Jihan

Jihan
chapter up 81


__ADS_3

Setelah bicara begitu, Jihan bawa dirinya naik, melawan arah. Enam wall yang mengelilingi balon pun mengikuti, di mana ada planet di situ ada satelit.


Jihan tidak bingung sebenarnya di angkasa tak jelas ini, hobinya memang bermonolog. Terlebih tak ada aturan di alam mimpi selain harus jaga diri. Walau bukan panggung opera, Jihan merasa ada yang terus menontonnya, dan asal-asalan gitu pasti dia mau berbuat sesuatu.


Balon yang mengurung tak ubah seperti tubuh Jihan sendiri, perisai turut bergerak naik, tetap mengurung ke mana pemiliknya pergi sebagaimana enam layar besar yang terus-menerus berputar di jarak yang cukup jauh dari pusat.


Jihan terbang menembus banyak garis-garis edar. Reinit mengatakan bahwa mereka tanda eksistansi, pemodelan atau peraga untuk memahami antah berantah alias bawah sadar.


Juga, tidak ada gravitasi atau gaya yang menarik saat Jihan naik. Mungkin Jihan pun sedang mencari tahu hal fundamental tersebut, atau mungkin ingin bermain-main.


"Bener juga, nih keset ngikutin ke mana gue gerak. Dinding juga samaan, ikut. Di sini gak ada gaya gravitasi, badan guelah yang terberat di sini. Massa lift nol, gue enteng pas terbang gini. Berarti juga, bisa ngebut kali ya? Tapi.. ngomong-ngomong.. umm.."


Jihan menatap benda gepeng (lantai lift berbentuk heksa) di bawahnya yang juga "disandera" oleh gelembung. Apa fungsinya dia ngejogrok di situ, benarkah Jihan memang tak bisa memijaknya?


"Masa iya sih, nih keset cuma mancarin garis orbit doang fungsinya? Ratu kecepetan nyeritain nih barang yang nirguna. Gue bawa ngebut dulu deh.. Angus gak, kalo gosong berarti ada materi laen di sini selain gue. Gesekan dimulai.."


Wuutts!!


Jihan sebelas duabelas dengan luar sadarnya ini, iseng. Alhasil kelebatnya tersebut angin-lewat, efek "teh-celup", tidak ada gesekan ataupun kejadian persis komet. Di titik perginya ini, Jihan hanya tampak susut, mendadak renik mengecil.


Tapi di posisi Jihan, dalam balon ini, sekitarnya ter-perspektif jadi hutan flat, banyak papan merah dilewati dan ditabrak sisinya.


Ckiiit!!


"Ahh, percuma njir, nyari bantahan. Gak ada yang perlu dicari di sini. Toh emang bener, ranah gelang apa adanya seperti yang dibilang Ratu. Sarang Lancah."


Jihan amati sekelilingnya usai melesat. Pemandangannya benar-benar seperti di gua laba-laba besar. Dia melihat banyak helai, batang, tali, atau laser-laser aneka ukuran. Sama sekali tidak berpindah. Jihan nyasar!


"Waktunya, membumi."


Setelah mengawasi sekitarnya, Jihan putuskan diri untuk mendarat memijakkan kakinya di elevator. "Penumpang gelap" itu membuatnya kepo, lantai bukan, ranjang bukan, diameter juga bukan. Begitu Jihan tatap, ngimej, si benda dan dirinya saling mendekat, menghampiri. Di saat itu, benang-benang yang awalnya "menyate" balon dengan arah acak bergeser jadi enam garis layar, jadi enam paralon yang di tiap panjangnya itu berdiameter satu jengkal.


Deph.. Jihan pun memijak.


"Hhh, ada-ada aja nih modelnya. Kalo gue yang desain, gue taro blackhole di sini buat gate enter sama exit. Di sono, gue posisiin buat Bimasakti. Antares, UY Scuty, Aldebaran, Sirius, sama temen-temennya di atas aja biar kalo rebahan pengamatnya nyengir. Sementara gugus-gugus ada di bawah blackhole, di kotakin biar yang liat cepet hapal jumlah konstelasi.


Dah dulu deh surveynya. Bisa kapan-kapan, anytime ke mari. Presentasi Rumah bakal kepanjangan durasinya.


