Jihan

Jihan
chapter up 17


__ADS_3

"Saya setuju kamu pilih Nia. Tapi saya belum ingin membuang kandidat yang sudah saya seleksi."


"Umm.. no komen Bu. Hehe."


"Beristirahatlah. Terimakasih."


"Oke. No problem."


Nia menghampiri Jihan.


Jihan biarkan Nia memeluk dirinya. Gadis itu berterima kasih padanya. Jihan balas memeluknya sambil mengucapkan selamat.


"Selamat yaa. Kita bakal duet depan kamera Nia. Berteman, trus juga berantem di Endfield. Pokoknya gaya bicara lo bakal formal gitu lo, Ya."


"Gue pikir muka kita cocok di terminal, Han. Biar muka tukang koran, kita tetep laku."


"Kurang ajar. Hahaa!"


"Met rehat. Sori gue udah ngerepotin lo belakangan ini."


"Gak juga. Kalo mikirnya gitu, ya udah gue mau rebahan. Emang capek juga sih, tapi gue dah biasa kok. Gue aslinya tukang ngeluh."


"Gue masih deg-degan, pasalnya gue masih tampang kotak amal, Han."

__ADS_1


"Kecuali kita punya someone. Slow aja. Mending bawa tidur. Jadi besok, peti lo ini tinggal dikubur.


Jihan dan Nia bergerak meninggalkan tempat sambil membahas wajah yang antagonis. Keduanya menuju tenda Jihan, kemudian mereka berpisah dan saling pamit.


Besoknya, mereka sudah bekerja. Nia dapat memerankan Gizi dengan gaya bicara yang mendekati karakter sang jins asli. Wajahnya tidak kelihatan melas saat sedang gabut, sedikit tegar saat berakting, saat itu adegannya adalah dibentak oleh Jihan yang emang judes.


Seharian main drama, akhirnya jam kerja selesai tepat waktu. Maka sore-sore Jihan menyempatkan diri main ke tenda sekuriti, menengok kerjaan Mercy.


Jihan dan Mercy pun duduk berdua di pos. Mereka santai mengemil dan mengobrol pekerjaan. Mercy sebagai ketuan regu bekerja hampir 24 jam alias ngalong karena mengawasi orang-orangnya juga yang semuanya pria.


"Aku ntar tidur kok. Kamu sendiri gimana? pasti capek banget."


"Gue gak mau ambil resiko. Banyak cewek di sini Han," kata Mercy sambil manteng hape.


Jihan tak menimpali karena dia pun sibuk mengusap-usap rambut Mercy di pangkuannya. Kening di situ dibelai-belai ala sebongkah diamond karena Jihan sering menciumnya dan Mercy cuek tak bingung lagi pada sikap Jihan yang puber.


Chyypp..! Cyyphh..!!


"Hhhh.. hhhh... pengen bobo bareng rasanya."


"Kerjaan gue juga. Tapi gue gak mau ambil resiko. Lo musti tidur biar besok bugar."


Jihan meng*lum bibir Mercy lagi untuk pamit tidur dan perginya. Mercy pun membalas lebih excited.

__ADS_1


Chyypp!!


Di dalam tenda, Jihan menutup lawang baraknya. Dia langsung rebah di dipannya. Sehabis apel, wajahnya merah-merah cerah seperti biasa. Kemudian halu..


"Ummh.. Sel!"


Jihan lemas sendiri di situ sambil memeluk guling. Tak lama, dia pulas tertidur seperti biasa.


Jihan offmind dengan 'kompas'-nya, boleh dikatakan berstatus alter life, panggung simulasi. Benda UFO itu mungkin memang sebuah mini-server bagi pemiliknya. Kehidupan Jihan yang tadi survie kini jadi long life saat ketemu "player" lain.


Karena sedang dalam misi, Jihan biarkan Marcel apa adanya, sebab Mercy tidak benar-benar asing terhadapnya, masih jelmaan dari sosok yang disukainya.


"Kau seperti nyanyian dalam hatiku, yang memanggil rinduku padamu.. hueoo.. uoo.."


Jihan kini tengah melantunkan lagu di suatu ruang kubus, bernyanyi sekenanya atas fav music-nya tersebut. Ternyata lagu ini sedang berputar di youtube, di layar yang sedang dia pantau, layar sebesar dinding ruangan.


Jihan mengambang sambil menyentuh-nyentuh ujung jari, menginput sesuatu, dia masih menghadap superwall tersebut yang tampaknya dapat dia kendalikan.


Ruangan POV-Jihan awalnya hanya berisi cermin, atau kekosongan yang polos. Dia tak bisa mendengar, mengendus sesuatu, dan juga tak bisa makan-minum di sini. Jihan hanya bisa melihat dan meraba.


Sekarang ini, entah belajar di mana, entah bagaimana memasukinya, Jihan sudah dapat menggunakan fasilitas bawaan-lahirnya ini, tampak menikmati musik yang sedang mengalun, First Person yang mana kenangan dan pengalaman sebelumnya dapat dihidupkan kembali seperti pengalaman mendengarkan lagu. Ini karena di alam jejadian semuanya serba bisa, asalkan memiliki kehendak atau yang komunitas sebut indera ketujuh.


"Masih privat. Apa emang Rey yang diceritain Ratu ya? Napa Heart gak tau ini, gak tau soal jins yang dapet nyelap di ruang view.

__ADS_1


Naa.. nanana.. nana.. seperti udara yang ku hela kau selalu adaaa.. kau selalu ada.."


Di monitor besar itu terbaca status dan keterang stasiun. Yaitu ber-locachost: AREA LIMA. Port-nya: PNAH-CHARGER.


__ADS_2