Jihan

Jihan
chapter up 54


__ADS_3

"Sering gini dia Kak. Vita gak tau, Ghost meriksa apanya ngeliatin gitu," kisah Vita, memutar penutup softdrink. "Sambil ngopi aja dulu Kak."


Jihan disodorkan minuman yang sudah terbuka, matanya menatap agak lama.


"Tau aja lo Vit."


Segera Jihan teguk air kemasan setelah diraihnya dari tangan Vita, seperti haus.


"Hhh, Olive dah tau ini kok. Susah juga kalo gue nerangin RPM ke dia pas asing gini. Nih aer legit amat Vit. Apa emang coklat?"


Jihan memandangi isi kemasan yang baru diminumnya, dia dapati masih bening.


"Resepnya mbak Canteen Kak. Ghost bilang gak terasa apa-apa selain dingin doang. Trus, dia emang suka air putih katanya."


Ghost duduk di sisi meja, tak peduli omongan mereka, diam menikmati wafer kemasan plastik yang ada di tangannya.


"Apa dia nih.. mati rasa? Kebas di waktu kulit sobek, ato kesandung dan lecet?"


Gliitt! Vita sudah membaca paper board yang baru saja muncul, dan sedang dipegangnya.


"Bisa jadi itu base-linenya yang sekarang ini Kak. Tapi tiga indera lainnya normal."


"Tadi pas pusing, dia nih cepet sembuh, Vit."


"Internal attack mungkin Kak. Kalo gitu, berarti Ghost ngerasa sakit buat pertama kalinya di fanam."


"Apa dia nih emang Luna ya, Vit?"


"Wallahualam. Oya. Kak.. Vita mau ngasih laporan soal bagian kapal yang masih utuh sehabis meledak. Ini daftar partisinya Kak. Pas banget, tinggal satu bagian lagi, S1 siap di-xmatter ulang. Tinggal CPU-nya, tak ada tambahan hardware lagi."


"Ohh. Thanks. Gue pikir cuma bodi yang bisa cepet sembuh, seng ikut-ikutan. Tinggal disuntikin ruh-nya khan nih kapal, Vit?"


"Ya kayak gitu kira-kira. Vita mau patrol lagi, Kak."


"Iya. Trims Vit. Met ronda ya, Juliet," kata Jihan sudah menatap kaca kapal yang tidak selebar kokpit S4, membiarkan Vita berkelebat pergi. "Napa gak kebakar, retak doang?"


Kreshh!


Krauukh.. krauukh!


Suara kunyah masuk telinga, tapi tidak menggangu konsen, Jihan hanya menaruh botol softdrink, tak bekomentar atas acara Ghost tersebut.


Jihan sibuk sweep, menyentuh-geser permukaan kaca paper-board.


"Bodo amat, nih jendela kokpit emang kedata di paling bawah. Ntar juga re-matt," monolog Jihan sambil menggeser-geser halaman layar baca-nya, lalu menemukan gambar kokpit di page 85, dan sentuhan-nya tidak ter-respon saat menggeserkan layar lagi.


"??!!" kerut Jihan, bingung pada layar di papan.


"Kok macet ya, Rin?"


Ini data terbaru, Tuanku. Demikian adanya. Tidak ada halaman lagi setelahnya


"Iya. Bagus-bagus gambarnya, Rin. Detail info disertain banyak.. kayak di monitor office-mu itu."


Tak ada komentar. Ehem, ehem


"Aku mau periksa mesinnya, nyocokin nih gambar.. yang mirip matic mesin jait."


Hu-um. Hh! Hh..!!


Jihan sentuh layar, membiarkan jins-nya menahan tawa. Tampilan yang dilihatnya berganti, menampilkan isi dari S1. Jihan tap huruf G yang menyertai gambar dashboard.


Gliit! Dashboard kapal terpancar ke depan wajah Jihan.


"Eitt!" sigap menjauhkan paper board.


Ghost yang sedang duduk melamun, menoleh ke sebelahnya. Dia menatap Jihan sambil menyuapkan wafer, kulit jidatnya berkerut.


Kraa..ukkh..


Krauukh..


"Nyolot. Slow."


Ghost diam, menunggu kalimat Jihan berikutnya, mulut pelan mengunyah-ngunyah makanan. Gadis Piyama yang dipandanginya, dibiarkan bicara sendiri mengomentari bayangan yang sedang terpancar. Ghost masih terus melamun.


Tubuh Jihan terangkat naik, melayang gaya kuda-laut mendekati Ghost.


