Jihan

Jihan
chapter up 93


__ADS_3

Foto milik Helen sudah tersalin lewat WA. Jihan segera mengajak tiga bocah itu ke tempat sovenir.


"Ayo para tengil, waktunya misi. Billi gak jawab pesan gue. Dia janji mau makan sore di kuliner kota ini, eh leos gak kasih kabar. Ntar kalo udah ketemu dia, kita selbar."


Jihan curhat pada teman acaranya. Mereka tak berkomentar karena bingung, tak menyangka akan dilibatkan pada kegiatan sang artis.


Lokasi tujuan masih ramai dengan para wisatawan. Saung pinggiran pantai sudah mirip PKL sebuah perhelatan musik dekat pantai.


Jihan mendapati Billi dan Tukang Catet sedang duduk munim es kelapa, kencan. Jihan menonton agak jauh sambil kacak pinggang.


"Pantesan.. Lagi sibuk pacaran tho. Hhh.."


Jihan lemas sambil menghela nafas lesunya. Di sana Billi ikut-ikutan menulis, tukeran pesan lewat buku kecil milik Tukang Catet. Billi juga ketawa lepas dan lebih bahagia.


Di pinggir jalan, Jihan duduk bersama tiga "anak asuh"nya. Dia mentratir sate pada mereka. Ketiga gadis itu tentu saja lebih bahagia dari Billi.


Cekrek! Cekrek..!


Keempat duduk sebangku sambil berfoto di sela makan, kursi kayu itu cukup untuk berlima.


Cekrek..!


"Mbak Gizi, saya boleh numpang selfie?"


Seorang laki-laki menyapa Jihan. Dia bersama gadis yang mungkin pacar si pemuda.


"Oh. Boleh."


"Wah maaf digangguin ya Mbak. Pacar saya gemes. Liatnya ke sini terus."

__ADS_1


Jihan segera berdiri dan keluar bangku. Dia diciumi tanganya oleh gadis sebaya yang ngebet ingin fobar itu. Jihan lalu diapit oleh pasangan tersebut.


Cekrek! Cekrek..!


"Mas, gantian dong saya pengen juga."


Mendadak dua gadis datang menyela acara. Si pemuda minta gadis itu menunggu, katanya baru mulai.


"Ii..ihh.. serakah banget."


"Plis Mbak kepinggir dulu, saya baru dua foto. Sebentar aja, Mbak," kata si pemuda lagi sambil menggiring lawan bicaranya.


"Eh, jangan dorong-dorong gini."


"Maaf, janji deh dua menit doang kok."


"Awas kalo boong. Liat nih kita dah ngantri. Udah sana cepetan kasian si Mbak-nya belum beres makan."


Satu jam kemudian, tukang sate kelimpungan dibanjiri orang-orang. Para pengunjung kuliner seperti mendapat objek utama di lokasi ini.


Antrian tidak berkurang, dua tukang parkir turun tangan mengatur barisan yang ada.


Cekrek! Cekrek!


"Aduh makasih. Mbaknya baik banget masih mau di sini."


"Hehe.." kekeh Jihan sambil menggiring rambut.


"Maaf fotonya sekali saja, ya Bu. Yang lain masih menunggu," pinta tukang parkir, bermaksud mengingatkan ibu itu agar tidak mengajak Jihan mengobrol. "Mari, Pak. Silahkan gilirannya."

__ADS_1


Eaa.. 😄ternyata ada om om yang juga ikutan fotbar.


"Tolong fotoin ya," pinta bapak ini sambil memberikan hapenya pada tukang parkir, lalu segera berdiri di sebelah Jihan.


Jihan biarkan bapak itu merangkul pundaknya.


Cekrek!


"Yess!" hepi pria gendut selesai diabadikan di sebelah Jihan. "Terimakasih."


"Silahkan yang lain. Maju.."


Di meja situ, Billi dan Tukang Catet turut duduk menunggu. Billa mengobrol dengan para bocah di temani tukang sate yang sudah berpakaian batik ala tamu undangan.


"Kau tidak memberitahu orangtuamu, Helen?"


"Udah Bu Eli. Helen dibawa ke orang pinter buat diliat. Terus kata dukun itu Helen jarang belajar."


"Apa sosok yang kamu ingini ini pernah bicara padamu?"


"Belum Bu. Makanya Helen pengen sekali punya bodiguard yang keren. Pengen dianterin ke sekolah."


"Bagaimana jika dianterin dengan bodiguard yang sederhana ini? Kau mau?"


"Huaa.. aaa! Iya!! Hiks!"


Orang-orang sempat teralih perhatiannya dengan suara bising Helen.


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2