Jihan

Jihan
chapter up 70


__ADS_3

Seperti kata Nia, dia ingin Jihan merasakan bosan dan jenuhnya menunggu Nature yang tak kunjung datang.


Maka Nia tinggalkan Jihan di situ, ditinggalkan korbannya saat sudah lemah menahan nyeri.


Entah Nia pergi ke mana. Mungkin kembali ke tempatnya menunggu, EGP alias cuek membiarkan tangisan pilu Jihan.


"Ya Allah.. huuhu.. sa.. kiit.. Arrggghh, hahaa... Eheu-eheuu.. Huuu.. Hikk..!"


Sambil meringis, Jihan mencengkram pergelangan tangannya sejak tadi, tapi tak juga terjadi sesuatu. Jari kanannya itu belum dia sadari, di situ sudah tak ada cincin yang melingkar.


Jihan tetap mengaduh.


"Hikk.. Huhuuu... Arrggghh!" jerit Jihan, masih tetap memaksakan bantuan dari tangannya. "Errgghh!"


Alhasil, hanyalah tenaga biasa, tak terjadi apa-apa, kepala Jihan belum juga terlingkar gelang laser.


Apa yang dia lakukan memang sengaja manual backing, demi pening yang akan menimpanya?


Jihan kembali mengurat sekuatnya, maka pucatlah sudah wajah si gadis piyama, dia seperti sedang melahirkan anak.


"Errgghh! Errgghh..! Ahahaa.. hwaa.. Please.. Ya Allah.. pliis.. sa.. kiit.. Huuu huu.. Errgghh!! Mgggh! Errrggh..!"


Saking sibuk mencekal tangan kirinya itu, Jihan tak tahu ada dirinya yang lain tergopoh menghampiri, dia baru saja masuk Endfield lewat sobekan dimensi.


"Njir beneran emang gue. Lo napa? Siapa?" tanya si Piyama Ungu, Jihan Berikutnya, jongkok memastikan matanya, salah lihat atau tidak atas wajah yang ada.


Jihan berhenti dari kegiatannya, menoleh pada si Pendatang.


"??!"


"Aneh banget..?" bingung si Piyama kemudian, melihat-lihat sekelilingnya. "Mana si Jilect? Gue pikir dia tuh elo, taunya cewek hamil."


"..?!"


Jihan hirau dengan sakit di perut demi pertanyaan tersebut, diam menatap dirinya itu sambil berkerut kening. Yang dipandanginya tak peduli, masih mengawasi sekitar mereka.


"Hhh.. Napa yang laennya, pada mati gini?"


"Aaargh!!" erang Jihan, tiba-tiba bersuara kencang, seolah menjawab kebingungan Jihan Sekuel.


"..?!!"


"Aduh pala! Pala.. gue.. Ugh! Errgghh!! Errgghh!"


"Ya Allah, kasian.. Lo napa? Jawab! Jawab aja!"


"Eeerrgh! Palaa! Errgghh!! Aduuh.. uuggh! Errrggh!!" erang Jihan dengan wajah meringis, kembali pucat berkeringat.


"Iya, Rin. I-iya.. iya," kata gadis ini tergagap, sudah menaruh telapaknya di kening Jihan, dia seperti sedang menjawab apa yang disuruh untuknya.


Hyu..uung! Bruugh!

__ADS_1


Jihan Sekuel tiba-tiba jatuh menutup mata, menindih pasiennya. Saat dibangunkan, digoyangkan, Jihan tanya, dia tak menjawab. Meninggal begitu saja.


Hhh, hhh, hhh.. engkau.. baik-baik saja.. Tuan? Hhh.. hhh, hamba pikir sudah terlambat. Kurasa.. Hamba terlambat.. hhh, hhh


"Ummg.. Hu-um. Thanks."


Jihan lemas, tak bersuara, diam membiarkan dirinya ditindih Sekuel. Dia langsung berkonsentrasi. Internal voice.


Swwrrth!!


Nia muncul tak jauh dari Jihan dengan mode Gula Pasir-nya, eksis begitu terisi. Dia berdiri di situ mengamati objeknya.


Sementara Kunang Kunang tetap terbang meliuk-liuk di sebelah Nia, bintik tersebut memang selalu menyertai penyuruh-nya. Datang dan pergi, mereka selalu berduaan.


"Tapi aku mulai yakin.."


Jihan memilih diam menutup mata, pura-pura meninggal. Dia mendengar kalimat Nia barusan, untunglah pegal diperutnya sudah reda.


Bintik sinar yang Jihan sebut pus-taka, bergantian warnanya di dekat bahu Nia, kedap-kedip warna pelangi. Nia membiarkannya.


"Aku takkan pergi sebelum mengetahuinya," kata Nia, dia Jihan Berambut Pendek.


