Jihan

Jihan
chapter up 92


__ADS_3

Siapa gerangan yang menyerang Jihan? Korban masih dikepo, Jihan sendiri bertanya-tanya.


"Lo penanggungjawab? Mari kita bicara. Maaf kalo tadi gue ngawur. Lo gak usah niru almarhum gue, diem-diem jedar ngadu domba gue sama bini dia. Lo gak suka kami?"


Sekitar masih sepi, Jihan sudah turun dari "sofa" batu, menyapu matanya ke sekeliling sambil berbicara.


Tempat atau sebutlah Permukaan, makin hening. Luasnya persis stadion. Tidak ada tribun karena di batas sana, kaki bukit, adalah benteng panjang setinggi fly over.


Jihan juga masih bingung dengan kondisi waktu yang sedang mendung, diajak main petak umpet. Dia tak melihat kelebatan lagi, tak mendeteksi ancaman. Jihan berharap ada serangan lagi.


"Kalo gak suka, lawan kami."


Jihan tengok kanan, tengok kiri masih tak ada tanda-tanda. Dirinya segera melangkah menuju menara tanpa mengawas. Jihan mirip orang kesasar di kawasan agak apocalypse ini.


"Percuma juga gue ngomong, dah diblokir."


Jihan baru saja melewati bayang fatamorgana di dekatnya, namun dirinya tak menyadari.


Swwrrrth!!


"Ehh.."


Jihan menoleh ke kiri, di situ sudah berdiri sosok hitam berparuh burung, dia inilah Raven bersama tombak saktinya. Ada dua sayap kecil di punggungnya. Dia juga berpayudara.


Jihan menatap sosok hantu wanita tersebut. Manusia Gagak segera melepas topeng, menundukkan kepalanya. Jihan suprise setelah melihat wajah di balik topeng Raven.


"Kak Kisye?"


"Aku pendahulunya. Kau bersama drivermu?"


"Umm.. Kenapa?"


Begh!!


Swuung!


Jihan terpental miring ke arah menara begitu Raven mengayunkan tongkatnya.


Bruaakh!! Dinding mercusuar kembali jebol dihantam tubuh Jihan. Pecahan material terhambur ke dalam ruangan. Namun saking "ringan"nya beban yang menabrak, tembok seberang turut jebol hingga bolongnya terlihat menampakkan awan dan langit.


Bruugh..!!


Jihan jatuh dekat barak penjaga yang berukuran agak besar. Posisinya telungkup. Auranya menipis kemudian hilang. Jihan bergerak bangkit, menepuk-nepuk celana dan kaosnya.


"...??"


Jihan terdiam mendapati pakaiannya masih bersih. Dia juga meraba rambutnya. Jihan lihat tangannya demi rasa kepo yang ada, ternyata seperti yang disangkanya, rambut pun bebas debu.


"Napa cuma gelap doang? Gak pake lama, udah di sini.."


Set..!


Raven berhenti di depan Jihan dari kelebatnya, pindah bagai patung kilat. Dia mungkin sudah tahu korbannya tak bisa dilumpuhkan. Raven diam menunggu.


"Jawab dulu masalah gue. Napa kalian nyulik orang-orang, ngejajah bangsanya sendiri?"


"Kau ingin tahu? Biar gue pake bahasa sleng jawabnya. Paradok lo ngancurin rumah kami.


Kalo elo lagi sama driver, gue pengen tau soal bola bikinannya. Nampakin dia, biar gue yang bahasain pake kalimat dia."


"Sayang banget.."


"..??!" Raven menatap dengan raut kepo.


"Dia sibuk. Lo bilang rumah kalian ancur. Apa hubungannya sama warga kampung dan Gizi?"


"Kami emang pengen gretong. Permukaan masih butuh tenaga. Gue juga harus segel garis waktu biar rumah bebas gempa. Bola dia jawabannya."


