Jihan

Jihan
chapter up 56


__ADS_3

"Tau gini, gue bawa cemilan di meja kapal," komen Jihan memandangi objek. "Reptil sungai pastinya nih."


Di pos-bayangan tersebut, kemudian Jihan dapati tinggal dirinya dan dua pemuda, Prita dan Bandana sudah jalan menuju gedung apartemen dikawal si penyambut.


"Baunya bikin laper gini.." lamun Jihan pada sate ular yang dipandangi.


"Bienvenue au poste du refuge, Mademoiselle."


- Selamat datang di pos penampungan, Nona


"Ehh."


"Nous sommes des gardes postaux. Bienvenue."


- Kami adalah penjaga pos. Selamat datang


"I-iya. Wanginya enak. Jadi laper liat kalian bakar-bakar."


"Bienvenue. Ne t'infecte pas."


- Selamat datang. Jangan sampai terinfeksi


"I-iya."


Jihan anggukan tanpa peduli arti ucapan si pemuda. Dengan wajah masih gugup, Jihan pamit pada mereka berdua, karena dilihatnya, Prita makin jauh dan sudah masuk ke gedung apartemen.


"Ka tu sa, le tang tu. Ka kan lan berja," kata si penjaga pos saat berpas-pasan dengan Jihan di jalan, tangannya menunjuk ke belakang badan, ke arah lawang gedung yang sedang mengganga.


- kamu turun saja, lewat tangga batu. Kami akan lanjut berjaga


"Iya."


Sampai di dalam bangunan, Jihan dapati warga Prancis banyak pakai selimut dan membawa obor. Beberapa orang terlihat aneh, ada yang bertanduk, bermata satu, berjari banyak, mereka tidak ada yang mengobrol selain makan dan berjalan-jalan, naik dan turun tangga.


Jihan mendapati Bandana yang datang menyusulnya. "Cepatlah. Kau menunggu apa?"


Entah tempat apa, pemandangan yang ada masih begitu asing di mata Jihan. Maka dia tidak lagi berlama-lama bingung di situ, di tengah orang-orang sendu dan gabut tersebut.


"Mereka menunggu kita Jihan."


"Iya," sahut Jihan, bergegas memijak anak tangga, memasuki area basement.


Di ruang berkasur banyak, bangsal para pengidap mutasi, dekat petugas, Bandana mengambil serum lewat wormhole untuk mengobati racun McWell yang banyak diidap warga underground, serum tersebut dipotret capung Prita untuk dokumentasi.


Bandana berikan tabung kaca pada pria berjas putih setelah botol tersebut selesai difoto.


Sang dokter meneneteskan air-hitam, serum yang mereka bahas, diujicobakan langsung pada orang yang berbaring di ranjang.


"Lo namain obat pake title yang sulit gue inget.


Gv675 B64-McW.


Dengerin deh komennya."


"Apa emang plat mobil ya, Mbak?" tanya Jihan, menyambung dialog yang dipinta. " Gue ingetnya sih, pulsa gosok."


"Apalah arti sebuah nama," resah Bandana, membela diri dengan penetral topik.


"Kita sebut nih serum Irpon aja. Ir-pon, Air Ponari."


Mereka berdiskusi sambil menunggu efek dari obat yang namanya masih diributkan. Pasien masih tertidur.


Penderita mutasi lainnya sama koma di pembaringan mereka. DNA para pasien seperti 'diretas', kesadaran mereka jadi hilang sementara waktu. Prita membawa Bandana ke sini untuk menyidik kelainan 'blueprint' yang ada, membongkar DNA si pengidap.


Grrrth!! Krrtth..


Sisik di kening pasien mulai bergejala. Korban mengaduh pelan, tapi tangannya terlihat masih lemas, tampak ingin memijat kepalanya, namun batal. Tangan si pasien terjatuh lagi seperti mati rasa.


Pria yang meneteskan serum menghela nafas, dia memberikan serum pada asistennya. "Gardez ceci pour la production de masse. Donnez-le au pharmacien."


