
Nia sudah berdiri dan menepuk-nepuk piyamanya, dia melihat Jihan tergopoh-gopoh, kabur dengan terpincang.
"Tak usah. Empat kali RPM-nya cukup membuatku leluasa," kata Nia tanpa melirik Kunang-kunangnya.
Sang Kunang berkedip-kedip.
"TAK PERLU KATAKU!!!" bentak Nia, melalak mata pada bintik sinar di sebelahnya.
Jihan yang sedang terpatah-patah lari, berhenti mendengar suara Nia, padahal jaraknya sudah jauh dengan paradok, tapi betapa kerasnya Nia hingga semarah itu.
Sambil terengah-engah Jihan menyimak penuturan Nia dari kejauhan ini. "Hhh, hhh, sambil nunggu aja. Kaki cepat pulih kalo dibawa diem. Hhh, hhh.. Hhh."
Nia kacak pinggang, ternyata sangat marah, sifat dinginnya hilang saat teriak-teriak.
"Aneh," komen Jihan.
Jihan masih bisa mendengar Nia di situ walau sayup, bahasa tubuh Nia cukup dimengerti. Dia lihat senjata Nia masih tergeletak di tanah dan ada auranya, mungkin itu segel, membuat Jihan seperti abai, tak tertarik menelekinetik si benda.
Sambil rusuh, Nia menunjuk-nunjuk layar kecil di sampingnya, yang dia buka untuk mendukung argumen. Arsip tersebut tak jelas di mata Jihan berisi data apa, sehingga mata Jihan agak menyipit.
Glit! Layar salinan muncul di depan Jihan.
"Ehh, ya. Thanks.. Giz."
Jihan dibantu Gizi melihat arsip.
Dan ternyata file yang diperhatikan Jihan adalah lemari canggih dengan teks Valdisk. Ada persen-tasenya.
"Dikit lagi full? Tapi ngeributin apa sih? Napa dia ngedadak care?"
Jihan mengerakkan kakinya, abai dengan kepo yang ada. Gerak sendinya kini terlihat lancar. Tapi wajah Jihan malah meringis.
"Aapps! Auw..!" Jihan agak loncat-loncat, lalu menyeimbangkan badan. "Haduh, sshh.. Nginjek sampe ke blueprint gini, anjrit..!"
Kaki Jihan sudah mulus tanpa luka bakarnya lagi. Tapi cetak-biru atau kenangannya ada yang salah, dia belum sembuh benar!
Mungkin hal itu yang sedang dipermasalahkan Nia pada Hoax.
Tapi justeru Nia diam menatap Kunang-kunangnya. Dia juga lanjut protes, kemudian tenang lagi, Nia protes lagi. Dia marah seperti nyonya besar ke pembantunya.
Saat fokus menyimak, Jihan kembali dibuat penasaran. Sebuah benda besar menancap agak jauh darinya. Wahana asing tersebut jangkung setinggi tower. Tanah sedikit bergetar saat kapal corong itu mendarat.
JLUUGH!!
Derrr.. rrrhh..!
"Hii, apaan sih nih? Pake caper gak jelas."
Tanpa sengaja Jihan juga melihat Nia menggambil handgun. Pistol berperedam itu bergerak sendiri seperti ditarik magnet, tak lain sumber gejala tersebut adalah tangan Nia, si empunya. Saat sudah dipegang Nia, aura senjata lenyap.
Sywuut!!
Ctraakh!
Sebatang pulpen aneh menancap di tanah begitu Jihan mengelak dari jalur lajunya.
"Vactube qarrat," komen Jihan sambil menatap kapal, sumber tembakan. "Napa harus pake bedil mesin gini? Hhh, hhh, hhh.."
Cahaya circle di tubuh Jihan masih mengelebati kulit badan.
Syatt!! Syut-syut!
Tlapp! Tlapph-tlaap!
Usai mundur, Jihan menengok ke bawah, melihat benda yang dihindarinya. Empat pulpen di situ berasap, menyala, dan tampaknya memang sebatang logam panas.
"Dasar kapal rese!" umpat Jihan.
