Jihan

Jihan
chapter up 99


__ADS_3

Beres melipat baju-bajunya, Jihan bangkit berdiri dan membuka lemari. Dia masukankan semua pakaiannya, dipungut dan ditaruh ke tempatnya masing-masing. Jihan menoleh pada kasurnya, dia dapati Marcel sudah bangun dan rebahan memperhatikan aktivitasnya.


"Hoaa...ammh. Haus ih," kata Marcel, menggeliat lalu menguap menutup bibirnya, duduk di tepi kasur.


Saat sudah beres dan menutup lemari, Jihan segera ambil gelas dan mengisinya di depan dispenser.


"Aku dah ganti 'sidi'. Nih," sodor Jihan, ikut duduk di samping Marcel menyodorkan gelas. "Eh Sel. Vita mau ke sini. Dia kena force. Meriang katanya, Beb."


Selesai meneguk air, Marcel berikan gelasnya pada Jihan. Dia tak menanggapi, membiarkan Jihan menatapnya. Marcel pun menutup mata.


Jihan mendekatkan wajahnya. "Hei, belom pms dah pake 'roti'.. ya.."


Saat mau bicara, bibir Marcel keburu Jihan kulum.


"Uummh..!!"


Cwuuph.. cwwipp.. phh..


"Hu..ummh."


Keduanya sudah menaruh kening masing-masing, duduk di situ saling menahan gemuruhnya. Bibir keduanya sudah licin. Entah kenapa, tiba-tiba terdengar lagi ciuman mereka, satu kali.


Cwuuph!!


"Oh ya? Bagus deh. Gue ada temen buat ngeroyok lo, Han."


Marcel merebahkan badannya lagi.


"Ngeroyok gue? Hhh-hhh!" Jihan bergetar pundaknya. "Kurang ajar.."


Jihan menaruh gelas di meja belajar. Melihat Marcel berbaring lagi, dia terbawa mager. Jihan minta Marcel bergeser, lalu saat diberikan tempat dia ikut rebah memeluk si teman.


Jihan biarkan tangannya dituntun ke gundukan dada kiri Marcel, tapi tangannya pilih tempat di bawah ketiak, memeluk dan merapatkan badan. Jihan lalu menaikkan satu kaki ke paha Marcel.


"Jangan diabisin gini. Sisain buat kapan-kapan, Beb," kata Jihan. "Kamu ada di sini aja udah bikin aku betah, bikin aku pengen idup lama."


"Han.. Gue mau beres-beres home males. Nyuci wadah, nyuci piring, gelas.. bosen. Sampe mana sih cerita gue Han?"


"Aku udah beresin kok."


"Haa? Beresin apaan?"


"Baju, celana, meja juga udah rapi, Beb."


"Dih..? Lo ke home?"


"Iya, Beb."


Jihan lalu mengeratkan pelukan, kepalanya agak menekan telinga si teman. Kemudian dia lemaskan badannya.


"Hhss! Hhss! Wangi banget sih, iih.." Jihan mengendus-endus rambut Marcel.


"Hhh, padahal biar aja Han. Gue pikir ke mana."


"Uummh!"


Jihan kembali mengecangkan dekapannya di samping Marcel, tak mau melepas pelukan. Marcel mengerang sesak.


"Aaa.. aghh! Hhh, hhh.. Jangan kenceng-kenceng. Hhh.. Hhh. Mati gue nih, Han."


"Hhh-hhh!" jihan tersenyum puas, pundaknya berguncang.


"Lagi.. dong. Hhh, hhh.." pinta Marcel.


"Gak!"


"Kurang kuat."


"Hhh-hhh! Gak mau!" balas Jihan dengan pipi merah campur have fun.


"Jam berapa sih emang, si Vita mau dateng?"


"Lagi on the way kayaknya, Beb. Ehya. Kok kita jadi pada gini ya, Sel?"


