Jihan

Jihan
chapter up 90


__ADS_3

Jihan senang mendengar cerita, terlebih tadi bukan dongeng. Saat hatinya lagi meluap-luap, orang dia suka langsung meluangkan waktu. Dengan panjang lebar Marcel jelaskan padanya soal gelang yang dipertanyakan. Padahal Jihan hanya mencari alasan, biar bisa bebas cium-cium kening si teman, memperlakukan Marcel layaknya sebongkah diamond.


Marcel sendiri tidak risih dengan kegemasan yang ada. Dia justru serius menjelaskan kesaksiannya dengan singkat, jelas, dan padat. Tampaknya senang berbagi, terlebih dia langsung diajak main ke rumah sang lusid pas mereka ketemu di jalan. Ngobrol bahas Ray, bicara Tester, nopik Panti, Marcel tampaknya masih punya banyak kisah dan pengalaman. Sayangnya sang lusid tidak lanjut bertanya padanya soal hologram-murni atau jantung MacWell.


Mungkin Jihan merasa cukup. Sementara malam kian larut, entah sengaja atau tidak, wajahnya dia tempelkan ke bahu Marcel. Jihan nyereduk senyaman itu, membuat lamunan Marcel buyar.


Marcel sentuh layar yang dia taruh di sisi, memadamkan citra, maka si benda lenyap. Dia menggerakkan kepala hingga pelipisnya menempel di kening Jihan. Marcel menutup mulutnya yang menguap. Selarut ini ngantuknya baru menyerang, mata pun dipejamkan seberes menaruh tangan Jihan di pipinya.


Posisi keduanya tak berubah di pagi hari. Kaki dan tangan Jihan manja poses, Marcel sendiri yang dipeluk bergestur sweet miss, memegangi tangan Jihan. Cahaya pagi menerawang ke dalam tenda, namun masih sepi. Mungkin mereka lelah.


Di batu kemarin, Gamma tengkurap mengamati teropong. Dia mengedipkan matanya bergantian, alat pun diintip lagi. Gamma mencobanya ke arah lembah.


Mendapati Gamma sibuk di batu sana, Jihan balik badan meninggalkan si pemuda. Dia berjalan sambil menguap, rambut agak kusut. Dua menit kemudian Jihan tiba di kemah, duduk bersandar di sebelah Marcel.


"Ada khan?"


"Hu umz.." dehem Jihan sudah terpejam manja di bahu si petapa.


Marcel menyeruput isi cangkirnya, sarapan sereal. Dia juga membiarkan teko tetap tergantung di perapian yang sudah padam, ada layar apung di depannya. Marcel meneruskan kesibukannya yang ditunda semalam, sedang menyimak memo Camar.


"Aku tau Gaza gak ada di sini, Gam. Itu juga berarti tanda keberadaannya. Kamu harus rasain dikit perbedaan penatmu, Yah. Antara di sini dengan tempat lain. Pasti ada berat walau itu cuma dikit.


Oaa..!! Oaaa!!


Iya Sayang. Bentar.


Yah, aku yakin masih ada hubungannya sama Riko. Bukan maksud ngedorong kamu ke masa lalu, ketua pasukan punya catetan seteru dengan Kisye. Siapa tau dia clone. Siapa tahu bayi itu memang dilindungi sama mereka.


Ooaa..!!


Yah, aku aman kok. Udah dulu."


Di situ Gamma turut menonton, tapi masih mematung. Marcel lihat dia sedang melamun. Tak lama si duda duduk dan bersuara.


"Dia diburu sesamanya, bandit, juga Nand. Camar belum mau ngasi tau ke gue kalo dia lagi di Kapal Karantina. Not safe.."


Gamma memasang teropong ke punggung bedil yang dibawanya. Marcel menaruh cangkir dekat kaki, dia juga menyentuh koin yang terselip di telinga, layar pun memutar memo berikutnya. Gamma asongkan alat tembak ke pemiliknya usai dipasangi scope.


