Jihan

Jihan
chapter up 91


__ADS_3

"Lo gak apa-apa?"


"Kaget gue."


Jihan langsung mendekap Marcel ala drakor kakak-beradik yang selamat dari runtuhan gedung. Jihan tegang karena tak menyangka telekinetiknya agak liar, tak menyangka jadi fobia robot Gamma.


Benar, kemarin magrib, robot yang menyuapi Jihan dipinta mencari fried chiken, padahal Jihan sedang mengetes apakah dia robot atau majikannya, sebab topeng mereka membuatnya kepo.


Marcel sendiri pernah mengingatkan Jihan soal tenaga "magnet" sang lusid.


"Gue juga takut, Han. Lo tau gak napa kemarin tuh robot pilih makanan daripada buka topeng? Dia fobia."


"Fobia apa emang?" tanya Jihan sambil melepas pelukannya. "Topeng juga? Nih emang muka gue, Sel?"


"Aura telkin elo lah. Inget, Xaung pernah lo guncang sampe geternya napak ke Library. Jangan keseringan."


"Hhhh.. Oke deh. Kiraen takut sama muka gue, Sel. Nina sampe gak suka, tiap ketemu ngajak gelud mulu. Alesannya, muka gue ini judes."


Gamma datang bersama seorang anak perempuan. Jihan dan Marcel menoleh dan langsung berhenti mengobrol. Remaja tersebut hormat sesampainya di depan mereka, arah hadapnya tepat pada Marcel.


"Monika, Kak. Memberi hormat."


"Ehh.. Lo bisa ngomong jadul?" bingung Jihan rada kepo.


"Benar. Nature mengajar. Mengajarkan Saya. Kakak."


Marcel membalas hormat Monika, menaruh tangan dekat mata. Dia baru melihat wajah si gadis, akibatnya jadi kikuk mendadak disanjung. Marcel segera turunkan tangannya.


Monika menurunkan tangan dan dilanjutkan pose istirahat, menaruh senapan di samping badannya.


"Sel, dia tau lokasi di mana warga Bukit di kurung. Kita bisa cepet nemuin tempat itu. Gue boleh khan, ngajak dia?"


Marcel tak menjawab. Matanya menelaah sosok remaja perempuan tersebut lewat pupil empunya.


Monika menatap Marcel tanpa satu pertanyaan pun nampak di wajah, rautnya dingin, diam mode hantu.


"Dia mercy (mercenary, pasukan). Soalnya hawanya nih, hawa.. isterinya Adam," komen Marcel, memutuskan kesimpulannya.


Monika menyungging senyum walau hanya dua detik. Rautnya kembali datar dan diam.


"Gam, orang-orang pada ke mana?" sela Jihan.


"Mereka lagi dikawal sama Gram ke desa. Lo nyimak rapat gak, tadi pagi? Gue dah sesuai misi khan?"


"Uuumm. Nyimak, tapi bibir dianya.. gitu.." jawab Jihan dengan pipi sudah berwarna pink. ".. menggoda."

__ADS_1


"Lo bingung mulu, Han. Kenapa emang sama temen lo ini? Lo dramatis mulu."


Jihan gigit bibir, menunduk menggoyangkan badan, dua tangannya disembunyikan.


Marcel turut merah pipi. Dia menuntun Monika, membawanya keluar dari obrolan, pergi sambil memberitahu dirinya ingin lihat skill tembak Monika.


"Ayo, Mon. Kita latian nembak dulu."


Jihan biarkan Marcel pergi darinya. Dia mengawas gandengan yang ada, didapatinya hanya Marcel yang megang. Jihan menghela nafas lega, dia juga cuek dengan pandangan Gamma yang tak berkedip.


"Mercy bisa berarti pasukan khusus, Han. Astraler wahid ini contohnya. Gak semua lusid ngerti omongan dia."


Jihan melirik.


