Jihan

Jihan
chapter up 01


__ADS_3

Sejak hari udang-rebus itu Jihan harus menahan rindunya dengan makan di home sang kakak. Sedih, takut, malu jadi satu.


Di kamar sepulang dari Panti, Jihan juga urungkan niatnya mengirim pesan WA pada Marcel. Dia merengek sejadi-jadinya. Jihan sangat ingin, tapi masih kebingungan.


Hari Senin Jihan sibuki dirinya dengan mata kuliah yang sudah dipelajari tadi siang saat istirahat kerja. Dia tidak onmind ambil income seperti biasanya.


Jam belajar terjadwal selesai Maghrib, tapi kini Jihan majukan jam PR-nya jadi sore-sore.


Digh!


Jihan mendarat di ketinggian atap rumah. Dari basetime masuk ke bawah sadar, dia pasti jatuh memijak lapisan invisible sambil jongkok. Jihan juga terbebas dari hukum momentum dan impuls; kakinya utuh.


"Spear," sebut Jihan memanggil angkutan.


Sebatang besi datang menancap di lapisan tak kasat mata dengan suara khas, bunyi palu.


Thaang!!


Spear juga bisa dikatakan ang-kutan lusid, dapat mengantarkan penggunanya dari timeline ke Internal. Bahkan bisa langsung memulangkan lusid ke basetime tanpa perlu singgah di timeline terlebih dulu. Dia bisa membangunkan pemimpi dengan tiba-tiba.


Di dalam Escort atau gerbong kereta, sang angkutan langsung parkir di sudut ruangan. Besi stenlis tersebut bagai benda misterius kelas USO, untitled stay object. Hobi diam dan setia melayani pengguna jasanya.


Escort diadakan untuk memfasilitasi lusid, driver, dan seeder hingga penghuninya tersebut dapat leluasa mengekplorasi Internal di garis start ini.


Dekat pintu gerbong kamarnya, Jihan duduk di sebelah Gizi yang sedang menunggunya. Dia menerima selembar layar gulung transparan. Jihan mengamati 'kertas ajaib' tersebut, di situ sudah tercetak gambar dirinya tengah duduk memangku tubuh Marcel.


"Dia gak selemah ini nerima tembakan T-Rev," tatap Jihan ke arsipnya di A5.


"Gelombang yang musuh gunakan dapat menghilangkan kesadaran, menyerang pancaindera. Tingkat kerusakan setara dengan nilai wave di penutup tangan Raven, atau daya hisap nisanku, Tuan. Empat koma sembilan tujuh (4, 97) wraps ."


"Iya. Kalo value-nya genap lima riak ketauan lawan. Tapi segitu juga tetep aja sukses gini ngebunuh si Bebep," komen Jihan atas 'pingsan'nya Marcel di dalam simulator.


Di sebuah ruang khusus, yang di sebut kamar grey, Jihan duduk menunggu. Dia amati semua dinding dicat warna abu-abu, ada CCTV di sudut langit-langit ruangan. Jihan masih berpiyama.


Seorang sipir masuk memegangi bahu kanan Heart ke tengah Grey Room, membawakannya untuk Jihan. Suatu alat mirip rompi terpasang menancapi dada sang napi. Dia pernah dibawa ke Endfield dengan rompi yang sama, namun Jihan baru melihatnya. Setelah Heart duduk dengan malasnya, petugas pergi meninggalkan mereka berdua, menutup pintu dari luar.


Glikh!


"Heart, lo bakal gabut dua abad lagi. Lo bakal sedih karena tubuh Nia gak panjang umur. Dia menua di ruangan sana."


"Ya, aku tahu, Nature," kata Marcel eks mutant ini. "Kaulah yang membunuhnya."


"Itu urusan Nature laennya, Heart. Dia terus diperbudak sama Hoax. Gak mau diselametin gitulah, nolak komunitas. Itu resiko buat pelanggar timeline, dia juga malah ikutan lagi, melanggar protokol. Kami udah gak bisa lagi nolongin Nia. Apalagi Hoax yang emang badung. Nah biar dia tau sendiri sekarang gimana rasanya ada di penjara level internasional. Gak bakal setenang lo, di gua ini."


"Nia tak niat membunuh drivermu, Nature. Dia memberitahu kalian tentangnya (Hoax)."


"Apa komunitas salah nangkep, Heart? Udah dulu soal ini. Gue boleh tanya soal tubuh lo ini gak, Sel?"


Jihan menyodorkan kertas arsip sambil memutarkannya ke hadapan Heart dengan sebutan akrab. Heart memang tak jauh beda dengan wajah dan usia Marcel. Jihan diam bersandar memperhatikan bibir Heart.


