Jihan

Jihan
chapter up 31


__ADS_3


Kota Ragnarok kurang lebih mirip Jakarta 2021. Di simulasi, kota ini dapat dikembangkan untuk jadi latar kehidupan instan. Jadi Ragnarok bisa agak beda jika sudah di-dev, seperti penampakan di atas.


Marcel mungkin memang menginginkan latar dan tempat yang demikian asri. Maka seperi itu adanya Ragnarok dilihat dari jauh.


Pemandangan masih bisa ditambah atau dirubah. Sayangnya untuk sekarang tidak memungkinkan diperluas ataupun dikurangi. Terlebih dulu Marcel harus out dari onmind.


Apa ada mesin atau komputer yang bisa mengaturnya? Isi lahan dapat diatur sedemikian rupa melalui panel di Homeless, alatnya tak begitu rumit ketimbang portal yang ditarget.


Jika diibaratkan kertas, planet versi simulator masih kosong dari aktivitas manusia, dan tidak ada bangunan modern. Kehidupan yang berlangsung sekarang adalah "suntikan" dari Server yang "merekayasa" output dari portal Kencana. Inject dari muatan tersebut lalu dapat diatur sesuai keinginan, warga Bumi dapat diisi perempuan semua, bisa juga laki-laki semua. Atau bisa juga melatih skill bertani, berternak, hingga bertempur.


Saat ini life-on portal sedang tidak sesuai alias telah diretas. Marcel belum mengetahui saat memasukinya, karena dia berniat mencari senjatanya yang hilang. Marcel pun terjebak di dalamnya hingga tak bisa out of box, atau mirip hibernasi alias tidur panjang.


Berdasarkan keterangan Heart, senjata Marcel dibawa jins khodam. Tapi Marcel tidak perlu buka google map untuk mulai menyisir planet. Marcel cukup memeriksa kesehatan memori atau ingatannya di simulasi atau laboratorium pribadinya tersebut.


Astraler atau petapa memang sering diperlakukan tak manusiawi. Entah atas dasar apa Marcel mentolerir perbuatan sang musuh. Mungkin punya skill multi-sukarelawan.


Tapi Marcel pun banyak dimusuhi kalangan elite, yang semisal McWell biang onar perang dunia ketiga, keempat, dan kelima. Musuhnya kali ini pun bukan penjahat biasa hingga dia mati berkali-kali, untunglah Marcel tangan-kanan para dewan, orang penting ini tidak sendirian menghadapi masalahnya.


Walai tak bisa mengatur aktivitas simulasi-nya secara built-in, dari dalam, ada jins intel yang tak kalah silent dari Twen hingga Marcel aman dalam karantinanya.


Pagi-pagi Jihan dan Billi Elisa sarapan di kantor sang advisor. Billi memang tidak lagi menjabat sebagai tim iklan, dia seorang penasihat bisnis sekarang.


".. Gue mungkin baru tau kalo meetingnya para khodam bermejakan jalan raya. Pake kursi halte lagi. Maka tadi malem anggeplah gue lagi konferensi kalong weleh. Sama-sama produk kawe."


"Auto plot yang kau sebut take break, apa pernah dilakukan oleh beliau?"


"Sepanjang tugas sih belum kayaknya, Bil. Dia pernah pengen ikut behind the scene. Tapi udah berjalan gak bisa di ulang sama temen kami.

__ADS_1


Tapi gue ikutin trik itu dari Rey. Gue coba jadi sutradara, begitu ngomong kat, kehidupan hilang. Kota kosong dari benda dan mahluk begerak. Yang nongol tuh cuma tim rias.


Bedanya dengan kat versi Nina, yang nongol tuh tim lapangan dan kameramen."


"Kasus semalam masih beredar di medsos. Kasusmu tak bisa ditutup begitu saja. Tapi metode pemasaran ini cukup memuaskan."


"Gak apa Bil. Kita kasih tau aja publik soal indentitas gue."


"Ah, akan kupikirkan dengan timku saja nanti. Apa alasanmu membuka jati dirimu ini, Eri?"


"Besok taun, entah dua atau tiga taun lagi mungkin orang butuh sukarelawan dari khayangan. Yaa gue masih orang biasa juga, tapi tiap ngimej, bodi gue ngerespon will yang gue pengen. Pokoknya bisa spesial efek tanpa harus lewat syuting. Live stream."


"Akan kupikirkan dengan timku nanti, Eri. Ini bukan perkara sepele."


"Ya udah terserah perusahaan aja."


Billi mengambil sandwich. Jihan kembali manteng hape di sofa itu. Kantor Billi memang sudah jadi tempat nongkrong sang artis. Billi mengunyah sarapannya sambil menatap Jihan.


Billi menyimpan makanannya, dia lalu menyabut tisu dan menyeka bibirnya.


"Silahkan masuk."


Pegawai lainnya segera masuk. Ternyata Bambang.


"Hai nyenyak tidurmu Bambang."


"Hhh, sori Bil soal semalem tuh. Anu.."


"Sudahlah. Saya tau tumpukan appraisal bikin botakmu ngepul seharian."

__ADS_1


"Betul. Hehe. Met pagi Bos," sapa Bambang pada Jihan. "Datanya khan banyak direka, Bil. Sori."


Bambang mencomot sandwich di meja tamu. Lalu berterima kasih sambil ngeloyor keluar.


"Bambang..!"


Pintu dibuka kembali, pria botak muncul di balik pintu dengan mulut kembung.


"Pesan sendiri sarapanmu."


Bambang mengacungkan jempol, lalu kabur.


Billi berdiri dan meninggalkan mejanya. Dia duduk menaruh gelas. Jihan memperlihatkan foto yang dipantengnya sejak tadi pada Billi.


"Jangan nanya gue lagi apa. Ya foto ini yang gue liat kalo beres download."


"Hhh.. Aku pun ingin melihatnya lagi, Eri. Beliau.. menyuratiku juga untuk tetap di sini."


Jihan biarkan Billi memegang ponselnya.


"Lo kayak Gizi, Bil. Tapi.. apa ini tuh kamu?"


Billi menatap Jihan. "Bukankah Gizi itu kau, Eri?"


"Iya. Jasadnya doang, Bil."


"Beliau juga.. sepertimu, Eri."


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2