Jihan

Jihan
chapter up 62


__ADS_3

Lorong benteng merupakan jalan setapak ke bawah tanah, ada papan penunjuk alias walking board bergambar bejana (ikon laboratorium) menggantung di langit-langit sebagai penanda tangga yang mereka turuni.


Takh..! Takh..! Takh! Bunyi sepatu Prita saat menapaki anak tangga, lorong memang sepi dan lengang.


Takh..! Takh..


Kedua sahabat tetap akrab mengobrol.


"Pantesan lo kabur, Mbak. Kiraen takut, sampe pucet gitu numpahin isi saku."


Takh! Takh..! Teph..


Prita berhenti di tengah tangga. Jihan meliriknya dan ikut berhenti.


"Gue emang takut Jim. Data gue bocor gitu loh. Gue bener-bener gak tenang kalo mereka ngeduluin langkah gue. Nyatanya bener, mereka ngabisin warga. Nyari sampel."


"..." pandang Jihan ke lawan bicara, diam tanpa kata alias serius.


"Kalo di plot sebelumnya, gue nyuruh elo. Tapi lo yang ngirim file ke si Nik Nik, diem-diem nyalin data. Beres itu nganterin gue dan Oma ke LHC."


"Trus di jalan, gue nyekik kalian?"


"Taunya di jalan, kami malah dibawa ke Indonesia, dia bilang ada alat yang lebih baik. Lo juga bilang, kita lebih aman di sana, soalnya ada Luna yang lagi nungguin."


"Trus..?"


"Dusta. Gue sama Oma kena modus. Sakit."


"Trus?"


Takh...! Takh..! Takh!


Prita lanjut berjalan melewati Jihan yang sedang menatapnya.


"Dari banyak plot yang gue jalanin, cuma plot-gua itu yang paling gue inget.


Oma jelas ngamuk. Udah ke-modus, dia harus liat batok gue belah..!"


Takh..! Takh! Takh..! Prita sudah menuruni tangga kedua, sudah agak jauh dari Jihan, tapi bicaranya masih bisa di dengar.


"Ngeri juga nih Ultimate," lamun Jihan, inget pada dirinya yang pernah memukul bocah. "Jangan-jangan itu power gue pas ngejotos rahang si Vita."


Jihan segera menyusul Prita, dia langsung menanyakan tempat respawn, lokasi Prita dihidupkan kembali. "Trus lo respawn di mana Mbak?"


"Di kandang yang pake rante. Sumpah gue pengen naro granat di situ."


"Pantes pas lewat lo gak sudi liat muka gue. Di situ toh alesan. Kena modus. Mampus."


"Hhh.. Provokator."


"Lewat sini," ajak Jihan lanjut jalan kaki selesai menuruni tangga, mengabaikan Prita yang sedang diam kacak pinggang dekat dinding persimpangan. "Sono gudang, Mbak. Jauh pake muter-muter."


"Ck! Napa di sini gak ada penunjuk," gerutu Uno, butuh arah dan informasi.


Prita segera jalan meninggalkan dua ikon yang tercetak di lantai, memanggil Jihan yang sudah menjauh.


Tok takh! Tok takh..! Tok takh!


Dua gadis kocak akhirnya sampai di ujung lorong. Mereka berdiri di depan pintu, ada ikon petir dan garis putus-putus di kedua dinding. Sementara ruangan lab sudah dapat mereka lihat dari lapisan kaca di depan mereka.


"Kita lagi di-scan khan Jim? Apa belum diganti nih pintu? Lama amat."


"Perut gue ada betonnya."


"...??" tatap Prita pada lawan bicara, keningnya berkerut.


Jihan diam tak lanjut berkata-kata.


Traatt!


Belahan pintu bercahaya, dua kaca tebal tersebut langsung melesat terbuka usai segel dilepas pemindai.