Oke. Mantap model dua gelangnya. Tapi Sementara bintang sabit dulu, soalnya gak jelas, kayak lukisan abstrak gini.


Waktunya balik ke alam translate-nya. Hhh... Bismillah. Kun!"


ZWWITTH..!!


Dua layar menghilang, tinggal garisnya di situ. Badan Jihan pun agak bergoyang seperti kena gempa singkat, membuat empunya heran karena kakinya itu terasa nempel, tak bergeser.


Jihan tidak tahu sedang turun atau naik lajunya balonnya, diam kacak pinggang sambil menatap garis tak belayar. "Sejak kapan gak ada di sono? Makanya, gue kasih nilai bintang sabit. Napa gak keliatan? Layar dah bosen kali sama muka gue sampe kabur, ngumpet gini."


Garis yang dibahas mulai bergerak perlahan-lahan hingga posisinya miring.


Pertanyaan Jihan sedang naik atau turun, lihat saja rambutnya. Jika terurai, berarti dia dibawa turun oleh lift, atau bisa juga sedang melaju ke samping kiri. Menit yang lalu dia melesat ke kanan, rambutnya terurai sebentar. Sekarang ini rambutnya terjuntai, berarti Jihan sedang dibawa naik oleh sang "angkot".


Garis setebal paralon sudah hampir berdiri, sudutnya sudah di 10Β°, sudah bangkit dari kubur. Diameternya turut berubah, dari sejengkal pelan-pelan mengerut hinggal setebal jari.


Tak lama kemudian orbit pun sinkron dengan garis lift yang vertikal, berpadu. Seiring tegaknya itu, empat layar transparan mendekati balon yang sudah berhenti memutar sejak "gempa".


Gejligh..!!


Gempa kedua datang, Jihan tak bergeser tubuh selain sedikit oleng. Gelembung yang mengurungnya ditembus empat dinding, merapat di posisi depan-belakang dan kiri-kanan Jihan. Garis-garis merah pun masih bertemu di perut Jihan, termasuk benang vertikal.


Jihan tengadah, pas-pasan satu matanya dengan garis tegak. Seharusnya silau, tapi si gadis justru memposisikan mata kanannya ke situ, di lihat dari letak berbeda. Saat bergerak memposisikan mata, Jihan tak tahu tempatnya berada berubah. Tapi ruang kamarnya mengerjap-ngerjap, masih berkedip-kedip belum stabil, tidak manteng dan eksis.


Jihan menggerakkan kepalanya lagi, memposisikan mata pada laser. Dasar psikopat, mungkin aksinya ini memang tidak perih.


Apa Jihan sudah tahu bahwa itu laju frame dari indera penglihatannya? Dia cuek selayak gadis yang sedang shower-an, tampak di atasnya lapis gelembung masih terlihat, langit-langit yang cembung. Jihan sudah tahu, hanya saja tak sabaran dengan kecepatan "RPM"-nya di situ, bermain-main dengan fisik blueprint-nya.


Yang benar-benar dibiarkannya adalah getaran garis, ketiganya memburam dan menyalin diri jadi garis-garis baru yang seukuran. Dari enam, mereka jadi dua belas, dua puluh empat, 48, 96, 192, dan seterusnya hingga tebalnya pun makin menipis, memenuhi balon dan berpusat di perut Jihan.

__ADS_1


Saat bergetaran itu, penampakan kamar masih tranparan, dinding POV masih tampak walau turut menyusut ukuran plus luasnya. Tapi entah, empat dinding tersebut mewakili indera apa.


Puluhan menit pun berlalu. Jihan yang sibuk shower-an, kini mengucek-kucek matanya. Dia jadi hantu dan tiba-tiba atap serta lantai POV menutup acara dengan cahaya potret.


Ruang kamar dan isinya eksis, sementara garis-garis radiasi makin kecil, makin tak nampak di situ. Jadi saking 1/10^∞ -nya itu mereka tampak hilang, padahal sebenarnya ada, dan di alam sadar ilmuwan menyebutnya radiasi energi.


Sayangnya, Jihan tak bisa didengar ketika dia bicara. Dari gelagat nya itu, dia tampak menangis atau menggerutu dikejut "penutupan". Entah, apa yang terjadi padanya hingga perih mata begitu.