Jihan yang masih tidur, meraih bedil tersebut. Dia sudah membuka matanya tanpa melepaskan sandaran, ikut menonton sambil pegang Arc. Jihan abai dipandangi lelaki baju F1.


"Han.."


"Iya, apa?" sahut Jihan, lemah tanpa melirik.


"Paradok lo udah gak bisa keluyuran di sini. Kalo ntar nemu yang kutubuku, di nomand laen.. lo mau khan ngasih tau gue?"


"Gimana ntar. Tapi kalo gak nemu?"


"Gue tetep di sini kok, sampe ada protokol buat Nature."


Seorang yang bertopeng datang. Mereka mendapatinya menenteng empat ekor ayam. Dia baru kelihatan, di saat munculnya tampak menyenangkan karena bawa makanan yang tinggal dibakar.


"Abis teriak-teriak gitu, taunya dateng buat makan sahur."


Robot Gamma minta ketiganya minggir begitu tiba di depan mereka. Dia juga yang mengurus nasib para ayam, sudah sibuk menancap makanan dengan tusukan bambu. Marcel berterima kasih padanya dan segera mengajak yang ada untuk mulai briefing.


Tak jauh dari perapian, tiga sahabat jongkok saling menghadap menyimak skema yang Marcel buat di permukaan tanah. Marcel menunjuk Jihan, lalu melanjutkan penjelasan tempat untuknya dengan cara menaruh kerikil. Marcel juga menunjuk Gamma, lalu batu kedua dia taruh di tanah. Mereka sedang rapat menyusun taktik operasional.


"Napa gak malem-malem? Dari pantauan Camar, catetan dia selama di sini, jumlah mereka lebih banyak ketimbang siang. Jadi, Gam. Lo, gue tempatin di sini ngurus sipil bawah umur, dia (nunjuk Jihan tanpa melihat) yang lumpuhin para penjaga. Mau tuker gak kira-kira?"


"Ya udah, gue yang ngamanin anak-anak."


Hari beranjak siang, tapi agak mendung. Di ketinggian pagar seunit drone lewat masuk kawasan. Seorang koboy meneropong CCTV abnormal itu karena meninggalkan area tugasnya, tak mungkin mencari toilet ngebut begitu.


Syuuutt!!


"Aaa.. aa, akkh!"


Bruugh!!


Si koboy tiba-tiba jatuh ke luar pagar, dekat pelaku yang mengendalikan tubuhnya. Topi-nya lepas senapannya masih dipegang. Dia juga tambah bingung saat melihat pria persis dirinya.


"Paradok?" tanya si koboy B.


Bukh!


Korban dipukul hingga pingsan tak bergerak lagi. Dia dibiarkan terbaring. Kemudian pemukul mengambil senapan.


"Sekarang terbang, Seed. Gak ada tangga. Kalo nih mah senjata. AKA-49," kata Koboy, logat sunda, mengomentari barang yang dipungut, membiarkan wajahnya bercodet.


Tubuh si bandit pun naik melayang. Di pagar tembok, dia memungut topi usai mendarat.


Setelah memakai topi, bandit ini melihat-lihat lantai cari sesuatu.


"Kekeur-nya di mana.."


"Lo lumpuhin semua penjaga di situ, Han. Senjatanya, lo buang atau taro di tempat aman."


Marcel membuat garis lagi di tanah. Dia menjelaskan kotak itu bagiannya, Marcel juga lalu menaruh batu. Marcel memberi instruksi lagi pada dua orang yang tengah serius menyimak di hadapannya.


Di dekat mereka, koki kemah sibuk mengipas-ngipas panggangan dengan khusyuknya. Dia sudah milih bertugas di situ, mereka pun tidak ingin mengganggunya. Sang robot anteng tak peduli diskusi yang ada, wajahnya tetap ditutupi kaleng. Ironman atau tukang sate sih?


