Jihan

Jihan
chapter up 24


__ADS_3

Syuting iklan berlangsung dua jam. Tapi itu untuk sesi terakhir dari cuplikan pariwaranya.


Secara penuh, tayangan iklannya yaitu berawal saat Jihan nyungsep di padang pasir, entah gurun mana. Dia mencari oase, lalu di perjalanan nyungsep lagi ke dalam kuil yang lama terkubur.


Jihan menelusuri lorong penuh obor dan menemukan ruang harta karun. Di gudang tersebut dia dehidrasi dan segera memungut teko. Tanpa disangkanya, teko kering tersebut lampu Alladin, penghuninya terkejut karena Jihan hendak menelan sang jin.


"Arrgh! Belum beduk magrib!"


"Gue pengembara satu hari perjalanan."


Jihan mendengar saran jin untuk membuka kotak utama gudang, alangkah cerah wajah Jihan saat menemukan minuman.


"Wuah air Ponari!"


Jihan segera meneguk dan mempromosikan harganya.


"Untuk pengguna baru harganya setengah aja lho. Trus pembeliannya bisa di dapatkan di gerai terdekat di kotamu. Euu! Eh Jin Lampu, bawa gue pulang."


"Aarrgh! Akhirnya saya bebas lagi. Mari Tuan naiklah ke permadani online."


"Karpet terbang! Hore gue pulang! Hahaa..!"


Ending iklan, Jihan pulang naik permadani membawa sekantong koin emas dan kulkas isi minumannya.


"Gimana? Gue udah boleh pergi?" tanya Jihan sambil melepas kostum syutingnya, lalu dibantu tim rias yang memang sedang beres-beres perlengkapan.


"Oke. Sip. Taking udah selesai. Tinggal tahap edit sama musik bege-nya."


"Gue duluan ya. Yuk ahh."


Saat mau jalan, Jihan dipanggil petugas absen. Dia dipinta meneken kehadiran dan jam lembur. Jihan segera paraf kertas kerjanya di paperboard yang disodorkan.

__ADS_1


"Met rehat Bos," kata tukang absen.


"Lo juga."


Lalu di luar studio, Jihan mendapati seorang gadis bersetelan intel tapi pegang tasbeh, si tamu baru keluar dari lift dan tampak bingung hendak ke mana lagi. Lalu mata Jihan dan si pencarinya berpas-pasan.


"Giz..!"


Si gadis intel segera menghampiri Jihan.


"Gizi, ayo ikut gue dulu."


Usai bicara, gadis intel berbalik meninggalkan Jihan. Dia kembali menuju lift.


"Emang mau ke mana kita, Rey? Ada kabar soal Marcel gak? Napa rompi elo kejadwal jumat kliwon?"


Jihan mendapati punggung Rey bertulisan FOS RONDA.


"Ikut gue ke ruang Erika," sahut Rey tanpa penjelasan panjang lebar.


"Rey, lo nyogok berapa sampe bisa masuk ke mari? Kalo lagi patrol cukup aja lewatin makam-nya, pake nyimpang begini. Jadwal ronda gue khan nyisir pantai."


"Gue ketemu dulu sama bu Billi, Giz. Setelah di sini gue harus balik ke plot susulan itu."


"Plot gempa maksud lo?"


"Bukan. Lo ini kok gak biasanya bicara slengan Giz"


"Dia (Gizi) alkemis. Gue anak teleskop yang emang bisa rebahan pas praktek ngeliat bintang."


"Iya maaf, Giz. Gue baru bangun dari koma. Ingetnya cuma Gizi kesayangan Kak Rei."

__ADS_1


"Tak ada komentar, Tuanku. Gitu khan ya?"


"Iya. Persis banget."


"Tapi gue Gizi versi begalnya, Rey. Hhh.. Paradok paling beruntung. Ditambah dapet temen sepenampungan."


Pintu lift terbuka di lantai tujuan. Rey berjalan tanpa berkomentar. Jihan mengikuti Rey keluar dari lift.


Rey berjalan di lorong bertanda asrama atau ikon rumah. Menuju area ruang tidur para karyawan PH mungkin.


"Plot elo sampe di mana emang Rey?"


"Gue lagi nyetir mobil. Dia (Erika) ngijinin gue nganterin ke home-nya buat ambil bedil."


"Haa..? Arc Electric itu khan? Sebenernya Heart yang ngasih intruksi ini, Rey. Gue sampein langsung pesennya ke dia (Marcel)."


"Iya. Gue kenal dia (Heart)."


"Eh ya Rey. Tadi lo bilang lagi nyetir, napa bisa kelayapan gini ya?"


"Kita masih beda plot. Kalo lo udah ketemu Marcel, plot-nya udah gak bisa gue tinggalin lagi."


"Ya udah. Sambungin plot gue ke alur si Bebeb. Gue kangen dia. Plis bantuin gue, Rey. Kasihanilah gue."


"Bebeb? Maksud lo pacar?"


"Ssstt! Bucinan gue, Rey. Jangan biarin dia sendirian ngadepin musuhnya."


"Hhh.. Iya gue denger. Cuma sedikit yang tau (kriptonite) itu."


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2