Jihan

Jihan
chapter up 55


__ADS_3

"Si Marcel dah mendingan, tapi urusannya belom. Dia samaan, masih nungguin protokol soal jantung mutantnya. Tinggal beberapa ekor lagi yang jadi kunci perang ke-enam."


"Prita lagi ngintrogasi Batgirl," lapor Jihan. "Tau patoknya, masalah apaan. Kalo gue kepo, soal vacum si Bekeul."


"Tunggu spion BIN ini beres deh."


"Ha, agen negara lo bilang? Bukannya dia tuh cucu si Doremon?"


"Ntar lo terjun bareng dia, ya. Ghost dah aman di sini sampe level trainingnya ready. Biar kami yang awasin, sekalian gue nemenin si Vita, nyilang patrol."


"Umm, kalo tugas bareng Mbak Killer tuh, wajib diem. Gue khan masih awam masalah spionase, Nik."


"Lo jadi silent guardnya. Kalo investigasi lapangan, pegangan dia."


"Kalo dia ngamuk gimana? Dia masih nyebelin. Kalo gue jadi partner sablengnya, si Mbak tambah killer deh."


"Nyebelin gimana? Gak ada intimnya gitu?"


"Ada sih akrabnya. Tapi dia kayak naro dendam gitu, kayak pengen pensiun lihat tampang gue."


"Dia boong, anggap aja lagi caper. Dia khan turunan si Marcel. Kalo.."


"Dia ngancurin tembok server.." potong Jihan. "Mirip janda. Dia galak, Nik."


"Hhh.."


Splrrpp..! Nik Nik menyedot minuman dan diam sebentar menatap ke depan, entah apa yang dilamunkannya, lalu mendadak diguncang senyuman.


Jihan abai opininya receh di kuping Nik Nik, beralih perhatian ke layar arena.


Tayangan bioskop masih berlangsung, Jihan dapati tembok arena sudah ditembaki kapal di mana pilotnya tersenyum sambil menekan setir, laser yang dimuntahkan kendaraannya jadi hiburan tersendiri bagi Ghost.


"Si Mbak-nya tau kok, elo gabut lantaran sikapnya. Tunggu aja sampe dia nyampein alesannya, Han."


"Soalnya gue ngerasa, gak pernah lepas dari karma, Nik."


"Terus?"


"Kalo elo sih pantes judes ke gue, soalnya pernah dikejamin langsung. Elo korban telekinetik gue, Nik."


"Kenapa coba pada rame pas lo berantem sama Nina, terus ngedadak sepi lagi?"


"Napa tuh, Nik? Pada inget, biaya pajaknya gede khan?"


"Gak, bukan. Ihiiihi.." seringai Nik Nik, sambil menutupnya. "Gini. Gini. Sesama lusid tuh, kayak sedarah gitu. Kalo gue balik nyakitin, rasanya gue yang sakit-sendiri. Lo tadi tau gue ada di sini via pancaran. Maka pala elo agak berat. Lusid kayak gitu.


Kalo karma sih, wallahualam Han."


"Gue berkeliaran di luar sana. Sampe tentara shift melem nodong gue, di kamp, waktu dateng. Tenar, tapi t*roris. Gue.. Kena imbas."


"Gue justeru pengen liat, paradok gue gimana. Life is strange."


"Lo beneran, belum kedatengan anomali?"


Nik Nik langsung angguk-kan kepala, menatap lawan bicaranya.


"Gue rasa cukup jins lo sendiri, Nik."


"Qorin gue pendiam, pendengar, kayak gak pernah ikut campur kerjaan gue."


"Lo khan lusid. Ya dia, ada dalam diri lo. Bukannya ilang."


"Pemalu. Sejauh ini cuma ngetik pesan, cara ngomongnya."

__ADS_1


"Hahah!"


Set!


Nik Nik terseret menembus pagar, namun segera berpegangan.


"Aa.. aaduh.. duh! I-iya..!"


"Ahahaa! Bukan salah gue.." gelak Jihan membiarkan temannya terkatung tegang di pagar tribun, ditarik sesuatu tak terlihat.


Karena tepian pagar dari stenlis, besi tersebut jadi licin oleh keringat. Makin melawan, makin kuat tarikan yang ada. Nik Nik akhirnya kalah tenaga, lepas terbawa terbang.


"Am-amm.. puuuun!"


Nik Nik berseru kencang menuju Topan. Teriakan panjangnya didengar cowok yang sedang menepuk-nepuk dua tangan dekat tumpukan puing kapal.


"Nik!"


Jihan cemas memanggil, tapi begitu melihatnya dari pagar, Nik Nik sudah dibopong Topan di bawah sana. Jihan langsung menghela nafas lega, tak peduli ruang-bioskop lenyap dadakan.


"Hhh, kiraen dijahil beneran."


"Han, lo di mana?"


"Ehh," degup Jihan, menangkap suara.


"Salin. Cepet.."


"Mau ke mana kita Mbak?"


"Bergerak. Ke TKP. Kenain PDL lo."


"Perkedel?"


"Oke. Naro kaleng dulu."


Jihan lanjut melangkah. Sampai di depan kursi, gelas dan kaleng biskuit dia ambil. Tubuhnya perlahan naik. Dia melayang pergi meninggalkan tribun, abai dengan bunyi alat yang mengikuti di dekatnya.


Kacamata dan teropong segera susut menghilang. Gwiit!!


Gadis piyama mendarat di depan meja, segera menaruh bawaannya. Di situ Jihan tengadah mendapati S1 mengedip-ngedip lampu, Ghost tampak sudah menguasai kapal yang dikendarai. "Ngapain mindai gue?"