Heart mengamati kertas kaku tersebut, menyentuh kening si petapa yang tampak masih mulus ketimbang badan. Tubuh di pangkuan sang lusid begitu banyak sayatan dan luka tembak. Heart segera duduk bersandar menatap foto ukuran LCD tersebut.


"Apa alasan kalian beraktivitas di jaman ini? Apakah ini Area Lima di homestay temanmu?"


"Iya, ngambil final chapter," jawab Jihan. "Mau sekalian nurunin kadar pubertas. Gue tau gimana rasanya. Yang beda mungkin alesan dia (Nia). Jujur, gue pengen tau, napa dia sampe tertarik sama elo, Heart?"


"Aku tak menua, Nature."


"Nih karena jantung lo tuh blueprint murni. Iya khan?"


"Nature, dengar. Dengan serum peredam ini, aku tak lagi dapat bebas mengakses xmatter. Masa tebusku belum dekat, dan tentunya bukan urusanmu.."


Heart meneruskan acaranya. Dia bahkan hapal cara mengoperasikan layar gulung. Heart putar video perang tersebut, menonton aksi dua kisser di A5. Heart tampak terlihat serius.


Jihan mengusap kulit tangan, menampakkan bintik cahaya di hastanya itu. Heart langsung teralih mata melihatnya.

__ADS_1


Heart mem-pause tayangan video dan menggulung monitor tersebut. Dia menaruhnya di meja. Heart menyandarkan badannya ke kursi sambil menatap Jihan, menunggu ditanya.


"Iya sih bukan urusan gue, Heart," kata Jihan sambil mengusap lagi kulit tanganya, menutup penampakan. "Yang ngepoin kejinakan lo ini. McWell laennya barbar dan liar. Lo kalem, mau tau, keliat bersahabat. Bahkan nyerah gitu aja, kesannya tuh.. lo sengaja deh biar cepet ketangkep gitu."


"Nay tak menangkapku, dia memberi dua pilihan. Serum ini dan temanmu (Marcel) itu."


"Apa pilihan kedua lo tuh maksudnya kematian lo, Heart? Tapi keliatannya Marcel belum ingin balik, belum mau idup dengan jantungmu ini. Kau radiasi yang numpang di pedangnya Hera bukan?"


"Benar. Langsung saja tanyakan perihal tanda di hastamu itu, Nature."


"Heart.."


"Kau bagian dari Kencana. Sama sepertiku. Setitik freewill. Aku radiasi, pemicu perubahan spontan. Aku yang serupa Gizi dan menginang di jasad kosong. Alammu sama di sini, Nature. Kau boleh menyebutku mediator."


"Jadi apa sih sebenernya nih terowongan, tempat asal lo itu?"


"Kau akan sepertiku saat mencari tahu langsung."


"Hhh.."


"Dulu aku di posisimu ini, Nature. Bahkan lima vockal itu pun tak bisa menjawab pertanyaanmu ini."


"Lo nih sok buntu. Belagak pribadi. Kau lebih tahu banyak soal Internal ketimbang Hoax. Atau gak mau dipaksa-paksa mungkin."


"Entah. Yang kuingat, isi Kencana itu, alam seberang. Tak ada sesuatu di balik titik freewill-mu. Kau mengintip, dirimu yang di seberang sana melakukan hal sama."


"Jadi tanda di tangan gue nih lensa kamera maksud lo? Lensa apa?"


"Entah. Kau boleh menamakan Kencana dengan sebutan itu. Dengar, Nature. Jika kau ingin menghapus tandamu ini, kau datang ke tampat yang salah."


"Boleh gue tau tempat delete yang lo maksud?"


"Dirimu."


"Oh ini sih bukan tempat, tapi pelaku."


"Gimana bisa cerita, gue baru aja ketemu lo."


"Kau akan kembali suatu hari dengan urusan yang sama. Aku menantikan hal itu, Nature."


Jihan menapaki lorong sel yang masih kosong. Dia menaiki tangga beton di ujung jalan tersebut memegang segulung layar. Lalu di lantai atas ternyata ubin sedang di-pel.


Jihan berhenti mencari permukaan kering untuk dipijak. Petugas yang ada mempersilahkan dia berjalan, bicara dengan bahasa Prancis. Dengan segan, Jihan mengangguk.


"I-iya.. Maafin ya," kata Jihan saat berada di depan si petugas, padahal kakinya sedang nyeker.


Jihan berdiri membaca sebuah name board di ruangan mirip museum. Ada awan yang terkurung di kotak kaca, dan di hadapannya itu gumpalan kabut bernama A5. Dia berada di pameran portal, ruang tempat wormhole dikoleksi.


Tok! Tokk!


Jihan lalu menoleh ke suara ketukan, dia sedang menunggu orang rupanya.


"Aneh kalo lusid dateng ke sini," kata si pengetuk kotak, berdiri di tengah lawang bersama Kunang Kunangnya yang tengah liak-liuk nyamuk.