Di tempatnya, Nia diam menatap Jihan. Lawannya tersebut sedang lari di mana Jihan langsung melompat terbang. Di sini, dia masih mengangkat tangan, lalu menggerakkan dua jarinya.
Syut-swut! Peluru ditembakkan kembali, muntahan dari gudangnya, permukaan kapal yang ditinggal sang benda memiliki banyak lubang, terlebih corong besi tersebut sedang berputar layaknya korsel pasar malam.
Set! Jihan manuver ke atas, pulpen yang mengejarnya melesat lurus. Syut! Syut!
"Kau tak pernah paham.." gumam Nia dengan mata masih tetap fokus, agak mendongak mengikuti arah terbang Jihan. Dua jarinya pun langsung disentilkan begitu target dipicing matanya dengan sangat dingin.
Di udara, dua peluru yang tengah diam tercekal sesuatu, langsung melesat begitu bentuknya memadat jadi bola diameter 5 mili.
Zhhatt!!
Crat! Crat!!
"Ummgh!"
Sambil meringis, Jihan tetap terbang vertikal, tutup mata menahan nyeri di tapak kakinya.
Jihan baru saja ditembus dua garis cahaya, tapi tetap terbang bersama tato tubuhnya yang masih bolak-balik acak di permukaan kulit.
Dalam dinginnya, yang semakin tampak pada Nia di fokus tersebut, segera jemari tangan kiri digerakkannya lagi, bertelekinetis.
Sru.. syutt!!
Lima batang bara keluar bersamaan dari sarangnya, dan sedang mengambang agak jauh di depan lubangnya masing-masing. Laju mereka sedang dicekal, bentuknya perlahan berubah saat meregang arah tersebut.
Zhaat! Satu butir melesat di situ.
Set!
Saat meroket, Jihan menyamping miring sampai ada garis cahaya lewat.
Jihan balik lagi ke posisi tengah, laser putih kembali lewat di sampingnya. Jihan miring ke kanan, laser ada di kirinya. Jihan miring lagi ke kiri, laser melesat di kanannya.
Set!
Zhaat..!
Set!
Zhatt..!!
Set!
Zhaat..!!!
"Hii.. perih, anjrit."
Kaki Jihan bocor, darahnya sedang memancar di bawah jadi semburan gas. Celaka.. Tubuh Jihan sudah putih persis Luna!
"Smoke!"
Bluph!
Wuutts!
Jihan menembus segumpal portal yang muncul di atasnya. Lalu asap yang sama muncul di Green Flat, di permukaan Bumi.
Set!
Ckiiit!!
Blupph! Gumpalan asap susut menghilang begitu Jihan berhenti terbang.
"Sshhh..!" desis Jihan meraba tapak kakinya. "Lo pinter amit, kayak dah tau gue mau ngapain."
Yang dikomentari masih memandang awan, dia segera sadar objeknya ada di mana. Nia menurunkan tangannya perlahan, tetap diam tak menoleh.
Jihan tetap mengambang di jarak cukup jauh dari Nia, paradok ter-elite yang pernah dilihatnya. Kakinya masih ada masalah.
Wshhttt!
Nia yang masih berdiri, terbayang mundur ke belakang Jihan secepat cahaya, menjejakkan remnantnya.
"Mission complete.." gumam Nia mengarahkan hangund pada kepala Jihan dengan dua tangan, entah kenapa dia selalu membidik arah tersebut.
JREEDAR!! SREETTH!!!
Sekali tembak, terlihat belasan bayang Jihan di hadapan Nia. Begitu pun tubuh Nia, tampak diam menetap bak patung. Bayang-bayang fisik tersebut adalah remnant pasif, penampakannya tidak begitu lama.
Spontanitas yang ada terjadi karena Nia bersenjata canggih. Bekalnya memang persis alat untuk keperluan fisika-kuantum.
Jihan menghindar tembakan Nia demi Gizi, jadi ada banyak tarian udara yang dia lakukan.
Swrreetth!
Jihan muncul meniru cara hadir lawannya. Nia diam menurunkan tangan, tidak protes dan komentar gayanya Jihan curi.
