
Suatu pagi di studio milik gedung tiga lantai, Jihan dan Billi Elisa mengobrol.
"Jadi dia (Mercy) nih Bunda kami? Kamu ngelamun belakangan ini karenanya?"
"Iya. Di tenda tuh hari terakhir gue sama dia," kisah Jihan sambil mengaduk teh.
"Kelihatannya beliau milih pengadilan jalanan. Saya tak mengira bahwa kalian berdua dewi. Pantas saja bawa pengaruh ke banyak orang."
"Hhh.. Beneran, gue pengen nyari dia, Bil. Komunitas butuh bantuan sama tenaganya. Gue cemasin ingatan dia."
Jihan menyandar dengan badan lemas. Tanpa terasa waktu cepat berlalu, Mercy selalu jadi objek rindunya.
"Hadeh. Napa harus dia yang banyak musuh, padahal muka gue cukup kriminal, Bil."
"Kabar terakhir, beliau juga keluar dari geng Macan. Anak buah Bambang yang mantau, tapi beliau tau kemampuan kamera kami. Pum titik ge pe es hari itu diputus di daerah Pinus. Belum ada kabar lagi sampai seminggu ini."
"Iya."
Billi Elisa melirik jam dinding. Kemudian minta Jihan bersiap untuk mulai dirias. "Ahh, sudah lewat semenit. Dua produk lagi, Eri. Siang nanti baru ke skrip film."
Plekh..!
Jihan menunduk hilang semangat alias patah leher.
Hari berikutnya, Jihan mematut diri di depan kaca mengamati nama merk produk. Billi Elisa tampak senang melihat Jihan sedikit giat, dia melihat dari minatnya pada baju yang ada, padahal hanya baju sepak bola.
"Kita harus take out di sana (kemah PH), nginep dua hari saja."
"Gue pengen jaga parkiran aja."
"Eri, tenang. Kita dipercaya beliau mengembangkan asetnya. Suatu hari pasti ketemu."
"Hhh.."
Jihan menghela nafas sekaligus mendadak lemas. Billi pergi sambil memintanya minum air karbit, dia janji akan mengikutinya nanti.
__ADS_1
".. minumlah dulu."
"Iya sori. Ati gue gak bisa boong Bil."
Minggu pagi saat libur, Jihan joging mengitari stadion Ragnarok. Dia sengaja menutup wajahnya dengan bertudung agar tak menarik perhatian orang-orang. Ketika sudah agak siangan, para puluhan ABG yang mengikuti di belakangnya bertambah. Jihan menoleh demi suara mereka yang manggil-manggil, tampang kriminalnya pun terlihat jelas di depan mereka.
"Kakaaa!!"
"Erikaa..!"
"Peluk rame-rame!"
Jihan segera bergerak cepat, mau tak mau lari betulan meninggalkan mereka. Tapi malah diikuti. Jihan langsung masuk mobil pengantarnya.
Bregh!
"Jalan! Cepetaaan..!"
Krii.. iiit!
Dukh! Dukh!
Mobil yang ditumpangi Jihan pun ternyata digedor-gedor, ada fans dari kalangan Terminator Alumunium yang mengekor di bagasi.
"Khan dia lagi.. Hikks. Nih mah ngejar maling, Bil."
Billi Elisa yang duduk di sebelah supir, membuka jendela. "Kita sudah siap."
Billi Elisa membuang knalpot ke trotoar.
Klontang..!!
"Next time. Kita harus terus mencari beliau. Saya khawatir klien kita kecewa dengan mood kamu akhir-akhir ini, Eri."
Jihan hirau, sudah mengamati fansnya yang pantang menyerah itu, di sana sang penggemar sedang memungut barang yang dilemparkan Billi Elisa dan mengacungkannya ke udara.
__ADS_1
"Gara-gara salah cetak chip jadi gini produk kita."
Malam ini Jihan rebahan di ranjang kamar. Gelisah begitu, bolak-balik badan bukan sebab Billi mendadak dermawan pada fansnya, Jihan memang tak bisa tidur sebagai New Erika, tempatnya bukan di kasur empuk nan mewah ini.
"Apa gue auto sleep yaa, kalo gelar kardus di terminal?"
Jihan turun dari ranjang. Dia menggeser kursi dan segera duduk di depan meja rias itu. Laci kosmetik pun dibukanya, Jihan mulai mengoleskan krim, mendandani diri.
Seunit mobil menepi di sebuah tempat.
"Bukannya kita mau ke terminal Eri?" tanya Billi Elisa yang kemudian menguap.
"Di sini aja, Bill. Sepinya ngewakilin mood."
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Hoaam.. Ada ada aja riasanmu ini. Bodo amat deh. Hoaa.. am."
"Jangan lupa dateng subuh yaa."
"Oke," jawab Billi yang masih duduk di kursi sopir.
Selesai bicara Jihan segera keluar. Billi pamit sambil membunyikan klakson. Jihan membiarkannya pergi, sibuk menata letak kardus yang dibawanya. Jihan menggelarnya di emperan toko yang lama tutup dan hanya dia di area kumuh ini.
"Moga kamu lewat sini Beb. Ngarep gini mood aku tenang banget. Namanya juga usaha."
Jihan segera meniduri alas yang digelar. Tanpa selimut dan bantal, dia pun menutup matanya sambil mendekap badan. Pakaiannya kumal, tapi tidak menyengat karena masih baru, hanya dandanan.
nb:
kok ada yang gini sih😁
-
-
-
__ADS_1