Jihan

Jihan
chapter up 07


__ADS_3

Jihan mandi ala Royal Queen, bukan gaya bolang karena dia tak melepas pakaian dan sendiri, terpisah dari plotnya Jaka Tarub si tukang nyolong kaen.


"Yuhuu.. Mau banget kali jadi Komodo-mu, Beb."


Sllrupp! Slruup..!


Jihan menyeruput genangan di tangannya, dia pun kembali menyiram-nyiram tubuh.


Cbyuur! Cebuur!


Mandi sekaligus mencuci bajunya, Jihan siang hari ini benar-benar seorang peri dari langit, dia betah minum juga bagai Onta. Tidak hanya berkuyup, dia mengembungkan perutnya dengan air sungai, mengulang kegiatannya sampai membungkuk menjilati arus sungai.


Slrup! Slruuph!


Jihan kemudian menyudahi gaya minumnya yang ke-hewanan.


"Euu..!!"


Kemudian sendawa Jihan membuat empunya kembali jadi berperikemanusiaannya, berhamdalah.


".. alhamdulilah. Masih dikasih rejeki."


Di situ Jihan habiskan waktu selama satu jam lebih. Dia gosok-gosok badan, berendam, gulang-guling tak jelas, minum-minum, buka baju tapi dipake lagi, juga mengobrol alias mengusir rasa pesimis dengan monolog. Jihan seaneh mungkin berusaha menjadi Marcel, tapi hepi-nya malah jadi se-absurd pasien-rehab yang besok dihukum mati.


Siang yang terik kini tak jadi halangan bagi Jihan untuk mencari makan, ditelusurinya hilir tersebut hingga pedalaman. Dia sudah berada di hutan, diam mematung.


Seekor ikan Snakehead alias Lele turut diam dekat kolong batu.


Cbuur!!


Jihan melempar batu dari tangannya.


"Hadeh.. kabur lagi."


Si gadis lemas badan, caranya mencari makan disamakan dengan cara mencuri Mangga.


"Hhh.. Ntar aja. Geraknya dah kayak Edi Tansil. Ilang gitu aja."

__ADS_1


Jihan duduk menghentikan pencariannya. Di pinggangnya sudah terbelit ular yang terluka dan mati, tetasan merah menodai piyamanya, karena si ular sudah tak berkepala.


"Waktunya bikin piso manusia gua."


Jihan melanjutkan aktivitasnya. Dia mencari batu, memungut tapi dibuangnya lagi karena kurang pipih.


"Gak ada gepengnya, panjang doang."


- 😆 jiah gak usah diambil kalo gak perlu mah. Dasar bolang susah


Usai memungut batu lainnya, Jihan mendapatkan dua buah batu. Dia bingung karena keduanya masuk kriteria. Jihan melepaskan "sabuk" legend-nya kemudian.


"Tes ketajaman."


Dukh! Dukh..!


Ular yang malang dipotong di bongkahan besar itu dengan batu pipih. Sekali hantam, daging dan tulang pun patah terbelah oleh "sampel" percobaan. Lalu Jihan mengetes batu gepeng yang satu lagi, dia pukul badan ular itu dengan tenaga sama kuat.


Crakh! Ciprat..!


Dukh! Dukh..!


Jihan lanjut memotong-motong ular di tatakan darurat. Daging pun terbagi jadi banyak. Jihan mengumpulkannya di satu titik agar tidak terbawa arus sungai.


"Sekarang bikin kolamnya khan, Beb? Cari genangan yang tidak berarus," kata Jihan bicara sendiri.


Si gadis melangkah ke tepian sungai. Di sana dia segera mengambil batu-batu yang seukuran, batu panjang dibuangnya lagi.


"Dunia keras banget sih, ihh.. Sampe ketemu lagi yang begini jenis."


Usai membuang batu, Jihan membungkuk dan menjajarkan batu-batu. Dia mulai fokus bekerja memagari genangan. Luasnya cukup lega, seluas dua tinggi badannya.


Beberapa menit kemudian, kolam darurat selesai dibuat. Jihan kini diisi jalur spiral. Jihan memungut semua batu dari ukuran kecil hingga besar untuk membangun labirin mirip pusaran obat nyamuk bakar.


Satu jam berlalu, Jihan membuat fish-trap dengan apik dan rapi.


"Hhh, beres deh."

__ADS_1


Jihan menyeka keningnya. Dia kelelahan juga. Tapi ternyata belum selesai. Daging ular yang dipotong-potongnya tadi, Jihan taruh di situ sebagai umpan.


"Dapet gak dapet, usaha dulu. Hehe.."


Beres menyimpan umpan di tengah kolam, Jihan lanjut membasuh badan. Terik sudah amat menyengat, dia basahi tubuhnya lagi supaya nyaman.


Byur! Byuurr..!


"Oke. Bikin alat potong sekarang. Hadeh. Pegel banget. Mana panas gini.."


Skrrkhh!!


Skrrrkhh..!


Jihan mulai duduk di batu agak besar, menggesekkan batu pipih yang agak tumpul. Dia punya dua batu gepeng, tapi saat mengasah dia mendahulukan yang tumpul terlebih dulu.


Skrrkhh..! Skrrrkhh..!


"Anak rimba kudu kuat. Apa lagi pas sendirian gini.. Aku tau, kok. Cara dan rejeki kita beda, Beb. Yang aku gak tau tuh, jodoh. Tapi bukan jelangkung, datang gak diundang pulang gak dianter.


Internal lagi krisis, bukan berarti aku gak bisa, aku gak tau harus ngapain di saat tak pernah berguna gini."


Jihan seka keningnya, tangan lanjut menggosok batu tersebut. Tampak wajah lelahnya masih tersirat, dia biarkan demi waktu yang terus berjalan.


"Hhh.. hhh.. Welcome back di bumi Ultimate, halu dan real jadi satu. Hhh.. hhh.."


Baru beberapa menit mengasah, nafas Jihan sudah naik-turun. Kegiatannya kini tampak makin melelahkan, tak bisa sambil santai sekarang. Jika tidak, dia akan terus bergantung pada kemudahan.


"Pengen denger suara kamu, sekali-kali. Hhh.. hhh.. tapi mungkin kamu udah gak punya waktu buatku. Hhh.. hhh.."


Entah apa yang Jihan katakan. Tampaknya mulai tak kuasa menahan kesepian dan kelelahannya. Efek LDR.😁


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2