Nia menyipitkan kedua mata, Jihan sudah bisa menapak, pulih dengan cepat.
"Beres apanya..? Aksi lo ilegal, Jil. Pake kartu orang. Balikin aset lo ke Server, percuma.."
Dar-dar!!
Saat bicara, Jihan terbelalak. Dia didatangi peluru yang mengarah pada kening sekaligus kakinya.
"Where Black Soul..?"
Dar-dar!
Nia menembak lagi. Dia lari, bergerak ke kanan sambil terus menembaki objeknya.
Dar!
Dziing! Dar-dar!!
Je.. dar!
Jihan abai rambutnya ditembus peluru, mengembang terbawa gerakan tubuhnya hingga menyerupai kipas dan ekor burung Merak. Dia berputar badan gaya gasing berotasi.
Tlikkh-tliikk..!
Ckitt! Nia mengerem saat baru berlari. Dia mendapati handgunnya kosong, kehabisan amnusi. Dia langsung diam, batal beraksi.
Set!
Jihan berhenti menggasing badan dalam pose kuda-kuda, dari penari balet jadi pesilat.
"Bedil edan, bikin gabut lo ya? Rusak?"
"Tidak Nature. Aku hanya butuh satu menit. Menarilah bersama Wappz."
__ADS_1
Seeth! Nia langsung menggerakkan satu tangan, bertelekinetis kembali dengan batangan bara.
Sruu.. syuuutt!!
Jihan menoleh ke benda yang disebutkan, kapal tersebut sudah di kelilingi banyak pulpen yang menyala alias Wappz.
"Mind blow!"
Wuutts! Jihan melesat meninggalkan Nia selesai komentar.
"Ingat itu di kepalamu.."
Set! Set!
Nia mengepal, dan balik mengibaskan tangan. Serta merta butir-butir yang dikendalikannya segera bekerja.
Recharging. Wait a minute
Nia menatap pistolnya, mendapati layar persentase, amunisi senjatanya sedang terisi. Nia pun tengadah mengabaikannya.
Di udara, Jihan sibuk, kerikil-kerikil panas banyak meleset jadi laser ke arahnya. Saking repot menghindari, dia mengerahkan imej Spiderman.
Jika Peter Parker loncat dari gedung ke gedung, Jihan menghindar bahaya dari pelat ke pelat lainnya tanpa jaring.
Set! Wuuts!
Ctraakh!
Set! Wuuts!
Ctraakh!!
Sekali hindar lapisan di tabrak belasan kerikil. Laser-laser tersebut memang berbunyi demikian saking banyaknya yang menghantam.
Set.. Set..
Setelah memijak lapis bantu, Jihan melayang pelan di dekat empat garis aktif laju laser. Rambut panjangnya tersibak ditembus peluru, terbakar dan pulih kembali tanpa jatuh satu helai pun. Tato cahaya di kulit tubuhnya masih merayapi, melaju pelan dalam mode jet lag.
Set! Jihan mendarat di lapisan invisible dan langsung salto. Wuutts..!!
Cetrrakh!!
Setelah salto, Jihan rentangkan dua tangannya, mengembangkan vibe telekinetik. Tampaklah laser-laser yang sedang melesat berhenti.
Jihan dikerubung kerikil panas saat melayang ke lapis berikutnya, kemudian mengedipkan mata.
Ctrraa.. aasshh...!!
Semua peluru yang turut terbawa pun pecah di-magis demikian. Entah kedipan apa namanya.
Set!
Sut! Sit! Sat! Jihan langsung mengibas-ngibaskan dua tangannya setelah mendarat di air-warp, selayak orang sedang mencakar-cakar cermin. Maka, tiba-tiba ratusan kerikil terbang kian kemari jadi persis lebah yang sarangnya dihancurkan.
Wat! Wit! Wet! Wat-wit-weet!
Butir-butir bara pun melesat tak karuan selagi Jihan 'mencakar-cakar'. Otomatis, kebanyakan peluru jadi menabrak dan menghujani kapal atau sarangnya.
Dhuaargh!! Kapal Wappz serta merta meledak.
"Tatattaat!!" ucap Jihan, ribut sendiri dalam aksi telekinetisnya, badan masih menempel di lapisan.
