
Si gadis tertidur semalaman di rumah-kayu pantai. Namun tidurnya tidak begitu nyenyak, banyak serangga malam yang menggangu, serta hawa dingin yang terus meliputi dari jam ke jam.
Dia tampak kusut pagi ini, menggaruk-garuk kulit yang merah tergigit, lalu menguap karena masih ngantuk.
Gadis lusuh dan kumal menutup mulutnya.
"Hoaam.. Apa Luna udah pulang ya? Gimana kondisi Internal sama Ratu.. apa masih rame perangnya ya? Lapar banget, pengen darah tapi haram. Pengen makan tapi dilarang gigit kaki sama tangan orang. Aku gak bisa bobo gini, keingetan kamu Beb. Aku kangen kamu Sel. Pengen liat kamu."
Si gadis bermonolog soal tidurnya hari ini, bicara sendiri bahwa dia memikirkan banyak hal, terutama orang kesayangannya. Tapi dia sendirian di situ, tidak ada yang mendengar curhatnya.
"Kalo aku gini terus.. kamu sedih gak ya, di sana? Hhh.. Kamu pekerja keras, kudu dicontek sama aku si tukang ngeluh."
Zrrrhh..!
Suara ombak pagi baru terdengar oleh si gadis. Padahal riak laut itu yang sedang dipandanginya, tapi baru disadari aktivitasnya. Ombak memang terus menyapu, bergerak datang dan pergi.
"Aku jadi kamu aja gitu.. biar bisa terus idup, Beb? Aku so imut banget, hehe.."
Si gadis menghibur diri, pipinya merah jambu air, nge-pink atas lamunan yang berlangsung.
"Ya dah, aku jadi kamu aja, yaa. Biar kamu ada terus tiap detik dalem detak jan-jan."
Zzrrhh..
Desiran ombak seolah mengiyakan kalimat yang ada.
"Aa.. aarh..!"
Si gadis menutup monolognya dengan seruan histeris layak orang melihat artis pujaan yang dinanti-nantikan.
__ADS_1
Pragh!
Si gadis tiba-tiba memukul kepiting tersebut dengan kayu saung. Dia melihat Kepiting gabut, dan segera dicegat pakai kayu ronda-nya, membegalnya pas berangkat kerja.😄
"Duh Bebeb kamu ngundang rejeki gini digibah orang kangen."
Blugh..!
Gebukan terakhir membuat Kepiting di hadapannya tak bergerak lagi.
"Hhh.. Alhamdulillah, ada makanan di sini. Jangan sampe minum darah, Jihan.. bisa nyoreng nama Pnin yang udah tobat."
Si gadis ternyata sedang menahan lapar atau hawa kanibalnya. Mungkin kondisi tersebut bekas peperangan dengan orang bernama Eks. Bisa jadi, dia pindah ke sini untuk mengikis "cacing" asing yang ditahannya tersebut.
Kayu kering, ranting, maupun dahan kecil yang pendek-pendek dikumpulkannya. Rasa rindunya pada seseorang, dia rubah jadi work-mood, berjalan-jalan memungut ranting.
Si gadis memanfaatkan plastik bekas yang telah dicuci untuk mengumpulkan Kepiting lain. Dia memungut barang lain yang mungkin berguna juga. Ada serabut kayu, kaleng, tali plastik, sekop karatan, keong kosong, dia juga memungut sampah kain ala gembel kota.
Rskkh!
Hari sudah agak terang, Jihan kini survival di pulau asing, membuat api dari dua batang kayu kering. Duduk di bawah saung mengingat hari mulai gerah.
Serabut kering di bawah kayu gesek mulai berasap, Jihan meniup-niup rambut kayu tersebut. Dia taruh di depannya, dan segera menindih kepulan dengan ranting-ranting.
Zzrrhh..
Ombak pun sibuk sendiri di kegiatannya, membiarkan Jihan membakar kayu-kayu yang dikumpulkan. Desiran yang ada disahuti suara burung, namun entah terbang dan sedang melayang di arah mana. Di situ Jihan tampak gadis satu-satunya di pulau ini.
"Beb, ada makanan. Tinggal bakar nih, mantap juga jadi kamu, kapten Bajak Laut. Aku idup Beb. Hehe.."
__ADS_1
Jihan mulai bekerja, mengiris garis tengah batang kayu yang agak lentur. Dia gesekan batu pipih pada dahan kering agak alot itu. Jihan seperti youtuber Tarzan, tampak hapal cara selamat dari "anakonda" perut.
Jihan pun selesai membuat jepitan. Dia segera menempatkan Kepiting-kepiting yang digetoknya ke sela kayu panggang itu.
"Beres ini, iket deh biar gak lepas. Uhuk! Uhuk..! Aduh.. ihh.."
Jihan berdiri, mengipas-ngipas wajahnya, agak menjauh dari asap yang menyerang. Perapian agak besar rambatan panasnya hingga kepulan tersebut mengganggu si gadis.
"Uhuk..! Dah ngepul ke situ. Uhuk..! Uhuk! Gue mau bakar makanan. Ahh.. nangis bawang gini gue. Uhuk!"
Jihan sudah pindah sambil menyeka kelopak matanya. Tapi memudian, dia abaikan karena api sudah tampak besar, menipiskan asap.
Jihan jongkok memegangi jepit kayu untuk mulai memanggang Kepiting. Batal mengikat kayu jepit, karena sudah ditunggu ususnya.
"Uhuk.. ! Welcome deh Jihan. Lo harus nge-rehab diri di sini. Biar sekalian latian fisik dan mental.
Oh iya, Beb. Kamu pastinya pernah ngalemin yang lebih buruk dari keadaanku ini.
Lop yu Marcel. Aku juga mau nyoba primitive life ini. Biar mirip setingan area lima yang non-healing."
Kayu pun diputar-putar, Jihan pijat kulit lengannya sebentar akibat pegal yang mulai terasa. Dia kemudian duduk dan langsung fokus mata, diam memanggang lima ekor kepiting tangkapannya.
Zrrrhh..
Desir pantai lanjut mengisi suara Jihan yang hilang lokasi tersebut. Tapi burung pantai tak lagi lewat, kosong tak ada bunyi sambutan. Lalu riak pesisir kembali tertangkap kuping Jihan, lokasi saung ini jadi lebih hening sejak dia duduk melototi makanannya.
-
-
__ADS_1
-