"Oh kalian hater paradok gue? Mo sewa Gizi? Lo qarrat? "


"Si anj*ng Keset (Kisye) pasti ngumbar banyak keburukan gue ke lo. Dasar elo-nya juga muka ta*i, percaya mereka gitu aja."


"Lo sendiri muka sajen. Biar tampang gue kebo, ati gue tetep ngehargai lo yang kebawa arus. Lo ada di kelas penjajah, para rebel, tukang rusuh, yang paling berontak tanpa otak.."


Bugh!!


Raven melemparkan Jihan dengan senjatanya selayak orang yang langsung menampar.


Jihan terpental ke dinding pagar, cukup jauh karena mungkin dipukul lebih kuat. Raven melesat ke arah yang sama.


Wuutts!


Bruugh!! Dinding tampak legok saat ditumbuk pundak lusid, retakannya persis tembok yang dihantam ujung kayu ukuran pohon.


Ckitt..!


Kali ini Raven melesat karena gusar.


"Lancang banget mulut lo, manusia. Bukannya lo juga ngerusak Internal pake sihir lo itu? Sekolahin tuh mulut, Anj*ng."


"Hhh.. pantes guenya kebal, lagi ngadepin angin lewat."


Raven melempar tongkat. Seketika Jihan geser badan hingga benda tersebut sudah menancap ke tembok, dekat telinganya. Raven meraih kaki Jihan.


"E-ehh.."


Tanpa senjata, Raven tetap main kasar, dia langsung membanting Jihan ke tanah gaya abang martabak.


Brugh! Brugh! Brugh!


Jihan seperti pakaian yang dicuci supir truk di batu sungai. Dengan mudahnya, Raven lampiaskan semua kemarahan. Jihan tak ubahnya seperti boneka plastik berisi batu.


Brugh!


Brugh!


Brugh!


Tanah kering itu menghamburkan serpihannya, hancur dihantam-hantam, legoknya makin dalam saking cepatnya gerakan yang berlangsung di situ.


"Eeurghh!"


Raven banting korbannya ke dinding benteng.


BRUUAKKH!!


Bata-bata berterbangan dari tempatnya. Tampak rapuh ditumbuk suatu yang lebih keras. Dan benteng ternyata tak berisi alias hanya ruangan panjang, Jihan dilempar ke dalam situ.


Raven ambil tongkatnya. "Keluar lo! Bisanya ngebacot. Keluar lo anj*ng!"


Raven ternyata sensitif saat jalan hidupnya dibahas.


Jihan sudah merapatkan punggung di sebelah lubang dinding, sembunyi.


"Sok nasionalis. Kalian sama tololnya, pada arogan. Gak usah ikut campurlah kita ngapa-ngapain orang. Keluar!"

__ADS_1


"Hhh.. salah gue juga, njir.. nyuruh dia nongol.."


Jihan kini pilih diam, menguping.


Raven tampaknya sudah siap dengan dirinya, minta Jihan keluar. Tapi entah kenapa, dia seolah tak mau masuk. Raven masih berkata-kata dekat bolong tersebut.


Jihan mencoba mengintip saat Raven berhenti bicara. Dia sedikit mencondongkan badannya. Tapi kemudian, Jihan langsung tegap lagi karena Raven masih di situ, bayangannya terlihat.


"Apa kami ngusik kalean, ngendap-ngendap di Snail, nyuri alat? Songong lo pada, mentang-mentang Luna dah mihak kalean. Hhh.. hhh, hhh.."


Raven mondar-mandir meluapkan kekesalannya. Mungkin memang sudah muak melihat wajah judes ke-mafia-an, hadir lagi di kehidupannya. Raven lanjut bicara, mengingat paradok sang lusid, menghancur markas mereka.


"Liat sendiri penanganan dewan ngadepin paradok lo. Hhh.. hhh.. Liat sama kalian kerja pemerintah nangenin pandemi.. gak becus!"


"Kurang ajar.. bawa-bawa.. presiden.."


Swuutth!! Gtakh!


Rrrrrh..!!