Tzang! Tzing! Durgh!
Beberapa garis laser beradu dan memercik ledakan kecil di sana-sini.
Sekitar dua ratus butir tersisa, berhenti mendadak dari kekacauan lajunya. Nia menggerakkan-gerakkan tangan meniru Jihan, lalu berhenti dengan pose tai chi, berhasil mengambil-alih.
"Koplak.. maen rebut aja," Umpat Jihan di udara ini atas aksi Nia yang lebih menguasai pengendalian benda.
Butir-butir kembali diam. Sarang mereka sudah meledak dan roboh terbakar di tanah. Mereka sedang di ketinggian tower. Tiba-tiba dalam formasi acak tersebut, mereka melesat bersama ke arah Jihan.
Whzzztt!!
Jihan segera loncat, memutar badan, melayang di hujani garis-garis laser. Wajahnya meringis. Beberapa peluru menembus tubuhnya namun tak mengenai tato. Tak ayal darahnya terpercik dilubangi banyak laser.
Craatt..
gu.. craaattt..
Gucraat..!!
Cratt.. craat..
Sementara di darat, di Green Flat ini Nia sudah menyipitkan mata, membidik tarian Jihan dengan ujung pistolnya.
Jedar..
Ujung pistol menyala, menampakkan isinya. Ternyata batang hitam tersebut bukan peredam melainkan vacum tabung, bagian utama, dan mungkin berisi jarum-jarum.
Kedua mata Nia menyala ungu di posenya menembak.
Swssh!! Pelurus langsung melesat meninggalkan hangund yang sempat mode jet lag.
Claphh!! Tubuh Jihan yang tengah dihujam garis-garis cahaya, mendadak ter-berkas bilzt bagian rusuknya. Di situlah peluru Nia menancap, mengenai tato glow milik Jihan.
Hyuu.. uung..
Kemudian..
BRUUGH!!
Tanah menyemburkan serbuk-serbuknya saat tertumbuk badan Jihan. Tampak seperti ditimpa brankas ukuran kulkas. Saking anehnya tubuh yang jatuh, di situ kawah terbentuk. Walaupun tidak mirip kawah meteor, tanah tersebut cukup gembur, terlubang agak dalam.
Jihan tergolek di situ, karena memang nyungsep, kepala tidak terlihat. Sebagian tubuh Jihan ditutupi serbuk tanah yang menyembur dan balik menimbun Jihan. Tato glowing di kulitnya sedang berdenyutan, mengecil-membesar.
Set! Ckiiit..!!
Nia berhenti melesat. Dia lalu mendarat menapak di tanah. Nia melangkah menghampiri lubang membuang pistolnya.
Plukh!
"Kau tak memahamiku, Giz. Inilah yang kau pinta," kata Nia sambil memandangi tubuh Jihan.
Jihan masih tak sadarkan diri. Diam tak ada nafas terlihat. Ada banyak luka bakar di tubuhnya, bekas tembus cahaya laser.
Swetth! Kunang Kunang menyedot masuk pistol yang Nia buang, menyusut masuk jadi kecil seukuran butir gula. Nia tak mengetahuinya.
"Majikanmu masih sangat bodoh, berani datang ke mari dengan konyolitasnya atas Central."
Zhaat!!
"Cukup..! Katakan jumlah kalian!" pinta Gizi sekeluar dari tubuh inangnya, mencengkram tubuh Nia, hingga jari tangannya terlihat di tulang belakang, di punggung Nia.
Nia yang terdorong laju tubuh Gizi, sudah memegang tangan lawannya. "Maaf aku berbohong, Giz. Kami tak.. ingin.. hhk.. menghitung.. hhkk.. hkk.. dia.."
Gizi abaikan lengan Nia yang sudah menyala merah, menempeli, dan membakar. Dirinya menjadi sumber angin yang sedang berhembus kencang, meniup rambut Nia, ke segala arah.
Tangan Gizi satu lagi tengah memegang bola hitam.
Nia tak melanjutkan kata-katanya, membiarkan bibirnya ternoda liur merah. Sementara Jihan sudah sadar, walau hanya merangkak menghampiri mereka.