Gamma bergerak dan mengendap, lalu menutup wajahnya. Seketika tubuhnya menghilang.


Datanglah pria berkaos dekil, celana loreng dan bersepatu, memeriksa lubang dangkal itu. Si preman membidikkan bedilnya, tapi kemudian diurungkan.

__ADS_1


Penjaga tersebut mengambil handy talki-nya yang terselap di belakang, beberapa bocah yang sedang meng-estafet batu memperhatikan.


"Pos wa! Mi sel pati ge. Ka tuh sen drone tuk dai jek. Ra rim fly-tv."


- Pos dua! Mining selatan mendapati gerakan. Kami butuh sensor drone untuk memindai objek. Segera kirim fly-tv.


Begh!!


Hyuu..ungg..


Bruugh! Tak ada angin, tak ada hujan, tubuh si penjaga terantuk keras oleh sesuatu yang membuatnya tersungkur masuk lubang.


Bocah-bocah yang melihat kejadian tersebut saling pandang satu sama lain. Salah seorang mengendikkan bahu sambil geleng-geleng. Yang tampaknya peminpin kerja itu, segera minta salah satunya memeriksa.


"Mi sel, ha si dan lan per jek it. Pos wa.. umph!! Mmpph! Ngngng!!"


"Mining selatan, harap sisir dan lanjut periksa objek terkait. Pos dua.. umph!! Mmpph! Ngngng!!"


Bocah hitam jabrik memegang HT sambil mendengarkan berita yang tersiar. Dia segera balik ke kawanannya, memberikan senapan yang dipungut. Belasan bocah perempuan dan laki-laki di sekitarnya berhenti dari kegiatan, semua mata mengarah pada senjata itu.


Saat si ketua kawanan memeriksa amunisi dari senapan, dia kaget, disambut oleh yang lainnya. Si ketua mengarahkan bedil pada objek yang hadir di tengah mereka. Tapi salah seorang mencegahnya karena mengenal pemuda F1.


"Wa ka ar," kata Gamma pada si bocah.


- Bawa mereka keluar.


"Tadi gue liat, di sana tuh, gak ada anak-anak Bukit. Di mana kira-kira mereka dikurung, Sel?"


"Ada di area utara, jalan masuknya di dekat parkir dozer ini. Tapi sebelum ke situ, permukaan harus beres dulu Gam. Jumlah yang Camar hitung di jam ini ada sepuluh guard."


"Sel, elo ngomong permukaan? Maksudnya ada bawah tanah, ada underground di sana, Sel?" tanya Jihan.


"Iya. Kita amanin para sipil dulu. Jangan ada yang kegores ato lecet. Soal CCTV biar gue yang tanganin," jawab Marcel, dipinta satu memberi tiga jawaban sekaligus.


Marcel memeriksa leher orang yang dibekapnya dengan menempelkan dua jari. Dia belum memegang bedil sudah bisa melumpuhkan dua petugas pos. Marcel mencat-mencet tombol di ruang kendali ini, mengabaikan belasan layar di hadapannya, sepertinya sengaja dan hapal betul.


Dat..! Dit!


Diit!


Dat! Dit..


Jleegh..!


Marcel membuka jendela ruangan. Di sini bentuk dindingnya melengkung, ruang berbentuk tabung alias menara. Marcel buka jendela dengan menariknya ke bawah, daun jendela bagian atas ikut bergerak.


Blegh..!


Jihan yang sudah balik ke penampakan ori-nya, duduk di punggung preman yang sedang terikat. Dia asyik menyantap ayam bakar. Agak jauh darinya, ada tiga orang bersandar dalam kondisi tidur, tangan mereka sama, sudah disekat.


Swuwii-wiitt!!


"Ehh.."


Tak hanya Jihan, orang-orang yang sedang menumbuk batu, mengeruk tanah, menyalakan mesin dozer, estafet pasir dalam ember, semuanya mendengar dan lihat menara. Mereka kebingungan.


