
Pertarungan udara ternyata tak hanya milik para pilot, gadis jadi-jadian seperti Jihan bisa beraksi ala Kera Sakti. Bahkan lawan duelnya tak kasat mata, jika ada panitia acara pasti akan banyak lampu Batman.
Kecuali bunyi yang hanya bisa didengar peserta duel.
Digh! Takh! Takh..! Digh!
Taks..!!
Entah suara apa, bunyinya cukup keras dan bertenaga.
Jihan bungkuk, tampak sedang mengelak dari serangan kombo itu. Selesai menangkis dia tak bisa langsung menyerang balik. Lawannya adalah pembunuh Marcel, masih mode invisible.
Walau diantri banyak serangan, sendi dan anggota badan Jihan dapat terus bergerak. Tangannya, kakinya, sampai gerakan kepala hari ini benar-benar aktif nyaris bersamaan. Tak jauh beda dengan penari dan dancer.
Jihan miringkan badan ke samping, setelahnya condong ke bawah karena dia memang lebih cepat dalam hal bergerak. Reaksi seperti guru martial-art tersebut berarti Jihan memang sedang fokus defens, daripada menyerang di aksinya yang ke sekian ini, dia pilih mengulang gerakan itung-itung refleks.
Takh!
Trak.. trakk!!
Draagh-dagh!! Dreed!!
Tangan Jihan mendadak banyak usai mendongakkan tubuh, ada serangan yang bergerak persis getaran, cepat dan beruntun bagai bedil mesin. Jihan sama sekali tidak protes dan menangkis lebih jitu.
Jihan pun kemudian diam. Mungkin lawan mainnya kelelahan. Dia kacak pinggang di udara ini.
"Habis puas kabur. Dah kayak koruptor nih khodam."
__ADS_1
Swuutth!! Jihan mengebut ke arah yang dipandanginya.
Di sebuah jembatan terbengkalai, di jalan beton dengan fly over yang belum jadi alias proyek mangkrak, Jihan berjalan dengan pandangan tetap awas.
"Twen..?! Where are you? Lo ngumpet apa maen hape hasil nilep?"
Jihan menaikkan tubuhnya, melayang sebentar melewati setumpuk paku-bumi. Dia mendarat di atasnya. Jihan kacak pinggang lagi layak orang dipermainkan.
"Ya udah telepon aja temen lo!"
Tidak ada tanggapan ataupun serangan dadakan.
"Jadiin dia saksi kalo gue jahat sama elo."
Tempat semakin sepi dan sunyi. Namun di situ tidak terlalu gelap, masih diterangi cahaya Purnama. Membuat Jihan lemas badannya karena dicuekin.
Jihan memutuskan jongkok ala kuli proyek nunggu angkutan. Dia juga menengok belakang, lalu ke atas mengawasi sesuatu. Jihan berhasil dibuat bingung.
Sepi, tidak ada tanda-tanda misterius untuk Jihan.
Jihan kembali berdiri, lalu tubuhnya naik mengudara lagi. Dia meninggalkan lokasi. Jihan sepertinya punya "radar" di pendengaran, tak bisa membiarkannya alias harus terus diikuti.
"Gak ada sinyal di sini ya, atau lo mau nyari konter pulsa dulu? Makanya sering-sering ricek Twen. Pas butuh gini jadi susah sendiri khan?"
Swuutth..!
Jihan berkelebat ke arah kota. Entah mengejar apa, mungkin mengikuti objek yang jadi sumber denging di kuping-nya itu.
__ADS_1
Di pertokoan yang tinggal beberapa gerai buka 24 jam, Jihan melihat-lihat orang yang sedang duduk mengobrol, jalan kaki, nunggu pesanan. Dia jalan menelusuri sumber dengingnya.
"Nih mahluk bener-bener butuh kuota. Apa iya masih ada konter yang masih buka jam segini ya? Kasian, tapi.. ngeselin juga lo nih, Twen."
Jihan dilirik anak nongkrong di sebuah mulut gang. Dia biarkan mereka menggodanya hingga ditertawakan berjamaah. Jihan hanya dikira mirip artis film, padahal yang mereka bicarakan memang dia sendiri.
Di halte kosong, Jihan kacak pinggang. Matanya menatap halte seberang jalan. Mobil dan motor banyak yang lewat tapi pandangannya konsen seperti kiper yang lagi nonton.
"Dah kayak emak-emak gini gue, yang anaknya udah diangkut satpol, telat nyari. Hhh.."
Jihan memutuskan duduk di bangku. Tampak sudah pegal mengikuti objek. Tapi kemudian, di halte seberang ada seorang wanita yang sudah duduk begitu kendaraan lewat.
"Gue gak pernah abis pikir sama lusid kayak lo."
"Hhh. Twen.. Kalo mau rapat gini mending di kafe biar bisa sambil ngopi."
"Pers*tan dengan traktiran lo."
"Plis Twen, lo udah keluar bates. Di sini tujuan kalian udah kedetek. Mau sediem apa, dewan kami udah ngendus keberadaan lo semua. Astraler gak sendirian. Kami upayain jalan yang gak cuma bebas, tapi juga toleran."
"Lo gak tau apapun soal Deyita."
Jihan lemas badan di halte ini, membiarkan lawan bicaranya menatap di seberang jalan.
"Hhh.. Apa wajib tau? Dia (Black Soul) udah jelas takut mati dalam tugasnya, gue antusiak kok dengerin cerita perang antar jins."
-
__ADS_1
-
-