"Gizi..! Uhuh.. huu! Lepasin dia! Jangan Gizi!!"
CLAPHH!!
Seketika Green Flat berganti jadi Endfield, penuh penonton di tiap tribun. Namun semuanya sedang membisu atas ketegangan yang ada.
"Stop!! Gizi..!! Hikks..! Berhenti!! Uhuhuu.. Gizi!!" teriak Jihan lagi.
Jihan lalu memberi alasan bahwa mereka sedang terumpan, bahwa Nia hanya budak dari Kunang-kunangnya. Jihan minta jins-nya menahan diri.
"Gizi..!!!"
Zwiiitt!! Hoax yang menjelma diri, memegang senjata mirip yang dipakai parasas Dlang.
Tekh! Tlackh..!
Glit!
Trak-tath!
"Pegang dia untuk Riko," pinta Hoax dengan tenang dan..
Dziing!!
Belum sempat Gizi gunakan bola hitamnya, seberkas laser terpancar dari bedil purwarupa mengenai perutnya, hingga mental, tangan terputus.
Crakh! Whuung!!
Bola hitam pun jatuh. Klotakh!!
Jihan menoleh. Di arah belakangnya, Gizi mendarat terguling-guling.
"Gi..ziii!"
Setelah berhenti dan terlihat masih ada hembusan angin, Jihan segera bangkit. Namun kemudian jatuh sebab jalannya terpincang dan buru-buru. Dia menangis sambil memanggil, tak pedulikan Nia yang memungut bola hitam.
"Dia benar-benar siap dengan pamungkasnya ini."
"Hancurkan," pinta Hoax. "Bagianku.. sekarang."
Nia membekukan bola dengan tangan es-nya, Hoax mencabut sesuatu dari senjatanya.
Set..
Tlekh!
"My Husband, we are successful," kata Hoax sambil menekan alat atau saklar di tangannya.
Clikh! Clikh..!
"...?!!"
Hoax memandangi alatnya, kebingungan.
Dari jauh tampak Gizi mengarahkan tangan pada alat tersebut, menahan fungsi dengan telekinetiknya.
"Hancurkan kataku!"
__ADS_1
"Tidak!" kata Nia. "Kami tak menghitungmu, Hoax."
Dziing!
Gtraakh!
Bola hitam yang sudah keras langsung buncar berkeping-keping di tangan Nia.
Bruuluukh! Serpihan bola berhatuhan di lantai arena. Entah apa yang Gizi bawa ini.
"Demikian aku," kata Hoax selesai menembak bola.
Baru saja hendak menekan alatnya lagi, kepala Hoax terbungkus 'helm' ajaib.
Dratt!! Zwaatt!!
Bruugh!!
Hoax jatuh tak sadarkan diri, tak bergerak lagi dengan 'helm' tersebut.
"Lo pada di sini rupanya," kata Marcel sambil mengalungkan senjata ke badan selesai menendang saklar.
Marcel sang penembak, datang ke Endfield bersama tim-nya. Ada empat orang laki-laki dewasa berseragam tentara, seorang tawanan, juga ada Lintang yang turut keluar dari portal.
"Heart..?" gumam Nia mendapati sang tawanan, abai dengan para petugas yang tengah menodongkan senjata padanya.
Nia hendak berdiri, namun Marcel mencengkram kerah piyamanya.
"Jawab gue Bangs*t!! Jawab!!"
Gubrakh!!
Marcel didorong Tawanan-nya hingga jatuh terduduk. Para petugas langsung ganti arah ke perimeter, tapi Marcel segera command atas todongan mereka.
"Biar! Biarin jangan tembak! Dia emang bisa lepasin borgol."
Nia menangis saat Heart memeluknya.
"Aku telah sembuh, Nia. Mereka tak membedahku."
"Heart.. Hiks!" sedu Nia, berurai airmata.
"Etraksi selasai," lapor Lintang, dia selasai 'memantrai' pusar Hoax dan membiarkan Bola Naga jatuh menggelinding.
"Ini dia."
Marcel berdiri lalu menekan tombol helm, penutup pun langsung terbuka.