Jihan berdiri, di kejauhan sana ada lambaian tangan, sumber suitan yang didengarnya. Jihan segera membalas, ayamnya dilambai-lambaikan.


"Lagi! Nih aku lagi makan, Beb! Udah makaaan!!"


Di sini, Marcel lihat Jihan loncat-loncat mengacungkan makanannya. Dia berkerut kening atas tulalit yang ada. Marcel mengeluarkan setengah badan ke luar jendela.


"MAKSUD GUEE!! LO SIAAAP?!!"


"Apaan ya?"


Jihan diam sejenak mengingat-ingat briefing mereka tadi. Dia berlari ke tepian benteng. Dia melihat orang-orang di bawah tembok berhenti dari aktivitas mereka, juga ada beberapa lelaki yang terus bekerja. Jihan gigit ayamnya, balik ke tempat duduk.


Jihan pungut, dia ais lima senapan di pelukannya. Sang lusid lalu lari ke tempat tadi dengan mulut masih menggigit dada ayam. Sesampainya, Jihan lepas barang bawaan, senapan jatuh menimpa kakinya.


"Ummh!!" ringis Jihan hingga matanya terpejam.


Berapa orang menoleh ke pagar benteng, mereka dapati Jihan berisyarat, lalu melemparkan senapan. Setelah diberi bedil, para tahanan mengajak yang lainnya pergi dari lokasi seperti yang diintruksikan Jihan.


"Good job," komen Marcel.


Orang-orang berlarian ke arah selatan, lokasi anak-anak ditempatkan karena di situ benteng dalam tahan pembangunan, area terbuka. Mereka digiring lima orang yang bersenjata, dan masih berteriak menyuruh-nyuruh gerak cepat. Di lahan terowongan itu, Jihan sudah turun dari benteng membantu seorang wanita yang tersungkur jatuh.


"Pat! Pat!" teriak lelaki kekar pada si wanita.


"Jagain mereka, Bang. Dia lecet,"


"Sii!!" sahut si lelaki menaruh tangan di kening.


Jihan biarkan bapak itu pergi menyusul mereka yang duluan kabur, karena wanita tadi orang yang terakhir pergi meninggalkan kontruksi terowongan. Jihan menyapu-nyapu sekelilingnya, tapi teriakannya tak ada sahutan.


"Woy! Paaat! Paat!! Pergi dari sinii! Masih ada orang gaaak?!! Woy!"


Lahan sudah sepi, tak ada yang bergerak selain mesin pembawa batuan gua. Tapi kemudian mata Jihan tertuju pada pakaian kotak-kotak yang tadi dikiranya lap. Di sana baju tersebut bergerak-gerak. Jihan lari menghampiri.


"Keaak.. keaakh.."


"Ya Allah, ras birdy.." komen Jihan, objeknya ternyata sedang tergencet batu cukup besar, penyangga kayu turut tergecet serta sudah patah, batunya ternoda cairan hijau. "Napa pakean lo ala mummy gini?"


"Nreaakh.. nreaakh.."

__ADS_1


"Hhh! Gak yang laen apa selaen berak-berak?"


"Nruakk.. nruakk.."


"Ya udah. Diem dulu."


Jihan tak tega. Akhirnya batu yang menindih birdy segera dia 'magnet'. Dua tangannya diarahkan pada bongkahan. Serbuk-serbuk batuan mengepul di sisi batu, benda keras dan besar seperti bergerak sendiri.


"Nruuaak..!"


Manusia burung berhasil maju dengan dua sayapnya yang terbalut kain motif kotak. Dia masih merangkak gaya orang berenang. Jihan abaikan karena harus tetap menahan batu agar longsorannya tak menimbun area.


Sekian menit fokus pada batu yang 'diremote', Jihan tak mendengar lagi kata yang diprotesnya. Di situ hanya tinggal dirinya. Sosok F1 kembali menghilang selesai memberitahu Jihan.


