kesepian, separuh nyawa.
Glu.. dugh..
Senja tenggelam di ujung bumi sana, kegelapan menyelimuti sekitar lokasi. Si gadis tak juga berhenti menatap kekosongannya. Gabut level akut.
-
-
__ADS_1
-