
Jihan tak bisa apa-apa selain menunggu di situ. Heran memang, dia melihat kerjaan sang robot sudah seperti sukarelawan bencana alam.
Si robot memang peduli tapi sok sibuk. Aksi mereka tampak salah medan sebab bebas keringat seperti itu cocoknya di sirkuit dan pabrik.
"Hoam.. Kamu di mana ya, Beb? Kangen gini gue. Pliss. Lemes gini aku jauh dari orang lucu."
Jihan tiba-tiba menguap, mendadak saja teringat Marcel, sampai duduknya nyelosor turun. Dia duduk bersandar di bantal handuknya, sementara di depan sana si robot pembangun-tenda masih berkerja. Jihan tampak kesepian saat aktivitas freak di TKP berlangsung ala mahasiswa sipil teknik perencanaan kota, pakai lama.
"Liat deh para pembunuhmu ini udah pada tobat Beb. Pada alih profesi jadi youtuber dua puluh empat jam. Hoaamm.."
Saking malas menonton pekerjaan yang ada, Jihan menutup mata, langsung tertidur.
Jihan sangat ingin tahu tapi dia bingung bertanya pada siapa. Robot-robot tadi tak menjawabnya saat diajak bicara. Tapi dua jam kemudian, tenda telah selesai dibangun.
Kuping tak lagi mendengar suara orang bekerja, Jihan yang sudah sadar dari kantuknya melihat-lihat barak seluas 4x4 meter, rumah portable.
"Ada ranjangnya. Dispenser. Nih semua dah tinggal pake."
Klik!
Tempat minum itu dipijit setelah Jihan mengambil gelas. Dia minum sampai habis. Gadis rimba pun mendesah dan sendawa.
"Euu!! Aer asli."
Setelah minum, Jihan taruh gelas. Dia duduk mencoba ranjang yang biasa ada di penjara.
__ADS_1
"Hihi.. punya siapa sih ini. Nyaman banget panas-panas gini tinggal rebahan. Thanks Heart, prediksi lo kejadian. Gue emang difasilitasi buat tinggal di sini, ngurus wilayah liar."
Enam bulan jadi gadis rambut rimba, enam jam terakhir ini Jihan berubah seperti orang kaya.
Ada alat masak portable di kardus senjata, boks tersebut seperti paket airdrop khusus kemping, survey, dan bertahan hidup.
"Siapa pemiliknya ya? Takutnya ada paradok yang gak keliatan sama lo Heart. Bisa-bisa gue duel lagi, ngeributin hak milik," kata Jihan sambil mengamati box smartphone di tangannya.
Karena masih kepo dengan prediksi Heart, siang ini Jihan habiskan waktunya untuk browsing. Smartphone bermerk Erika bisa langsung dia gunakan tanpa harus daftar terlebih dulu.
"Keren, nih merk saingan perusahaan Tony Stark di Indonesia. Erika korporasi dah kayak produk pelopor karya anak lokal."
Jihan rebahan di ranjang membaca semua artikel yang ada di situs Erika.
"Siapa sih yang nyuruh kalian nih, boleh bicara gak sama dia?"
Jihan mencoba akrab dengan pengantar barang, tapi robot delivery cuek langsung berkamuflase jadi 'hantu' selesai menaruh kardus.
Malam hari, paket sudah berhenti datang. Jihan biarkan sepuluh boks baru itu menumpuk dekat tenda. Padahal sedang gerimis.
Krauukh..! Kraukh!
"Emmgh.. punya orang maen buka. Bodo amit. Laper."
Jihan mengemil mie instan yang dia bumbui langsung ala kerupuk, dimakan tanpa dimasak. Sepuluh menit kemudian Jihan minum air dispenser beres ngemil itu, meneguk dan menambah lagi satu gelas.
__ADS_1
"Euu! Mumpung pemiliknya gak ada."
Jihan beranjak turun ranjang. Dia keluar dari tenda, ternyata gerimis telah berhenti. Tapi dia kemudian menghampiri tumpukan sampah, mengambil plastik agak besar serta kardus bekas. Salah satu label kardus Jihan baca alamat pengirimnya.
"Hhm.. jadi tuh kota Ragnarok ya? Tapi nih sampah gak cukup buat nutup."
Jihan balik ke tendanya dengan tangan kosong. Stok makanan yang hendak diamankannya dari cuaca, Jihan angkut ke dalam tenda, dipindahkan.
"Sabar. Besok ada paket buat kuli angkut. Nasi boks."
nb:
hai Reader, maaf aku telat up. semalem ada lembur kerja, ketiduran. plis maafin author yang lelet ini😭, ada lembur kerja. Tapi sekarang lagi santai di sini..
😁nih tampang jins yang bernama Jhid:
-
-
-
__ADS_1