
"Hiks.. hiks.. Hiks!"
Kisye mengusapkan tangannya ke wajah Jihan demi memastikan kondisi dan status yang dicemaskan. Dia berdecak tanda kecewa. "Ckk..!"
Jihan kembali direbahkan karena matanya tetap nanar, sudah tak merespon.
Kisye memasang penanda suhu di pergelangan Jihan, alat mirip jam tangan tersebut langsung aktif angkanya, menunjukkan - 09⁰.
Saat Kisye bangkit berdiri, satu dari lima qarrat di situ minta dirinya menaruh Spear, dan gagang senapan si penodong glowing orange. Kisye masih memperhatikan wajah sahabatnya.
Dziiieew!!
Vrttkkh!!
Bahu Kisye agak terdorong oleh sinar "senja" tersebut. Secepatnya, api yang menyulut kain baju, dihisap stenlis, menyisakan jejak bakar di pakaian kondektur.
"Lo lagi! Ikut-ikutan..!"
"Kematianku tiga puluh enam qarrat," kata si penembak, membahas harga diri, nyawanya akan ditebus qarrat baru oleh komunitas jika dia mati di tangan anggota. "Hapus enam kuadrat-mu ini, Remah Keong."
"Dasar lumut comberan."
Selesai bicara Kisye menghadap ke arah Raven berada seraya melemparkan Spear tanpa sepengetahuan, gerakan jet lag.
Set!!
Traack!
Kisye lihat kepala Raven terdongak, posenya sedang di formasi delapan guard, mengintip di balik lengan, di belakang pengawalnya.
Paskibra kembali menghadap lawan bicara, yang menembaki bahunya. Kisye biarkan Raven mengerjap-ngerjap mata, dirinya belum selasai dengan wakil Raven.
"Kuota ditolak. Syukurin," beritahu Kisye atas tujuannya turun ke lapangan.
Wiidit!
Rambut Jihan merambat putih di saat temperatur turun mebunyikan alat yang terpasang.
Wuutts!
Kisye melesat pergi meninggalkan Jihan, hadir di tengah warga Bukit. Di situ dirinya langsung "tarik tali", teleportasi hingga orang-orang termasuk Marcel turut blur, pindah. Sementara mereka yang masih menodong Monika tidak terblur.
Bruugh!! Raven ambruk tanpa sebab hingga mereka yang melindunginya diteriak 36-qarrat, diintruksi oleh wakil ketua dua patah kata.
"Save her!"
Regu pengawal pun segera sibuk menggotong Raven. Mereka membawa lari pemimpinnya ke barak. Yang lain berjaga alias fokus pada Jihan.
Ketika Raven sudah masuk tenda, selapis "kaca" aktif melindungi barak tersebut.
Tratetetattt!! Driiziew!
Dziiieew!
Regu depan menembaki Jihan satu arah, dalam formasi sabit. Target mereka sudah berdiri alias jadi. Entah jadi apa nama, mereka terlatih untuk tak bicara atau mungkin karena dilarang mengomentari objek.
Lima tipe laser dari tim elit berkelebatan menimpa badan sang lusid.
Ada blue-las putus-putus, blue-las jarum, blue-las manteng, blue-las bola yang nempel pecah berpetir, lalu laser terakhir berupa "riak-wifi".
Drriiiew! Drieeew!!
Dziiieew!
Griiiw! Griww!!
Rrrddh..!! (anggap bunyi wifi)
"More!" pinta Wa-Rev, mundur tanpa lepas menekan trigger, menyusul empat qarrat yang lebih dulu menjauh dari TKP.
Setelah tim depan berada di jarak aman, 10 meter, tembakan lainnya pun langsung berhamburan ke titik spot; Jihan. Target ditembak dari segala arah, tak ada satu pun laser yang memantul atau mental makan tuan penembak.
Bunyi laser biru terdesing bagai cuitan burung, berisik ala kontes suara emas para avian.
Twiit ching! Tuwiit.. ching! Twiit!!
__ADS_1
Twiit-twiit!
Tooo.. lit..!
Too..liiit..!
Wii..iuuw..!! Wii.. uuw!
Wiw! Wiw! Wiw!
Too.. lit..!! Tooo.. lit!
Wiwiw!!
Wiuuw! Wiuuw..!! Too.. lit! Too.. liiit!
Too.. lit! Wiii... iiiw! Wii.. iiiw!
Jika diibarat tempat parkir, semua senapan seperti mobil. Maka kontes alarm sudah dimulai, dan sedang berlangsung. Bunyi-bunyi bising tersebut memekakkan telinga.
"Mamah.. jadi.. juga," komen Nature, membiarkan satu qarrat di situ tetap tengkurap dan menembaki ibu jejadian-nya.
Nature diam menatap bola energi menyinari TKP di jauh sana, yang tak lain Jihan. Dia belum turun membantu si ibu tiri. Nature mungkin memang sengaja menonton, sudah datang dari tadi bersama pedang yang dipegangnya, bisa juga sedang menunggu tugas.
Hhh.. Tuan, beliau tak menanggapi frekuensi neuronku
"Gak apa kok.. Mamah udah berubah, gak bakal balik normal kalo belum ngerasain down wave Mamah."
Hamba khawatir
"Nature juga demikian, Jins. Belum pernah ngemban diri sebagai thrid wave."
Kita tidak sendiri, Tuan
Set!!
Seperti yang Gizi katakan, sosok bersetelan orang kantor, jas dan celana panjang hitam, berhenti dari kelebat statue-mod nya
Nature menoleh ke kanan, agak mendongak.
"Temen maen," jawab Nina tanpa melirik lawan bicara, juga pasang muka dingin di balik kacamata hitamnya.
