
Selesai makan, mereka tetap duduk dan lanjut mengobrol di teras rumah. Beberapa menit kemudian Bapak datang memberikan sekantong camilan. Walau isinya tinggal separuh, jajanan tersebut langsung Jihan sambar. Ternyata Bapak mau pergi sebentar, katanya belum sempat mengisi bensin mobil waktu Senin. Jihan tak peduli, dia buka bungkus kripik favoritnya dan diberikan pada Marcel karena ada sebungkus lagi di dalam kantong. Keduanya sharing sambil kriak-kriuk di situ.
Dua jam kemudian, Jihan sudah berpiyama. Karena Marcel tidak sedang onmind, dia pulang dulu menaruh tubuhnya di panti. Bapak pun sudah kembali dari pom bensin, duduk di sofa ruang tamu menonton "rapot" seperti biasanya.
Jihan menatap wormhole yang sudah dia atur letaknya di balik pintu balkon. Tapi sudah tanpa Tester, karena ternyata lawang panti auto muncul dan bisa dinyalakan lewat cincin.
Segumpal enceran hitam merayapi dinding kamar, masuk lewat sela pintu ruangan, lalu melesat ke jari kanan Jihan.
"Udah lo save semua, Seed?" tanya Jihan pada cincin hitam.
Drrtth!!
Cincin bergetar singkat, menjawab Jihan dengan isyarat.
"Bingung gue, taro di mana nih panti?"
Jihan lanjut mematung memikirkan letak wormhole. Dia langsung jengah ketika portal mendadak lenyap. Sorrow jahil padanya.
"Haa?"
Jihan langsung nyemprot, mengomel. Tapi portal tak kunjung muncul. Pintu balkon kamarnya tetap rata, sudah terbebas dari bolong dan objek aneh.
"Balikin!"
Zwaatt!!
"Eh, nongol duluan."
Jihan mendapati Marcel di seberang tempat begitu lawang dibuka lagi. Pakaian si petapa kini bukan lagi PDL tentara seperti sebelumnya. Kini outfitnya persis ninja Scorpion. Sayang warnanya batik hitam, bukan kuning. Si gadis yang tadinya cuma perawan bercelana jeans dan kaos hitam lengan panjang, sekarang mirip perserta turnamen Budokai DB. Bawa bedil, bawa pedang, sudah terlihat dia calon pemenang.
"Udah bilang ke bapak lo Han?"
"Udah. Nyuruh ngunci kamar nih"
Jihan capit kunci kamar sambil menggoyang-goyangkan tangannya. Suara gemericik logam terdengar. Kemudian benda tersebut berkarat spontan, meleleh hitam, serta merta langsung berpadu dihisap cincinnya.
Ssrrthh!! Sllpph!!
"Taraa!"
Jihan menunjukkan dua telapaknya, tidak lagi memegang benda.
"...??!"
"Ilang khan? Ilang, gak ada? Tepuk ta.. ngaan."
"Trus..?" tanya Marcel datar, tatapannya dingin dan serius.
"Hhh.. nih obsesi bakal gak ada ujungnya, Sel," kata Jihan sambil kacak pinggang, menunduk kepala. "Gue suka banget sama Ratu."
"Heart nempel sama Nia. Trus.. Gue sama elo, samaan barbar. Rada-rada semuanya juga."
Jihan masuk portal, berjalan melewati Marcel. "Yuk ke ruang elo. Kita emang gak soak sendirian di sini. Mari kita perparah aja."
"Han, lo komen kek baju gue. Hhh.."
Setelah ditinggal, Marcel protes dan langsung lemas badan.
"Keren! Udah gitu aja. Pokonya, no masker!"
Jihan tetap menapaki lantai lorong menghampiri lawang seberang. Marcel diam mencerna, dia segera bergerak mengikuti Jihan dengan sedikit cerah. Dua barbar ini memang sudah janjian.
- Tapi Jihan mengajak Marcel ke kamar. Hadeeh.. 🤪
Seperti yang diceritakan Marcel, Panti tak jauh beda dengan Server. Hanya saja, "keajaiban"-nya belum serumit Pusat. Di panti kecanggihan yang ada hanya wormhole, karena dapat dijadikan monitor katanya.
Lorong terhubung dengan ruang heksa.
Luas ruangan sekira 210,5 m², atau tiap dindingnya 9 meter. Ruang di ujung lorong ini namanya Entrance alias lobi.