Marcel melirik Jihan. "Hhmm..? Samaan gue juga bingung. Gue niat ke si Deti, dapetnya elo. Naik deh nih happy. Hhh.."


"Kamu bikin lupa, Sel. Bikin gue lupa segalanya.."


"So imut, ihh.. Terus kalo gue sendirian di home, lo inget semua?"


"Hhh-hhh..!!"


Vita sampai di rumah Jihan. Bapak memanggil anak gadisnya dari bawah loteng. Seperti biasa suara yang bergema terdengar cukup keras.


"Hani! Ada temen kamu!"


"Siapa?!"


"Romi! Satu lagi Vita!"


"Iyaa! Bentar..!"


Marcel menghela nafas membiarkan Jihan beranjak keluar kamar meninggalkannya. Baru saja mereka membicarakan, Vita sudah datang. Marcel mengambil guling dan segera merem memeluknya, malas gerak.


"Kami cuma sebentar aja Pak."


"Lho, tapi kenapa dia sampai pucet?"


Di beranda rumah Bapak minta tamunya masuk, tapi Romi menolak halus, memilih nunggu Jihan di luar. Bapak juga keheranan dengan kondisi Vita, saat ditanya Vita diam melamun, matanya mencari-cari.

__ADS_1


"Ayo sini, masuk aja dulu. Panas di situ."


"Vit?"


Jihan sampai di beranda rumah, mereka menoleh. Namun Vita seperti buta, mendengar Jihan, matanya mencari-cari sumber suara.


"Kakak..? Hhh.. Hhh! Kak?"


Jihan melipat kening, dia bengong, gadis SMP itu bermasalah dengan penglihatannya. Badannya memang dingin tampak lembab jihan lihat. Tapi yang baru Jihan tahu, Vita tak melihatnya. Jihan buru-buru menghampiri.


Dengan nafas sudah agak memburu, Vita memanggil-manggil Jihan. "Kak? Kak Jihan..? Hhh, hhh..! Kakak..?"


"Hei, nih gue Vit. Mata lo napa sih?"


"Pacar kamu sakit?"


"Iya kayaknya Om. Udah dibawa ke puskesmas, sama ke rumah sakit, masih meriangan."


"Hhh.. Hhh! Kak..?! Kakak! Hhh, hhh.."


Di depan Vita, Jihan menurunkan dua lututnya, dia segera peluk tubuh si bocah. Si teman agak aneh dan lain dari biasanya. Tapi akhirnya dia mau diam, mendekap Jihan kemudian menangis.


"Kak Jihan! Gelap Kak. Gelap! Hiiks! Huhu.. uu-uuu.."


Mendengar deru tangis sang pacar, Romi duduk di tepi beranda, lemas badan dan dia berdecak mijat kepala.


"Uhuhuu.. uuu-uuu.."


"Hiks..! Udah dong Vit. Kasian si Romi. Nih aku. Elo napa..? Hei..!"


"Hiks! Huhuu.. uuu-uu..!"


Jihan mengeratkan peluknya untuk bocah SMP itu. Dia merasakan perubahan suhu, badan Vita mulai mengering dari lembabnya. Jihan ulang pertanyaannya, sambil tetap memelukan Vita.


Vita tetap menangis, belum juga mau berhenti. "Euheu.!! Uu.. Huhuu.. Hiks!"


Bapak datang lagi dari dalam rumah dan sudah membawa teko bersama gelasnya. Dia taruh di meja bambu. Bapak lalu ikut duduk di tepian beranda, mengusap-usap punggung Romi.


Romi terisak-isak. Entah capek atau ikut sedih, tadi dirinya sedang memijat-mijat kening, sekarang mengucek-kucek mata. Mungkin dia kelilipan. "Hiks! Hiks..! Hikkh!"


"Sudah Nak. Sabar ya.." kata Bapak sambil terus mengusap-usap punggung Romi.


