
Set! Digh! Set.! Dugh!
Nia menanduk kepala Jihan, bertahap dengan satu langkah kakinya, menanduk lagi. Jihan terdorong ke belakang namun tak jatuh, dia hilang keseimbangan, barulah kemudian jatuh.
Brugh..!!
Jihan menggulung udang dari rebahnya dengan cara menekuk kepala dan melipat kedua lutut, berguling mundur. Mungkin dia bosan berdiri gaya Bruce Lee.
Nia tiba-tiba mendarat di situ menjejakkan dua kakinya.
Jruugh!!
Jihan segera datang ke hadapan Nia dan meninju kening lawan.
Djiigh!!
Nia terdorong mundur. Jihan maju dan langsung menendang Nia yang masih menyeimbangkan diri, memutar badan.
Set! Bukh! Gu.. bragh!!
Jihan ladeni lawannya dengan upaya penuh, tidak segan lagi menghabisi Nia. Dia duduki tubuh Nia. Dua tangannya lalu memukul gaya mesin jahit.
Tratatatat!!
Driiig!
Dig-dig-dig..!!
Druugh!
Dug-dug-dug!!
Tratatatat!!
TAPH! Nia tangkap tangan Jihan dengan sekali gerak.
"Eeurrghh!" ringis Jihan, menekan tinjunya ke pipi Nia, tapi berat, tertahan oleh telapak lawan. "Uugg.. gh!"
Kraakh..!! Krekkh!
"Aaarrgh!!"
Neuron kembali terasa di tangan Jihan saat jemari patah semua. Empunya langsung menjerit sambil menguling ke samping.
Bagi Nia tinju Jihan seperti kerupuk dan mie gelas, sekali tangkap remuk.
Nia dengan tenang berdiri. Sementara Jihan mengerang kesakitan, Nia hanya mengusap-usap pakaian. Nia juga tak mengalami lebam, wajahnya tak ada lecet alias mulus tanpa terjejak segores kuku.
"Arrggghh...! Hahaa!! Aaargh.."
"Kenapa tak juga kau lakukan padaku, Jihan?"
"Hhhh, hhh...! Aaargh! Sakiiid!!" teriak Jihan dalam duduknya sambil membungkuk, nyaris sujud. "Hahahha!!"
"Ngirit! Jilect..!! Urrggghh! Huhuuu...!" jawab Jihan kemudian, mengerang-ngerang dan menangisi nyerinya.
"Hanya petapa (astraler) yang begitu. Kau tak pantas, sebagai lusid lapangan."
"Hhh-hhh, hhh.. Urggh! Aa..aaarrrgh!"
"Jihan.. Nature sesungguhnya, dia tak memikirkan kerusakan organ, tempat, dan dirinya. Nature datang untuk satu masalah."
"Lo.. gak punya ati.. hiks! Hikkh! Aarrgh! Huhuuu! An..jrit..!" Jihan mendongak, membiarkan pucat di wajah.
Jihan pun kemudian mengatur nafas saat sudah rebahan. Keringatnya mendingin.
"Kau sepertinya, memilih moral dari pada keabadianmu," lamun Nia menatap cakrawala, nanar.
"Hhh-hhh.. Gak ada.. akhlak.. Hahah! Hha! Hhh, hhh, hhh.."
"Kau membawa aturan dunia lama-mu. Aku di posisimu, jika pilihan.."
"Diem! Hhh, hhh.. liat atas.."
"Jika tak begini, aku sulit memahami diriku. Seharusnya aku yang patuhi protokol. Seharusnya kau sudah memilih begitu kuajukan. Apa yang kau tunggu?"
"Iz.. rail.."
Walau pelan, Nia mendengar, dia sedikit mengerakkan kepalanya ke sisi Jihan berada.
"Kami akan hargai putusanmu. Ada satu lagi, jika memang tugas itu terakhirmu. Lagi mudah."
-_- lo pikir gue Almarhum?
__ADS_1
"Bunuhlah dirimu, Nature."
-_- khan..
"Apa yang kau tunggu?" tanya Nia, menatap lawan bicara.
"Hhh, hhh.."
"Pilihlah, Jihan."
"Lo.. hhh-hhh.. kapan..hhh.. ti.. dur, Jil? Hhh-hhh.."
Nia diam melanjutkan lamunan. Mereka di bawah teduh hamparan awan. Kondisi ini cocok untuk perpisahan mereka.
Di situ, wajah Ninja Girl tampak pias dan sudah lembab. Dia terbaring dengan dua ujung tangan membasahi rumput, meneteskan darah segar.
Jihan pingsan kehabisan air vital tubuhnya.
"Bangun!"
Degh! Jihan tersentak dada, aura tubuhnya meniup ke sekitar dengan cukup kencang.
Swwshh!!
Nia biarkan rambut pendeknya meliuk-liuk. Dia tidak bergeming di tempatnya berdiri, seperti patung batu. Pandangannya masih mengarah ke ujung daratan.
Grrtt!! Krrtth!! Drrth..!
Tak lama setelah aura tubuh berhenti, dua tangan Jihan memulih, tulang jari, sel-selnya, tumbuh memperbaiki diri. Daging tipis yang membungkus tulang pun kemudian dibalut kulit, lapisannya merambat dari pergelangan.
Jihan kembali bernafas alias sadar.
"Hhh.." hela Jihan, masih terbaring menatap awan. "Neraka."
Wuutts!
Nia berkelebat melewati Jihan.
Set! Ckiiit!
Tiba-tiba, Jihan sudah ditodong Nia dengan handgun, pistol tersebut berperedam, moncongnya agak panjang, Nia arahkan pada jidat Jihan. Ninja Girl hanya memandangi si penodong, diam menunggu sesuatu. Atau kaget?
