Jihan

Jihan
chapter up 71


__ADS_3

"Apaan nih, Giz..?


Hhh, hhh.. maximum sense, Tuan


"Tenangin dulu, diri kita."


Hamba, aduhai.. dalam jerat masa mereka, hhh, hhh.. terus menerus bermusuhan di banyak waktu.. dengan dirimu


"Aku dah ngeduga itu."


Hhh, hhh.. Astaghfirullah.. astaghfirullah..


Jihan menahan diri atas hawa yang tengah berkecamuk di dada. Tampak kembang kempisnya, matanya pun masih tak berkedip menatap Nia. Dia berhasil disinggung dan masuk umpan lawannya, tapi Jihan terus konsentrasi, internal voice, belum mau memutuskan.


"Seperti katamu dulu, Giz. Aku bukan parasas."


Tetap waspada, Tuan. Hhh, hhh.. astaghfirullah.. hal'adzim. Hhh.. hhh..


"I agree, Gizi."


Nia melangkah ke depan Jihan dengan pelan. Sesampainya, dia mendekatkan kepala ke kuping sang Nature. "Mulai. Kau menunggu apa.. Nature? Tak perlu takut. Aku sudah tahu."


Selesai dibisiki, usai melihat leher Nia dengan sudut mata, Jihan mundur perlahan-lahan. Mirip Giga, dua tangannya masih mengepal, mengunci kegeraman.


Nia senyum dalam pose masih memiringkan kepala, tenang atas jarak yang Jihan buat di antara mereka. "Mmh, hm-mmh! mmh-mh!"


Pundak Nia bergetar dalam seri dan senyum bibirnya.


"Dahlah.. gak usah formal. Gue-elo khan bahasa Bumi juga. Apa yang lo tau emang?"


"Menarik."


Nia pun mendapati aura psikopat Nature sudah menipis saat diliriknya, dia mendapati ketenangan yang sama pada Jihan. Nia juga melihat keseriusan Jihan lewat kepalan tangan si Basah Darah.


Tampak keduanya sudah tak punya jantung. Apa mereka pakai pompa sanyo, ya?


"Lihat pesan di kakimu," pinta Nia.


Sindemi cosami tandesa


"...!!"


Jihan agak melebar mata saat membaca teks di lantai Endfield, di situ dia mendapati pesan yang Nia maksud. Itu adalah 'mantra' untuk visual soulator-nya!


"Aku punya alasan, menundanya. Serahkan sajalah dia, sebelum kami paksa kamu. Supaya kematian mereka ini terselesaikan, tak ada bubukan terbuang. Jangan biarkan mereka terus mengendus."


"Gue liat, lo tuh robot. Lo yang kudu nurut."


"Nature. Aku terlahir reverse denganmu. Kau tak mau membantu kami, menyudahi tumpang-tindih waktu? Mari kita bertukar soulator."


"Gue lom kenal pustaka lo."


"Hoax udah setara Gizi, Nature. Diam!"


Nia menoleh pada Kunang-kunangnya yang tengah berkedipan, langsung disambar.


Bintang Atom menurut, tak menimpali, kembali warnanya putih terang, warna menyimak.


"Sudahilah ini, sebelum kau kupaksa dengan neuron lagi. Aku memiliki will sepertimu juga."


"Biarkan Gizi memilih, Jil."


"Hhh," resah Nia, mulai tak tenang dengan diskusi yang tengah berlangsung, tampak sudah jenuh.


Set!


Takh..!


Jihan menangkis tinju Nia sekali elak, memiringkan badan.


Namun begitu tangan Jihan beradu dengan hasta milik Nia, penyerang mengayunkan kaki.


Wuutts!


Jihan jongkok demi kibasan yang ada, Nia menarget kepalanya.


Kini tampak ada kesempatan menyerang balik bagi Jihan untuk kaki Nia yang satu lagi, yang masih memijak.


Set!


Gubraagh!


Nia jatuh setelah pukulan dan tendangannya gagal, menindih pesan yang masih tercetak merah di situ. Jihan segera mundur menjaga jarak lagi dengannya. Nia pun cepat berdiri gaya Bruce Lee, menyentakkan dua kakinya ke udara.


Set! Syuut!


Bregh!


