Jihan

Jihan
chapter up 29


__ADS_3

"Gue gak sudi jadi budak manusia."


"Twen gue nangkep lo bukan buat dipiara. Napa kalian diem-diem gini pada kami?"


"Kalean yang ajarakan. Nyembunyiin apa yang berhak kami tau. Kalian diem atas kebinasaan ratu kami."


"Nah sangkaan itulah yang kita pertanyakan. Rey udah kasih peringatan sama Black Soul, kesombongan itu bukan milik Deyita. Terus resiko binasa itu malah dia (Black Soul) ambil. Gue dikasih tau langsung sama Rey, Twen."


"Gadis sialan itu lagi."


"Dendam lo makin naik, mengira suami elo dibunuh Marcel. Dia (suami Twen) diurus sama Luna. Belum dibunuh. Lo kebawa berita sarkas."


"Gue benci kebaikan, manusia hanya berpura-pura ngakalin niat busuknya pake bikin aturan. Fuih..!!"


Swrrtth..!


Ibu muda itu melapisi dirinya dengan pembelok-cahaya jadi sosok tak kasat mata.


"Hhh.. Pergi lagi. Cape deh ahh. Aturan apa sih yang dia omongin, dipikirnya gue nih alim. Waktunya maen rumus deh, ngumpan khodam dateng."


Lima belas menit kemudian, beberapa orang berkerumun di halte. Mereka sedang menunggu salah seorang yang konsen mengotopsi mayat perempuan usia mahasiswa. Sebilah belati dibiarkan menancap di mata jenazah.


Lima pemuda taruna, anak muda setempat datang ke lokasi. Saat seorang pria sepuh bertanya, mereka mengenal mayat tersebut beberapa jam yang lalu. Pak RT segera minta mereka menerangkan lebih lanjut, terutama soal benda tajam.


"Itu bukan pisau saya, Pak. Saya gak pernah bawa-bawa senjata."


"Lalu teman kamu yang belum ke sini, lagi di mana?"


"Iya. Nanti dia ke sini katanya Pak."

__ADS_1


Warga lain berdatangan di jam larut ini. Beberapa kendaraan berhenti untuk bertanya. Orang-orang makin penasaran dengan laporan pemuda setempat atas penemuan mayat di halte.


Dini hari, jenazah sudah dipindahkan ke rumah sakit. Indentifikasi mayat berlanjut di situ dan sudah ditangani yang lebih ahli. Berita yang masih menggantung kebenarannya, berhasil dikenali. Salah satunya laporan tentang pemerk*saan, yakni sang mayat murni korban KDRT (kekerasan dalam ribut terbuka)😁.


Di sebuah ruang tempat belati di simpan, ada sosok yang mengikuti benda maut, sejak dari halte objek bening tersebut terus sembunyi.


Petugas yang menangani barang tajam tersebut menyerah sementara. Karena yang tengah dipertanyakan sidik jari, si petugas tak menemukannya saat belati dioles kimia khusus.


"Apakah pelaku pakai sarung tangan? Hoaamm.."


Klontang..!


Pria dari CSI itu menoleh. Saat menikmati kantuknya itu, petugas segera bergerak ke ruang sebelah yang tidak berpintu.


"Sudah kubilang, masih ada tikus. Dasar para pemalas."


Swrrtth!


"Hhss..! Hhss-ssh!"


Mata si wanita melemah alias teler, belati yang dipegangnya jatuh. Tubuh Twen tiba-tiba lemas hingga sang kodham ambruk.


Klinting..!!


Brugh!


"Siapa di sana..?! Richard, apa itu kau?"


Tak ada jawaban, tubuh Twen diam terkulai di lantai.

__ADS_1


"Richard, aku sedang bekerja. Carilah lub*ang lain dulu," kata si petugas yang hanya dia yang tau arti bicaranya.


Swrrtth!


Jihan muncul di dekat Twen. Dia membalikkan badan yang tak sadarkan diri. Jihan mendirikannya agak kesusahan, tapi tak lama dia berhasil menaruh tubuh Twen di punggungnya.


Prang..!


Ada botol kimia jatuh saat meja di situ tersenggol.


"Hadeh.. bunyi juga stealth gue.."


"Richard! Sudah kubilang, aku libur dulu. Tolong Richard, aku akan segera selesai."


Swwrrrth! Jihan dan tubuh yang digendongnya dirambati lapisan bening.


"Thanks Rey.. Tugas gue lancar. Trik lo bikin auto plot mantul, bikin ahli visum kaget liat gue bangun dari kubur."


Di luar rumah sakit, Jihan terbang dengan tangan menjinjing tubuh Twen. Dia mengenakan setelan dokter, entah pakaian dari mana. Jihan berhasil menangkap Twen.


"Gue bingung, nih belut mau gue taro di mana ya.. Billi masih shock. Kalo gue serahin ke dia bakal ikut pingsan. Hadeh, cape juga hari ini.."


Jihan melayang melewati gedung-gedung tinggi. Dia mayat yang tergolek di halte tadi. Entah memakai auto plot seperti apa, tampaknya skill tersebut dia peroleh dari Rey.


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2