
Srrtt..! Srrt..!
Jihan dirayapi sosflat-nya, bubuk-magnet tersebut melingkar jadi cincin. Sang empu bangkit dari duduk. "Jemuran."
Di pekarangan rumah, Jihan mengambil jemuran. Dia baru ingat. Biasanya dia ambil tiap selesai dhuhur. Mungkin dia kelupaan gara-gara lama mengobrol bareng Dety di pinggir rel.
Sepuluh menit kemudian, pekerjaan Jihan selesai, baju dan beberapa celana terlipat rapi. Ada empat tumpukan, Jihan menjajakan di kasur. Dia masukkan ke lemari satu per satu.
Jihan duduk menyandari sisi ranjangnya. Melamun. Orang-orang Prancis masih saja terlintas dalam pikirannya. Kembali nyesek.
"Kamu punya tips gak..?"
Hhh, hamba sama sepertimu Tuan. Hanya saja, perkataan Bapak lebih baik daripada yang demikian
"Kita khan udah sholat. Napa masih kebayang terus..? Hhh.. Jilect kayak sengaja mancing-mancing emosi kita."
Hhh. Dan dia mengetahui apa yang hamba lakukan kelak kepadanya
"Apa dia nyamar jadi mbak Prita ya?"
Tiada suatu yang lain daripadanya, dia yang mencari jalan bersama engkau, Tuan
"Gimana kabar measuring? Udah jalan?"
Demikian. Prita sedang menunggui prosesnya
"Hadeeh, aku bawa dzikir deh dosa-dosa ini, Rin."
Mari kita teruskan, Tuan
"Iya. Kita mungkin emang harus inget barengan. Astaghfirullah.. astaghfirullah.."
Dalam duduknya tersebut, Jihan pejamkan dua mata, menundukkan kepala. Bukan tidur, Jihan berusaha menenangkan diri. Kata Prita dirinya masih rawan untuk bertemu Jilect, belum siap menemui buronan mereka. Sementara Marcel percaya, Jihan mampu atasi marahnya.
Maghrib tiba. Jihan ulang berdoa dalam mukenanya menghadap kiblat. Kini dia sedang ruku, tidak seperti tadi ashar, sholatnya sekarang dibuat lama.
"Gue di rumah, Yan. Gue baik-baik aja kok," jawab Jihan, sudah duduk di kursi meja belajarnya, lagi menyantap sepiring makanan. "Iya sih, emang bikin kesel, tapi gue udah gak apa-apa."
Jihan ditelepon Diandra, ditanyakan soal kondisi mentalnya. "Jilect ato paradok yang lo sebut-sebut itu susah dicari. Detail angka RPM-nya lebih bejibun dari pada angka RPM lo."
__ADS_1
"Jadi dah ketemu lokasi dia?"
"Udah. Dia nungguin di Endfield. Dia bisa mantau lo juga pas onmind."
"Kalian diintip juga?"
"Yalah kayak gitu kalo RPM udah di seratus digit, Han. Siapa aja yang onmind di sana, dia tau. Pokoknya Ultimate is back gitulah. RPM dia levelnya udah frustasi."
"Udah gak perikemanusiaan? Tukang jagal?"
"Kalo lo masih gak yakin, lo inget-inget lagi diri lo versi sebelumnya. Biar konsen pas ketemu dia."
"Mana inget? Dulu separo gue parasas Induk."
"Kata Giga, Ultimate bisa nipu. Lo bisa ulang cara si Bihun, tapi masih ngeraguin. Yang kena imbas hit, bisa siapa aja, termasuk gue."
"Gini deh. Gue juga pengen liat, RPM gue berapa digit. Gue harus ke mana ngukurnya. Kebetulan Qorin jins alkemis. Jamu bikinan dia keren."
"Ya bagus. Ke Foslite, cari mbak Clone. Dia yang bikin bratle kita. Ahlinya perban."
"Oke. Tapi habis isya. Tanggung, biar sekalian bangun subuh pas beres."
"Gue baru aja onmind, lagi di gerbong gue. Nelpon lo via libflat. Gue masih ada job di Minion. Udah dulu ya Han."
"Be your self, Han."
"Oke, Nay. Lo juga ya?"
Tak ada jawaban, cincin komunikasi diam tak bergetar lagi. Jihan menyuapkan nasi, melanjutkan acaranya.
Di dapur, piringnya langsung Jihan cuci. Dia masih mengunyah makanan. Bunyi air kran terdengar di situ. Beres memutar knop air, Jihan taruh alat makanya di rak, dua tangannya dia lap.
Mamah kerja lembur, jadi hanya Jihan di rumah. Lampu-lampu ruangan sudah dinyalakan robot-cair sejak sore saat Jihan duduk tepekur.
Sosflat melesat ke meja ketika Jihan menaiki tangga. Bubuk aneh tersebut merayapi remote tv. Jihan biarkan robotnya nonton berita covid, menutup pintu kamar.
".. jumlah positif, dari data rumah sakit mencapai ratusan ribu.."
Walau sudah mengunci rapat, suara tivi masih terdengar di kamar.
__ADS_1
"Rin, suruh dia ngecilin volume. Gue dah males nyuruh-nyuruh si tengil lagi ah."
Hamba telah katakan kejadian ini. Seed ladang memberi pengaruh padanya. Kita terima saja
"Dah kayak si Oyon capernya. Dia lagi di rumah. Bukan di ladang. Pak Maman, bu Rosi, tetangga pada ngomel lagi ntar."
Hhh. Kita harus mengajaknya kembali ke ladang, menemui teman barunya, Tuan
"Gabutnya nyebelin gini."
"Sebagian warga menunggu di halaman rumah sakit bersama pasien. Sementara petugas medis.. bla bla.."
Jihan berdiri dekat pagar beranda. Di sini suara tivi terdengar sayup, tidak begitu bising. Dia lanjut mengobrol bersama Qorin.
"Kalo Jilect memang inginin kamu, aku gak bisa tulusin. Kalo ngajak kerja sama, aku juga gak bisa," kata Jihan menyandari pagar beranda sambil bersilang tangan. "Kupikir dia ingin perhatian kita, Rin. Di depan goa McWell, mereka bersalaman. Mereka udah satu misi, pengen ngusir kita dari peradaban Lectrin."
Demikian. Mereka pun bersedia jika berperang. Hamba telah sampaikan pesan untuk pimpinan mereka, mereka ingin Jhid membebaskan Black Soul, kandidat ratu baru mereka
"Info dari mana tuh?"
Dlang. Dety mengabarkannya pada Marcel dan yang lainnya
"Dari si Gogog ya?"
Demikian. Mereka ingin ratu baru. Kandidat yang sesuai tersebut Black Soul
"Pantesan mereka giat nyelakain Luna."
FinalCutter memang sulit bagi mereka, sampai pada akhirnya diputuskan mencari Black Soul demi tujuan tersebut
"Kalo gitu si Jilect bukan big bos. Dia paradok yang lagi diperalat parasas."
Demikian. Hamba tidak tahu apa yang musti dipersiapkan untukmu
"Aku rasa harus nyiapin hati, Rin."
Sekiranya itu mudah bagimu, insya allah ada jalan, Tuan
Suara toa mesjid terdengar. Jam isya tiba ditandai adzannya.
__ADS_1
"Udah isya aja. Gak terasa jam gitu cepat muter."
Tak ada komentar