"Kau memang yang aku tunggu-tunggu, Nature," ucap Nia mengabaikan punggungnya ternoda darah bekas jatuh, abai dengan pesan di bawah kakinya, yang kini jadi abstrak. "Aku berharap mayat-mayat di sini, menyampaikan hal itu atas Gizi-mu."


Kemudian Nia menghampiri lawan bicaranya, melangkah tanpa ragu. Jihan sedikit mundur saat tangan Nia me-nuju bibirnya.


Set!

__ADS_1


Sat..! Jihan mengelak.


"Biarin Gizi yang milih," kata Nature. "Kalian ga ada maaf buatnya?"


Syut! Nia ayunkan kaki pada tulang kering lawan. Jihan hindari lagi, mengangkat kakinya.


Syat! Nia ulang tendangan dengan kaki sebelah, Jihan sigap menaikkan lutut.


Syut! Syat..!


Syut!


Syat..!


Sut - sat - sut..  syat! Keduanya mengulang aksi dengan cepat dan sigap.


Jihan yang terus mundur, menjaga jaraknya, segera merendahkan badan.


Wuutts! Nia memutar tubuh, mengayunkan kaki ke atas. Jihan yang sudah tahu, menengadah badan.


"Aku iri padamu, yang harus mengucapkan selamat.."


Set! Jihan meluruskan tangannya ke depan, menuju mulut Nia.


Takh! Nia sambut dengan tangan, menepis cepat.


Jihan menekuk kedua lutut selesai menyerang, berkuda-kuda.


"Kalo emang Gizi ngelanggar kesepakatan, wajar kita sebut salah. Napa tiada maaf buatnya?


Emang apa yang lagi kalian sepakati, sampe harus musuhan gini?"


"Kami tak bersepakat dengan musuh," balas Nia, datar menikmati diskusi. "Nature."


Set! Sat..!


Sit! Sut! 


Takh!


Brugh!


Jihan jatuh terjungkal, kakinya berhasil Nia tendang. Dia beranjak bangkit berdiri, kemudian..


"Apa gue emang.. punya penyakit ati, ya, sampe kalian musuhin gini?"


"Sampaikan padaku, mengenai Icarus, Nature."


"Apa hubungannya sama tuh bintang?"


"Sembilan milyar idupnya tuh adalah sejarah. Jejak cahaya. Karena Icarus objek terjauh dari solar system.


Icarus yang kita lihat sekarang adalah masa lalu sang bintang. Bayangan.


Napa emangnya dengan Icarus?"


"Nama itulah pengganti kata benci yang ada padaku. Ingatlah. Aku adalah ujian kalian. Si Penyakit Hati."


"Inget juga, gak semua paradok punya Icarus, Jil."


"Kau mampu, memadamkan reverse protokol ini, Jihan?"


"Gak. Icarus itu sendiri yang bisa."


"Aku akan terus mendatangimu, jadilah saksi kami. Jaga dirimu."


Nia berjalan menghampiri Jihan. Sesampainya dia pukul wajah lawan.


Set!


Dukh! Bukh!


Jihan dan Nia saling silang memukul wajah mereka, bersamaan menyerang. Masing-masing kena pukulan yang ada, sehingga keduanya sama-sama terdorong mundur.


Nia langsung mengayunkan tangannya lagi. Jihan menangkis. Nia meninju dada lawan. Jihan mengelak dengan cara menjauh. Nia pun maju selangkah dan memukul wajah, tapi..


Set!


Beugh!


Sekelebat hitam menampakkan diri, datang menumbuk hingga tubuh Nia terjengkang jatuh.


Bruugh!! Bruugh!


Begitu pun Jihan, dia turut terjungkal karena Nia menembakkan bayangan yang sama hitamnya.


Nia sentakkan dua kaki ke udaranya, berdiri lagi ala Bruce Lee. Sementara Jihan buru-buru bangun begitu sadar, barusan ditabrak apa dirinya.


Jihan berjalan mendatangi Nia.


Set!


Nia menepis saat Jihan menendang.

__ADS_1


Bugh!


"Auw..!"


Jihan loncat-loncat dengan satu kaki, nyeri. Tangan Nia membuatnya meringis kesakitan lagi, tampak lebih kuat. Tak lama, Jihan kembali berpose psikopat, diam menunggu serangan.


"Lawan aku, Nature."


"Gak, lo aja sini, Jil."


Nia diam memasang wajah dingin. Dia menatap Jihan dalam full focus, tak menuruti permintaan lawan. Dua tangan Nia stand-pose, tidak sedang mengepal.