- Kena batunya dia maenin "shower" 😁


Sadar sudah di alam offline-nya, Jihan mengangkat satu kaki. Dia tengok kanan-kiri sambil kacak pinggang. Dirinya yang di kasur masih diam tertidur dengan tangan mencahayai Jihan, memancarkan titik terang.


Gizi sedang menghuni bintik sinar, karena Jihan mengacungkan jempol sambil berjalan ke pintu beranda, ada komunikasi walau sebatas isyarat tangan.


Setelah menembus jendela loteng, Jihan melihat-lihat genteng rumah-rumah tetangganya. Dia tak sadar dirinya hantu sehingga saat mau memegang pagar, Jihan jatuh tersungkur. Untungnya tidak nyungsep, karena di luar pagar beranda lapis tak kasat mata eksis sebagai lantai sang blueprint.


Jihan lanjut melangkah meninggalkan beranda. Di luar tak ada orang selain dirinya dan lokasi. Jihan melesat dan ngerem di atas gapura Lam Alif, tidak ada manusia lainya juga selain mobil-mobil yang diam di jalanan.


Kemudian Jihan berkelebat lagi ke tengah kota, berhenti di dekat gedung Citymall yang dikiranya ramai, tapi ternyata sama kosongnya. Tidak ada peradaban di Bumi offmind.


Jihan pun segera balik ke kamarnya sekali gerakan. Di situ dia langsung menyentuh tangan jasadnya yang sedang tidur, menge-tap butir sinar yang ditutupi kain tebal.


Degh..!! Jasad yang disentuh hantunya tersentak badan hingga membuka mata.


"Hhh.. Sepi amat, dah kayak makam."


Jihan bangkit duduk sambil menyibak selimut. Dia diam, melanjutkan komentarnya tentang kekosongan Bumi yang kosong dari mahluk multisel. Dia teringat empat temannya yang dulu selalu datang menganggu acara tidurnya. Dia tersadar, usaha untuk keluar dari alam mimpi hanya akan membuat dirinya makin jauh dari sosialita. Terlebih, ada kandidat lusid yang gagal mereka rekrut gara-gara menjadikan Bumi arena by one, dia dan Nina malah ber-sakti ria di "lapak" orang.


"Jam delapan," kata Jihan menatap objek gepeng yang terpasang di tembok kamar. "Maah!!"


Ada sahutan di bawah loteng.


"Mang Kosim lewat belom?!"


"Udah!"


Jihan membantingkan badannya ke belakang. Dia kemudian bicara sendiri, menanyakan saldo. Entah saldo apa.


Masih cukup Tuan


"Ya udah, ke Kafetaria yuk? Laper njir.. Tapi ntar, aku tutup presentasi dulu.


Oke, pemirsa. Saya Giziania, di TKP.. melaporkan.


Let's go!"


- Umm, masa iya doa tidur begitu?πŸ˜— Eh, iya, Jihan onmind, bukan tidurπŸ˜™ huhu


...****************...


...Cooming soon:...



Selasa pagi ini, Jihan duduk dalam angkot mengetik pesan WA di layar ponselnya. Dia login ke website kampus karena harus ambil jam daring (kuliah online), walau page web polos, tapi halaman login itu ada logo kampus berserta namanya.


Mungkin Jihan mau baca atau nyimak file materi yang dikirim dosen. Dia berseragam SPG sebuah PT, dibalut jaket yang mungkin dapat melindungi PDL dari debu atau hawa dingin. Tapi dia terdaftar juga sebagai mahamurid sebuah fakultas kotanya.


Dalam angkutan, Jihan menuju tempat kerjanya bersama beberapa orang dan pelajar. Mereka, para maskered, pada sibuk semua dengan smartphone masih-masing. Apa tidak kelewat tempat ya, pada cuek gitu?


"Hani!"


Saat sudah masuk gerbang, berjalan menapaki halaman parkir karyawan, Jihan diseru SPG lain yang baru turun dari motor dan lari menjajari langkah Jihan.


"Ehh.. Icha."


"Kamu dah baikan? Gini dong kemaren tuh. Cerah manis, gak nangis-nangis patah ati."