Di depan Ghost, Jihan pegang sendi kaki pesawat, menekan lutut-besi kapal, ada suara decit terdengar dan bunyinya berat.


Grrii..eetth..


"Masih reyot. Kalo gue masuk kokpit sekarang, kapal bisa ambruk. Patah nih wahana."


"Tapi Kak Mentor ringan sepertinya, bisa float moves begini. Jadi tidak akan membebani drone. Soulatornya sudah cukup erat dirakit dan sudah terikat bagian-bagiannya, saling mengencangkan satu sama lain," rujuk Ghost, serius menatap, menyakinkan Jihan.


"Lo dengerin aja nih besinya."


Sekali lagi, Jihan mendorong lekukan kaki logam S1.


Kriiee..eett!


"Ehh, iya mirip bunyi pintu Kak."


"Yang bulet berkabel banyak, di belakang dashboard nih.." Jihan memberikan blueprint dashboard pada Ghost, hologram tersebut agak menipis serat grafiknya, kecuali bulatan yang dibahas. ".. tangki xmatter. Tuh bakal over hit kalo gue duduk di kursi kapal. Soulator bakal patah ketiban pustaka pilotnya. Bukan patah karena berat badan gue. Pegang dulu.."


Ghost turun dari meja, mulai tertarik, menaruh camilan saat sudah meraih paper-board yang disodorkan Jihan. "Cumi Cumi ini aneh sekali."


Ghost menatap agak lama objek yang mereka bahas. Tangki xmatter memang mirip Gurita walau pun hanya sebatas ikon, justeru lebih persis bola tenis yang ditancapi banyak kabel casan.


"Liatin Cumi-nya baik-baik pas udah diinjeksi, disuntik software-nya. Sentuh teks SIM. Simulasi."

__ADS_1


Taph! Ghost menuruti apa yang Jihan suruh, tangki xmatter di balik dashboard langsung terlingkar benang merah.


"Udah Kak."


"Ketik rotasi per menitnya sebanyak sembilan digit. Bebas angkanya, mau angka berapa pun. Delapan angka nol di depan juga boleh."


"Hah? Apa? Dalam ratusan juta Kak, maksudnya..?"


"Biar cepet, kembar sembilan aja tiap digitnya. Kalo rpm di drone yang lagi aktif, aslinya tuh berlipat-lipat dari rpm awalnya."


"I-iya.. Putaran apa, secepat ini."


Tap! Taph! Taph!!


Taph.. Tap-tap!


Tap-tap..!


Taph!


"Sudah Kak Mentor. Aku memasukkan kembar sembilan. Diameternya.. diameternya berapa, Kak? Kolom ini tiba-tiba saja muncul. Apa karena kecepatan putar yang aku diketikkan?"


"Bukan. Lingkar merah tadi tuh Snail. Speed peringkat ke tiga di antah berantah.


Masukin tiga koma satu empat. Nih kolom emang tidak ada satuannya, soalnya garis tengah terbaru tuh, imut-nya amit-amit; seper sepuluh pangkat tak hingga. Tiap detik apdet, sudah ada satuannya, tapi berjumlah dua puluh dua triliun lewat.


Kayak voyager NASA. Makin jauh, jaraknya makin nambah panjang pas ninggalin Bumi. Indri makin renik.


Kolom diameter dijadiin mind-set di semua robot Inetri, mirip alamat. Tapi aslinya tuh address sumber listrik gitu. Energi-nya Indri. Pi versi fanam adalah batere."


"I-iya. Benar-benar alam jadi-jadian," komentar Ghost, gaya bicaranya sudah mirip kebingungan Jihan, langsung menurut.


Taph! Tapp! Tap-tap..!


"Ntar kalo CPU dah beres, diinjeksikan ke dalem tangki ini.


Habis disuntik, kapal dah kayak mie instan, siap pake.


Tapi Ghost, CPU tuh command processing unit, bukan perangkat pusat pemroses. Unit penyuruh aksi.


CPU drone berisi barisan protokol programer, kode setir buat ngatur angka rpm. Simpelnya tuh kalkulator, selebihnya yang ko-pilot alias asisten buatan."


Ghost abaikan tambahan yang ada, membiarkan Jihan mumdur float moves menjauhi kapal. Karena, ternyata sang belia tengah menonton peragaan virtual sebuah mekanisme yang asing, baru dilihatnya.


Tangki dashboard berubah jadi suatu organ lunak. Kabel dasar ditumbuhi banyak rambut.