- Simpan ini untuk diproduksi massal. Berikan ke petugas farmasi


"Quel nom donnez-vous à ce médicament?" tanya Prita, masih belum setuju dengan nama obat yang mirip kode gosok tersebut.


- Kalian beri nama apa untuk obat ini?


"Pour apprécier le compounder, cela ne nous dérangera pas," kata bapak ber-id card spécialiste en génétique, dia tetap fokus menempelkan alat berjarum ke tangan pasien.


- Untuk menghargai pembuatnya, kami takkan permasalahkan hal itu


Jihan menatap foto yang tercetak di kartu indentitas sang dokter. Di situ juga tertera nama dan pekerjaan orangnya. "Spesialis DNA. Kiraen dokter medis."


"Ugh.." lenguh pasien saat sudah siuman. "Mon fils... mon fils... est devenu un monstre."


"Hello. Welcome back," sapa Jihan saat beralih fokus.


Prita menyikut Jihan, dia menatap judes, wajah si agen menegas dan sangar. Jihan hanya memainkan bibir, berekpresi meledeknya. "Wuwu.. wu!"


"Nous devons le voir dans ma chambre," kata dokter, meninggalkan tempat membawa alat yang dibicarakan.


- Kita bisa melihatnya di ruangku


Ketiga tamu mengikuti bapak tersebut, karena sudah ada perawat yang datang dan memberikan gelas pada pasien, bagian yang mengurusi kesehatan medis.


"Calmer," pinta si mbak nurse, membantu pasien memegang gelas.


Di ruang lab sang pakar, banyak genset listrik. Suara dan bunyi mesin-bertangki tak menggangu aktivitas tim lab, Jihan lihat ada dua pembantu dokter yang tetap sibuk mengintip sample darah lewat mikroskop, membiarkan Prita dan Bandana sibuk bersama senior genetika.


Tiddit-tiddit!


Saat mengamat ruangan, kuping Jihan menangkap bunyi alarm. Dia lihat pergelangan, di situ smoke-note menambahkan jarum merahnya lagi.


"Hhh. Gue ada tugas juga nih."


"Penjaga serumku. Qina dan Qini," beritahu Bandana.


"Pastinya anak buah lo masih ultimate. Hadeh, mana di kampung orang, lagi. Ya udah. Terusin kerjanya. Gue cabut dulu."


Tanpa menunggu jawaban, Jihan berjalan keluar lab, menghampiri pintu, tato neon di tangannya mendeteksi dua paradok baru, dia pun melangkah tergesa melewati orang-orang Prancis yang gabut di depan ruang lab. Paradoknya mungkin akan barbar lagi demi tujuan mereka, segera Jihan percepat gerak kakinya begitu menapaki anak tangga.


Jihan lihat sekilas, para penderita mutasi di ruang masuk masih aman, tak ada kepanikan. Dia dibuat penasaran oleh paradoknya, bertanya-tanya apa Qina dan Qini takut tertular hingga mereka pilih menunggu dirinya datang, beraksi di luar apartemen.


"Ngapain sih pada ke mari, kalo gue jadi gak tenang gini," gerutu Jihan. ".. soal ngaran serum. Mereka nih gak gigit."


Di luar bangunan, ternyata tempat sudah sepi, sudah tidak ada penjaga pos.


Jihan segera menghampiri bonfire pos sebab ada satu senapan tergeletak di sana.


Dziing!


Jeguurh..!!


"Njrit.." kaget Jihan, baru jalan beberapa tapak, tanah sudah terjejak kawah saat dirinya berhasil menghindar tembakan. "Apa mereka juga ditembak?"


Saat menyapu pandangan ke sekitar, wajah Jihan berubah serius, penembaknya belum didapati, dan tetap fokus mengawasi arah datangnya tembakan.


Saat Jihan tengadah..


Clikh! Laser dinyalakan, menyoroti pertengahan alis Jihan, membidik kening.


"Gv675 B64-McW. Kau tak membawanya Jihan. Maka empat kepala benar-benar kalian biarkan, dipecahkan," kata gadis berjas putih, tampak kontras dengan benda yang ada di tangannya, karena bukan alat lab, tapi senjata rampasan, dirinya pun tetap mengambang di udara.


