
Belantara abad 26 tampaknya sudah dihuni satwa. Tak hanya burung, Jihan dan Marcel mendengar banyak suara serangga pagi. Jangkrik masih terdengar di sekitar, tapi entah berada di mana. Juga banyak daun-daun yang masih basah.
Mereka berada di daratan Java Land, berangkat dari gua UNO (McWell).
Walau Nature tidak tahu Reinita, sang anak punya cerita, gua tersebut adalah penjara bawah tanah. Tempatnya masih sangat rahasia bagi warga lokal. Dulu koordinat lokasi di-kamuflase oleh sinyal pengganggu, sekarang sudah diperkuat dengan lapisan kubah. Belakangan Jihan tahu siapa kuli yang membuatnya, Nature membenarkan bahwa kubah "penyaring" optik itu dibangun oleh Nina. Yang datang atau pun yang pergi lewat Circlet tersebut kedetek sekalipun lewat built-in (Ray).
Tiga puluh menit berjalan, Jihan melepas ransel. Dia taruh tas di bawah sebatang pohon, ada tongkat juga di situ. Jihan membuka ransel dan mengambil wadah air, dia lalu mengisi botol kecil bawaannya.
"Gue emang belum pernah deket sama cowok, Han. Masa puber gue sampe SMA diabisin buat baca-baca buku metafisika, supranatural, misteri-misteri gitu. Jalin hubungan sama cowok sebatas temen. Gue tau dunia pacaran dari kak Irma. Dia keras ma gue, pas gak minat gitu sama dunia monyet, gue nurut aja."
Jihan meneguk wadah besar. Marcel melanjutkan cerita sambil tetap mengawasi sekitar mereka, tongkat yang dipegangnya sudah kotor dan dekil dengan tanah, bedil menggantung di leher.
Semenit kemudian Marcel mengisyaratkan diam dengan desis bibir. Dia mundur lalu ikut jongkok menyiagakan tongkat hikingnya. Jihan yang sudah menggendong ransel turut jongkok.
Kcrrekkh..!
Ada kelinci yang datang-datang langsung diam mengunyah makanan. Jarak hewan dari mereka sejauh seberang jalan. Kelinci cuek menunggu.
Shhhh..!
__ADS_1
Gclaakkh!
"Ummp!!" bekap Jihan pada bibirnya sendiri melihat si imut mendadak dicaplok ular setebal satu jengkal.
"Sstt! Sarapan.."
Mulut sang ular berhasil menjepit rapat mangsanya. Kelinci sempat klepek-klepek membebaskan diri, tapi apa daya dirinya tak kuasa menahan racun yang sudah menjalar dalam tubuh.
Yang meresahkan Jihan, si ular besar masih di situ. Dia harus memeriksa tanda yang sedang ditunda.
"Tunggu.. aja. Masih.. rawan.. Han.."
"Kayaknya.. iya.. Slow.. Jangan.. bikin.. gerakan.. Tahan.. telekinetis.. lo.."
"...??!"
Jihan tambah bingung mendengar permintaan Marcel, dirinya masih pakai bratle, dilingkari benang. Tanpa Gizi, dia harus pencat-pencet layar dulu untuk bertelekinetis. Marcel tampaknya ingin Jihan aman.
"Sabar.. Han.."
__ADS_1
Jihan hanya menatap Marcel tanpa kedip, tidak menimpali. Dia dapati kulit pelipis Marcel lembab ditempeli rambut, tapi Marcel tak peduli dan tetap menggantungkan tangan. Jihan menjilat bibirnya, si teman langsung menoleh.
"...??!"
Giliran Marcel yang bingung. Tapi mereka saling padang. Satunya melihat mata, satu lagi melihat bibir itu. Jihan kalah waktu hingga dirinya nyengir melihat wajah serius Marcel.
"Hhh-hhh..!! Gak usah tegang juga kali.." kata Jihan.
"Siapa yang tegang?"
"Elo! Ngaca coba.. Hhh-hhh! Ngeri anjrit..!"
Marcel berdiri sambil fokus ke TKP ular Sanja, memberitahu Jihan bahwa jalan sudah aman. Marcel segera melangkah membawa wajah serius-nya, lalu warna pipinya berubah.
Dua gadis "ajaib" melanjutkan perjalanannya setelah membaca jejak Sorrow di situ. Mereka kini ke arah Utara, menuruni tanah yang condong. Karena Marcel berada di depan, dia menuntun Jihan turun supaya tidak terpeleset katanya.
Mereka menapaki banyak ranting dedaunan kering sambil bergandengan. Sejak menuruni tanah condong, tangan mereka seperti terikat begitu saja. Entah siapa yang menginginkan genggaman tersebut, wajah mereka berseri-seri, saling diam dan tidak mengobrol.
Dua puluh menit menuruni tanah landai, mereka tiba di point berikutnya dan disuruh ke Barat. Di situ juga terdapat tanaman rambat di tepian jalan setapak, areanya agak terbuka seperti dijajari pohon pinggiran. Mereka berdua lanjut berjalan di tanah datar ini, melangkah bersebelahan memutar penutup wadah.
__ADS_1
Kedua sahabat meneguk wadah air-nya masing-masing. Saat keduanya berpandangan, Jihan dan Marcel saling senyum dengan bibir sudah lebih basah dari sebelumnya. Wajah mereka segar, tampak puas dengan kelelahan yang ada. Keduanya tidak mengobrol lagi. Entah apa yang mereka lakukan sebelum tiba di jalan. Hanya Jihan dan Marcel yang tahu 🙈 ya..?