"Hati-hati. Selamat bekerja Kak Mentor."


"Dah bisa nguping lo ya..?"


"Haha!"


Wahan bertranformasi. Bunyinya terdengar seperti besi bergeser, terlipat, membuka, ditekuk, sampai ada bunyi mirip barang patah.


Grrthh!! Tekh! Takh!


Tekh! Tak-tak..! Takh!


Gretakh! Gwiit!


Trakkh..! Tekh! Takh!


"Waouw.. that cool, Ghost," komen Jihan, wahana yang dilihatnya sudah berganti bentuk jadi objek lebih purwarupa, human mode alias robot.


Prita yang sedang menunggu Jihan di dekat pintu dimensi, turut tengadah. Sementara Paradok yang bersamanya jalan menghampiri Jihan, kepala Bandana sudah tak ditutupi "helm".


"Jihan. Aku akan bantu kalian, aku punya urusan yang sama denganmu Giziania," tutur Bandana di depan Jihan, tapi diabaikan.

__ADS_1


Objek yang dipandangi Jihan terlihat gagah, tak ada ruang kokpit atau pilot dalam S1. Wahana tampak robot sungguhan bukan lagi sebuah drone atau kendaraan.


"Hei! Lihat aku!"


"Ehh.."


"Aku tak punya banyak waktu lagi, Jihan."


"Idih. Biasa aja keles. Nyolot amat sih lo Bekeul. Berisik!" semprot Jihan ke paradoknya.


Yang dipelototi mengedipkan dua mata.


Zwaatt!


Selapis layar-arsip menampakkan diri dan jadi halangan. Ada dua wajah Jihan di dalamnya, juga sebuah bola bening, Bandana sedang mengangkat tangan di situ bak peramal sedang menyihir benda keramat-nya.


"Dengar. Ini sama penting buatku, Jihan. Aku salah pilih jalanku. Riko sesungguhnya sudah tiada."


Layar sudah bergeser ke samping.


"Hadeh. Iya. Gue tuh elo, gak usah lagi belagu setia. Idup buat nunggu dan ngarepin yang gak pernah datang lagi. Dia udah almarhum, Batgirl. Please, itu nyata. Di sini dan di luar. Sadar deh, kita tuh budak cinta yang belum seharusnya begitu.


Qorin udah upaya, nyisain apa yang ada dalam diri almarhum. Tapi liat, lagi-lagi numbalin orang yang dia sayang. Jins-nya dan si Mamah. Ditambah, cerita temennya.. Ahh, dah lah. Dosa, dosa. Dia cowok baik-baik."


"Kalian baik-baik saja?" tanya Prita begitu datang, turut nimbrung. "Briefing tambahan, sambil jalan aja.. Ada banyak nyawa masih terancam di luar sana."


"Apa misi kita ngamanin mereka Mbak?" tanya Jihan.


"Juga.. dunia. Lo provokatif, ditambah si Marcel, oma gue, yang gak mau berenti."


"Tuh sisi gelap kami, Mbak. Ya udah sih. Jangan bikin sisi keruh-nya bingung gini. Makin gelap dituduh-tuduh."


Tanpa banyak bicara, Prita berbalik meninggalkan Jihan dan Bandana. Wanita terbalut baju tentara tersebut makin bertambah dingin. Jihan memanggilnya, tapi tak didengar.


"Mbak! Please, mereka bukan gue!"


"Sebaiknya kau bersiap," kata Bandana turut pergi, menyusul orang yang berbaju sama dengannya, uniform UNO. "Pakaian ini nyaman.. Jihan.."


"Hhh.." pandang Jihan, dengan wajah masih kebingungan, tampak takut.


Swwrrth!! Lapisan aneh menampakkan wahana yang disembunyikan, S4 sudah kembali lagi ke Bumi, mendarat di dekat menara Eiffel yang telah patah, di Prancis.


Gwwwrrt!! Kapal Bulat mengambang kembali terlapis perisai selesai menurunkan tiga penumpangnya. S4 pun hilang tanpa terlihat ke mana arah terbangnya.


"Nih udah apa belum sih, perangnya?" bingung Jihan, sudah tidak pakai piyama lagi, di punggungnya ada teks UNO, sudah dibalut PDL dan bersepatu khas medan perang, ceko, tapi dia merasa telat datang ke petempuran.


Jihan melihat taman yang ada sangat hancur. Tiang-tiang lampu tergeletak, pohon-pohon tumbang, rerumputan tumbuh di jalanan taman seperti lama tidak dijamah lagi. Cahaya purnama hanya menambah mata Jihan makin ragu dengan status lokasi, Prita dan Bandana sudah agak jauh meninggalkannya, hanya si bingung yang masih peduli dengan TKP.


"Ce qui vous est arrivé?" tanya seorang pemuda begitu Prita datang.


- apa yang terjadi padamu?


Si pemuda kembali menatap Jihan dan Bandana, tiga temannya di belakang, masih dengan posisi hormat.


Jihan tak peduli dengan pemegang Arc yang menatapnya. Di kemah kecil ini, dia mendapati sumber bau yang tercium hidung, yang tengah dibakar di bonfire, makanan khas orang-orang survive; ular.


"Pas lui. Celui-ci," kata Prita.


- Bukan dia. Yang ini


"Sii!!"


Lawan bicara Prita langsung tegap dan hormat. Pakaian tampak sudah sangat lusuh, tapi percaya diri, senapannya sama dengan yang dibawa oleh Prita. Mungkin si wajah khas eropa ini memang gerilyawan lokal yang sudah kenal dengan Marcel dan Prita.

__ADS_1


__ADS_2