Akar jadi-jadian makin panjang merambat hingga persis urat saraf, lalu menyala agak terang warnanya begitu ujung menyentuh seisi soulator.


Kursi sobek terbarukan, kaca retak dimuluskan, baut yang longgar auto spin (muter), bodi kapal yang penyok bergeletuk rata, jejak bakar (gosong) pada penutup kapal luntur meluruh, dan pemulihan lainnya, sampe lampu di langit-langit kokpit muncul mendadak.


Pada tayangan inset di paper board, tampak layar-layar LCD ruang kokpit menyala teraliri listrik asli-aslian (listrik versi atomnya).


Terbaca di layar: instan asemble completed (rakitan instan selesai).


"Ehh," tatap Ghost suprise. "Ta.. tadi Kak Mentor di sini.. Kakak ini, Jihan Minion. Yang ada Jisas-nya itu. Aku baru tahu blueprint bisa jadi channel anatomi, Imor. Maju sekali teknologinya."


Romi membungkuk menaruh koper yang dibawanya. "Ahh.. Dia di tribun. Tebing sono, arah jam sembilan. Ngagetin."


Di pagar Endfield, dekat barisan kursi terdepan, Jihan sedang berdiri memandangi S1. Di sini, tampak ukuran si kapal-bulat sekecil bola mata, seperti dilihat dari udara.


"Gede juga nih arena.."


JREENG..! Endfield tampak lebih luas, tidak lagi seperti bandara di-pov dari tribun, mungkin sudah mirip permukaan laut di kutub Bumi dilihat dari helikopter.


"Gimana nontonnya, Rin?"


Saat melamun sambil ivi (internal voice), jari Jihan glowing, mirip bara.


Jihan mengamati kulit telunjuknya yang orange . Dia sentuh dengan jempol, glow-nya pindah ke jari kelingking. Si mungil disentuh, nyala jari pindah ke telunjuk lagi, jadi warna putih.


Gwiit! Selapis LCD menampakkan diri di depan Jihan bersamaan dengan padamnya 'remote-tv'.


Tayangan yang ada tengah menyoroti Romi dan Ghost.


"Dah beres ya?" tanya Jihan melihat Romi sedang memasukkan bola bening di bawah kapal. "Lagi pasang gravity ball?"


Di layar tersebut, Romi mengambil bola kedua dekat Ghost.


Anak perempuan di situ masih memperhatikan kegiatan si montir. "Ini bola apaan Imor?"


Romi melayang ke sisi soulator, dibukanya penutup yang ada. Dia konsen tak menjawab pertanyaan Ghost.


"Badan rekaan-mu itu hanya tubuh Kunang-kunang, Imor. Kau sebayaku. Jawab saja."


"Unit perisai," kata Jihan lagi saat bola yang dipegang Romi dimasukkan ke slot bertanda tameng.


Romi memberitahu Ghost tentang acaranya.


"Nih shield-load. Ada tiga shield, karena ada tiga medan. Battlefield udara, laut, dan daratan. Tolong dua lagi lempar sini," pinta Romi menunjuk koper yang berisi tiga bola di mana salah satunya masih tersegel kaca dadu bergambar otak.


Ghost tidak bingung, bola mana yang harus diambil. Dia bungkuk meraih dua bola bening yang berukuran sama. Ghost masih takjub dengan kemasan yang berikon brain.


"Itu dia CPU drone-nya. Buat di depan. Ntar aja naronya belakangan."


"Maaf ya, ku lemparkan."


"Iya sini lemparin. Gak apa-apa."


Ghost mengayunkan tangannya, benda yang dipegang pun meluncur.


Syuuutt! Taph!!

__ADS_1


Romi sigap menangkap benda terlempar, sementara Ghost balik menatap CPU. "Kenapa mirip sekali dengan prosesor yang pernah dipromosikan Kuantum Tech?"


"Kalo gue duduk, bakal gimana nih layarnya ya?"


Jihan meninggalkan pagar arena, segera duduk di kursi tribun. Layar yang mengikutinya langsung menyusut. Titik susut kemudian mekar menampakan dua alat bantu.


Kwii..iit!!


Jihan menaruh satu kaki di lutut membiarkan layarnya berubah mode.


"Umm. Kacamata aja deh. Teropong kayak jadi nahkoda feri," raih Jihan, segera memasangkan eye glass ke wajah manisnya.


Endfield mendadak gelap, berganti jadi gedung bioskop. Jihan langsung melepas optik yang dipakai. Dia kembali berada di tribun, wajahnya agak takut. "Gelap amit."


