Jihan

Jihan
chapter up 03


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


Di saat melamun di depan 'kompas'-nya tersebut, Jihan deg-degan.


Berbeda dengan minggu-minggu yang telah lewat, dia tidak setakut ini terhadap sertifikat tanahnya tersebut. Masih buta, penuh tanya, dan harus bagaimana dengan 'kompas'-nya.


"Dah waktunya gue bawa lo offmind, biar dia (Marcel) bisa keluar dari area lima."


Set!


Benda tersebut seperti menembak perut Jihan, ada bintik cahaya keluar dari dalamnya. Perlahan si benda mulai transparan, lalu menghilang dari pandangan.


Jihan merebahkan badannya di ranjang kamar.


Krakh!


Dinding kamar tiba-tiba retak, tapi Jihan diam tak begitu panik dengan gempa yang ada. Dia sudah memejamkan matanya, tak peduli suara jeritan para tetangga di luar sana. Jihan sendirian di rumahnya ini.


Orang-orang berlarian, angin besar melanda tempat tinggal Jihan, dibarengi guncangan tanah alias gempa. Saking kencangnya arus udara, atap rumah lepas terbawa tiupan yang ada.


Bruuakhh..!!


Whhss!!


Dua hari kemudian, di saat kota telah rata dan tak berpenghuni, tubuh Jihan tetap terbaring, mengambang di ketinggian loteng. Dia belum sadarkan diri, lingkungan di situ berantakan tak ada satu bangunan pun yang masih utuh. Dunia sudah sangat sepi, dan kembali gelap gulita.


Gliitt!


Selapis papan tranparan muncul agak jauh di ketinggian tersebut, lawang ke Panti.


Brugh!!


Bumi kembali terang. Namun di sini banyak bangkai robot humanoid, jejak sebuah peperangan.


"Erika."

__ADS_1


Suara tersebut membuat si gadis membuka matanya, terdengar membangunkannya.


"Ehh.."


Dia tersadar dari tidurnya di pantai ini, mendapati sekitar telah sepi dan dihuni banyak unit logam yang sudah mati lagi berkarat.


"Giz, gue di mana?"


Tak ada suara terdengar. Di situ hanya dirinya saja yang masih hidup. Entah di tahun berapa.


"Gizi?? Halouw..? Giz, kamu denger aku? Plis jawab dong.."


Si gadis diam menunggu sahutan. Dia menghela nafasnya kemudian.


"Hhh.. Save Internal. Jangan lupa, nih lagi misi penting."


Setelah bermonolog, si gadis bangkit menegakkan satu lututnya yang menopang badan.


"Balik lagi, apa nyambung plot ya?"


Clekh.. Clekh..!


"Masih gerak. Bagus deh, gue dapet kerjaan."


Setelah mengambil sebatang lengan besi di situ, gadis survive segera bergerak, mengendap-endap menghampiri pohon kelapa bawa pentungan darurat.


Clekh! Trekh..!


Didiit..! Diit! Dit!


Di bawah pohon-pohon tersebut sang robot bergerak seperti meregang nyawa. Kaki dan tangannya sudah putus, sementara kepala masih mengeliat-geliat.


"Duh gak tega gue mukulnya.. Hhh."


Si gadis lemas badan, benda yang dipegangnya terlepas jatuh.

__ADS_1


Plukh..!


Dia pernah kehilangan seseorang yang disukai dan ditembak oleh salah satu unit robot di sini. Namun dendamnya pada mereka seakan telah musnah. Ada suatu kepentingan jauh lebih baik daripada memadamkan "alat".


"Kak..? Ngapain nih kondektur ke mari?"


Dia lalu melihat sosok orang yang dikenalnya, tapi Kisye yang satu ini tidak ber-PDL paskibra, tangannya memegang tasbeh, di kejauhan itu masih mencari-cari sesuatu. Kemudian hilang.


"Ehh," sadar si gadis, segera berlari ke lokasi sosok yang sudah pergi. "Tunggu! Kak Kisye!"


Sampai di lokasi, dia terengah-engah kelelahan.


"Hhh.. hhh.. Siapa sih, napa jadi kacau sampe ke area gini kiamatnya.. hhh.. hhh.."


Saat kebingungan begitu, si gadis mendapati seunit robot yang masih utuh dengan kepala belakang tak berisi. Slot tersebut kosong.


"..??"


Si gadis lalu memungut benda yang telah dicopot dari tempatnya itu. Ada beberapa buah, dia mengambil yang bermerk ERIKA.


"Siapa cewek ep bi ay tadi ya? Apa qarrat perakit AI?"


Si gadis segera memasangkan "chip" yang dipungutnya.


"Gue sabotage aja deh pake ai-si pabrik Erika."


Klekh!


-


-


-


halo, reader..

__ADS_1


dapat notif dari Noveltoon, karena sudah hampir sebulan "Jihan" vakum dari updatenya. Ya aku update dulu, biar om admin-nya gak godain terus😁nih



__ADS_2