Jihan mengangkat dua tangannya, si penodongnya terlingkar laser merah di bagian kepala. "Nih tanah orang, kalo kalian emang butuh voucher.."


"Aaaa... aaa!!"

__ADS_1


Kalimat terhenti, Jihan mendengar erangan laki-laki yang sedang kesakitan, dan sumber suara seperti datang dari arah gedung penampungan.


"Kami tidak perlu dengar pengganti Sule sepertimu. Bawa Gv675 B64-McW padaku jika ingin keselamatan," pinta gadis ini membidik telinga Jihan dengan laser Arc, tidak bergeser-geser lagi di kala tubuhnya sedang berayun-sampan mengudara.


"Hhh, baca punggung gue. Kalo mau nembak, silahkan," serah Jihan, niatnya santai terpaksa diurungkan. "Gue juga serius."


"Takkan lagi ada segan untukmu, Origins."


Dziing!!


Gcrraatt!!


JGURR!! Kepala Jihan meledak usai kupingnya ditembus sinar putih.


Bruugh..!! Badan korban pun ambruk menghantam tanah taman.


"Dan itulah remnant-mu, Curang," tatap Penembak membiarkan suara bertalu-talu terdengar di bawahnya, abai dengan perkelahian yang ada.


Dukh! Bukh!


Set! Djigh..!


Wuutts! Dziig-dziig!!


Buugh!!


Sree.. seett!


Saat badan sudah mulai berasap, mayat Jihan pun kemudian hilang bersama seragamnya. Tiba-tiba bekas di situ tergesek tubuh yang sama, hingga menjejakkan bekas seretan mirip tanda ban kendaraan yang direm.


Saat berhenti dan terbaring, Jihan sentak dua kakinya, dia langsung berdiri, stand up meniru Bruce Lee, lalu ada tembakan mendatanginya, Jihan segera menghindar ke samping.


Syuuutt..!!


Jeguurh!!


Set..


Lagi-lagi Jihan diserang, saat tubuhnya sedang melayang di sebelah kembang ledakan, gadis lab lainnya sudah menunggu di belakang, lalu dengan tenangnya, punggung Jihan dicekal jari hingga tembus ke tulang.


Krraakkh..


Lawan langsung mencabut tulang belakang korbannya.


Ssrrakh!!


Sswwuutt!! Buncah ledakan tiba-tiba susut, batal terjadi.


Gbruugh..! Tubuh Jihan jatuh tak bergerak lagi, punggungnya sudah terbelah, menampakkan daging dan darah segar.


"Tak ada getaran."


Tulang yang dipegang kemudian dilempar sekenanya ke tubuh Jihan.


Pruugh!


"Tidak demikian. Kau belum mengenal Origins."


"Qina. Sudahlah. Aku malas berhadapan dengan para culun. Kita beritahu saja Qinetik. Biar dia yang mengurus sendiri ramuanya."


"Itu pilihan bodoh. Biar Qinetik fokus di tanah air demi astraler wahid itu. Jangan membuatnya marah Qini Today."


"Bukankah dia ingin kita melapor secepatnya?"


"Jangan bodoh Adikku Sayang. Saat pertarungannya terganggu, saat selesai nanti, kita akan celaka."


"Aku ingin Chiffon-ku! Untuk pertarunganku dengan Origins jika nanti aku bertemu dengannya."


"Fokuslah dahulu mencari kandidat adikmu. Atau kau lawanlah dulu Qinetik. Aku akan setia padamu jika dia mati."


"Kau takkan menang dengan gerakmu itu. Radius kinetik-nya menjangkau kejauhan. Lupakan Chiffon-mu."


"Majikanmu membuatku kesal."


Set!!


Qina menoleh saat adiknya berkelebat. Dia mendapati Qini sedang mencekik pejaga pos.


"Pharmacie! Où sont-ils?!" teriak Qini, to the point.


- Farmasi! Di mana mereka?!


"Bagus. Aku menyukaimu Adik. Cabut jantungnya!"


"Je.. ne dirai pas.."


- tak.. kan.. kukatakan.."


Ada alat seperti mic terpasang, suara si pemuda jadi lebih keras, namun kini sedang tercekat.


