
Reinita menadahkan tangan kirinya, memberikan visual untuk pikiran. Jihan melihat bola transparan di situ sebagai fokus bahasan. "Ini visualmu supaya jernih dan berkonsentrasi atas topik kita. Kamu saksi atas apa?"
"Kalo Ratu ngulang pelajaran kemaren, artinya sekarang nih memory test. Seberapa kuat perhatian Jihan pada will, nopik soulator."
"Kamu tak perlu beritahukan objek yang ada di tangan ini. Karena sepandai apapun bicara, hanya kamu yang melihat dan mengadakannya."
"Jihan masih was was. Soalnya di Foslite tadi ada gejala intermate, yang disebut nyelap, Baginda Kesayangan. Interaksi objek antar masa keliatan macet. Mohon jelasin biar rakyatmu nih tenang."
"Perkedel. Baju kamu masih di S4."
"Njir, jelas. Cepet, padet. PDL doang Jihan udah ngerti. Jadi.. Tuh gara-gara bekal astraler yang lagi Jihan pake, ya."
"Teman kamu tidak memberitahu, Jihan?"
"Ngasih tau, tapi gak langsung. Tuh baju mungkin udah Nik Nik repack jadi tablet gesek. Makasih Baginda Sayang."
"Tapi masih ada xmatter dari Twin. Maka Head Chamber masih perlu RPM kamu."
"Iya, ya. Itu dia. Mereka minta Jihan nyentuh tanda. Trus Clone juga minta Jihan rukyahin blueprint, random touching."
"Apa yang terjadi Jihan?"
"Ajaib. Blueprint nge-frame lagi, jadi tampilan atom. HC bukan ruang hantu lagi, tuh bangunan jadi waras pas dioperasiin isinya, Ratu. Jihan ngerasa paling istimewa. Hii diw padahal mah lagi gaptek."
"Apa komentar Clone?"
"Dia malah fokus ngasih kursus, Ratu. Jihan batalin pas mau nanya soal intermate, pas lante HC nyerap mentahan."
"Xmatter Twin kembali ke empunya. Jika melewati banyak frame, melesat lurus, jarak tempuh ke tujuan sangat jauh."
"Oh gitu. Tuh bubuk mikir banget emang ya? Pilih jatuh ketimbang terbang, biar ngirit tenaga," komen Jihan, langsung menyimpulkan. "Mungkin tablet gosok juga wajib gitu, Baginda. Kasihan astraler, pas lagi gabut, ngorek saku ini, saku itu."
"Sampai sekarang belum ada protokol yang seharusnya untuk xamus," lamun Reinita menatap kosong air mancur taman.
"Oh jadi namanya Xamus ya? Mirip emang. Lagi butuh, pake lama," kata Jihan sambil menyelipkan rambutnya ke daun telinga.
Tapp!
Jihan sentuh punggung tangan ratunya, Reinita langsung menoleh. "Katanya gak boleh ngelamun. Napa Ratu ngelakuinnya? Jadi dah berapa lama xamus tak keurus?"
"Apa Prita membicarakan Ray? Kamu beritahu apa padanya?"
"Ray dibikin sama Olive dan Mbak Enik."
"Tapi teman kamu ini malah pacaran. Hhh.. Sepertinya hari ini tanda xamus-nya datang."
Jihan sudah sibuk menggeser, mengetap, dan mengetik layar di kulit hasta. Dia abaikan tagihan sang alkemis tentang keberadaan dirinya di antah berantah.
"Kamu sedang apa Jihan? Jadi tidak bahasan kita atas kamu di alam ini? Jangan-jangan benar kata Nina bahwa kamu ini jins jadi-jadian."
Jihan hanya menggeser posisi duduknya sambil menekan nadi pergelangan, lingkaran di kepalanya sudah turun dan sedang diposisikan horizontal ke bangku, seperti main helikopter remote.
Gliitt!
Brukh..! Bruk!