"Beneran," kata Gamma lagi, menekan suara. "Seotak sama si Lintang kayaknya. Tapi dia (Marcel) lebih padet, Han."


"Lo kenal sama Lintang?"


"Dia pernah ke nomand ini. Nyari Gizi."


"Ada empat tentara juga khan?"


"Ehh, lo kok tau? Iya Han. Dia harus katanya, karena McWell kasusnya juga. Marcel sendiri khan mercy."


"Sialan.. Ninggalin gue. Ayo!"


Gamma berlari pergi meninggalkan Jihan. Pamit bukan, mengajak pun sekenanya.


"Ehh, Gamma! Mau ke mana?! Tau trik redam telkin gak?!"


Gamma tak menyahut. Gerakan larinya mirip orang habis menipu, ingin dikejar. Gamma justru memanggil Marcel, minta ditunggu, tidak melirik ke belakang.


Jihan diam kacak pinggang memandangi Gamma yang memasuki parkiran dozer. Ada bangunan mirip gudang di sana. Dua detik kemudian tubuhnya lesu.


Jihan ingin bergerak tapi masih bingung dengan magisnya, akhirnya hanya bisa manyun di situ.


"Umm.. pada sibuk gini. Mau ikut, gak ada imej (bawaan, bekal) aman."


Jihan menggiring poninya ketika mencari tempat duduk. Sehembus angin menerpa wajahnya. Jihan dan lokasi mendadak hening dan bisu.


Hari beranjak siang, tapi mendung belum juga meneteskan hujannya.


Jihan ngedumel sendiri dalam kacak pinggangnya mencari sofa.


"Adain kali toko mebel di sini. Elsidi. Keripik sama minuman. Chanel tivinya, drakor full episode."

__ADS_1


Jihan berjalan menuju menara. Gerutunya dilanjutkan. Kali ini dia protes soal tower yang ditujunya tersebut. Jihan saat gabut protes pada letak mercusuar karena tidak ada laut, apa gunanya. Jihan mendadak random monolognya.


".. jawab jangan bengong gitu. Gue robohin juga lo."


Jihan menghampiri pagar taman, halaman kecil di bawah menara. Kalimat demi kalimat berhamburan dari mulut Jihan. Dia tidak jelas, kenapa masih terus membahas mercusuar yang memang tidak bisa bicara. Jihan pun sampai ke tujuan, yaitu bangku di sebelah saung jaga.


Wuuuts..!


Sekelebat hitam pergi, melesat dari belakang bangku.


Jihan baru saja sampai di depan bangku dan hendak mau duduk.


"Ehh.."


Jihan yang galau buta berhenti jalan tepat di depan kursi panjang. Dia memutar badannya, mendongak mengikuti arah pergi bayangan tadi.


BEGH!


BRUAAGH..!!


Dinding menara mendadak hancur dan jebol ditembus tubuh Jihan. Di situ bangku dan pagar serta halaman rusak terlebih dulu, turut terdampak.


Posisi Jihan sudah memutar badan, perutnya atau mungkin rusuknya dihantam begitu keras.


"Hhh.. Apa ya?"


Jihan mendadak terbaring di gundukan batu, cukup jauh terpental dari lokasi terakhirnya. Dia bahkan seperti ditempatkan di sofa singgasana, sedang duduk santai gaya lajang di home teather. Jihan bingung, ditabrak hingga menabrak lagi, dirinya masih baik-baik saja, padahal saat ditusuk panah dia pingsan.


"Seed, gue lo apain?"


Mana gue tau. Bawaan will ini mah.


"Gue pikir nyantai gini karena Gizi udah nginang."


Gak. Nih gue yang nyetir.


"Trus.. Napa gue keder pas ketancep bulu Gagak?"


Gue tidur, kejeduk bedil.


Di situ Jihan langsung lemas terkulai. Lagi-lagi soal telekinetisnya. "Hhh.. Sori deh. Telkin gue kayaknya mulai kebidik protokol."


-


-

__ADS_1


__ADS_2