"Jadi lo keberatan, Jil? Gue punya cara ngancurin patung."


"Lakukan."


"Gak, gue boong. Dasar berhala."


Nia melesat dalam jarak dekat ke arah lawan. Secepatnya itu juga Jihan bertelekinetis menahan terbangnya.


Jihan meluruskan dua tangan ke depan, mengencangkan urat untuk objeknya. Wajahnya agak meringis demi tenaga Nia yang terus menguat dalam kekakuan tubuh.


"Errrggh!!"


Dalam apungnya, Nia makin dingin seperti robot, memicingkan matanya pada Jihan. Yang dipandangi agak bungkuk ke depan.


"Eeurrghh!!" ringis Jihan, kembali mengurat, mengatupkan rahang.


Ssrrthh! Kaki Jihan tergeser mundur, kulitnya dengan permukaan logam begitu licin, hingga Jihan jatuh tersungkur ke depan.


"Ee-ehh..!"


Bruugh!!


SWUUTT!!


Nia melesat bagai kilat di atas Jihan yang tengah menahannya namun terpeleset, melepaskannya.


Jihan segera bangkit, matanya tak sempat melihat tubuh yang baru saja lewat ala kecepatan cahaya.


Crat..!


Di kejauhan sana, tebing arena ternoda titik merah. Di situlah tubuh Nia menabrak bahan yang lebih keras dari badannya yang persis peluru.


"Umm, sori.. Ada bug Server," garuk Jihan pada kepala, bingung harus bicara apa atas ketidaksengajaannya.


Swwrrrth!!


"Memangnya, apa yang kau tahu soal Central?" tanya Nia, usai hadir di depan Jihan dengan gaya pasir masuk wadah, muncul bersama bintik putihnya yang sudah melayang-layang.


Jihan tak menjawab. Dia memperhatikan Nia, memperdalam tubuh yang agak kembang kempis dadanya, ada gerak nafas yang sedang memburu. Jihan langsung lihat kiri-kanan, namun tak ada apa-apa.


"Kayaknya Server bilang, lo harus slow, Jil. Santai. Slow, Jil. Slow."


Nia menggerutukkan rahang, lalu melesat mundur. Wuutts!


"Peri.."


Bluph! Gelembung bening terkembang mengurung Jihan saat baru disebut sebagian oleh pengucapnya.


Balon tersebut melesat mengikuti Nia, menuju dinding arena, seperti ditarik, kemudian menabrak bekas tubuh Nia dimode volume, berubah jadi logam begitu menyentuh dinding. Kemudian..


PRAANG!


".. sai!"


Jihan mendapati dirinya sudah berada di pusat retakan, di dalam dinding logam yang sempat jadi kaca tebal. Dia lalu melayang keluar, mendapati banyak bubuk perak dan kepingan mirip fisik serpihan kaca.


Saat sudah mendarat, di bawah tebing, Jihan pungut logam tebal dengan telekinetiknya. Set! Tapph!


"Sejak kapan.. ya?" bingung Jihan sambil mangamati baja putih, menaik-turunkan, menimbang-nimbang massa benda lewat tanganya. Keping tersebut lalu Jihan buang.


Klontang!


Logam tersebut membentur bahan yang sama dan terdengar nyaring.


"Emang besi. Apa fisika di arena kayak gini ya? Biasanya yang bening-bening tuh kaca ato aer."


Swwrrrth!


Nia hadir kembali di hadapan Jihan. "Siapa yang kau ajak bicara, Nature?"


"Ehh.." jengah Jihan melihat Gula Pasir jadi orang. "Lo juga, Jil. Bikin gue bloon kek gini."


"Gizi-mu memang pantas diburu karena pengetahuannya itu."


"Hhh.. tetep kami nih bingung, kudu ngomong apa ke elo. Slow gue bilang. Soalnya Server.."


Nia tak peduli, dikencangkan urat-urat tubuhnya, kemudian seluruh kulitnya berubah membara dan bergemeretukan persis batu magma.


BLAARRGH!!


Buncah supernova meledak, terpancar bulatnya hingga langsung membesar. Di situ terjejak kawah cukup besar. Legok tersebut masih meleleh oranye bagai kuarsa cair.

__ADS_1


🤕 ngeri, jadi gak fokus nulisnya - author


__ADS_2