Jihan menaikan dua bahunya. Dia mendapati tongkat Raven sudah bergetaran di tembok seberang, dilempar pemiliknya dengan sangat emosional.


Selain pemukul, tongkat tersebut pernah beradu dengan Ray, si lembing baja masih mulus tak ada "lecet". Wajah Jihan sedikit lembab berkeringat, mulai merinding dengan keseriusan empunya.


"Keluar!! Adepin gue! J*lang!"


Jihan memejamkan mata berharap luapan Raven cepat selesai. "Ya Allah.. makin panas gini.. sori, gue gak tau.. Ck!"


Tapi ternyata Raven sudah masuk, sedang berdiri di dekat Jihan. Gawat. Jihan langsung cabut sebelumnya Raven memergokinya.


Raven yang memang awas, sigap mencengkram pundak Jihan, langsung menarik ke lantai saat korban berhasil dicekal.


"E-ehh..!"


Breegh!


Jihan yang dibaringkan, lanjut dinaiki sang qarrat. Raven segera tinju mulut Jihan saat korbannya minta tunggu.


Bukh!! Bukh!


Bukh!


Bukh! Bukh! Bukh!!


Pecahan lantai terhambur-hambur di situ saking kerasnya dua "lapis" beradu. Lantai rusak dan jadi legokan karena kepala Jihan sedang dibenamkan.


"Rav, ka dah dike. Ka dah dik ka wa."


- Raven, mereka sudah dikepung. Kami sudah membidik mereka semua


Suara Kisye lainnya datang memberitahu, gadis tersebut memegang senapan mirip Arc-nya Marcel.


"Hhh.. Hhh..! Semuanya?" tanya Raven pada anak buahnya yang berwajah sama.


"Yes Sir."


Jihan kembali memejam mata begitu Raven meliriknya, pura-pura pingsan karena mungkin diamnya itu yang Raven ingin.


Raven berdiri dan langsung meludahi wajah Jihan. Airnya menciprat di kening sang lusid.


Di luar sini ternyata sudah bejibun, banyak orang-orang yang sedang mengangkat dua tangannya. Mereka warga kampung Bukit yang berhasil keluar tapi dihadang ratusan gadis berpakaian rebel, preman-preman bersenjata.


Paling depan, tampak Marcel, Gamma dan Monika masing-masing ditodong oleh tiga qarrat kembar 17 tahun.


Tak hanya di situ, Marcel juga melihat ada barisan sniper di kejauhan. Garis penembak runduk ini formasinya menyebar, mengurung kawasan. Puluhan qarrat 24 tahun.


Dukh!!


Kisye menggetok kepala Marcel.


"Akhh!"


Marcel meringis menahan sakit di kulit kepala, benda yang menghantamnya tampak khusus, gagang bedil tersebut memang sedang menyala putih.


"Kakak!!" teriak Monika, para qarrat segera sigap karena bocah ini bergerak.


Set!


Brugh!


Monika jatuh ditengkas qarrat yang menjaganya.


"Am!" pinta si penendang tak kalah keras, sambil menempelkan moncong senapan pada kepala Monika.


- Diam!


Di sini salah satu qarrat perunduk ganti arah, kembali membidik Marcel. Senapannya bening, sesekali bercahaya, tak terlihat, fisik bedil seperti berdenyutan citranya. Reinita model ini tak menyadari ada bocah F1 sedang mengapung di belakangnya.


"Wasi di."


- Awasi dia


Sesampainya di belakang brikade senapan, Raven meminta anak buahnya fokus ke lusid yang dia seret. Satu qarrat sedang membawa tongkat-nya, beberapa qarrat lainnya cepat menurut dan mengganti nyala senapan, langsung mengerubungi Jihan yang sedang rebah tak berdaya.


Berikade menyingkir, memberi jalan pada Raven. Mereka kembali merapatkan barisannya di area parkir dozer ini. Formasi lainnya siaga di kiri kanan brikade, ada yang jongkok di atap barak, ada yang membidik di atas mesin pengeruk, tersebar acak.