Visitor harap mematuhi protokol Ladang


Kedua sahabat melangkah masuk lab, melanjutkan perjalanan. Ruangan tampak lebih luas saat dilihat dari dalam. Ada banyak meja panjang di mana terdapat gelas dan tabung kaca yang tengah mengepulkan asap. Prita juga melihat satu alkemis sedang melayang menyinari selang plastik. Hanya meja tersebut yang diawasi.


"Nih ruang mentahan. Cairan alam, mineral, sumber luar, aer biasa bahkan dicek dan didata pertama kalinya di sini. Baru ngalir ke lab olahan. Struktur atomnya ntar diretas di sono, di lahan manual. Tempat para alkemis, Ladang."


"Canggihnya keliatan di sini. Bunyi-bunyi terus juga warna-warni indikator."


"Ya emang mesin, aneka macem scanner ada sesuai bahan yang disorot. Dari lup sampe kolam kobokan."


Sllpph!!


Laboratorium kedua berlorong panjang, kanan-kirinya mirip ruang-ruang khusus namun kebanyakan tidak beratap. Dinding semua ruang hanya setinggi pinggang sehingga pengunjung dapat melihat isi ruangan melalui pagar kaca.


Sesosok pemuda ber-Katana mendapati mereka, tapi dia tetap duduk di pot, di dekat pintu, memutar-mutar pedangnya.


Criikh..!! Criikh..


Kalajengking besar keluar dari ruangan membunyikan dua capitnya. Jihan dan Prita yang sedang menghampiri si Katana berhenti begitu melihat ukurannya. Sementara si pemuda berjirah unik mengetuk-ngetuk ekor mahluk tersebut.


"Udah, pokonya gue bilang bukan. Lo denger bunyi gak? Ha?"


Tukk! Tukk! Ekor yang dibahas diketok-ketok lagi.

__ADS_1


"Bukan.. parasas, Yon. Bukan. Laporin aja. Napa nyuruh-nyuruh gue? Ha?"


Set!


Kalajengking memanjangkan jarum ekornya ke si Pemuda, tapi meleset. Pengetuknya memiringkan kepala.


Set! Set!


"Aduu..uuh. Tuh dia, Jim.. Hikks," beritahu Prita sambil sembunyi di belakang Jihan. "Dia.. Dia yang dateng dari hutan, tiap gue datang.. ngaburin pos dari mata gue."


"Si Gream?"


"Itu.. iihh. Anjrit. Hikks.."


"Tapi ada apa ya? ruangan jins gue berantakan gitu Mbak," sidik Jihan, membiarkan jari manisnya bersinar biru.


"Mana gue.. Kyyaaa!"


"Ehh, Mbak!"


Oyon menghampiri Jihan, namun yang dihampiri cuek karena sedang memikirkan kondisi ruangan. Prita sudah berlari, balik ke ruang pendataan tak peduli panggilan dan wajah heran si pemuda yang mendapatinya.


"Hei. Siapa tuh? Bener gitu mata gue liat The Losted Han?"


Jihan tak menjawab selain mendapati tangannya sudah buntung, tertancap di ujung ekor si Reptil dan dibawa kabur, pelaku merayapi dinding kiri.


"Tengil ketemu tengil," tatap Jihan pada pergelangannya yang diputus dan mengalirkan darah di mana tetesannya masih tampak segar di lantai.


"Dia nakutin tamu Ratu. Lab lo di pretel Giz."


"Ehh, Gream. Tunggu!"


Gream pergi menyusul Prita, pintu ruangan langsung melesat terbuka saat si pemuda berlari menghampiri. Sekilas Jihan dapat melihat Prita sudah melewati pintu lorong, langsung pulang.


"Caper yang pas kayaknya. Cowok ngejar cewek," komen Jihan membiarkan Gream teriak-teriak memanggil temannya. "Hhh."


Grrrth!! Grrt!! Tulang, daging, urat, dan kulit tangan Jihan tumbuh membungkus rusuk-rusuk blueprint, Jihan menggerakkan jari saat proses berlangsung.


Kweeatt!! Gdebuukh..!