__ADS_1
Wormhole yang terhubung dengan dunia luar seperti ini penampakannya:
Setelah Entrance, ruang berikutnya adalah sel yang sama luas satu sama lain, berbaris satu banjar.
Wormhole biru adalah pintu rumah petapa, yang mana isi di dalamnya seperti ini:
Dari pintu masuk, ada ruang komputer atau manual work. Selanjutnya ada ruang tengah dan juga dapur. Dari tengah sini semua kamar bisa dimasuki.
Jihan sudah tahu di mana tubuh Marcel berada. Dia masuk lewat pintu kayu ke dalam home si petapa. Lalu mendapati ruang komputer. Jihan membuka pintu lagi dari situ dan tiba di ruang makan, namun langsung masuk kamar si Marcel, tak peduli pemiliknya sedang mengikuti.
"Ketemu juga nih kamar lo."
Tampak Marcel terbaring di ranjang. Pakaiannya berbeda dengan penampilan onmind-nya, Marcel masih pakai kaos dan celana jeans.
Jihan tutup pintu sambil minta Marcel diam. Lalu dia naik ranjang, rebah dan memeluk tubuh si teman seperti kelakuannya pada guling.
"Kuya. Ngapain.." komen Marcel di pintu kamar. "Kita belom muhrim."
"Onmind."
Tanpa peduli lagi, Jihan segera memejamkan matanya dengan posisi badan yang diprotes Marcel, menaruh kaki di paha si empu kamar.
"Emang barbar lo. Gue yang harusnya naik, Han."
- 😄 khan? dua-duanya.
Daph!! Jihan mendarat di ketinggian tiga ranjang, lalu berjalan dan kemudian turun dari lapisan invisible, memijak lantai kamar.
"Bagus tuh kalo cowok ma cewek," kata Jihan membicarakan tubuh mereka, datar tanpa dosa.
"Cuma healer (Ririn) sama elo yang punya akses masuk. Gue gak kasih ijin satu orang pun soal home key. Tapi si Deti masih bisa retas pake kartu tarot dia. Fix. Lusid maupun astraler sekarang udah gak bisa masuk tanpa permit owner home. Disingkat HOP."
"Kayak yang elo bilang. Gak baik kalo ini cowok ma cewek, Han. Gue udah niat tapi yaa.. gini. Taunya keduluan."
"Ya khan cuma keduluan. Pose gue emang gitu sampe bangun."
"Bangun kumaha? Gue pikir nyaman gue dipeluk barbar laennya."
Keduanya berjalan tembus dinding rumah sambil melanjutkan topik gak jelas itu. Setibanya di Entrance, sudah ada beberapa anak panti lalu lalang, Jihan dan Marcel abaikan kesibukan yang berlangsung.
Mereka berhenti sesampainya di luar Entrance, di sebuah pantai sepi.
"Ehh, tapi kita di mana nih? Masih di Tanah Air khan, Sel? Njir, nih pulau terpencil kalian?"
"Yalah, kita pindah-pindah pad. Sumber makanan habis, pindah lagi ke tempat lama, biar tinggal ambil panen di situ. Nih pad juga masih bagian basetime sih, di tepi lingkaran lapaknya si Romi."
Marcel langsung menggesekkan jempol. Seketika handle pedang terpegang dan bilahnya merambat naik hingga ujung lancipnya.
Trrrtthh!!
"Pad namanya toh. Ladang lama di mana emang?" tanya Jihan sambil memperhatikan beberapa laki-laki mengangkut sekarung sayur, ada juga yang menyeret kelapa. "Gak kalian awasin?"
"Ya diuruslah. Ada yang megang perikanan, peternakan, dan pertanian. Ladang dipantau dari layar manual work."
Set!
Selesai bicara, Marcel mengayunkan pedang. Ruang udara di depannya terjejak sayat, bekasnya nampak seperti garis laser, benang yang menyala. Marcel lalu menggores dimensi lagi dari ujung garis tersebut, sayatan vertikal.
Srr..reettt!
"Petapa dah kayak para survivor gini. Salut buat kalian dah bisa hidup ala Tarzan."
"Gak semuanya kok yatim piatu, Han. Gue masih punya emak sama Kak Irma. Kami yang emang ti-gaan udah saling tau, bisa ngurus diri kami masing-masing."
__ADS_1
"Apa gue lagi di lingkaran para Kartini gitu? Mamah, emak lo, samaan kayaknya pada berdikari."
Srr...reetth!! Sreetth!
Sreetth!
Gliitt!