Raven sudan berdiri di depan Marcel tanpa lepas dari kesibukannya memasang sarung tangan.


Marcel masih terlekuk dua kakinya, efek dari pukulan tadi. Dia remas rambutnya demi menahan dampak "cahaya" yang masih bersarang mengganggu kesadaran.


"Catatan lama. Aku biarkan dia (Camar) bermain, menunjukkan apa yang kami bangun. Kau benar-benar datang dengan undanganku ini, Mercy."


"Tikan saanmu, Rav. Lep ka," kata Gamma yang masih mengangkat dua tangan.


- Hentikan paksaanmu, Raven. Lepasin mereka.


Raven meraih rambut Marcel, abai dengan permintaan Gamma. Glove rubber tersebut membuat Marcel mengerang, sudah persis batu kryptonite-nya Superman. Raven biarkan tangan Marcel memegangi sarung tangannya.


"Sampah peradaban. Kau merasa berhak di alam kami ini, Mercy?"


"Euggh..!! Aakkhh!"


Grrtth..!! Hidung Marcel berair merah, wajahnya meringis seperti tercekat oleh tali, darahnya seperti naik menggumpal di kepala.


"Rav! Dia berhak!"


Bukh!!


Gucraat!!


Kepala Gamma mendadak ditotor, seketika kulit kepalanya robek, memancarkan darah.


Glowing biru untuknya itu mungkin kryptonite-nya lusid, warna senjata si pemukul sama dengan bedil yang diarahkan pada Jihan.


Gamma jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Eeuugh!! Fuuh..!! Hhh! Hhh!!"


Raven biarkan ludah Marcel mengaliri kelopak matanya. Hangat. Raven menikmati kemarahan si petapa.


Di posisi rebahnya, Jihan diam. Lima qarrat yang mengerubungi, salah satunya menendang demi mencari tahu. Tubuh Jihan tak merespon bak boneka karet, masih terkulai.


Di situ Jihan mendengar jeritan si teman. Mendengar orang yang disayanginya kesakitan, detik ini Jihan menahan diri jadi hero Marcel. Dalam hati sudah ingin berontak, dia ingin Raven berhenti menyuarakan Marcel.


"Aarhh..!!"


Erangan demi erangan terus terdengar. Jihan tak kuasa dengan suara terperihnya ini. Bulu kelopaknya pun tak lama basah, lalu menetes di sudut mata. Gebuk demi gebuk makin keras bunyinya.


Salah satu qarrat memberi isyarat, mengangguk pada si pemegang tongkat. Dia pun meneruskan pesan, menemui Raven. Mereka yang di sini tetap dalam siaganya.


"Hiks.. uhuhuu.. uuu.." deru Jihan, menangis di situ tanpa peduli dirinya sedang ditonton.


"Arrh..!!"


Jihan minta berhenti pada mereka yang menodong. Tangisannya makin menderu karena bunyi gebukan masih berlangsung. Sementara suara Marcel semakin sayup. Jihan mengulang permintaannya dengan pilu.


"Stoop.. Huu uuu... Stop! Hwaa...a aaa.."


Bukh.. Bukh..


"Arrh..!!"


"Beren.. tiii..!! Uuhuu.. huuuu.. Stop.. Raven.. Berentii..!!"


Mereka yang menonton putar knop senjata ke jarum maksimal, bersiap. Senapan mereka birunya bertambah terang.


Bukh..! Bukh..!


Di depan Raven, Marcel berdiri sempoyongan dengan sebelah matanya yang penuh darah. Wajahnya tak karuan. Raven pukul lagi kening si petapa.


Bukh!!


Jihan memanggil nama si teman, karena suaranya sudah tak ada.


"Hikk..!! Uhuu.. uhuuu.. Seeel..!! Hiks.. Huuu.. Stop.. Pliss.."


Brughh..!


Entah sudah berapa pukulan yang dilayangkan Raven untuk Marcel.