Teph..
Nia memijakkan kaki kanannya di tulang kering Jihan sambil menarik pemantik.
"Apa kau takut?"
Jihan agak meringis saat mencoba menggerakkan kaki, dia sulit berdiri karena lutut kanannya ditahan.
Dukh! Dukh!
Nia senyum kakinya ditendang-tendang. Terlihat seperti sudah menempel di kulit kaki Jihan, tak satu senti pun bergeser.
"Lepasin! Errgghh..!!"
Cwissh!! Jihan pancarkan mata Supermannya pada pistol Nia, tapi gagal tak mengenai sasaran.
Set!
Cwissh!!
Set!
Cwissh!!
Nia memindah-mindahkan arah senjata.
Set!
Jihan menembaki handgun Nia dengan sinar mata.
Cwissh!
Set! Cwissh!!
Set!
Cwissh!!
Nia menekan pijakan kakinya. Cahaya las terpancar di situ.
Dwiish!
__ADS_1
"Arrgh!!" erang Jihan. "Panaaas!!"
"Dengar majikan bodohmu, Giz. Tak ubahnya seperti bayi yang merengek. Sindemi cosami tandesa."
Cwiing!
Kulit tubuh Jihan dirayapi selapis koin neon. Objek tersebut muncul di tengkuk Jihan saat penampakannya lalu bergerak tidak karuan.
Jihan mungkin akan dikagumi seniman tato bergejala kulit persis meja karambol ini, antigores, hingga bola mantul tak jelas di permukaan tubuh Jihan kian ke mari. XD
"Biarkan Nature-mu tumbuh, Giz.. di alamnya sendiri."
Maksud Nia adalah non-golongan, membumi.
"Eurrgh!!" dorong Jihan, menghentak telekinetis-nya ke depan, menyentakkan dua tangannya.
Jedar..! Nia terjungkal melayang ke belakang dalam gerak lambat, ujung-ujung rambut pendeknya turut terhempas terurai menampakkan daun telinga.
Je.. dar..
Bunyi letupan kedua terdengar di ujung handgun, dan itu adalah peluru serupa dengan benda pertama yang sudah turun mendekati leher Jihan.
Trak..kkh..
Bullet kedua melepaskan warna peraknya persis pecahnya lapis yang kering hingga menampakkan batang jarum seperti peluru yang pertama. Serbuk dari pelapis tersebut hilang namun lajunya tidak melambat ke tujuannya; kening Jihan.
Dalam kondisi jet lag ini apa yang merayapi kulit tubuh Jihan tampak jelas gerakannya, sedang memantul-mantul ke sana sini seirama detik mirip detak jantung, dan ternyata bukan sekeping bulatan glow, melainkan butiran sinar. Laju dan waktunya kini mengiringi detik demi detik jam di setiap pantulan serta gerakan pindahnya.
Tak.. tak.. tak..
Dua jari tangan Jihan berhasil mencapit peluru pertama dekat leher.
Tapi entah bagaimana Nia bisa tahu pola gerakan sang 'tato', sekarang ini jarum kedua sama-sama sedang menuju kening Jihan sebagaimana bintik sinar.
Jet lag diperlambat sedikit, jadi saat ini peluru sudah seperti menyentuh kulit kala target sedang di perjalanan, bintik sinar baru saja lewat melenggang di kulit leher, merayapi dagu, bibir, hidung..
Mata Jihan masih membulat lebar mendapati bola seukuran jari kelingkingnya menyerbukkan warna baru dan menampakkan jarum bagai sehelai garis neon.
@_@ njir .. Nih vacum!
Ting!
Jihan di tengah 1,5 jet lag-nya segera cepat mengedipkan mata.
Ctrassh!
Kening jihan diletupi buncah petasan.
BRUUGH!! Brugh..! Brugh!
Sreeekkhh!
Nia terjengkang jatuh dan terseret lumayan jauh dari titik pendaratan-nya, jatuhnya tadi diulang-ulang oleh editor film, jadi bunyinya berkali-kali, suara geseknya lama karena emang panjang.
Jihan bangkit berdiri tapi kesusahan, satu kaki harus tetap lurus. Dengan kepayahan, akhir Jihan dapat berdiri setelahnya menyeimbangkan tubuh.
Ninja tak bermasker ini mengusap-usap kening dengan tangan kiri, karena yang kanan masih mencapit vacum pertama.
Saph! Seph!
Saph.. seph..! Saph!
"Hii.. Panas amit petasan. Gatel njir," komen Jihan sambil terus menggaruk-garuk jidatnya. "Koplak.. bisa jitu gini, Jilect nembak."
Jihan biarkan dirinya bekilatan kelebat neon, nyala tatonya. Gadis jejadian ini ternyata punya kecepatan kedip lebih dari dua kali laju peluru. Tapi di sini lucunya, Jihan menggaruk-garuk dahi, tangan satunya mencapit timah.
- Jihan menghindar tembakan Nia demi Gizi, ada banyak tarian udara yang Jihan lakukan
- Nia menyerang saat Jihan sibuk dikejar vacum
- Jihan gunakan telekinetisnya pada objek yang banyak
- Gizi melesat dari tubuh Jihan mencekal Nia di puncak emosinya
- Jihan terpincang menghampiri Gizi yang ditembak driver Nia (sang Hoax yang melanjutkan rencana Riko)
- Marcel dan Kisye terlambat membantu Jihan hingga tubuh Gizi terus meleleh hitam dan berasap
- Jihan nangis menjerit-jerit atas lelehan kental lagi hitam di lantai
-... ?
__ADS_1
-... ?