Macel selesai membuat persegi panjang setinggi kulkas. Pemukaan 'kain' dimensi auto hilang begitu ujung-ujungnya disambungkan. Ruang pun bolong, di dalamnya ada pemandangan lain.
"Tapi gue bukan berarti gak butuh cowok, Han. Jadi.. gini. Sejauh mana, gue bisa ngeringanin beban suami kelak pas udah menikah, punya anak."
Marcel masuk wormhole dengan agak menundukkan kepala. Sementara Jihan mengitari objek, masih mencari jawaban pengamatannya soal wormhole. Marcel sudah tak peduli dengan kepo si teman.
"Sama juga kalo diliat dari balik sini."
Jihan berhenti dari tawafnya, menatap wormhole di posisi belakang.
Dilihat dari samping, wormhole hanya sebatang garis. Tapi saat dilihat dari belakang, sang objek tidak tampak citra garisnya, rusuk-rusuk atau laser merah itu seperti hilang.
"Nih kayak penampakan hantu. Dipanteng di posisi ini, ilang. Dari sisi-nya, cuma garis tegak doang."
Jihan melangkah maju, mencoba "masuk" lewat belakang. Setelah melangkah, Jihan menoleh.
Wormhole yang Jihan lewati ternyata baik-baik saja, stay eksis di situ tidak tergeser. Jihan sendiri, si pengamat tidak hilang, bebas dari dampak atau paparan eksistensi wormhole.
"Apa garisnya intermate juga ya, berinteraksi dengan masa depan dan masa lalu? Umm, ini kasus sulit yang pernah kutangani.."
Jihan mendadak Conan Edogawa, mengusap-usap dagu.
Sementara itu, pemandangan di dalam wormhole sepertinya lokasi lembaga pemasyarakatan alias lorong penjara. Dua sipirnya di situ masih mengobrol dengan Marcel. Jihan tetap sibuk dengan penyelidikan unknown object, melamun memikirkannya.
Zwwishh!
"Ehh.. Nat?"
Jihan terbuyar oleh bunyi lapisan wormhole, ditambah sosok yang memukul flat, anak perempuan terbalut baju F1 itu tampak sedang berteriak minta Jihan masuk, dan terus menangis menyebut-nyebut kata yang sama. Jihan tampak cerah melihatnya, dia pun segera masuk, diberi jarak oleh si anak yang entah habis dari mana.
"Aaarrrgh.. Nature!!"
Deph!
Jihan jongkok memeluk Nature, keduanya berpelukan tanpa peduli wormhole lenyap dari pandangan.
"Maah.. Hiks! Huhuu.. uuh.. Nature kangen! Ray jahat banget bilang Mamah tukang kusut. Huuu.. uuuu. Mamah, ini Nature! Huu.. uuu.. Hikks.
"Iya, Sayang. Gizi nyeritain banyak soal kamu. Hikks.. Jangan nangis dong, Nat. Ini Mamah udah dateng."
"Huuu... uuu.. Gak mauu"
"Iya. Mamah juga kangen kamu, Sayang. Hikks.. Yuk, kita jalan-jalan dulu."
"Huuu.. uuuh. Nature baru beres.. bawain makanan.. huuu.. uuu dari tempat McWell, Mah."
Nature sudah melepas pelukannya, kini menyeka-nyeka wajah dengan tangan, membersihkan banjir.
"Hiks, kamu lagi kerja ya, Sayang? Hikh.. Rajin banget.. hiks. Sini, biar.. Mamah yang bersihin.. hikks."
Jihan turut mengusap wajah Nature, membiarkan airmata-nya sendiri, yang masih mengalir.
"Iya.. Huuu uuu. Ray jahat banget.."
"Udah.. ya, Sayang.. Dia lagi tugas. Dia lagi.. kerja juga. Hikk-hiks.."
Nature langsung memeluk Jihan, tangan mungilnya masuk lagi ke bawah ketiak. Marcel sudah bersandar ke terali besi dekat mereka, dia pilih menyimak saja. Jihan balas pelukan Nature, bahkan dia berdiri mengangkat si bocah.
"Hhh, gue tau ruangannya. Yuk..!"
Marcel berjalan meninggalkan sandaran, tangannya sudah kosong. Ray dan bedilnya tidak diperbolehkan dibawa. Penjara ini berlogo lingkaran padi alias milik UNO.
__ADS_1
Jihan segera mengekori, membiarkan kaki Nature menjepit tubuhnya. Dari geraknya yang agak lambat tersebut, Nature ternyata cukup berat. Tapi emaknya yang kurus tampak mampu menggendong.