"Siapa?" tanya Nature lagi.
"Fokus. Second wave lagi diburu, Nat. Bentar lagi dapet giliran."
"Ntar kalo Mamah ngejar, Tante harus lari."
"Kalo gak mau?"
"Ya sudah. Nature belakangan."
Nina cuek menjawab, tetap mengambang di udara sambil bersilang tangan. Dia tak peduli hawa fatamorgana yang menyelimuti bilah pedang sirna, turun daya. Nina justru menaikkan aura tangan merah-nya.
Ckiiit..! Datang seorang lusid lagi.
"Nih qarrat pada lemot banget."
"Ehh, Tante siapa?" tanya Nature mendongak ke sisi kiri.
"Eh, ada anaknya. Tante Diandra, Nat. Kalo itu tante Nina. Chat grup rame, jadi kami kemari."
"Oh."
"Tante Yan, mau thrid wave juga?"
"Tante tukang ngecek, Nat. Nih mau ke lokasi guru kamu sekarang. Kamu mau ikut?"
"Gak tante."
"Oke deh. Met maen ya, Nat. Bertahan sampe down wave pulih ya? Healer Panti masih dihubungi. Kemungkinan akan mirip Giga, seharian. Bihun teman kami yang juga pernah bucin force gini, Nat. Jagain Ray. Oke?"
"Iya. Makasih Tante. Sekarang Nature tau, siapa atasan Mamah itu."
"Pinter. Jangan sampai force masuk final. Hit Reinita gede. Big damage.. Gitu loh."
__ADS_1
"Makasih Tante."
Swuutth! Diandra yang berpiyama pink melesat kembali, pergi ala peluru.
"Kuota minta ditambah, skill gak ada kemajuan," komen Nina gaya Bezita. "Hhh.. Karatan."
"...?"
Saat dipandangi Nature, Nina melirik si bocah. Dia tak sengaja melihat dan segera melepas lipat tangannya. "Sejak kapan lo di sini?"
"Apanya Tante? Kami telat Bu Arsitek."
"Lo durhaka lho ntar by one sama emaknya. Jaga belakang aja."
"Iya Tante. Kalo Nature boleh tanya, foto di hall Circlet, apa benar wajahnya Tante?"
"Bukan. Tuh emaknya Tante, Nat."
"Oh."
Jihan di kerubungi para qarrat. Dia tidak bergeming menekan perisai kotak yang melapisi tenda. Banyak pukulan dan hantaman mengenai tubuhnya. Kakinya ditendang, kaki penyerang yang patah. Tangannya dipanasi, penyerang yang kebakaran.
Gentraang!!
Jihan berhasil menghancurkan perisai listrik yang ternyata menyengat banyak qarrat, para pembuatnya.
Klontang!!
Klontang..!!
Pemandangan cukup unik terjadi dalam barak. Pengawal khusus berubah jadi stenlis saat hancur kena tinju sang lusid. Dia mencari Raven yang disebut second wave-nya. Dan dua qarrat itu yang terakhir hidup.
Swrrh..! Swrrh!
Spear mengeropos kering menjadi debuan.
Jihan diam berdiri. Detik itu juga tenda dan perabotannya pecah ke segala arah.
BRAAKH!!
Rambut Jihan sudah putih, tubuh dan kulitnya pucat seperti saat diinang Al Hood. Dia juga tampak lebih muda 2 tahun.
Piyama Jihan lebih mistik, tak ada sobek atau pun gosong bekas api, kain tersebut putih cerah, menggantikan kaos dan celana dakinya.
Entah Raven di mana, lokasi sudah rata dengan tanah. Benteng runtuh, menara roboh, mesin-mesin kontruksi pecah berantakan, gudang pun jadi gundukan.
Jihan belum juga beranjak. Di kejauhan, lokasi Nature dan Nina, tempatnya sudah sepi tak ada orang. Jika Jihan mau tengadah ke langit di atasnya, di sana awannya tetap mendung kelabu.
Berdiri saja dari tadi, apa si gadis sedang menunggu atau memindai sesuatu? Hanya dirinya yang tahu.
Saat angin berhembus, rambut poninya menghalangi pandangan. Jihan juga sudah memegang benda tak kasat mata. Ternyata tadi bukan tiupan angin, tapi gerakan sebuah tombak yang menarget pelipisnya.
Krakh!
Kembali terjadi hal tak terduga. Jemari Jihan tiba-tiba mengeras kemudian retak dan serpihannya berjatuhan. Plurukkh..!
Tak ada siapapun di situ selain Jihan sendiri yang diam persis patung. Posenya masih memegangi benda.
Kraa.. akkh!
Entah apa yang terjadi pada sang lusid. Hingga tubuhnya kering dan retak, Jihan diam membisu. Akhirnya setelah ditahan-tahan, sang patung runtuh merontok. Bruuluukh..!!
Swwrrrth!!
Raven tampak sibuk bergelantung, sedang mencabut tongkatnya yang seolah menancap di dinding. Dua tangannya masih menyala biru, tapi kryptonite-nya itu sia-sia. Rubber glove-nya sudah menempel hingga dia repot membebaskan diri, bukan sedang mencabut tongkat.
"Euugh!! Hhh.. hhh.. Euu.. euugh!!"
Raven meringis, tangannya sama sekali belum bergeser atau kena licin. Kakinya menendang-nendang lagi. Raven hanya buang-buang tenaganya, sebab objek yang diinjaknya memang ada terasa, tapi tidak hancur.
"Hhh-hhh! Hhh... Eugh, euuugh..!!"
-
-
__ADS_1
😆 terjebak dia