Criikh! Crikkh!


Gdebuukh!


"Ehh.."


Jihan melihat Oyon membanting-banting ekor ke dinding, sementara bayangan biru berjoget-joget di sebelahnya, menggoyangkan pinggul sambil angkat tangan dan bertepuk-tepuk.


"Diih..? Mereka ngapain Rin?"


"Hhh. Ada aja nih tengik ma tengil."


Biar aku yang periksa dapur. Sri Ratu masih mengerjakan pesanan di dapur penawar, di toxin level A


"Oh ya, sindemi cosami tandesa."


Usai berkata demikian, kepala Jihan terlingkar garis merah.


Kulit tubuh Jihan bagai dilewati ribuan cahaya Kunang Kunang, menyala-nyala.


Set! Zwiitt!


Tak lama setelah jins-nya melesat keluar, kelebatan cahaya lenyap, sumbernya sudah menjelma jadi kembaran dan langsung berjalan masuk ruangan.


Jihan mengikutinya, dan benar saja dapur alias lab sang jins tampak hancur, dipretel. Banyak pecahan barang serta alat-alat lab di lantai.


Meja racik sudah terguling, lemari-lemari terbuka pintunya, juga sebagian selang di langit-langit putus, membuat lantai basah, gosong, keropos. Ruangan diasapi kepulan tipis.


"Aku ketemu Ratu dulu ya?"


"Silahkan, Tuan," kata Zihan dengan mata violetnya, sudah sibuk menyoroti sekitar sambil menyentuh kuping, lalu menghampiri salah satu lemari. "Citruz.."


"Hhh.."


Gdebuukh!! Gdebuukh!


Criikh!


Kweeatt!! Gdebuukh..!


Criikh! Criikh!


Jihan lihat dua "tiktokers" tetap berjoget-joget, acara sesama robot.


"Dasar pengangguran, pada gak jelas," komen Jihan sambil menggeser tato glowing di punggung tangan, mengakses data Server lewat monitor bratle.


Di depan salah satu dapur, Jihan menghentikan langkahnya. Pintu langsung melesat saat Jihan masih melihat-lihat.


Sllpph!


Tampak di dalam lab ada enam alkemis sedang sibuk berkutat dengan air-air kimia. Di antara mereka yang berjas, ada salah satu peracik yang kupingnya terpasang alat bantu. Saat dia berbalik tampaklah wajah Reinit dengan rambut tertata rapi berserta bondu yang tak lain mahkota mini.


Wanita yang Jihan perhatikan persis Clone yang sudah didandani. Bibirnya merah, mata lebih lentik. Analog tidak begitu dari beda fisik Reinit, masih terpancar figur sub-dewan di wajahnya. Selesai mencelupkan tablet, dia kembali memunggungi meja kedua.


"Hadeeh, takut ngeganggu kalo masih kerja gini mah."

__ADS_1


Untunglah ada yang tahu, dia tak sengaja mendapati Jihan sedang berbahasa gerak. Gadis berkacamata pun segera bicara pada sang ratu. Reinita sadar, lalu menoleh ke arah yang ditunjukkan, ke kaca bagian pintu.


"Oh dia, betul. Masuklah Jihan."


"Yes.." sebut Jihan, berjalan masuk lab sambil mengacungkan jempol pada anak berkacamata. "Assalamualaikum."


Salam tersebut membuat dua anak laki-laki melirik, namun kembali berkerja karena Jihan datang menghampiri atasan mereka.


"Walaikumsalam," jawab Reinita sambil mengantongi benda mirip ballpoint ke saku jas. "Malah pacaran."


"Dih, apaan? Jihan udah.."


Reinit meninggalkan ruangan sambil menjarikan isyarat ke bibirnya.


"Upph! Sori.."


Claph! Cahaya terpancar di depan lawang, tanda Reinita berpindah tempat.


Drrdd! Kulit tangan Jihan bertato lagi, menayangkan Prita dan Gream duduk di bangku pos.