Breghh!
Kotak makanan beserta dua cup minuman mendarat di bangku, antara mereka. Kepala Jihan kembali tergelangi 'perban'. Glit!
"Ngopi dulu yuk."
"Aduhai, aku lupa bahwa kamu ini tamuku. Cobalah ceritakan dengan bahasamu, bagaimana kamu dapat sampai ke dufanmu ini, Jihan? Saksi atas apa?"
Reinita mengambil minumannya. Di kemasan terbaca teks; My Queen coffe. Dia lepas sedotan yang menempel di cup tersebut. Reinita segera menyedot isi kemasan usai menancapkan selang.
Jihan sudah mengunyah donat sambil memandangi Reinita yang sedang minum. Wajahnya tampak puas, namun sang ratu tak berkomentar saat mendapatinya.
"Ketika Diandra mencobat alat yang dia pesan dari toko online, hari itulah Indri melihat objeknya, percikan dari Stuner, dan satu pintu hadir di Head Chamber. Teruskan?"
"Ummh!" sahut Jihan, mengangguk karena mulutnya masih kembung penuh makanan.
__ADS_1
"Bukan dosen yang mendaftarkanmu, dan seandainya saja Dian telah mengetahui Fanam, lalu dia setrum orang-orang yang mencoba memaksanya, percikan stuner tidak akan terobservasi oleh Indri.
Beruntunglah aku, karena si Kutu Buku masih non-golongan. Jika dia lusid, hari ini aku masih di dapur, tidak ada yang mengunjungiku.
Sekalipun ada, entah siapa dirimu ini. Bisa jadi kamu tuannya si Cathy, Maura, ataupun Flona. Atau lusid dari lain ratu. Misalnya korban stuner Dian, atau saudaranya, atau orang steril lainnya yang belum pernah tersengat listrik. Betapa senangnya Gizi-ku ada dua.
Namun.. Begitu HC kamu hadir, empat pintu berikutnya muncul bersamaan. Berdasarkan data Drone Library, HC teman-temanmu sedang tertunda oleh status tiket kamu dan Diandra.
Maka tak heran, Nina begitu sewot padamu, karena sebenarnya dia senior panggung dua karyawati Dinner Shoot."
"Lewat," cuek Jihan sambil membuka penutup boxfood, mengambil donatnya lagi. "Wallet dia bikin iri. Orang laen blom dapet, dia mah udah punya robot."
"Senang melihatmu lagi Giziania. Teruskan?"
"Hu um! To the point.."
"Indri bla.. bla.. bla.. memerankan objeknya hingga liang lahat, bla.. bla.. bla.. Reinit simpan semua kegiatan Indri selama menginang objek.
Sekali lagi, ob.. jek. Ojek yang kamu sebut adalah layanan antar-jemput, bukan?"
"Hahah..! Iya, ihh. Masih inget aja. Meminang siapa hayo?"
"Mengi.. nang. Budeg."
"Hhh-hhh!"
Pundak Jihan berguncang menahan senyum demi kata yang dia dengar dari Reinita, tangan pun menutupnya.
"Kita semua saksi atas tanda-tanda kebesaran-Nya, Jihan. Saksi atas amalan dan diri kita sendiri di hari nanti.
Kehendak kita lebih dari cukup di Fanam, lebih bebas, seolah tidak ada larangan lagi. Begitu banyak kemudahan seperti go food-nya Canteen, spontan live, terbang, teleport, menjelajah masa, tembus dinding, apa sebenarnya yang ada di balik alam kami ini, Jihan?"
"Kata Ratu sistem. Napa butuh konfirmasi kami, Baginda? Jihan tuh gaptek. Nyaman nyimak ketimbang nguliahin."
"Sebenarnya kami ingin mendengar ayat qur'an."
"Khan udah turun semua, Baginda. Jadi tinggal kita sampein aja. AyatNya perkataan berat. Jihan sendiri malah dikasih tau Queen Reinit."