"Njir, napa gak kepikiran, sandera dibekap di situ. Kiraen jerit pasien."


"Baik, tenanglah di alam barumu patriot," ucap Qini merapatkan jari-jari, siap pakai, orang dia cekal masih berdiri dengan tangan terikat di belakang.


Set! Jlebh!


Krakh! Tulang rusuk korban patah. Tangan Qini begitu mudahnya tembus masuk ke dada si petugas pos.


"Aakkh!!"


Srratth! Dada terpencar pecahan paru-paru dan cairan merah saat Qini menarik tangannya lagi, menuluskan permintaan sang kakak.


Bruugh!! Mayat langsung Qini lepaskan.


"Perlihatkan tanganmu Qini," pinta Qina, mengintip kepalan tangan adiknya lewat scope bedil.


"Tunggu!" seru Qini. "Hhh, hhh... "


"Hei, kau kenapa Qini?" tanya Qina, batal membidik demi kegundahan temannya. "Aku harus tetap melatih kecepatanmu. Bukalah telapakmu, Qini Today. Ada apa?"


"Hhh, hhh.. entahlah," resah Qini, tangannya tampak bergetaran memegangi jantung yang terjuntai banyak pembuluh.


"Buka tanganmu itu kataku. Kau dengar? Itu tetesan darah yang paling kau sukai."


"Hhh, hhh! Diam!"


"...?!"


Qina makin kebingungan dengan wajah Qini, karena sahabatnya mendadak pucat berkeringat.


"Hiikkh..!! What happened with my hand.." sedih Qini menangis. "Uhuh!! Huhuu.."


Krii.. ningg!!


"Aaa!!"


Qini terkejut hingga benda yang dipegangnya terjatuh dan berdering.


Plukh!!


Ning! Ning! Ning! Ning!


Dziing! Dziing..!


Getrakkh!!

__ADS_1


Jam weker di tanah langsung patah berkeping-keping.


"Apa-apaan.. ini?" tanya Penembak, karena matanya mendapati benda betulan, bukan daging, pecahan terintip berserakan, ada sisa batere yang hangus.


Teropong lalu diarahkan ke mayat, wajah yang didapatinya bukan laki-laki, bahakan sang mayat menyapa lewat isyarat tangan.


"Hai, Qina.." kata Jihan terbaring sambil menggoyangkan tangannya, membiarkan sorot laser yang ada. "Bedil lo nyilau-in."


"Hhh, hhh, hhh... kau.. Origins.." ucap Qina, dia tiba-tiba terengah-engah dan tangannya bergetaran melihat Jihan santai rebahan berbantal tubuh sanderanya.


Dziing! Craaattt!


Zwaatt..!!


Tubuh Qina lemas melayang turun.


Bruugh!!


Qina jatuh dengan kepala sudah ditutup helm.


"Ehh."


Jihan menoleh ke sebelahnya, di situ sudah ada sepasang kaki lain, bersepatu sama dengan sepatunya.


"Hhmpp!! Hmmp!"


"Jim, denger, dia minta tolong, bukan ditidurin gini. Gak ada kerjaan.." kata Prita memungut kotak blangkar dekat kepingan weker.


"Hadeh.. Lagi," timpal Jihan dengan mata mengantuk.


Prita pergi meninggalkan tempat, menuju lokasi Qina jatuh, tak mau berkata-kata lagi pada Jimi-nya.


"Kau menyingkirlah Jihan, aku harus buka ikatan mereka."


"Hhh.." lemas Jihan, sudah tahu pemilik suara di situ. "Kalian dah beres?"


"Hmmp!!" deru pemuda yang ditindih Jihan.


"Cepatlah. Mereka sangat takut."


Jihan segera beranjak berdiri, menyudahi kegiatan santainya, mengerutu merasa diganggu. "Huh, serah kalian deh. Sandera aman, dibilang kritis."


Si Santai menepuk-nepuk celana perangnya, Jihan juga lalu merapikan rambut. Tidak diketahui gelang karet dari mana, dia sedang menggigitnya saat sibuk begitu.