Jihan melihat sekitar, "Apa gak boleh nonton sendirian ya?"


Alat pun diamati karena seperti lensa kontak bagi Jihan. "Kayak pake contact lens-nya para klon."


Tanpa ragu, Jihan selipkan lagi kacamatanya ke daun kuping, menonton kegiatan Romi, si teman sedang memasukkan CPU sambil mengambang di depan kokpit.


Sementara Ghost sedang mendorong meja camilan, menempatkannya agak jauh dari kapal.


Layar lebar di dark-room menayangkan kapal sedang menderu, begetar seperti teko di atas kompor, kemudian terlihat rambatan lapis perisainya.


Swwutt..!


"Good job Rom.." komen Jihan, sudah duduk bersandar ala bos kantor di kursi direktur. "Re-matt dimulai."


Sekaleng biskuit datang menghalangi pandangan, Jihan melirik ke si pengasongnya.


"Nik?" gumam Jihan atas wajah yang didapati, seorang gadis yang juga berpiyama. "Jadi wave barusan tuh elo, Fatimah Muda?"


"Hhh.."


Nik Nik duduk di sebelah Jihan dengan wajah resah, dibiarkannya Jihan mengunyah makanan yang dia bagi.


Kraakh! Graukh! Grauk..! Kunyah Jihan cuek dengan kegelisahan sahabatnya.


"Gue gabut, gak ada boarding Han," kisah Nik Nik. "Gimana perkembangan si Sighter nih?"


"Masih buta katanya. Sante aja. Olive udah tau kondisinya kok. Bentar lagi naek dronenya noh."


"Apa udah ada tanda-tanda Anak Langit, Han?"


"Belum.. Cuma dia tanda-tanda yang sulit, yang masih rumit."


Kraukh..! Krakh! Krakh..!


"Yang laen samaan. Pada nganggur gini librarian. Gue baru dari panti, mereka tetap aktif dan sibuk. Kayak biasa."


Jihan tak menimpali, sibuk mengunyah makanan.


"Beb, gue nyapu dulu."


"Iya."


Ternyata Nik Nik tak datang sendiri. Pemuda yang diiyakannya langsung melesat ke tengah arena, menembus pagar stadion, tadinya sedang meneropong di situ.


"Cowok lo Nik?"


"Ya."


"Siapa librarian nih namanya?"


"Topan."


"Rajin juga," kata Jihan menonton aksi Topan mengelebati banyak puing soulator di lantai arena. "Pantesnya jadi tukang rakit cepet gini."


"Kami mau nonton."


"Umm? Ada event emang? Mantap. kebetulan gue lagi betah nyander nih."


Nik Nik mengambil gelas berpenutup sedotan di kursi sebelahnya. Dia asongkan pada Jihan. "Petarung wajib sarapan jelly royal."


"Ehh? Maksud?" tanya Jihan, langsung kepo.


"Dah lah minum dulu. Nih nutrisinya para queen, Han. Ngebantu fokus."


"Gue dah ogah numpahin darah lagi. Kalo ditraktir gini sih mau banget. Thanks.. Nih, pengiritan."


Slrrpp.!!


"Lihat nih S1 dah jadi. Serasa liat Drone Library," sela Nik Nik, membiarkan Jihan minum.


Dalam tayangan layar, Ghot menaiki tangga.


Ghost segera masuk ke dalam kokpit. Romi membimbingnya dengan perkataan. Di kursi pilot, Ghost memutar handle, menutup pintu.


"Al Hood asli-aslian," komen Jihan, lanjut mengemil.


"Kayaknya ini jaman asal-usulnya. Tapi masih wallahualam."


"Anak Langit iya, tapi dia nih orang Bumi. Elo, Qorin, para dewan nyebut Luna dari khayangan. Kita lagi di khayangan, lihat orangnya."


"Kostumnya gede, Han. Dia juga selalu sibuk ngurusin bawahannya. Gawe teros."


"Ya setuju deh, kalo dia emang cikal bakal-nya Al Hood."


Krauukh!! Krakh.. krakh!!


Wahana S1 sudah menaikkan tungkainya, sedang mengambang. Romi yang berada didekatnya masih menuntun sang pilot dan memantau status kapal lewat layar tipis, saat Romi bergerak mundur monitor tersebut mengikutinya.

__ADS_1


Kedua anak tersebut berkomunikasi melalui layar, pesawat melayang pelan ke depan juru parkirnya.


__ADS_2