
"Hei sapa di dalem?"
"Gue Cha."
"Ya ela. Likunci tini ci?"
"Apa, gak jelas?"
"Buka!"
Lagi asik-asik muter-muter badan, pintu diketuk. Jihan segera buka kamar pas dan si teman langsung masuk. Rambut Icha tampak terurai, belum digulung, maka dia pun sibuk.
"Hii.. nyempit deh ah."
"Gecel, gecel."
Icha menggiring badan ke tengah sambil merapikan rambut. Walau tubuh keduanya pada ramping di situ, tapi siku Icha menjeduk kepala Jihan. Jdukh!
"Ishh, anjrit..! Takit!"
"Gecel makanyua.."
"Iya, lo datang-datang malah nyerobot gini coba," kata Jihan tak mau ngalah. "Kita emang sarden, tapi tetep gak muat dipaksain gini."
Icha diam tak membalas, sudah menggigit jepit rambut dan masih konsen membereskan.
Tak lama, musik buka toko akhirnya bergema. Pada jam ini semua SPG dan karyawan harus berada di stand masing-masing. Jihan tampak sudah berdiri dengan manisnya di counter Hamam, tapi matanya masih mengarah ke kamar pas karena Icha kena tegur sekuriti di situ, Icha pun keluar sambil terkekeh, diikuti Jihan.
"Hhh-hhh! Dibilangin gak percaya. Kaget khan diketok," kata Jihan saat Icha lewat di depan standnya. "Latah, latah.."
"Bido mitalah. Hhh-hhh!"
Mereka ketawa waktu Icha latah mendengar tongkat sekuriti diketukkan ke papan fitting room. Dia langsung keceplosan ngomong 'begitu', bukannya istighfar.
Satu jam kemudian, Jihan kerja seperti biasanya. Beres-beres kaos yang diacak-acak customer, mencatat stok, membuat salinan sale, melipat-lipat, sampai dia kembali bengong menunggu pembeli datang. Bagian ini menjenuhkannya sebab jam berputar sangat lambat. Belum face mask yang mengikat muka.
Biasanya Jihan isi waktu dengan jins-nya lewat intenal voice, mengobrol apapun. Dia dan Gizi sudah satu orang. Tapi entah kenapa Jihan tak memiliki pengetahuan Gizi. Mungkin mereka memang beda golongan.
Jihan sebenarnya mampu memanipulasi waktu, atau menggunakan Sorrow jadi stuntmannya. Tapi dia memilih tahan diri untuk tidak "curang". Paradoknya telah banyak menyita tenaga Server, timeline-nya atau bumi ini pun bukan lapak dia.
Jihan masih harus lembur. Bagaimanapun rindunya pada Nature harus dipendam sementara ini. Jihan iseng-iseng menggambar wajah anaknya, tapi hasilnya membuat dia tertawa.
Jam istirahat, Jihan makan bareng Mamah. Mereka berdua memang satu gedung tapi beda perusahaan. Jam kerja mereka sama, keduanya pada lembur hari ini.
"Mah, kalo jadi ortu itu baiknya gimana sih?"
"Kamu ngomongin dufan sudah gak aneh, Hani. Tumben pertanyaannya."
"Iya, anggap aja nih masih bagian dufan, Mah."
"Kamu udah gede, itu yang dibilang Bapak ke Mamah."
"Umhh, gak ngerti Mah. Apa maksudnya tuh?"
Jihan sudah mengemil ayam gorengnya, tetap santai.
"Ajukan pada Bapak dan Bibi kamu. Soal kerja, Mamah masih bisa jawab. Mamah kebawa naluri aja besarin kamu. Cuma bisa setahun gendong Ririn."
"Minggu masih kelamaan. Trus Bibi gak tau apa-apa soal dufan. Hani serius lho nih masih bagian dufan."
"Ya sudah. Belajar sekarang jadi orang tua, seolah sedang mendidik diri kamu sendiri. Sekarang, pertanyaannya kenapa kamu belum ngenalin pacarmu ke Mamah?"
"Dih, siapa juga yang bahas cowok."
"Kenapa kamu nanya soal rumah tangga?"
"Iya ntar dikenalin. Gapapa khan Mah, kalo cewek?"
"Tanya ke Bapak."
__ADS_1
"Bapak sih gak bakalan cemas."
"Ya sudah. Jangan niru Mamah. Ambil yang baiknya saja."
"Wuwu.. wuu. Pasti gini deh kalo Hani ngobrol sama Mamah."
Mamah minum, pura-pura tidak mendengar dan melihat. EGP.
...****************...
"Ini toh lawang buat ke panti? Mirip portalnya Kencana."
"Emang heu euh wormhole-na. Anak teknik nu modif, Han. Ilmuna meunang ti para snailer biar semua lusid bisa buka lewat lencana kalian.
Sistem tanem nih juga sekaligus buat uji coba, biar para natural tau ada dunia lain di muka Bumi ini. Soalnya khan, sebelas taon tuh bukan waktu yang bentaran. Biar gak harus jadi petapa dulu gitu, cukup aja tester."
Ada benda aneh di tanah, sumber dari keberadaan lawang, namanya tester.