"Udah bagus kok nama Fanamorgata. Inetri. Alam Mimpi. Dunia Dongeng. Novel. Ba Dar, bawah sadar. Intermind. Jihadin dan tiket wasiat. Sepersepuluh Pangkat Tak Hingga."
"Bagaimana mekanisme sistemnya Jihan?"
"Simpelnya kayak animasi, mekanisme urutan, antrian gambar yang serupa tapi tak sama.
Di dunia lima indera, belum ada dua gelang yang sudah tertaut tanpa sambungan. Makanya Jihan sebut mekanisme sistem Fanam tuh mekanisme mustahil Ratu. Jadi-jadian."
"Apa benar semua sistem itu adalah materi? "
"Gak. Sistem tuh suatu di balik layar, di balik materi. Sederhananya tuh perintah. Kesengajaan. Gak peduli sistemnya gagal ataupun ada bugs, kehendak bukanlah fisik dan materi."
"Jika demikian, dualisme lingkaran memungkinkan. Lagi pula hanya pemodelan.
Bagaimana kita bisa berinteraksi di dalamnya, sebelum semua blueprint dikemas xmatter?"
"Nyimak. Hhh-hhh..!"
"Garis lingkaran adalah cahaya dari bola. Semua kepala sepertimu sekarang, di-satelit oleh Snail yang ditenagai Indri.
Empat indera kamu tadinya masih di dalam inti server; Labirin SosCam. Sementara pengrabaan, pikiran, dan will kamu berada di luar Labirin, di tempat yang kamu sebut Bumi Ultimate.
Ketujuh indera terpisah jadi dua di masing-masing semesta oleh stuner.
Berhubung Indri masih di dalam inti, dialah backing peningmu ketika Diandra menyetrum.
Saking cepatnya Indri, kita tidak dapat merasakannya, Jihan. Juga ada milyaran Reinit di server, aktor dari virtualisasi sosial, sehingga kamu masih menghuni basetime dengan status bayangan tersebut. Masih bisa bekerja, masih bolak-balik di restoran, masih dapat kuliah, membaca-baca catatan pacar, dan tidur. Bahkan mungkin kondisi mental kamu itu murni frustasi, alami depresi, psikis seorang manusia.
Tapi tetap indera kamu yang terpisah harus dipadu kembali, tidak terbagi seperti demikian. Lambat laun pemiliknya akan pening luar biasa atas indera ketujuhnya, tiketmu.
Ketika masa perannya dianggap habis, Reinit "ditendang" sistem, sudah waktunya keluar dari ruang indentitas. Hari itulah kamu mimpi disetrum dosen, terbangun di Bumi kosong, saat itu juga Gizi-ku hilang di Ladang ini, Jihan.
Selesai memasang bratle, tugas selanjutnya, Reinit tinggal memonitor jejak Indri yang masih berperan sebagai kamu dan Gizi.
__ADS_1
Entahlah, kami dulu dapat membunuh dewan setelah The Core bertemu pendahulunya.
Indri bisa hilang kapan saja. Belum diketahui apa Uut masih didengarnya. Sekarang dia sudah berada di wilayah Luar Eksternal. Versi lain, menurut Scope ada di Lima Belas milyar light year.
Malah dia yang pergi."
"Hhh-hhh..! Lanjut Ratu," pinta Jihan menahan senyum. "Napa nyerita gitu lagi? Kalo Allah sebaik-baik penjaga, napa masih diraguin coba? Hhh-hhh.. Lanjut, lanjut."
Jihan menyodorkan Coffe pada Reinita. Sang ratu meraihnya sambil terus diam memikirkan Indri. Jihan biarkan karena Reinita pernah menyedot minuman sambil bengong di depannya.
"Aku ingin sekali menerangkan mekanisme sistem dengan istilah senyawa, alkana, katalis, distilasi."