🎶


Aku ingin menjadi..


mimpi indah dalam tidurmu


Vita senyum dibonceng Romi sambil memeluknya tanpa tahu air mata Romi terus mengalir.


Jihan duduk di lantai menyandari ranjangnya, dia sudah bermukena. Marcel terjaga dari tidurnya demi tangisan yang ada di dekatnya.


Marcel memeluk Jihan.


🎶


Yang mungkin bisa kau rindu


Karena langkah merapuh tanpa dirimu


Oh, karena hati t'lah letih


Bugh.. Bugh..


Raven memukul Marcel.


Marcel terhuyung-huyung.


Bruu.. uugh..! Marcel ambruk.


Di kamar Jihan, Marcel mendekap Jihan kuat-kuat, minta menyudahi kenangan itu.


🎶


Aku ingin menjadi.. sesuatu..


yang s'lalu bisa kau sentuh


Aku ingin kau tahuu..


bahwa ku selalu memujamu


Tanpamu, sepinya waktu merantai hati


Oh, bayangmu seakan-akan..


Di tempat kerja, Jihan melamun menatap gambar buatannya, gambar bedil dan pose Marcel memegang pedang.


Gucraat..!!


Marcel mengayunkan pedang hingga birdy terbelah. Lalu bayangan Jihan melayang ke foto Marcel di gua di pose upper cut sang Mercy.


Sratt!!


Traattt!!


🎶


Kau seperti nyanyian dalam hatiku

__ADS_1


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada..


Oh-uh-uh, oh-ho-uh-uh


Oh-uh-uh, oh-oh-oh..


"Area lima? Lawan serdadu AI?"


"Iya. Gue lari, susah kalo sendiri. Sekalian nguras libido. Yuk?" ajak Marcel pada Jihan.


🎶


Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang


Tanpa dirimu aku merasa hilang


Dan sepi..


Dan sepi..


Bletakh! Bugh!


Bukh..


Jihan menendang kepala cyborg hingga putus dari badan korban.


Dalam slow motion ini di sekeliling Jihan susah penuh serdadu T-Rev Dark Fate yang juga dapat terbang. Piyama Jihan terkoyak dan berlumuran darah.


Dreeddd!!


Mandadak semua lawan Jihan dilewati bilah samurai..


DHUAARGH!!


🎶


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela


Kau selalu ada..


"Hhh.. hhh.. Hhh! Thanks Sel. Hhh.. Hhh!" engah Jihan memegang bahu yang telah patah.


Marcel mengangguk tanpa peduli bekas sayat di dekat alisnya, badan penuh luka bakar.


Di udara ini semua T-rev berhasil mereka lumpuhkan. Senyum Marcel hilang, dia melihat bahaya di belakang Jihan.


"Awass!"


DHUAARGH!!


🎶


Kau seperti nyanyian dalam hatiku


Yang memanggil rinduku padamu, oh


Seperti udara yang kuhela..


Kau selalu ada


Selalu ada..


Kau selalu ada


Selalu ada..


Di kala medan sudah hening, Jihan memangku tubuh Marcel, duduk di gurun dan tersedu-sedu.


"Hikh.. Hiks! Sel.. hiks.. Bangun plis.. Uhuu.. uhuu..uu.."


Marcel tak juga bergerak, tubuhnya tak lagi berdaya karena gerakannya tadi adalah yang terakhir demi Jihan.


"Sel! Wake up! Hiks! Hiks! Huu.. uuhu.. Mar.. ceeel!!"


Si gadis tak juga bangun, Jihan teriak panjang dalam tangisnya, dia telah ditinggal pergi.


🎶


Kau selalu ada..


Sya-na-na-na-na, na-na-na-oh-oh..


Sya-na-na-na-na, na-na-na-oh-oh..


Sya-na-na-na-na, na-na-na-oh-oh..


Selalu ada..


credit:


Once - Dealova

__ADS_1


-


-


__ADS_2