Di pekarangan rumah ini Jihan mengamati garis portal, sehelai rusuk persegi panjang. Ternyata objek memang tidak jauh beda efeknya dengan wormhole Server ketika 'laser' disentuh. Kini ujung jari Jihan yang citranya hilang, tidak terlihat dan bayangan jari Jihan pun tidak ada.
Minggu pagi selesai joging Jihan pulang bareng Marcel.
Hari Selasa mereka sudah bertemu di dunia mimpi, tapi Jihan kecewa. Ray sudah menutup nomand tujuan, mem-blooming - istilahnya sudah dirapikan, Hoax sudah dipenjarakan.
Nomand-nya tahun 2587 sementara nomand yang diijinkan aktif adalah abad 24. Jihan bisa menggunakan Kapal Karantina-nya ke nomand tujuan dengan cara tidur dikapsul selama seabad sebagai paradok (Hoax), pergi tanpa Gizi. Maka cara ini tak memungkinkan Nature mempercayai Hoax sebagai Jihan.
Hari itu tak hanya Jihan yang gabut, jari Marcel pun kena segel, dibuat menganggur.
Selama berhari-hari Ray di Ladang. Dia buka jasa tapi mengecualikan dua gadis 11-12 itu.
Marcel sudah kenal Ray begitu lama, jadi tahu karakter sang khodam. Tak heran Marcel berhasil membujuknya. Si petapa pura-pura marah, sudah jatuh hati sama Arc-nya. Dia pergi, membiarkan Ray duduk termenung di bangku pos Fincez.
Kurang lebih begitulah Marcel ceritakan segel di jarinya. Hari ini jempol si petapa sudah unlock, tak ada bekas tinta-pemilu lagi.
"Kalo udah ditanem gini, ntar ketimbun dong tester-nya, Sel? Kena hujan, ke-urug beton gedung di era besok. Misalnya taon tiga ribu kemudian."
"Trus?"
"Gelombang Tester bakal kedetek di frekuensi tertentu oleh pemula, atau yang lagi ritual projection. Tester udah diseting juga biar pintu auto muncul dekat si pemula.
Tapi, pancaran tergantung frakuensi will elo, Han. Kalo lo lagi tenang, pas ada seribu orang di Bumi ini yang sama tenangnya, meditasi mereka sukses sinkron dengan frekuensi lo."
"Berarti gue harus meditasi dong seharian?"
"Ari sia. Nya teu perlu-lah. Udah diatur random. Jadi nih teh siga undian, Han. Lain ondangan."
"Se-frekuensi khan?"
Marcel diam menatap Jihan, menunggu kalimat yang digantung tersebut.
"Nih tester, jadi.. kayak pencari jodoh? Gitu meureun?"
"Bisa dibilang gitu sih, Han. Moga aja iya."
"Ya gue bakal dinikahin seribu orang dong, ahh."
"Iya. Kita cari tau makanya."
"Hhh.. Kurang ajar," lemas Jihan. "Ada kali, cara lainnya, Sel."
"Apa?"
"Tanem saham."
"Jadi lo ijinin.. khan, nih Saham?"
"Kalo emang mau nambah jumlah astraler, napa kalian gak buka pendaftaran aja sih?"
"Kalo orang udah liat bukti-nya sih, yaa itu mudah, Han. Bahkan semua orang bisa bikin fiksi."
__ADS_1
"Iya. Deh. Hhh.. Sialan lo, ahh. Kalo diseting seribu orang gini, pliss kuadratin pangkat tiga Sel."
"Han, satu FYI lagi nih."
"Apaan?"
"Gue ikut."
"Elo khan yang nganter gue, Marcel. Maksud sia naon?"
"Ntar deh gue jelasin alesan lo sama Gizi disegel terus."
"Oh."
"Lha kiraen lo udah paham soal Hoax."
"Gizi bilang nih segel terkait ghost protokol gue. Vakum-nya."
"Rada kena. Nih soal inisiatif sih sebenernya, Han."
"Gak ah. Gue nunggu protokolnya. Baru gue serahin nih vakum ke Olive."
"Tapi awas kalo lo nyakitin Gizi," kata Marcel sambil berjalan ke arah meja, meninggalkan lawan bicaranya.
"Boro-boro. Yang ada, dia bikin gue nangis seharian, Sel. Jadi sebenarnya gue tuh nunggu Gizi, biarlah dia yang mutusin sendiri."
Marcel sudah duduk di tepi teras membuka bungkusan ketoprak. Bungkusan di piring satu lagi dia biarkan di meja. Karena yang diberi karet dua itu milik Jihan.
"Kalo maneh mau ikut, ya hayu, Sel. Kita cari bapaknya si Nature barengan," kata Jihan sambil melanjutkan pengamatan.
Marcel sudah sibuk makan. Padahal ada kursi plastik di sebelah meja, tapi dia milih duduk di situ. Marcel juga tampaknya sudah kelaparan, jadi masa bodo Jihan bicara apa barusan.
"Aduh. Nih enak banget sih kupatnya Han."
Marcel menyuapkan sendoknya lagi ke mulut.
"Dah gue bilang, enaknya pas lapar."
Gizi vibe:
Jihan:
Nia vibe:
Nature:
Mamah:
source: ig @stronger917
Marcelina:
Her meditation:
__ADS_1