Gliitt!!
Bukh! Bukh!
"Woyy!" teriak Lintang, panik dan menaruh Bola Naga yang baru diambilnya. "Berhenti!"
Dua petugas membuang senjatanya, lalu buru-buru menahan Marcel dan Hoax yang sudah saling pukul. Mereka bertiga terjatuh saat menarik dan memisahkan keduanya.
Cukup jauh dari tempat mereka berada, belum ada satu pun yang peduli suara Jihan.
"Rin.. hiks.." senguk sang Ninja. "Bangun.. Jihan.. Gizi.. Bangun.. hiks.."
Jihan terguncang pundak, menahan sedihnya. Menangis lagi karena Gizi tak juga buka mata dan mendengarnya. Dia tak tahu apa yang Marcel ributkan. Tangannya memegang pusar Gizi, menahan pembusukan tubuh sang jins.
Kkrrtth..! Urat-urat tangan merayapi blueprint Gizi, namun leleh dan menetes lagi seperti tinta yang mengaliri sedotan, selang tersebut malah turut leleh.
Tangan kanan Gizi tampak tertahan pemulihannya, Jihan mencoba dengan lingkaran dari gelang bratle-nya, namun tubuh sang qorin tetap melembek.
Gelang di kepala Jihan kembali putih, bertambah laju rotasinya. Urat-urat di tubuh Gizi pun merebak lagi, badan Gizi mengembang lagi.. tapi kemudian, melemas lagi.
"Hikks.."
Set! Srett! Jihan menggesekkan-gesek ruas jempolnya, dia sudah tahu Marcel tak membawa pedang, jadi reverse time bisa Jihan gunakan dengan pusaka ratunya tersebut.
"Ray.. Tolongin gue.. Ray. Plis..!"
Tangan kiri Jihan yang sudah terlumur darah hitam tak berhasil memanggil Ray. Tak terjadi apa-apa. Handle pedang tidak muncul.
Srett! Set..! Set!
"Plis.. Jihan, plis.. Ray.. plii..iisss.. hikk."
Krrtth.. Dua kaki Gizi mengerut, leleh, lalu mencair berserta kain celananya.
Jihan panik, di situ akan segera becek oleh cairan kental nan hitam, tubuh Gizi akan berakhir.
"Sel! Marcel!!"
Krrtth..!! Jihan merebahkan tubuh jins-nya, kulit wajah di situ diam menghitam. Speaker Gizi pun tampak berasap.
"Seeelll!! Help me! Uhuhuu.. huhuu! Help me! Hwaa..aaa.. hhaha!"
Krrtth..!
"Deyaaahh!!" jerit Jihan entah pada siapa.
Marcel berhenti menjambak rambut Hoax saat mendengar suara Jihan. Diam mendengarkan sambil memandang objeknya.
"Ya ampun. Mana si Paski? Napa belom datang. Hhhh, hh-hhh..." bingung Marcel bicara soal kondentur Snail.
"Kamu kenapa, Sel?"
"Kisye lagi di mana sih?"
Marcel bangkit berdiri, lari meninggalkan tempat usai melihat-lihat, abai dengan tatapan Lintang, juga tak peduli kegiatan petugas di mana sudah memborgol Hoax.
"Sstt! Gue Marcel, Han. Masya Allah.."
Marcel segera bersimpu menyinari kepala Gizi dengan senter suhu.
"Halo! Paski! Lo di mana sih? Udah beres belom? Paski! Jawab!! Hhh-hhh..!" kata Marcel mendekatkan kerah ke bibirnya, ada pin terselap di situ, alat komunikasinya.
"Sel?"
"Haduh! Udah belom?" tanya Marcel, cemas.
"Lagi.. ini. Lagi diracik.. Gimana dong?"
"Gue suruh lo ke Escort, bukan ke Ladang."
"Gerbong dikunci Sel. Gimana?"
"Haduh! Ck..! Wadahin! Wadahin aja Citruz-nya. Bismillah dulu.."
"Oke. Radio out.."
"Hhh, hhh.."