Pemuda tersebut segera duduk begitu Jihan melihatnya.


"Oh, gitu. Lusid dari luar tim jarang kemari ya? Gue ada perlu sama kalian," kata Jihan sambil duduk di kursi konsultasi.


"Aku harus denger kalo menyangkut Panti, Han."


"Iya. Nih masih soal mereka."


Jihan menyodorkan gulungan yang dibawanya pada si jas putih, snailer dan dia datang sendirian karena heran mendapati Jihan di ruangan. Jihan masih melihat-lihat glass box demi menunggu snailer itu selesai memeriksa arsipnya.


"Kau mau ajukan healing buat learned?"

__ADS_1


"Ehh, umm.."


"Mereka emang menolak fiturnya. Biar inget terus pelajaran yang dicari. Kami tak bisa tuluskan nih, request-mu."


"Gue sebenernya.. umm.."


"Kamu disuruh dia (Marcel)?? Apa mo ikut ngembangin ranah?"


"Eh gak. Gue cuma mau nanya-nanya soal level tertinggi."


"Itu bisa dilihat di setting portal. Basic, expert, dan hell. Line yang dia atur di pertengahan."


"Gue bingungnya emang soal healing sih. Line apa yang Marcel atur?"


"Lini ahli. Kalo kalian ambil lini hell, tak boleh ada luka lecet."


"Gak keliat nerakanya."


"Belum kalo lolos dari tembakan, sayatan, atau tusukan. Semenit itu gak ada petapa yang bisa bertahan dari racun, formula buatanku. Kebanyakan ambil basic, maen sama musuh yang level dua puluh lima (25), setengahnya power musuh."


"Apa Marcel pernah ngambil lini hell?"


"Pernah sebanyak dua kali. Aku harus ke home -nya memastikan kadar area masih bersamanya atau tidak. Sterilisasi dimaksudkan supaya player gak addicted."


"Simpelnya gimana?"


"Biar player bisa tetap membedakan, mana simulasi, mana ekplorasi. Kadang aku harus minta pantauan khodam dan Ririn," kata si pengembang rumus sambil menunjukkan ibu jarinya yang tertutup "tinta".


"Jadi para learned menolak healing ya?"


"Ya begitulah."


"Gimana komentar lo soal nih arsip?"


"Aku denger ini bukan tubuh original dia, hanya xmatter biasa yang dikendalikan will-nya. Segitu aja udah mayan damage. Dia hitter (lihai, gesit). Kita akan tahu saat Marcel sudah menginang tubuh originalnya. Apa dapat mengontrol radiasi Kencana, kita belum tahu."


"Bro, gue baru dari Circlet, ketemu ori-nya. Heart bilang, gue lagi dia tungguin. Gitu katanya. Dia nungguin Marcel kali ya?"


"Kalo dia-"


"Assalamualaikum..!"


"Walaikumsalam," jawab Jihan dan si pemuda.


Ternyata ada tamu lagi yang berkunjung, perempuan sebaya anak SMA, dan masih berdiri di lawang ruangan.


"Ngng.. Masih lama ya Kak? Saya dari Panti, ada keperluan mau pasang area di homestay saya."


"Oh iya, nih gue udah kok. Sini duduk aja."


"Makasih Kak. Hehe.. Maaf digangguin."


"Gue udah beres. Slow aja," kata Jihan sambil menggulung layar. "Thanks ya, Bro. Kapan-kapan gue ke sini lagi kok. Yuk semua. Assalamualaikum.."


"Walaikumsalam."


Di kamar, badan Jihan agak tersentak, close-mind. Dia melamun di ranjang memikirkan apa yang baru didapatnya soal Marcel. Aktivitas tadi sudah lumayan mengobati rindunya. Jihan membalikkan posisi tubuh, menatap langit-langit.


"Hhh.. Nelpon gak, nelpon gak.. Hhh.. Dah jam sembilan aja. Takutnya dia dah ngebo."


Jihan diam membiarkan wangian Lavender mengudara di ruang kamar. Bingungnya masih melanda. Nomer yang dia dapatkan dari Ririn makin membuatnya tak tenang. Jihan kebingungan, apa yang dia inginkan sebenarnya.


"Huaa.. Marceeel.. hiks. Lo tuh nyebelin tau gak! Hiks.. Napa sih, lo pilih mati? Gue gak mau gabut kayak gini terus, Sel.. Hiks."


Jihan bicara sendiri dengan kepala dibenamkan ke guling yang jadi teman tidurnya. Ternyata dia sedang kena fobia atas tugas malaikat Izrail. Jihan mungkin belum mau lihat kematian orang yang sedang disayang-sayangnya, masih teringat kematian si petapa di simulasi itu.

__ADS_1


-


-


__ADS_2