"Eerrggh.. O.. O-oke.." jawab Jihan setelah ditinggal pergi.


Srlluu..uukh..!


Remukan batu meluruh jatuh. Kepulannya menutupi pandangan. Jihan tetap diam dikabuti debu yang lebat.


"GUEE TEKAN YAA!! SIRIN-NYAAA!!" teriak Marcel di jendela, menyaingi Tarzan.


Di muka tangga, bandit bangun alias baru siuman. Sementara petugas satunya masih terduduk tidur di kursi.


Operator pos adalah orang yang pertama dilumpuhkan Marcel, tapi belum sadar juga, sementara satpam menara yang menguntit Marcel sudah menyentak kepalanya, mengeleng singkat. Ternyata sisa bius masih mempengaruhinya.


Dat-dit! Diit..!


Censore deactivated


Krrwwtt..thh!


Mereka yang sedang tengkurap di tanah, bangkit berdiri. Belasan fly-tv yang berbaris di depan bergetaran. Gamma yang sudah membuka topengnya menyuruh semua orang bangun. Para tahanan pun menurut. Mereka yang bersenjata, Gamma lihat masih sembunyi. Si pemuda menggerakkan tangan, mereka segera keluar dari persembunyian, yang lain tetap di tempat menjaga pergerakan dengan bidikan mengarah ke terowongan.


Di ruang pengawas, pos dua.


Bukh! Begh..!!


Gubrakh!!


Set!


Wuuts!!


Set..!


Bletakh! Bukh!


Set-set!!


Marcel sudah sibuk by one dengan guard menara. Posisinya makin terpojok, mundur mengelak-elak pukulan lawan. Sang bandit makin liar gerakannya dengan kondisi wajah sudah memar dan berdarah.


"Heaah!!"


Guard mengayunkan tendangan putar. Marcel jongkok, merendah dan langsung menjejek kaki lawan.


Gubragh!


Marcel berhasil menyingkir saat si preman jatuh ke depannya. Dia siaga lagi dengan kedua tangan mengepal ala Jacklin. Bedil di punggungnya cukup panjang mengganggu, tapi Marcel masih dapat selincah Spiderman. Itu yang membuat satpam kesal dan tak konsen. Marcel lanjut berkuda-kuda, lawan meludah setelah bangkit berdiri.


Si prajurit lari menghampiri Marcel.


"Heaaa!!"


Set! Set..!!


Mata sang psikopat tampak sudah membaca aksi preman. Maka begitu diserang pukulan samping kanan, samping kiri, Marcel merunduk lagi untuk ketiga kalinya sembari menggerakkan tangan ke depan.


Bugh..


Badan korban mengambang, terdorong mundur dalam gerak lambatnya. Marcel di pose meninju, tiba-tiba meraih tangan lawannya. Tubuh yang sedang melayang dan mengudara tersebut dibanting ke lantai.


Set!


Bruu.. aargh..


Bata-bata lantai menyeruak terhambur ke udara. Lapisan semen yang turut pecah melayang ke atas mendahului kepingan bata di antara serpihan lainnya. Kepulan debu terbuncah lebih cepat begitu lantai ditumbuk bebannya.


Brugh!!


Seruluukh!!


Pecahan batu berjatuhan menghujani lantai hingga gemeretuknya berlangsung satu kali.


Marcel jalan menginjak dada korban. Dia menuruni tangga tanpa berkomentar. Sampai di bawah, Marcel memasukan kain putih (biusan) ke saku celana.


Bregh!


Jihan jongkok mendarat agak jauh dari terowongan. Dia lalu berdiri mengamati kepulan warna krem. Asap tersebut membungbung tinggi ke udara persis asap kebakaran.


"Astaghfirullah!!" seru Jihan saat pundaknya disentuh.


-


-

__ADS_1


__ADS_2