Marcel memungut Speaker, menatapnya sambil menahan nafas. Benda berasap tersebut lalu meleleh, mengotori tapi tidak panas dikulit, hanya menetesi lantai.
Srrr..!
"Tolongin gue.. Sel.. Hikk.. Gimana.. ini.. Uhuh.. Huhuuu.."
Dalam duduknya di situ, Marcel juga menatap gelang Jihan. Dia tahu arti dari warna indikator tersebut, dia tahu kenapa visual gelang tidak built-in. Namun Marcel makin diam, berkerut kening, tak juga berbuat sesuatu. Dia perlahan berdiri, membiarkan Jihan menangis. Tatapannya kosong.
"Dia.. Dia lagi gak di sini.. Han."
"Ma.. ma.. maksud lo? Hiks-hiks?" tanya Jihan mendongak, dia biarkan kepala jins-nya mencair di tangan.
"Hhh.. Gue.. gak tau.. Harusnya-"
"Arrggghh! Arrggghh! Giziiii..!!!"
BRUUGH!
Saat meronta-ronda di kubangan hitam, sesuatu menimpa tubuh, dan Jihan tersentak bangun dari tidurnya.
...****************...
Pagi di tempat kerja, wajah Jihan masih sendu. Karyawati lain di situ tak bisa apa-apa melihat Jihan berkabung sambil melipat-lipat celana jeans. Mereka hanya tahu Jihan sedang ikut berduka atas orangtua Lulu. Padahal Jihan sudah memberitahu mereka bahwa dirinya terus begitu sejak bangun subuh, hanya ingin berduka saja.
Jihan memasukan setumpuk jeans yang sudah dirapikannya. Di kotak sebelah, dia keluarkan tumpukan yang ada. Jihan bawa tumpukan warna tersebut ke atas wagon, lalu satu per satu dia buka dan dilipatnya lagi, abai dengan seorang pengunjung stand yang baru datang dan melihat-lihat.
"Kak..hiks.. hiks.."
Suara yang dikenal membuat Jihan menoleh ke sampingnya. Dia sadar, ternyata si pengunjung yang ikut terisak adalah Vita, bocah tersebut membuka maskernya.
"Ehh, Vit. Gue.. Gue.. pikir siapa.. Hikk!"
Siswa putih-biru tersebut langsung memeluk Jihan. "Vita.. sengaja bolos Kak. Uhuuhu.."
"Gue.. hiks. Gue ga papa, Vit. Napa?" tanya Jihan, serak dan berat.
"Uhuuhu.. huhu.."
"Napa.. Vit?"
"Vita.. Vita close.. udah tak kuat nontonnya.. Uhuh.."
"Trus..?"
"Gimana.. bisa sampe.. gitu, Kak?"
"Gue.. Tubuh gue ditiban Gizi yang dibawa sama Ray.. ke arena.. Vit. Semua kusut waktu, udah Ray beresin.. Luna juga nyegat Gizi biar berhenti mengejar Hoax yang udah ditangkep itu."
"Kak Jihan.. baik-baik aja khan? Huhuuu.."
"Gue.. Ga papa.. Gue dah siuman sejak ketiban Gizi, Vit.."
"Jadi.. yang di Escort.. tuh.. hikk.. siapa, Kak?"
"Sorrow. Robot gue.. Vit. Dia.. dia overload.. Hiks.."
Sambil memeluk Vita, Jihan kembali ingat kertas hvs yang pagi tadi Jhid berikan padanya. Foto di kertas print itu ada Gizi yang yang sedang membopong tubuh Jihan, di sebelahnya Kisye dan Marcel, Gizi membawa Sorrow.
"Jadi.. Vita nih.. lagi sama Kak Jihan khan..? Hikk.."
"Iya, nih gue.. Vit. Yang rebah di Esscot tuh.. Sorrow. Robot gue.. lagi.. overload. Dia butuh.. ruang Valdisk."
Vita mengeratkan pelukannya. Karyawati tetangga menyimak tontonan yang ada dengan penuh perhatian. Di situ lagi sepi pengunjung, otomatis Jihan dan Vita jadi fokus mereka.
__ADS_1
"Adek kamu Han?"