Drrdd! Monitor berganti jadi layar "chat" dengan sebaris pesan, yaitu;


Di taman saja, di sini lebih tenang seperti yang kamu tahu


Jihan senyum-senyum sendiri membacanya.


Taph! Taph..!


Jihan segera menyentuh monitor di kulitnya lagi, mengetuk gambar alias alamat dua kali sesuai angka yang tertera.


Claph!


"Kamu baru saja menginput dua ordinat taman. Bagaimana kabar Mamah dan Bapak?" tanya Reinit yang masih duduk bersandar begitu dipotret cahaya yang datang menghadirkan Jihan.


"Alhamdulillah pada sehat, Ratu," jawab Jihan, ikut duduk di sebelah lawan bicara, pimpinan dari kembarannya.


"Terus, mana angkamu? Katanya mau dibawa. Kamu lupa dengan janjimu itu, Jihan?"


"Gak kali. Jihan inget kok. Dasarnya tuh, dari tanggal lahir sama nama."


"Bagus. Jadi, data tersebut ada di bagian RPM. Itu juga merupakan jumlah frame, setumpuk objek Spear."


"Ha? Objek si handle? Apalagi nih, Ratu? Denger kata frame kayaknya udah masuk topik berat. Aduh, ntar dulu ding. Please."


"Ya sudah. Mau bahas apa, Jihan? Jangan minta latihan fisik. Basa-basi saja dulu."


"Ntar Jihan upload dulu filenya nih."


Set! Set..


Jihan mencolak-colek kulit tangan, layar bratle selayak smartphone-nya, tapi butuh sedikit waktu dalam mengoperasikan.


Drrd!


"Udah tuh," beritahu Jihan. "Jihan pengen tahu, gimana rasa kena hit sebesar empat kali damage sendiri."


Reinit mengganti pose duduk, menurunkan kaki dan condong ke depan. Selapis monitor bunyi, muncul begitu dibentangkan. Koran aneh tersebut berisi bola bening, dihimpit tangan, tepatnya berada di bawah ketiak.


"Gizi akan menolakku."


"Maksudnya dia gak mau?"


"Ya."


"Emang kalo langsung atau tanpa driver napa, Ratu?"


"Bracelet rusak, otomatis kamu akan pening luar biasa. Clone sudah beritahu kamu soal red stone, Jihan?"


"Udah, Ratu."


"Walau dia sudah merumuskan magis gelang, nilai serangan sebesar paradokmu ini, damagenya akan menghapus hingga ke blueprint. Dengan demikian Clone harus mencari RPM baru."


"Iya. Clone masih sibuk ngulik data Jihan di HC."


"Lebih baik serangan mental saja. Kamu pernah mengatasinya."


"Terserah Ratu deh. Gimana bagusnya.."


Reinita diam, menggamati foto warganya yang sedang mengitari bintik sinar bersama FinalCutter. Tampak di situ sebaris teks:


bawa serta Giziania ke C3 supaya tuanmu mengetahui perihal ekstrasi, apabila telah selesai berikan pustaka itu kepadanya supaya dia menyerahkan apa yang dianggap Reinit hilang


Di halaman baru yang Reinita geser dengan jari, ada foto paradok melayang membawa pustaka. Dia geser lagi ada Prita yang dijuduli The Losted.


Reinita geser lagi ke halaman berikutnya, ada wajah Qinetik dan Jilect di mana isi bola pustaka sedang mampatkan ukurannya. Judul foto tersebut new onwner berserta tanda panah yang menunjuk ke arah Jilect.


File berikutnya adalah foto ruang mahkamah di mana Jilect sedang membuat rusuh. Keterangan gambarnya adalah International Court of Justice, Den Haag.


--------------------- stop


note:


Ada galat untuk nama Reinit, Reinita, dan Reynita.


mereka tiga orang. Sub-dewan, ratu, dan hand of god (penerus tahta Reinita, masih terbaring di Library)

__ADS_1


__ADS_2