Sang astraler masih berdiri walau labil tak tentu arah menghadap. Dua tangan tampak mengantung-gantung, terlihat jempol kuku dia hitam yang artinya tak bisa berpedang. Orang-orang sudah mundur menjauhinya saking takut teraniaya.


Hyuu.. ung..


Bruugh!!


Dalam kelelahan luar biasa, akhir si gadis ambruk tak mampu berdiri lagi. Tiga perempuan langsung menghampir sambil menangis. Ibu-ibu tersebut Raven biarkan.


"Nak.. ba.. ba.. Nak! Huhuuu.. Nak!"


- Nak.. Bangun.. bangun.. Nak! Huhuu.. Nak!


Jihan diam dalam rebahnya, membiarkan qarrat menendang kaki. Dia menatap langit, sisa-sisa tangisnya masih tersenguk di dada. Jihan lalu ditendang badannya, dia masih diam tak mengerang.


"Am!!" teriak qarrat. "Takan! Di na Gizi!"


- Katakan! Di mana Gizi!


"Hiiks.. Hiks.." isak Jihan, pandangannya kosong, nanar bagai mayat. "Hiks.. hiks.."


Dada Jihan bertenggak-tengak. Mereka sudah tampak kesal menunggu, dirinya masih tak juga bangkit.


Salah satu dari mereka menggangguk ketika ditatap temannya, memberi ijin. Dia yang menendang-nendang Jihan, menodong kepala sandera, segera mengangkat satu kakinya.


Bekkh!!


Seketika wajah Jihan diinjak sepatu tanpa ampun. Bunyinya agak keras tanda si pelaku serius. Tapi..


Jihan masih diam terisak-isak. Penginjaknya mengamati dengan seksama tanpa melepaskan bidikannya. Dia menoleh pada ketua regunya, menggeleng kepala.


"Fire!" putus si ketua, geram dan kesal.


Sang anak buah menggangguk. Dia tampak tenang disentak pimpinan timnya.


Ngu.. uuunng!


"Ja!"


- Jangan!


Serentak mereka yang sedang berkerubung menodong sumber suara, tak lain gadis Paskibra. Kisye.


Mereka pun yang berserta dengan Kisye, sigap mengarahkan senjatanya. Enam lawan tujuh.


Kisye dengan cueknya datang sambil mendepak qarrat.


Daphh!!


Kisye taruh Spear yang dibawanya, mengangkat kepala Jihan.


"Jihan. Denger.. Jihan.. Nih bukan lo.. hentikan.. Berenti.. Hani.."


Yang disuruh, diam sengukan. "Hiks.. Hiks.. hiks!"


Kisye yang mengais tubuh Jihan, masih menunggu respon, karena mata sang lusid tampak kosong menatap langit. Kisye juga menepuk-nepuk pipi sang lusid.


"Hani..?"


"Hikk.. hiks.. hiks..!"


"Han..! Hee.. Hani! Berenti ga..? Hani!"


Jihan tetap terisak-isak. Wajahnya makin lembab memucat,sekujur tubuh tampak dingin.


Kisye menempelkan pipinya di kening sang lusid. Jihan tak sadarkan diri.


"Hiks.. hiks.. Hiks..!"


"Hani..! Hee.. berenti. Gak boleh gini.."


Kulit tangan Jihan turut memucat, Kisye meraba-raba. Dia beritahu tim-nya tentang suhu yang dia rasa dan dapatkan. "Negatif..! Alih ke plan dua!"


Mereka yang disuruh Kisye melesat ke arah Ibu-ibu yang masih membangunkan Marcel.


Sambil tetap memangku Jihan, Kisye berteriak pada Raven. "Raven!! Apaan nih, hah!! Kalian udah dilarang gini ke lusid!"


"Ahh, biarkan dia tahu, Keset. Hahaa... haha! Kami ingin uji senjata ini."


"Hiks.. hiks.. hiks!"


"Hani, maafin dia.. Berenti, Hani. Plis.."

__ADS_1


-


-


__ADS_2