Kedipan pelangi kembali nampak pada Kunang Kunang.


"Tidak, kita harus menunggu. Kau bacakan sajalah di sini laporan mereka. Sambungkan sekarang mode enskripsi."


Kunang berkedip-kedip lagi, tadinya warna putih terang saat Nia bicara, kini sinar imut tersebut warna-warni.


"Masih ada librarian katamu? Heart, kau bicara soal Nay atau inangnya?"


"Mundur. Kau harus tetap hidup, Heart. Sembunyikan jantungmu."


Bintik di dekat bahu Nia, kedap-kedip lagi.


"Mundur kataku!"


Kedap-kedip.


"Hei. Apa-apaan..?"


"Ehh.. Jilect??"


"Siapa kamu hah?" Nia berubah bingung di sebelah kunang-kunangnya, segera sigap mengawas posisi, melihat-lihat sekeliling.


"Lo ngintip masa lalu gue di situ?"


"Anj*ng..! Tutup ini! Kusuruh kau enkripsi!"


Drrtth!


Kunang sudah bergetar saat Nia memarahinya, menutup intermate.

__ADS_1


😆njay, kasian kena sewot - author


"Celaka semuanya, Militer Lead telah mengetahui. Bersiaplah untuk Nature, tanda-tandanya sudah datang. Dia sedang bersama ratunya."


Kunang Kunang tak berkedipan, diam membisu membiarkan Nia bergerak menghampiri Jihan. "Hanya tinggal darah baru ini Citruz terakhir kita."


Nia segera jongkok membalikkan tubuh Sekuel. Namun kedua matanya melebar begitu mendapati kelopak Jihan sedang terlipat, melihatnya sedang me-ringis-kan wajah, karena Jihan memang sudah ketahuan, sedang menguping, tak bisa menahan perannya lagi alias pasrah.


Jree.. eeng!


Setelah menggeser mayat Sekuel, Nia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangannya ke wajah Jihan.


"Kau tak seperti mitos kami, Jihan."


"Please.. damai.. please. Hiks!"


"Bukan urusanmu, Nature. Kau seharusnya membantu Gizi melawan kami, dia hanya membawa manusia **lol, sepertimu."


"Hhh.." lemas Jihan, membiarkan diri terbaring dalam kepasrahan penuh.


"Dua pencundang.." sambung Nia, dingin.


Tangan Nia sudah terangkat. Selama bicaranya tadi, dia sedang bertelekinetis, semua darah dari tubuh Sekuel ditariknya ke atas. Maka terlihatlah kini boneka-cair sedang mengambang setinggi tangannya dan tak setetes pun darah tersebut Nia biarkan jatuh.


"Saring," pinta Nia, melirik pada Kunang-kunangnya.


Byuur!


Jihan biarkan dirinya terguyur darah Sekuel. Seketika pakaiannya langsung basah dibanjiri 'ampas'. Maka rambut, wajah, kulit leher, hingga perut Jihan berubah merah segar.


Apa yang sudah disaring, air citruz masih dalam bentuk badan walau tidak sepenuh tadi.


Nia memutarkan tangannya secara perlahan, gerakan melingkar. Citruz yang dikendalikannya pun bergerak membentuk bola air seukuran kepala.


Sang Telkin lalu menganga, membuka mulutnya, agak tengadah. Cairan bening menurut pada gerakan tangannya hingga tertuang masuk.


Ssrrrr..rr!


Mumpung Nia tenang, Jihan menghela dada sambil beranjak bangun dari rebahan. Mungkin dia punya kata-kata menarik untuk Nia. Jihan pun menunggunya selesai.


Ssrrrr.. rrrr!!


Jihan menunduk saat mata Nia mengekor padanya. Nia sudah berhasil membuat dirinya 'matang'. Juga, bisa jadi ketenangan Jihan ini masih suatu ancaman, sebab sosok seper empat Nia ini tidak dibiarkannya bebas ber-magis. Yang jelas, hanya Jihan sendiri yang tahu.


"Apa yang ingin kau sampaikan, Jihan?" tanya Nia selesai minum.


Jihan diam, tak langsung menjawab. Seperti yang pernah dia ceritakan pada Ghost dan Prita, dirinya ingin mencari tahu dulu lebih dalam.


Nia menunggu Jihan dengan tatapan puas, tampak cerah berseri. Nature yang mereka tunggu ada di hadapannya, tapi tetap saja hanya Nia yang tahu muatan dari senyumnya itu.


"Hhh.. Marcel. Apa lo tau soal dia, Jil?"

__ADS_1


"Dia memberi kami petarungan yang memuaskan. Berhenti menyebutku seperti itu."


"Hhh," hela Jihan dengan sorot mata serius pada lawan bicara, tampaklah hawa psikopat dalam lumuran merah nan segar di wajahnya kini.


__ADS_2