__ADS_1


"Yee, sapa yang patah ati. Temen gue sakit, patan-nya temam."


"Pener panas temam-nya?"


"Hihii. Jijik ihh lo nih Cha. Gue ketular gini ciba. Type amit."


"Tah talapan telum lo, Han?"


"Udah, di rumah. Ehya. Kebetulan nih gue bawa bekal. Lo mau nyobain nasgor gue?"


"Nasgol? Gue jadi ngili ma ci Lulu, dah parteneran sama anak kuliah, punya sobat koki juga."


"Yee, koki. Gak juga ahh. Mau gak?"


"Bileh deh."


"Ihh, lo. Biasa! Cadel gini ketelusan ntat."


"Tapal pelutku, Han."


"Hhh-hhh! Dasar lo gampang ketebak."


Sekitar Jihan ramai dengan karyawan lain yang beda seragam. Orang-orang yang baru datang ambil antrian. Ada sepuluh gate inspektan di sini, alat semprot, juga tiga orang sekuriti pengawas dan penertib.


Jihan mengantri di depan Icha. Seorang pemuda yang ada di barisan antri samping kiri, tak sengaja mendapati cincin Jihan. Pemakai cincin sedang menyilangkan tangan. Jihan masih mengobrol dengan Icha sehingga tidak tahu dirinya jadi kepo si SPB.


"Mbak..!"


Yang dipanggil segera menoleh sambil tetap bicara pada Icha karena masih mengobrol.


"Lantai satu ya?" tanya cowok ini sambil menurunkan masker.


"Bentar. Apa?" tanya Jihan agak budek, menempelkan tangan ke dekat kuping.


"Lantai satu?"


"Oh Iya. Gue di Hamam. Napa?"


"Endfield kalian keren semalem.." komen si SPB sambil bergerak maju mengisi tempat depannya.


". . .??" Jihan diam memandangi, satu istilah yang dikenalnya membuat dia langsung tahu siapa lawan bicara.


Benar. Si SPB adalah lusid lainnya, dia tahu tadi malam Jihan ada di mana.


Di ruang loker Jihan menaruh semua bawaannya kecuali kotak bekal. Dia lalu ikut duduk di sebelah Icha yang sedang menteng ponsel. Kotak itu dia buka.


"Cobain ya. Pasti nagih. Lulu bilang kurang pedes. Tau kalo elo gimana."


"Watawaaw.. Tang pelimach. Sini gue abisin deh. Mumpung matih anget."


Icha merebut kotak tersebut bersama sendoknya dari tangan Jihan. Dan segera menyuap dengan tak sabar.


"Mmmh.."


Jihan diam menunggu sambil menyelipkan rambutnya ke telinga. Saat menoleh ke sampingnya, Icha sedang menyuapkan mulutnya dua kali. Jihan hanya senyum saat Icha menggangguk-anguk dan mengacungkan jempol.


Tiga puluh menit menjelang jam buka toko, tampak karyawan-karyawati lantai satu mempersiapkan counternya. Ada yang beres-beres bon, menyapu, bersih-bersih rak baju, ngaca, Jihan sendiri sedang mengelompokkan kaos-kaos wagon di counternya.


Lima belas menit kemudian, di dalam fitting room, Jihan duduk menyandari kaca dengan cincin sudah terkondisi sebagai bingkai atau tablet. Di situ Jihan memandang Nature, gadis kecil yang berpakaian pilot F1. Wajah si anak ada perpaduan muka antara dirinya dengan para clone. Dia menyukai Reinit, di situ Jihan ingin terus melihatnya lewat Nature. Tablet tersebut Jihan peluk kembali.


"Biar kamu anaknya paradok, kamu serasa anak gue sendiri, Nat. Tunggu Mamah hari Rabu ya Say.. Love you."


Setelah diajak bicara sambil dipandangi, Jihan mengecup tabletnya. Muach! Tepat di kening si anak.


Drrth.. Drtt.. drtt!


Glliitt!!

__ADS_1


Layar lcd kembali menciut dan merayap ke jari manis, jadi cincin. Jihan bangkit berdiri dan ngaca membereskan dandannya, rambut dibiarkan tetap tergulung model pramugari. Maka terlihat di punggung sang SPG nama produk yang dijualnya.


__ADS_2