"Tuh khan, tumpang tindih. Hhh-hhh! Iya sok, gak papa. Paling Jihan lupa lagi, pas Ratu tagih."
"Benda ini, di RPM sekian, frame-nya sekian. Sudah persis atom sungguhan. Blueprint sebenarnya adalah gelas."
"Ehh.. kok?"
Jihan mendapati wadah yang dibicarakan telah berubah keras dan bening, sementara isinya masih Coffe, agar-agar tersebut nyangsang di tengah gelas, dan tampak enam rusuk kubus, lapisan pengemasnya.
"Inilah cetakan default minumanku. Cup di Cafetaria seperti ini tadinya di Bumi, saat Snail mulai dioperasikan. Nilai rotasinya lalu ditambahkan ke angka HC-mu dan RPM-ku.
Ini berarti semakin panjang digit frame, makin banyak objek yang dapat diinderai dan di-interaksi pemiliknya.
Pengemas blueprint tidak bisa kita pegang karena memang sudah diatur Server. Tapi.. sebaiknya kamu pegang sendiri."
Reinita memberikan benda tersebut pada Jihan.
"Kok Ratu bisa nge-public view gini? Boleh atuh Jihan tau, Baginda Sayang," pinta Jihan mengamati bagian bawah gelas yang tidak terisi.
"Hahaa! Lihat Gizi, majikanmu ini," gelak Reinita agak membungkuk. "Ahaha!"
"...?!"
"Tidak perlu, Jihan. Aku belajar ini dari Gizi. Ini awal RPM dari citruz-mu itu."
"Hadeeh. Boleh juga, nih."
Jihan minum Coffe ratunya. Reinita berdehem-dehem, membiarkan sang rakyat mencoba minuman favorit tersebut.
"Wah, enak juga ya. Umm.."
Jihan mengulang kegiatannya.
"Hhh, will dimodelkan dari sifat cahaya, yang seperti partikel dan gelombang. Dualisme, Jihan.
Selain model Scope, ada model lainnya dari lusid dalam memahami titik terang, tapi aku ikut Reinit saja, karena dia satu-satunya yang berhasil menangkap "peluru" Nuck.
Bintik hipnotis itu masih ada di Foscore."
"Eh iya, Ratu. Kata Deti, tuh will alias tica dari Nuck berisi intruksi, yang sekarang udah dipindahin ke logam android, asal-usulnya si Ray. Di dalam tica kalo dilihat pake jet lag dan violet, ada dua lingkaran. Jihan auto ingetlah sama gelang karet."
"Awal mulanya tica bagaimana? Hayo?"
"Line dan Epsi. Ya khan?"
"Teruskan."
"Tapi gak bakal sefokus Ratu neranginnya, bakal random, tumpang tindih. Nyimak aja."
"Jika dizoom, jejak sengatan di kulitmu itu bukan tiket gepeng, tapi bulat. Cahaya atau pancarannya berasal dari gesekan dua garis tak kasat mata, dan terus terpercik di titik simpul keduanya.
Dalam modelnya, percikan tersebut Scope namakan Sembilan. Sementara dua gelang tadi Tiga dan Enam.
Walau sama-sama bulat will manusia berbeda dengan jins, arah dan spin-nya. Will kami cahaya yang susut, will manusia cahaya yang pancar, Jihan.
Hhh-hhh!"
"Iih! Nyebelin. Khan Jihan dah bilang, orangnya gaptek. Polos, Ratu."
"Hahaa..! Kurang lebih, kamu seperti Marcelina, Jihan. Apa yang kalian sebut Sunda? Hahaa. Geus lah tong loba ngomong. Hahaa.. Marcel, Marcel."
__ADS_1
"Iya atuh kasihan, Baginda. Astraler sekutu kita. Siapa tau ntar bisa ikut tempur, siapa sangka mereka taunya lebih cepat ngebius parasas ketimbang anak camp. Atau ternyata bisa bunuh parasas."