"Jihan, bila kau menyayangi jins-mu, kau harus peduli situasi alam-nya. Karena bila panggung ini musnah, kau takkan lagi melihat dirimu itu," kata Bandana sambil membuka ikatan di pergelangan penjaga pos.


"Hu-umm."


"Merci," kata petugas jaga.


- Terima kasih


Sementara tiga orang lainnya masih memijat-mijat tubuh mereka, tinggal leadernya yang kebingungan mencari senapan. Untunglah Prita sudah selesai 'mengemas' paradok, dia datang mengasongkan Arc padanya.


"Merci."


"Nous devons nous diriger vers le sud-est maintenant."


- Kami harus ke tenggara sekarang


"Comment va Mlle Marcelina?"


- Bagaimana kabar Marcelina?


"Pendant le traitement."


"Marcelina? Do you mean, does the person you ask wear a vest?" tanya Jihan, memeragakan model baju, lalu tangannya menirukan aksi Marcel mengambil pil dan menggenggamnya.


"Yes, that her!"


"Oh. Marcel is okay. Is awake."


"Nous voulons apprendre à l'utiliser de lui," kata si pemuda sambil mengangkat Arc yang dipegangnya.


"Ehh, umm.." bingung Jihan.


"Dia berkata apa ya Rin?"


Kami ingin belajar menggunakan ini darinya


"Translate, akan kusampaikan pada Marcel."


je lui transmettrai


"Je lui transmettrai. I'll pass it on to him."


"Si!!" hormat petugas pos, diikuti teman-temannya.


Jihan tidak mendapati Prita dan Bandana, mereka sudah jauh meninggalkan pos, berjalan kaki di arah jam lima.


"Okay. I go. See all of you. Bye."


"Sii!" tegas leader pos, menegapkan badannya lagi.


".. aku tak yakin dua pengikutku mengerti. Mereka ingin pertarungan."


Jihan yang baru menjajari langkah, turut menyimak kalimat Bandana.


"Gue bisa atasin nanti. Gak usah cemas. Kotak blangkar cuma scanner, gak ngerusak memori. Cuma nambah durasi pingsan bawahan lo, Qin," jawab Prita.


"Aku tahu."


Ketiganya mulai menapaki kawasan kota. Penerangan yang aktif diemban oleh capung-pemotret yang masih setia melayang dekat empunya (Prita).


Jihan tampak abai begitu tahu inti obrolan dua temannya. Matanya lebih suka mengawasi tempat yang sedang mereka lalui. Karena di situ gelap, juga ada tumbuhan serabut di mana-mana, mobil-mobil berkarat, jalan aspal sudah banyak retak dan rumput. Pemandangan tersebut mengingatkan dirinya pada siskon di kampung halaman saat terpisah dari Qorin, sendirian di kegelapan.


"Paris gini amat.. ke mana orang-orangnya. Apa dibunuh semua, sama si Jilect?"


"Siapa maksudmu?" tanya Qinetik.


"Salah satu dari kalian. Mungkin bos elo, bisa juga gue yang laen, yang versi kanibalnya."


"Ada jejak RPM dalam DNA. Tanda dari Penyuruh-ku. Tapi perimeter belum dipertimbangkan, secara akurat."


"Gue gak bawa rapider," sela Prita. "Pengukurnya."


"Pake qorin gue aja, bisa gak tuh?"


"Gak aman di luaran sini."


"Jadi kudu ngukur RPM di mana?"


"Kita akan ke laboratorium-ku, Jihan."


"Napak tilas.. gini. Apa emang deket tempatnya?"


"Lo gak laper apa?" serobot Prita.


"Ouh.. pada mau makan dulu. Boleh deh. Inilah adventure dream sesungguhnya."


"Tapi dunia kuantum lo nih, lagi darurat datanya, Jim. Serius dikit, driver lo sampe sibuk banget."


"Ya. Gue tau Mbak. Bentar lagi masuk jam ashar."


"Ntar gantian. Paradok lo lagi diburu Ekor Melar. Rapider paling cepat satu jam, harus ada yang jagain perimeter."

__ADS_1


"Iya. Iya..!"


__ADS_2